
Abimana sudah sejak pagi tak bisa tenang. Dia mondar-mandir di kamarnya dengan kursi roda.
Keadaan kakinya sudah mengalami banyak perubahan. Dengan menyemangati diri, Abimana selalu berlatih berjalan sendiri. Yang awalnya masih kaku saat berjalan menggunakan tongkat penyangga, sekarang sudah mulai terbiasa. Dia sudah mampu berdiri sendiri tanpa penyangga meskipun belum kuat jika berdiri terlalu lama.
Mungkin karena sudah menemukan titik terang istri dan anaknyalah yang membuanya menjadi semangat.
"Kenapa waktunya lama sekali?" gumam Abimana namun masih bisa didengar Zian.
"Apa menurutmu tidak apa-apa jika kita berangkat sekarang?" tanya Abimana meminta pendapat.
Zian hanya tersenyum melihat kegelisahan Abimana yang tidak sabar ingin bertemu calon menantunya.
"Kenapa kau hanya tersenyum Zi? Apakah aku berlebihan? Aku hanya ingin secepatnya bertemu dengan anakku. Apakah menurutmu Zaskia akan hadir di sana juga Zi?" tanya Abimana.
"Mungkin hari ini kita tidak akan bertemu dengan Nona Tuan. Namun jangan berkecil hati. Bukankah harapan untuk bertemu dengan Nona da Nyonya akan semakin dekat." jawab Zi rasional.
"Ya... Kau benar. Setelah apa yang pernah aku lakukan dengan mereka, sangat wajar jika mereka tidak mempercayaiku, bahkan saat itu Diana brengsek itu mengatakan aku mencarinya untuk membunuhnya kan? Ck, mereka pasti takut denganku. Sekarang katakan Zi, apa yang harus kulakukan agar mereka tidak takut lagi padaku?" tanya Abimana dengan wajah sendu.
"Anda jangan berkecil hati Tuan, Anda hanya harus memperlihatkan kesungguhan hati jika Tuan benar-benar menyayangi mereka." ucap Zian meyakinkan.
"Apakah menurutmu, Laras membenciku dan sudah menemukan pria lain yang lebih baik Zi? Tidak Zi, aku tidak akan sanggup istriku dipeluk laki-laki lain Zi." ucap Abimana dengan mata berkaca-kaca.
Lah kok jadi melow gini sih, kenapa malah jadi mau nangis gini. Kalau itu kan aku juga tidak tahu. 17 tahun itu bukan waktu yang sedikit. Jika sampai Nyonya masih sendiri dan memilih setia artinya dia dia benar - benar wanita yang tangguh dan Tuan sudah menyia-nyiakannya. Batin Zian.
"Eh... Kalau itu nanti kita bisa tanyakan pasa Mas Revan, Tuan. Tapi saya yakin kalau Nyonya adalah wanita yang setia dan memiliki harga diri yang tinggi, jadi mungkin sampai sekarang saya rasa Nyonya Laras masih setia dengan Tuan." ucap Zian berusaha memghibur Tuannya.
Abimana mendongak dan tersenyum sumringah.
"Kau benar, aku yakin istriku adalah wanita yang tangguh."
Waktu sudah semakin siang, Zian akhirnya mengajak berangkat, agar Abimana tidak terus merasa gelisah.
"Aku ingin memberikan hadiah untuk putriku Zi, apa kau ada saran? Meski nanti aku tak berjumpa dengannya setidaknya aku bisa menitipkannya." ucap Abimana saat sudah dalam perjalanan.
Belum sempat Zian menjawab, dia seperti melihat di belakang mobil mereka ada yang mengikuti. Segera dia menelepon bodyguardnya, untuk mengecoh mereka.
"Masuk ke area 3R Hotel cepat! Kita bertukar mobil di area parkir VIP. Yang lain, alihkan mobil hitam yang mengikuti kita!" perintah Zian.
"Maaf Tuan, mungkin lain kali saja kita membeli hadiah untuk Nona. Mungkin lebih baik, kita memastikan keberadaan Nona dan Nyonya terlebih dahulu." ucap Zian memberi saran pada Abimana.
Abimana menghela nafas, dia sampai lupa bahwa banyak bahaya yang sedang mengintai.
