Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 42. ZASKIA PINGSAN


__ADS_3

Zaskia merasa jenuh karena dia tidak boleh melakukan aktifitas apa pun. Setelah Reyhan dan Revan berangkat ke kantor, tak lama Siera pun ke butik Mama. Seharian dia mengitari rumah besar dan sengaja berjalan-jalan di taman depan rumah untuk mengurangi rasa jenuhnya.


Zaskia makin jauh masuk ke dalam rumah kaca yang berisi bunga-bunga cantik yang tertata rapi.


"Untung bawa ponsel." gumam Kia sambil tersenyum. Dia mulai mengambil gambar bunga- bunga cantik di taman itu, tak lupa dia berselfie.


"Bang, adek ga papa kan masuk sini?" tulis Kia saat mengirimkan foto selifienya di taman itu.


Pesan terkirim tapi belum terbaca oleh Revan.


Zaskia duduk di ayunan, sambil membuka pesen dari teman-temannya, yang rata-rata menanyakan kabarnya.


Ternyata kabar dia ditinggal menikah oleh Andre sudah tersebar di kelasnya. Kia pun tak ambil pusing. Dia membuka grup kelas nya.


Riska : "Kia... Muncullah!"


Lisa : " Iya ih... Dari kemarin di chat ga di balas deh!"


Denis : "Kok ga ada yang nanya ke aku sih? Ayang embeb


masih di kekep ama pangeran. Kemarin sudah aku kasih hak khusus sih."


Dan masih banyak lagi, obrolan mereka yang penasaran dengan keberadaannya. Akhirnya Kia memutuskan untuk masuk dan menulis pesan.


Zaskia : "Sori gaes, nih Kia udah absen. Maklum, jadi kuli itu berat, lebih berat dari rindunya Dilan😂."


Raka : "Panjang umur nih @Zaskia, kirain udah ada di dunia lain."


Zaskia : "@Raka sembarangan aja, kamu nyumpahim aku mati, astaghfirullah😭


Raka : " @Zaskia jangan marah sayang, kamu kok dikota belum ada sebulan dah tambah cantik sih, boleh ga sih antri daftar jadi suami."


Denis : "@Raka🤜🤜."


Raka : "Cie bodyguardnya ngamuk😄."


Lisa : "Ih, Bang Raka jangan gitu, aku cemburu😭."


Zaskia : "@Lisa jangan khawatir bestie... Kekepin deh tuh Bang Rakanya. Aku dah punya sendiri."


Zaskia : "Aku diinfo selalu ya gaes kalau ada kegiatan sekolah yang aku wajib masuk dan tidak bisa dipending. Dan sori kalau jarang nongol, aku jarang pengang hp soalnya."


Setelah beberapa saat Zaskia meninggalkan room chat dengan tan-temannya.


Kia tersenyum. Meski tak semua akrab dengannya, setidaknya mereka tak merendahkan dirinya. Hanya ada dua orang saja yang sejak dulu tak pernah suka dengannya.


Namanya Silvi dan Dira. Sejak awal masuk SMA, mereka selalu mencari gara-gara dengannya.


Pernah saat itu mereka menghadang Kia saat pulang sekolah. Tanpa aba-aba mereka langsung menyerang Kia.


"Kenapa sih kalian tidak suka banget sama aku? Salah aku apa? Aku tak pernah mengganggu kalian kan?" tanya Kia saat itu.


Mereka malah tertawa dan berkata, "Aku itu benci banget sama kamu. Karna kamu mirip ibumu. Mau tahu kenapa aku sangat membenci ibumu? Karna ibumu selalu membuat orang tuaku bertengkar!"


"Bunda tidak mungkin melakukan sesuatu yang membuat orang tua kalian bertengkar." sangkal Kia.


"Terserah, pokoknya aku benci sama kamu dan ibumu. Kamu tahu, Ayahku tergila-gila dengan ibumu bahkan sampai aku sebesar ini, Ayah tidak bisa melupakan ibumu. Pasti ibu kamu itu pake pelet kan?" Tuduh Silvi saat itu.


"Astaghfirullah... Bunda ga mungkin kayak gitu. Kalau Ayah kamu memang suka sama Bunda, itu bukan urusan kami. Tapi bisa aku pastikan kalau Bunda tak akan menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga orang tuamu Vi." ucap Kia.


Ya, Kia tahu seperti apa Bundanya. Bunda selalu setia dengan Ayahmya. Bahkan meski selama ini Ayah seperti tak peduli dengannya, tak pernah datang mengunjunginya, namun Kia sering mendengar Bunda menyebut nama Ayahnya di setiap doa dengan linangan air mata.


