Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 47. LINA DITANGKAP


__ADS_3

Di rumah besar pagi ini terlihat sibuk. Mbok Mi dibantu dengan yang lain sedang mempersiapkan aneka camilan dan makanan yang akan disajikan untuk makan siang dalam rangka menyambut kedatangan seseorang yang digadang-gadang menjadi besan Pak Sutomo.


Hari ini adalah penentuan masa lajang Revan apakah akan segera berakhir ataukah masih akan diperpanjang.


Sekitar 2 mingguan lagi memasuki bulan puasa, sedangkan Revan ingin saat bulan puasa nanti statusnya Dengan Zaskia sudah berubah menjadi suami istri.


Sedangkan di ruang loundry sedang terjadi perdebatan antara Lina dengan teman satu bagian, sebut saja Bunga. Sejak masuk ke ruang loundry Lina hanya menyuruhnya melakukan ini itu, pekerjaan yang biasa mereka kerjakan berdua. Meski memang sejak dulu Lina berlaku seenaknya namun Bunga merasa hari ini Lina sudah keterlaluan.


Lina dari tadi hanya duduk manis ngeteh sambil nyuruh ini itu layaknya mandor.


"Mbak, kalo kayak gini saya ga sanggup mbak. Kita sama-sama pembantu di sini. Mbak Lina ga usah gegayaan seperti bos deh. Kita kerja cari duit, kalau saya yang kerjakan semua berarti nanti gaji mbak Lina untuk saya juga." ucap Bunga dengan nada tinggi.


"Sebentar lagi aku memang akan jadi bos. Jadi kamu harus nurut kalau masih mau kerja di sini. Kalau kamu membangkang, orang yang pertama kupecat adalah kamu." ucap Lina dengan percaya diri.


"Kalau mimpi jangan ketinggian mbak, nanti kalau ketabrak pesawat yang ada mbak Lina nyungsep di laut." ucap Bunga lagi mencibir.


Lina berdiri dan menarik krah baju yg digunakan Bunga, "Siapa yang bilang aku bermimpi, mulai hari ini aku dan mas Revan akan resmi menjadi kekasih. Dan kalau aku jadi pacarnya Mas Revan otomatis aku juga adalah bos, paham?" ucap Bella dengan tangan masih mencengkeram krah baju Bunga.


Dengan kasar Bunga pun menghempaskan tangan Zaskia, "Dasar sinting! Memang kamu siapa sampai Mas Revan mau melirikmu? Dengar ya, Mas Revan itu sudah punya calon istri yang cantik dan masih ting-ting. Sementara kamu, ngaca dong mbak!" sungut Bunga sambil berlalu membawa pakaian yang sudah di cuci ke tempat area penjemuran.


Sementara itu Revan menarik Kia ke belakang. Ini harus segera diselesaikan.


"Adek boleh ke kafe, tapi ikut Abang dulu. Tahu kan Adek harus apa?" bisik Revan.


"Iya, tapi ingat Abang jangan deket - deket sama dia. Jangan senyum juga." ucap Zaskia yang jengkel saat ingat Lina yang menginginkan Revan.


"Iya sayang... Ayo!" ucap Revan pelan. Mereka menuju bagian belakang rumah beriringan.


Saat sampai di dapur, mereka menjadi pusat perhatian terutama Zaskia. Ada Kiara di sana, pasti anak itu sudah menggosip.


"Sudah mau menemui mak lampir? Ya udah ayo, ini wartawannya jangan sampai tertinggal." ucap Kiara.


"Jangan mau kalah sama nenek lampir itu Mbak Kia kalau nanti dia macam-macam panggil nama saya, saya pasti datang." ucap Siska dengan semangat 45.


"Mabk Siska suka lebay deh, itu kemarin karna kecelakaan aja Mbak, Zaskia belum siap makanya oleng." jawab Zaskia.


"Sayang... Lho ini ada apa?" Mama Rena yang memang belum tahu kejadian semalam merasa heran saat Revan main-main ke dapur. Hal yang tidak pernah dia lakukan, karna dia akan merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah ART perempuan seperti ini. Namun yang dia lihat saat ini, dia nampak santai, meski tangannya tak pernah lepas dari tangan Zaskia.


"Yah, Mama sih ketinggalan info. Oiya semalam pas Papa mau ikut menyaksikan live drama mak lampir, Mama malah mengajaknya ke kamar sih. Jadi ga tau kan?" sambar Kiara menanggapi.


"Ha siapa mak lampir? Ada apa sih? Itu pipi kamu kenapa sayang? Duh kok ada bekas luka dan lebam gini sih? Revan kamu apain Kia?" tanya Mama dengan nada cemas.


"Maaf Ma, ini gara-gara Revan yang tidak bisa menjaga Kia." jawab Revan penuh sesal.