"Ya, tidak masalah." jawab Abimana pasrah. "Siapa mereka?" tanya Abimana saat sampai di area parkir.
"Sepertinya orang suruham Roy Tuan. Maaf kita harus berganti mobil terlebih dulu." ucap Zian, dia merogoh ponsel di jasnya dan menelepon bodyguardnya lagi untuk berjaga dan memastikan semua aman saat Abimana berpindah mobil.
Setelah semua selesai, Zian segera menyuruh sopir untuk melajukan mobilnya. Tak ada lagi pembicaraan selama perjalanan. Semua larut dalam pikirannya masing-masing.
Setelah setengah jam lebih perjalanan mereka sampai di depan gerbang kokoh sebuah rumah, ah... mungkin bisa disebut mansion. Karena memang mansion Abimana bentuknya hampir sama dengan rumah besar. Mungkin Revan berasal dari orang kaya, tapi memilih menjadi abdi negara, pikir Zian.
Takut salah alamat akhirnya Zian membuka ponselnya dan membuka kontak Revan lalu melakukan panggilan video.
"Assalamu alaikum Pak Zi. Sudah sampai mana?" jawab Revan di ujung telepon.
"Saya sampai di depan gerbang alamat yang Mas kirimkan, saya hanya memastikan saja Mas. Takut salah alamat." ucap Zian berkelakar sambil mengarahkan kamera ponsel ke gerbang rumah besar.
__ADS_1
"Kalau begitu langsung masuk saja Pak, saya akan menghubungi penjaga di pintu gerbang." jawab Revan.
Tak lama setelah panggilan ditutup, terlihat pintu gerbang dibuka dari dalam. Penjaga memberi isyarat memprsilakan masuk.
Abimana pun tak kalah takjub dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah putrinya di terima di keluarga Revan yang ternyata dari keluarga kaya raya.
Revan sengaja menyambut calon mertuanya ini di teras depan. Tak lama terlihat mobil berhenti di halaman. Terlihat pria yang diyakini Revan adalah Zian turun dan menganggukkan kepala, memberi hormat pada pamilik rumah. Zian membukakan pintu untuk Abimana. Terlihat sekali asisten Abimana itu telaten membantu Abimana turun dan mendorong kursi rodanya.
"Selamat siang Om. Saya Revan. Maaf kalau Om yang harus repot-repot datang ke sini." ucap Revan sambil menyalami Abimana dengan takzim. Dia menyadari, seharusnya dirinyalah yang sowan terhadap orang yang lebih tua. Namun karna banyak pertimbangan akhirnya Revan pun memutuskan hal ini.
"Tak masalah, maaf kalau kedatangan Om mengganggu waktu kalian." jawab Abimana.
"Tentu saja tidak Om. Sekalian keluarga saya ingin bertemu dengan Om Abi. Saya rasa, Om juga sudah mengenalnya. Mari masuk." ucap Revan mempersilakan tamunya ke dalam.
Revan mengarahkan tamunya menuju ruang tamu, tak lama keluarlah Papa Tomo dan Reyhan.
"Sudah datang rupanya calon besanku." ucap Papa sambil berjalan ke arah tamunya untuk menyalami.
"Mas Tomo, Kalian? Jadi Revan anakmu Mas? Astaga, kenapa aku tidak mengenalinya. Mas Tomo juga masih terlihat gagah padahal anak-anaknya udah sebesar ini." puji Abimana saat melihat Papa.
"Ya, Kamu kemana saja selama ini? Padahal selama ini perusahaan kita bekerja sama, namun sama sekali aku tak pernah bertemu denganmu. Dan apa yang terjadi padamu mengapa bisa seperti ini? Apakah karna kecelakaan itu. Maaf aku hanya pernah mendengarnya, karena saat akan berkunjung katanya kamu di bawa ke luar negri." Papa lanhsung memberondong Abimana dengan banyak pertanyaan.
Ya, dulu yang selalu mendukung bisnis dan usaha Abimana adalah Papa Tomo. Dia menjadi inverstor utama di perusahaannya sampai perusahaan Abimana berdiri dengan kokoh pun Papa Tomo masih berinvestasi di sana.
Abimana menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Papa Tomo.
"Mungkin ini hukuman Tuhan untukku Mas. Dulu aku menyia-nyiakan istriku dan mengusirnya. Ini adalah karma yang diberikan Tuhan untukku." jawab Abimana dengan suara bergetar.