Bunda lebih memilih hidup susah, meskipun banyak laki-laki yang mengejarnya. Bunda bukan wanita yang gila harta. Bunda lebih rela hidup miskin asal tetap bersama anaknya dalam suka maupun duka.


"Gak usah membela ibumu yang miskin itu. Seharusnya kalian memang mati saja. Aku benci ahhh...!" teriak Silvibtak terkendali, Dia mulai menjambak dan memukul Kia serampangan. Sementara Dira membantu memegangi tangan Kia agar Silvi bebas meluapkan amarahnya.


"Satu lagi, kamu jangan kepedean, mentang - mentang Denis suka belain kamu. Bukan berarti dia akan menyukaimu. Buang jauh-jauh mimpi kamu itu! Denis itu milikku dan hanya akan jadi milikku. Kamu jangan pernah mencoba untuk menggodanya!" ucap Silvi dengan nada mengancam.


"Vi... Kamu itu salah paham, aku memang tidak ada perasaan sama Denis. Kami memang hanya berteman dari dulu. Dari segi mana sih kamu menuduhku akan menggoda Denis?" ucap Kia di sela-sela menahan sakit.


"Sudah cukup Vi, lanjutkan lain kali lagi. Aku siap membantu kok. Ayok, sebelum ada orang lewat!"


ucap Dira melepaskan cekalan tangannya pada Kia, lalu menarik tangan Silvi dan mengajaknya pergi.

__ADS_1


Sampai saat ini, mereka masih memusuhi Kia padahal Bunda Dan Kia sama sekali tak pernah berhubungan dengan keluarga mereka.


Dan tanpa sengaja Kia tahu, ternyata ayah Silvi dulu sangat terobsesi dengan Bunda, namun Bunda tak pernah menanggapinya. Pernikahan ayah Silvi dan ibunya karna perjodohan, dan sampai sekarang ayah Silvi belum melupakan Laras meski dia juga sudah berusaha menerima pernikahan dengan ibunya Silvi.


Sejenak Kia menarik nafas panjang, tiba-tiba Kia rindu Bundanya.


"Ternyata tidak hanya di dalam dongeng saja ya, upik abu bermimpi jadi cinderela?" ucap seseorang dengan bersedekap dada yang dengan santainya menyadar di tiang penyangga.


Kia mengingat-ingat siapa orang ini. Kalau tidak salah, tadi mbak Siska mengenalkannya sebagai salah satu ART di bagian loundry. Tapi apa hubungannya? Mengapa dia sampai harus repot-repot menemui Kia di rumah Kaca yang letaknya lumayan jauh dari rumah utama?


"Maksud mbak apa ya?" tanya Zaskia tidak mengerti.


"Tidak usah pura-pura lugu. Aku sudah lama bekerja di sini bahkan sejak lulus sma. Apa kamu tahu kalau Mas Revan itu pernah punya pacar yang sangat cantik dan seksi? Dan sekarang lihatlah dirimu! Penampilanmu tak ubahnya gadis kampung. Kamu sengaja menjerat Mas Revan dengan keluguan palsu kamu kan? Kamu bermimpi untuk jadi orang kaya secara instan kan? Bahkan sampai Mas Revan membawamu ke rumah besar dan tidur di kamarnya? Hebat sekali kamu? Mantra apa yang sudah kau gunakan untuk memikat Mas Revan?" cecar wanita itu yang Kia sendiri masih mengingat-ingat siapa namanya.


Zaskia menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


"Kenapa mbak bisa nuduh aku seperti itu? Saya sama sekali tidak melakukan apa yang Mbak tuduhkan." ucap Kia.


Penampilannya memang seperti ini sejak dulu. Apa yang salah? Dan tadi apa? Wanita iti membicarakan pacarnya Revan? Mungkin dia lupa kalau sekarang mereka sudah tidak punya hubungan. Ah iya, Kia lupa menanyakan pada Revan tentang kisah Revan dengan mantannya itu.


"Sudah kubilang, jangan pura-pura lugu di depanku! Apa yang sudah kamu lakukan sama Mas Revan sebenarnya? Jawab!" tanya wanita itu sambil membentak bahkan tangannya sudah mencengkeram kaos Kia bagian dengan.


Zaskia terlonjak kaget mendapatkan perlakukan kasar seperti itu. Reflek kakinya mundur. Wanita itu masih menghardiknya.


"Aku ga melakukan apa-apa mb sungguh." ucap Kia dengan suara bergetar.


