
"Jadi sudah siap buat nanti malam?" tanya Raka pada Lisa dengan berbisik.
Mata Lisa membola, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Namun sesaat kemudian dia kembali menormalkan ekspresinya. Tak ingin ada yang curiga, dia pun melepaskan diri pada rangkulan Raka.
"Apaan sih? Nanti ada yang denger," bisik Lisa sambil tersenyum malu-malu.
Bagaimana tidak, kedua orang itu setiap harinya memang bagaikan tom and jery. Makanya mereka tak mencuriagai gerak-gerik mereka.
Raka melepaskan Lisa tapi sesaat kemudian dia mengacak-acak rambut Lisa.
"Ih... Raka! Tuh kan jadi kusut." Raka yang mendapat amukan dari Lisa pun tidak menghindar tapi seolah malah menikmati.
"Kalian tuh hobinya ribut terus, jodoh lho ntar." ucap Rendra
Reflek gerakan Lisa terhenti saat mendengar kata-kata Rendra. Wajahnya tiba-tiba bersemu. Bagaimana tidak ucapan Rendra tepat mengenai sasaran. Bahkan sebenarnya mereka sudah pacaran sejak awal semerter terakhir. Bukan hanya Raka yang sering nyamperin ke rumah Lisa. Ibunya Raka pun sering mengundang Lisa untuk ke rumah. Entahlah, ada saja alasannya.
Menjelang ujian, Raka waktu itu ke rumah Lisa untuk diajari belajar, atau belajar bersama katanya. Kebetulan waktu itu orang tua Lisa sedang berada di rumah saudaranya karena sedang ada hajatan. Saat itu hujan deras. Siapa sangka, Lisa yang kelihatannya bar-bar itu ternyata takut dengan suara petir. Saat petir menyambar-nyambar reflek dia berhambur memeluk Raka untuk mencari perlindungan. Raka yang tahu ketakutan kekasihnya itu pun mengerti, dia berusaha menenangkan Lisa.
"Udah, jangan takut. Kan sama aku. Tapi ngomong-ngomong pelukan gini sampe pagi enak deh beb kayaknya, jadi pengen nikah muda."
"Jangan ngomong sembarangan deh, takut beneran ini."
Duarr... Pet...
Lisa semakin mengeratkan pelukannya saat bunyi petir semakin kencang diberengi mati lampu.
"Ka... Jangan pulang dulu, temenin aku sampai bapak pulang. Aku takut sendirian."
"Iya sayang. Sekarang kamu bobo aja deh, belajarnya dilanjut besok pagi."
Raka mengambil bantal yang ada di sofa lalu menatanya di karpet untuk alas kepala Lisa. Raka memiringkan badannya, lengan tangannya digunakan untuk menopang kepalanya. Tak lama Lisa pun tertidur. Karena hujan tidak juga reda dan listrik juga belum menyala, akhirnya Raka pun ketiduran sambil memeluk Lisa.
Orang tua Lisa sampai rumah sudah tengah malam karena menunggu hujan reda. Namun saat mereka memasuki rumah, mereka melihat anak dan pacarnya tidur dengan posisi yang sangat intim. Keesokan harinya orang tua Lisa meminta orang tua Raka untuk menikahkan mereka saja. Takutnya mereka akan berbuat yang kelewat batas. Ah, bahkan mungkin saja mereka sudah melakukannya, pikir bapak Lisa. Karena pada dasarnya, ibunya Raka memang sudah menyukai Lisa akhirnya mereka sepakat menikahkan mereka secara agama dulu. Baru setelah selesai sekolah mereka akan menikah secara negara.
Mereka memang masih membatasi diri saat sedang bersama. Kalau sekedar skinship, mereka sudah biasa. Tapi Lisa masih belum mau melakukan hal yang lebih. Takut ketahuan sekolah terus di DO sebelum kelulusan katanya. Makanya tadi dia sangat malu ketika teman-temannya menyinggung malam pertama. Mengingat bahwa ternyata suami sirinya itu juga tak segan-segan menunjukkan sikap mesumnya saat berdua.