Tak lama Mama Rena datang memberitahukan kalau makan siang sudah siap.
"Mbak Rena kan?" tanya Abimana. Bertemu dengan keluarga ini rasanya jiwanya benar-bemae hidup lagi.
"Sepertinya kamu harus menginap di sini nanti. Karna banyak hal yang ingin aku tanyakan." ucap Papa berkelakar.
Mereka pun makan siang bersama. Revan pun merasa tenang, karena sepertinya ayah dari calon istrinya ini benar-benar menyesali kesalahannya.
Setelah makan siang mereka melanjutkan sholat dzuhur berjamaah. Abimana tak henti-hentinya bersyukur karena Tuhan mengirimkan keluarga ini sebagai perantara untuk bertemu dengan keluarganya.
"Jadi, sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Papa pun memulai pembicaraan saat mereka sudah bersantai di ruang tamu.
Abimana menceritakan apa yang terjadi dari awal dia mulai terpengaruh oleh hasutan Diana sampai akhirnya mngusir istri dan anaknya dari mansion. Sampai akhirnya Abimana menyesal saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya dan berusaha mencari keberadaan istri dan anaknya namun sama sekali tak diketahui jejaknya, sampai akhirnya terjadilah kecelakaan yang sudah membunuh semua harapan dan semangatnya. Dia menghukum dirinya dengan tetap menjadi lumpuh.
"17 tahun orang-orangku mencari keberadaan mereka. Namun belakangan baru aku tahu, ternyata selama ini orang yang aku percaya malah ternyata dalang dari semua ini. Mas Tomo mengenal asistenku kan? Dialah yang merencanakan semua ini. Namun sepertinya, dia belum sadar kalau sekarang aku sudah mengetahui kebusukannya." jelas Abimana mengakhiri ceritanya.
Semua menjadi terharu mendengarnya, bahkan Revan pun sampai tidak mengeluarkan suara untuk menanggapinya.
Dalam hati Revan benar-benar mengutuk Roy dan Diana. Pantas saja Kia seperti ketakutan dengan ayahnya. Takut ditolak, takut tidak diakui, takut ayahnya malah akan melukainya, meski sejujurnya Zaskia sangat merindukan pelukan ayahmya.
"Lalu apa rencanamu, kami pasti membantumu?" tanya Papa kemudian.
"Yang paling penting saat ini aku hanya ingin bertemu dengan anak dan istriku Mas. Setidaknya aku harus menebus semua waktu yang sudah terlewatkan, menebus rasa bersalahku. Tak peduli meskipun mereka masih marah, biarlah akan kuterima semua hukuman yang akan mereka berikan. Asal mereka mau bertemu dan kembali bersamaku Mas." ucap Abimana sendu.
"Om jangan khawatir, mereka di tempat yang aman. Sebenarnya Zaskia ada di tempat kami. Namun tadi dia memaksa untuk bekerja, jadi biarlah saya yang akan menyampaikan pada Kia dulu tentang hal ini Om. Jika Zaskia sudah siap untuk bertemu maka saya akan memberitahu Om." ucap Revan jujur.
Abimana mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Apa kau juga merindukan istrimu?" pertanyaan itu membuat semua yang ada di sana menatap Abimana.
Abimana tersenyum dan mengangguk.
"Sangat, bahkan Saat masih belum tahu kebenarannya, ada penyesalan yang bersemayam di hati dan rindu untuk mereka. Bahkan dari situlah aku tahu pertama kali fakta yang terjadi. Apakah Mas Tomo tahu keberadaan istriku? Orang-orangku mencari ke kampungnya tapi katanya baru saja berangkat ke kota untuk bekerja." ucap Abimana.
Papa jadi punya ide jahil untuk mengetahui perasaannya pada istrinya.
"Jadi waktu itu anak buahmu yang datang mencari Laras? Sayang sekali kalian keduluan seseorang yang sangat bersimpati padanya dan membawa pergi. Kamu tahu? Aku sudah resmi melamar putrimu untuk anakku saat itu." ucap Papa sengaja membuat dua pernyataan. Dia ingin melihat yang mana dulu yang akan ditanyakan Abimana.