Kia sebenarnya belum mengerti arah pembicaraan wanita yang dia taksir umurnya tidak jauh dari Revan.


"Dengar baik-baik, dulu pacarnya mas Revan tidak selancang kamu yang meminta mas Revan membawanya ke rumah. Mas Revan tidak pernah membawamya ke sini. Dan setelah putus dengan Fely, mas Revan sama sekali tidak pernah mau dekat dengan cewek. Kamu tahu kenapa? Karna di hati mas Revan itu hanya mencintai Fely. Dan aku yakin sampai saat ini yang ada di hati mas Revan hanya ada Fely. Jadi bisa saja kan kalau kamu hanya dimanfaatkan mas Revan sebagai pelampiasan." ucap wanita itu sengaja memprovokasi.


"Kamu siapa sebenarnya?" tanya Kia. Perasaanya campur aduk.


"Kamu tidak perlu tahu, yang pasti... Jangan bermimpi terlalu tinggi. Setidaknya jika ada yang bisa menggantikan Felly orang itu adalah aku. Aku yakin kamu sengaja mendekati Revan untuk mengeruk duitnya saja kan. Kamu sengaja mengarang cerita tentang kemalanganmu agar mas Revan simpati padamu kan?" wanita ini masih saja mencecarnya.


Zaskia masih terpaku, seberapa pun dia menjelaskan dan menyangkal. Wanita ini tidak akan percaya.


Dia menuduh kia bermimpi terlalu tinggi, tapi lihatlah dia tadi bilang kalau yang bisa memggantikan Fely hanya dia? Apakah itu bukan mimpi yang terlalu tinggi?


Air mata yang sejak tadi menggenang di matanya akhirnya jatuh juga. Lama Zaskia menangis di sana merenungi nasibnya.


"Ya Allah, apakah aku tidak berhak bahagia. Benarkah Abang akan meninggalkanku? Lalu mengapa harus sampai sejauh ini, jika memang di dalam hatinya masih ada wanita lain?" ucapnya bermonolog.


"Apakah aku harus mundur? Apakah tidak pantas orang miskin sepertiku jatuh cinta dengan seorang pangeran? Tapi aku mencintai Abang, bukan mencintai hartanya. Apakah aku harus mundur? Ya Allah beri aku petunjukMu!" ucap Zaskia merapalkan doa.


Zaskia mulai beranjak dari duduknya, namun sepertinya perutnya kembali melilit, kepalanya mendadak pening, matanya berkunang-kunang. Zaskia berusaha mencari pegangan agar tidak jatuh. Dia menyandarkan tubuhnya pada tiang ayunan. Tapi sesaat kemudian tiba-tiba semua terlihat gelap.


Bruk...


Zaskia hilang kesadaran, tubuhnya terjatuh, pelipisnya membentur sudut ayunan dan mengeluarkan darah.


Sedangkan di rumah utama, siera baru saja turun dari mobil disusul si kembar bersama mbak pengasuh.


"Assalamu alaikum...." teriak si kembar yang menggema di seluruh ruangan. "Tante.... Tante cantik..." mereka mencari Zaskia sambil menenteng kresek yang berisi beberapa es krim dan coklat.


Tok tok tok...


Mereka mengetuk pintu kamar Revan.


"Tente, kami bawa oleh-oleh. Kita makan esklim baleng yuk! Tante....!" teriak mereka bergantian.


"Danesh sama Nesha nyari tante Kia?" tanya mbok Mi saat melihat mereka mengetuk pintu kamar Revan.


"Iya, tapi tante ga jawab. Apa tante sedang tidul ya. Kan tente lagi sakit?" tanya Nesha polos.


Mbok Mi tersenyum melihat si kembar yang penasaran.


"Tadi tante Kianya jalan-jalan ke taman depan. Mungkin sekarang masih di sana." ucap Mbok Mi memberi tahu.


"Yah... Esklimnya keburu cail dong." seru Danesh kecewa.


"Bagaimana kalau es krimnya kita taruh di kulkas dulu terus kita cari Tente sama-sama." ucap mbok Mi menengahi saat mereka terlihat kecewa.


"Mau mau... Ayo kita cali tante." teriak mereka kegirangan.

__ADS_1


Mbok Mi ke belakang dulu memasukkan eskrim ke freezer.


"Jangan lari-lari sayang...." teriak Siera yang melihat anak-anaknya berlarian ke depan.


"Assalamu alaikum... Ara datang!" ucap Kiara saat memasuki rumah besar. "Hei... Kenapa lari - lari?" teriaknya saat melihat si kembar berhamburan hendak keluar rumah.