"Udah siap semua? Denis mana?" tanya Revan yang baru saja datang.
Belum juga ada yang menjawab, mereka melihat Denis datang bersama seorang gadis yang mereka tahu dari kelas sebelah.
Mereka bertanya-tanya dalam hati, apa hubungan mereka? Pasalnya Denis menggandeng mesra gadis itu padahal selama ini Denis tak terlihat dekat dengan gadis itu. Gadis itu memang cukup pandai, bahkan tadi dia mendapat juara umum ke tiga.
"Bang, Denis pake motor aja ya. Nambah satu orang boleh kan?" tanya Denis pada Revan yang tidak peduli teman-temannya memandangnya dengan penasaran. Sedangkan gadis yang dia gandeng hanya menunduk Setelah tadi dia memberikan senyum sapaan kepada mereka.
__ADS_1
"Ok, ga masalah. Ga mau dikenalin tunangannya?" tanya Revan yang membuat semua orang terkejut.
"Ck, Abang nih sukanya nyolong start ya. Mereka udah kenal kok. Kalian udah kenal kan sama Rani?" tanya Denis melihat ke arah teman-temannya lalu beralih pada gadis yang bernama Rani itu.
"Kenal sih kenal, tapi bener kalian udah tunangan? Komandan mau balas dendam nih, ga seru," sahut Zaskia yang masih menempel pada Revan. Entah kenapa melihat guru muda yang tadi menatap terus suaminya, dia merasa tidak rela.
Denis dan Rani hanya tersenyum, lalu mengakui kalau mereka baru saja ditunangkan kemarin malam. Denis sendiri tidak tahu kalau gadis yang dijodohkan dengannya itu masih satu sekolah dengannya. Orang tuanya mengatakan kalau sejak awal diberitahu, takutnya mereka kebablasan.
"Tapi aku ga bawa ganti, gimana dong?" tanya Rani dengan setengah berbisik pada Denis.
"Nanti kita cari di jalan. Gampang," jawab Denis.
"Eh, iya. Ini ngomong-ngomong aku belum ganti baju sendiri loh. Tadi pada ganti di mana?" tanya Zaskia.
"Ganti di dalam aja yang, ga kelihatan kok dari luar. Kalau ada yang mau intip biar aku congkel matanya," ucap Revan menunjuk mobilnya.
"Sadis amat Bang," ucap Raka.
"Jadi laki-laki itu memang kadang perlu sadis untuk melindungi wanitanya. Agar dia selalu merasa aman dengan kita."
"Aku udah pake jeans kok, nih lihat. Tinggal pake tunik aja. Aman bentar ya. Bukain Bang."
Revan segera mengarahkan remotnya untuk membuka mobil. Tak lama mereka pun berangkat. Mobil revan hanya terisi 5 orang karena Raka juga memutuskan untuk memakai motor saja.
"Sabar ya."
Zaskia tersenyum, entahlah dia jadi curiga, kalau Lisa dan Raka punya hubungan spesial. Ya, dia yakin ada kisah cinta yang lain di antara sahabatnya itu.
Zaskia teringat memang pernah menceritakan kalau dia pengen jalan-jalan pake motor berdua. Biar bisa peluk-peluk manja, katanya. Saat itu mereka dalam perjalanan ke rumah Abimana, dia melihat sepasang kekasih berkendara motor dengan mesra. Menikmati pas momen menunggu lampu merah menjadi hijau dengan tangan cowoknya berada di paha perempuannya atau mengelus mesra tangan ceweknya yang ada diperutnya.
"Tau ga Mas, dulu aku pernah dengar kalau kamu itu deket banget sama Zaskia. Aku pikir kalian pacaran," ucap Rani pada Denis saat dalam perjalanan. Ibunya memang menyuruhnya untuk memanggil Mas, walaupun mereka seumuran.
"Ya kan aku emang deket sama temen-temen, kalau sama Kia memang aku lebih dekat. Entahlah, waktu itu aku prihatin sekali dengan kehidupannya. Karena itu aku jadi lebih memperhatikannya," jawab Denis yang memang sampai saat ini belum bisa mendeskripsikan rasa suka seperti apa yang dia rasakan pada Zaskia. Nyatanya saat Zaskia sudah bersama Revan, Denis bukannya cemburu tapi malah merasa lega.