"Maksud Mas Abi apa? Laras masih istriku Mas, aku tidak pernah mengucapkan talak padanya. Aku masih sangat mencintainya Mas. Tidak... Aku tidak akan biarkan siapapun mengambil istriku. Tolong Mas, beri tahu aku di mana istriku. Aku akan menjemputnya." Abimana bahkan tak malu saat memohon dengan matabyg berkaca-kaca.
Papa Tomo tersenyum puas, ternyata bucin di masa tua itu sungguh ada.
"Dasar bucin, sudah tua juga! Tenang saja tadi aku hanya sedang bercanda. Istrimu aman, dia wanita tangguh. Kau harus bangga padanya. Bahkan mungkin kau akan bertambah bucin saat nanti dia kembali padamu, hahaha...!" semua ikut tersenyum mendengar Papa Tomo menjahili Abimana.
Abimana hanya mendengus.
"Aku belum tua Mas. Baru 43 tahun masih bisa bikin anak lagi. Enak saja istriku mau diambil orang." ucap Abimana tidak terima dikatakan tua. Tawa Papa tambah kencang.
"Jadi kamu mau saingan sama Revan? Ya ga papa lah nanti kalian janjian kalau mau bikin anak. Hahaha..." ucap Papa sambil tergelak.
"Papa apaan sih. Jadi ini gimana nasib Revan sama Kia? Revan boleh cepet-cepet nikahin anak Om kan?" tanya Revan penuh semangat. Bagaimanapun Abimana adalah wali dari Zaskia nanti saat menikah, dan sekarang Revan sudah merasa lega karna sudah bertemu dengan orang yang paling berhak menikahkan mereka.
Pertemuan dua keluarga ini mulai membicarakan hal yg seriua terkait rencana pernikahan Revan dan Zaskia.
"Kamu sudah tidak sabaran sekali. Anakku bukannya baru lulus SMA? Jangan bilang kalian sudah nyicil ya?" tuduh Abimana serius.
"Ck... Om ini asal tuduh aja. Justru Revan takut akan kejadian kayak gitu kalau kami tidak segera menikah." ucap Revan yang memang kadang harus bisa sekuat mungkin mwnahan hasratnya.
"Apakah sudah lama kamu mengenal Zaskiaku?" tanya Abimana menyelidik. Bukan berarti
"Sebenernya belum terlalu lama juga Om, belum genap sebulan juga, hehe...!" jawab Revan sambil nyengir.
"Oh, aku pikir sudah lama. Makanya aku itu mikirnya dulu Revan orang satu daerah dengan Kia jadi kalian bisa sedekat ini. Terus gimana critanya kok bisa kenal, bahkan belum ada sebulan sudah ngebet kawin." tanya Abimana penasaran.
"Sebenernya Kia itu ke Jakarta mau nyusulin tunangannya Om. Tapi saat ketemu ternyata tunangannya baru saja melakukan ijab qobul dengan sepupunya sendiri, anak dari budenya." ucap Revan teringat saat dia senang sekaligus sedih mendengar kabar ini.
"Maksudnya? Sebelum sama kamu putri om sudah bertunangan tapi ditinggal nikah begitu?" tanya Abimana yang prihatin dengan nasib putrinya.
"Begitulah Om, tapi saya malah bersyukur karna akhirnya Revam bisa sama Kia. Tapi waktu itu Revan sempat putus ada nyari Kia ga ketemu. Eh, ternyata dia malah kerja di cafe Revan." jawab Revan.
"Ya, Om percaya kalau kamu bisa menjaganya. Untuk kapan waktunya saya rasa ini harus dibicarakan dengan Kia dan juga bundanya juga. Apakah Mas Tomo bisa mengusahakan secepatnya agar aku bisa bertemu dengan Laras Mas?" tanya Abimana penuh harap.
"Secepatnya akan ku kabari. Akan kusampaikan perihal pertemuan kita hari ini pada Laras. Bersabarlah." ucap Papa menenangkan Abimana.
Mereka masih bertukar cerita sampai menjelang sore dan kahirnya Abimana berpamitan pada Papa Tomo dan keluarganya.
TBC...
Tolong tinggalkan komen ya bestie...
Othornya lagi perlu energi tambahan😊
Jangan lupa juga untuk like dan fav
__ADS_1
Makasih ❤️❤️