"Tante Ala....!" Teriak mereka saat melihat siapa yang datang.


Mereka menyalami tangan Ara dan menciumnya dengan takzim. Sungguh, mereka tumbuh dengan didikan yang sangat baik.


"Tante, ayo bantuin cali tante cantik, kata embok tante lagi di taman depan." ucal Danesha pada Ara.


"Tante Kia maksudnya?" tanya Ara.


"Iya tante... Cepetan! Kita pengen cepet makan esklim belsama." ucap Danesh.


"Eh, Ara! Baru datang?" tanya Siera melihat ada Ara yang baru setengah badannya saja yang masuk ke dalam rumah.


"Iya mb." Ara melangkah mendekati Siera lalu memeluk istri Abang sepupunya itu. "Ara temani si kembar ke depan ya Mbak? Katanya Kia ada di taman." ucap Ara meminta izin.


"Oh, oke. Jangan lama-lama ya!" ucap Siera.


"Iya mbak, beres!" sahut Ara sambil memberi hormat.


Baru saja mau melangkah keluar pintu, Ara melihat salah satu ART rumah ini berjalan tergesa - gesa sambil menunduk tanpa mengetahui keberadaan Ara. Dia berjalan lewat samping menuju belakan rumah.


Ara tidak ambil pusing, dia meneruskan langkahnya. Sesekali dia mendial nomer Kia, terhubung tapi tak diangkat.


"Apa Kia ga bawa ponsel ya?" gumam Ara.


"Tante... Tante dimana? Tante...!" teriak si kembar memanggil Zaskia.


"Kia... Ini Ara... Kembali ke dalam yuk!" teriak Ara.


"Mengapa sepi? Jangan-jangan Kia ga ke sini. Harusnya kan dia dengar. Apa dia ketiduran di taman ya. Mungkin ada di rumah kaca." Ara bergumam lirih.


"Anak-anak... Kita cari ke rumah kaca yuk!" ajak Kiara pada si kembar. Tanpa menyahut mereka berlarian masuk ke rumah kaca. Mereka langung menuju kolam kecil dimana kemarin mereka bermain dengan kura-kura. Jadilah dia berhenti di situ dan lupa meneruskan pencariannya.


Tak lama datanglah 2 orang tukang kebun yang bertugas mengurus rumah kaca.


"Eh, mbak Ara ada di sini?" tanya Mang Iman yang merasa heran, karna tidak biasa-biasanya Kiara mau capek-capek berjalan ke rumah kaca. Biasanya dia kalau ke sini memakai sepeda. Capek jalan katanya.


"Eh, iya Mang. Nyari Zaskia, calon istrinya Bang Revan, katanya tadi masuk ke taman tapi Ara panggil-panggil ga nyahut." jawab Kiara.


Sengaja dia menyebutkan Kia adalah calon istri Abangnya karna tidak semua pekerja di rumah besar tahu mengenai itu.


"Apa mungkin ketiduran di bangku taman deket ayunan sana ya Mbak? Mari saya bantu nyari." Mang Ujang ikut menimpali dan menawarkan bantuan.


"Iya deh Mang, ayok!" sahut Kiara kemudian berlari kecil menuju tempat yang di maksud.


Baru saja Kiara ingin memanggil nama Kia, Kiara terkejut saat melihat Zaskia tergeletak di sembarang tempat dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Jelas ini bukan Karna Zaskia ketiduran, pikir Kiara. Kiara langsung memdekat.


"Astaghfirullah hal 'adzim.... Kia... Bangun Ki..." ucap Kiara yang mulai panik saat melihat wajah pucat Zaskia dengan darah di pelipisnya yang mulai kental.


"Tolong.... Mang bantuin Kiara Mang.... Zaskia pingsan!" teriak Kiara memanggil ke dua tukang kebun tadi.


Mereka segera mengangkat tubuh Kia. Karna tempatnya jauh, terpaksa mereka membawa Kia dengan angkong agar lebih cepat sampai ke rumah utama.


TBC...


Mohon maaf semua, kemarin tidak sempet update...


Anaknya mau tumbuh gigi, 2 hari rewel jadi ga sempet buat nulis-nulis...


Yang bilang ceritanya cuma dikit... Ini othornya kasih 2000 kata lebih lho... Masih kurang juga? Tetap simak kelanjutannya ya... Love you all, terima kasih sudah selalu kasih dukungan


Jangal lupa tingglalkan komen


Tekan juga 👍 dan ❤️


Biar othornya tetap semangat update bab baru


Makasih❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2