"Beneran ga ada rasa sama dia? Aku cuma ga mau jadi pelampiasan Mas," ucap Rani lagi mengungkapkan perasaannya.
"Nope. Aku kan udah tahu dijodohkan dari kecil. Jadi sebisa mungkin aku menjaga hati aku. Kamu sendiri udah tahu kalau orang yang akan dijodohkan sama kamu itu aku?" tanya Denis sedikit mengalihkan perhatiannya.
"Udah sih. Tapi aku kan tahunya kamu deket banget sama Kia. Aku ga mau lah membangun harapan palsu. Apalagi nantinya kamu nerima aku karena kasihan," jawab Rani jujur.
Untung dulu Denis nembak Zaskia dengan guyonan saat bercanda. Coba kalau serius, udah ditolak, dapet malu, calon istrinya pasti juga akan jadi illfeel. Apalagi saat baru beberapa waktu dekat dengan Rani, Denis sudah merasakan ada getaran lain di dadanya. Denis yakin akan sangat mudah jatuh cinta pada tunangannya itu.
"Jadi, kamu udah bisa jatuh cinta belum sama aku?" tanya Denis yang membuat Rani menyembunyikan wajahnya di punggung Denis. Denis tersenyum, dia tahu Rani sedang malu.
__ADS_1
"Kamu pasti ga akan percaya kan kalau aku menyukai kamu sejak pertama lihat kamu pas kelas 7?" akhirnya kata-ta itu yang keluar dari mulut Rani.
Denis membelokkan motornya di parkiran toko baju di pinggir jalan. Setelah mereka turun Denis membantu Rani melepas helm dan membantu merapikan rambut Rani yang berantakan.
"Aku juga akan berusaha untuk menjaga rasa kita agar tidak pernah hilang di tengah jalan. Love you," ucap Denis sambil mengusap pipi Rani. Rani hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ngapain woy? Malah pacaran?" tanya Raka yang juga berkendara santai dan ikut menghentikan motornya.
"Duluan aja, aku mau nyari ganti buat cewek gue. Tar dikira kita ada apa-apa lagi kalau berhenti semua."
"Oh, oke! Duluan ya bro!"
Raka kembali menjalankan motornya setelah Denis mengacungkan jempolnya.
"Mereka juga pacaran ya?" tanya Rani sambil memilih baju.
"Udah nikah malahan," jawab Denis enteng. "Pilih buat besok ke acara syukurannya Kia juga Ran. Ada couple tuh!"
Belum sempat Rani bereaksi atas pernyataan Denis, dia sudah mengalihkan topik.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Rani pun berganti pakaian.
"Uang kamu ga habis Mas? Aku belum jadi istri kamu, jadi jangan beranggapan kamu sudah harus bertanggung jawab atas kebutuhan aku."
Haruskan Denis menciumnya sekarang? Sepertinya dia memang sudah mulai mencintai Rani.
"Uang aku banyak, habis dapet bonus gede dari Bos Revan. Jangan khawatir! Bisa ga, sebelum mulai perkuliahan kita nikah dulu, biar kita juga ga was-was. Kan ga tahu kalau kita kilaf nanti." Bahkan mereka membicarakan hal-hal penting seperti itu dengan spontan saja, tak perlu menunggu momen khusus. Kemudian Denis memakaikan helm pada Rani.
"Mas Denis sudah yakin memilih Rani sebagai istri Mas?" tanya Rani sambil naik keatas motor.
"Yakin 1000 persen. Aku yakin pilihan orang tuaku tidak akan salah. Pegangan sayang, aku mau jalan."
Rani dibuat baper dengan panggilan sayang yang baru pertama keluar dari mulut Denis. Ah, manisnya.
Selama perjalanan mereka hanya saling diam, menikmati rasa yang ada di hati mereka masing-masing.
TBC...
Up lagi kita...
Gimana? Masih mau dilanjut?
Tinggalkan like dan komennya...
__ADS_1