"Ga papa Ma, ini cuma indsiden kecil kok. Kia permisi sebentar Ma. Ada keperluan di belakang." pamit Zaskia sopan.


"Ayo ikut Ara, nanti Ara ceritain Ma." ucap Kiara sambil menarik tangan Mama. Tanpa banyak tanya Mama mengikuti Kiara. Mereka berhenti tak jauh dari ruang loundry, namun masih dapat melihat Revan dan Kia sedang menemui seoarang ART di sana.


"Mas Revan!!" seru Lina sambil tersenyum melihat Revan datang menepati janjinya. Namun detik berikutnya senyumnya pudar saat melihat Zaskia muncul di belakangnya.


"Eh, ngapain kamu masih ngintilin Mas Revan. Dengar ya, Mas Revan itu sebentar lagi akan jadi pacar aku. Jadi kamu ga usah dekat-dekat dia lagi!" ucap Lina dengan percaya diri.


Mama Rena terbelalak dan langsung menutup mulutnya karna tidak percaya dengan pernyataan wanita ondel-ondel itu. Lihat penampilan Lina saat ini. Menggunakan kaos ketat dan celana hot pant, lipstik yang merah menyala seperti bibir lohan, bedak yang entah berapa centi tebalnya. Ini dulu waktu sekolah kayaknya tidak belajar attitude. Atau pas pelajaran itu dia bolos ke kantin mungkin.


Zaskia tersenyum menatap Lina, posisinya saat ini sudah berda di depan Lina. Belum sempat dia menjawab, Revan sudah membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Dek, perut Abang mual." bisik Revan, tangannya reflek memeluk Kia dari belakang dan mengendus leher Kia mencari kenyamanan dengan mencium wangi tubuh gadisnya.


Zaskia tidak menolak, dia malah memegangi tangan Revan yang melingkar di perutnya.


"Tante Lina boleh kok bermimpi, lihat! Abang itu ga bisa jauh-jauh dari Kia. Jadi kalau tante pengen jadi pacar nya Abang, tante harus mau jadi kacungnya Kia dulu. Dan ingat, jangan berharap bisa berdekatan dengan Abang. Karena aroma tubuh kamu itu akan bikin Abang jadi mual dan pusing. Jadi kalau mau ketemu sama Abang harus berada di jarak minimal 5 meter. Ah, tapi maaf tante... Tentu saja sebagai calon istrinya saya tidak akan membiarkan pria kesayangan Kia ketemu sama tante dan... " belum lama Zaskia berucap, Lina sudah berteriak tersulut emosi.


"Cukup! Dasar perempuan kampung! Mas Revan kemarin sudah janji kan bakalan terima Lina jadi pacar Mas Revan?" Luna berusaha menagih janji Revan semalam.


Mama Rena yang dari menyaksikan kejadian itu mulai mengerti situasi, sejak tadi dia menunggu Ara bercerita, nyatanya dia malah asyik dengan ponselnya yang sedang mengambil video dari tontonan gratis ini. Mama sudah sangat geram ingin maju, namun dicegah Ara.


Revan yang sudah merasakan nyaman pada perutnya pun mulai bicara, "Jaga batasanmu! Jangan pernah membentak apalagi melukai calon istriku dengan tangan kotormu lagi! Kamu kira saya tidak tahu kejadian semalam seperti apa? Kamu mau jadi pacar saya kan?" tanya Revan kemudian.


Meski Lina tidak suka dengan bentakan Revan, namun akhirnya dia mengangguk tanda Masih ada keinginan untuk jadi pacarnya pria sejuta pesona ini.


"Ok kamu hanya perlu memenuhi syaratnya yaitu kamu harus mendapatkan izin dari Zaskia. Kalau dia mengizinkan maka aku akan jadi pacar kamu. Meski aku sendiri tidak sudi berada di dekatmu." ucap Revan kemudian lalu tersenyum sinis.


"Mas Revan mempermainkan saya?" tanya Lina marah.


"Kenapa? Saya hanya mengikuti keinginanmu. Ah iya, anakmu sedang mencarimu. Orang tuamu sebentar lagi akan ke sini mengucapkan salam perpisahan. Polisi sudah berada di depan untuk menjemputmu." ucap Revan santai.


"Kenapa Mas Revan melakukan ini pada saya?" tanya Lina yang saat ini sedikit memucat.


"Tanya sama diri kamu sendiri. Kamu pikir saya akan diam saja dengan perlakukanmu padaku dan pada gadisku? Semua hal yang kamu rencanakan untuk memcelakai saya itu termasuk kriminal dan kamu harus mendapatkan balasan untuk itu." ucap Revan dingin.


"Tidak Mas, jangan lalukan itu. Aku hanya ingin bersama dengan mas Revan itu aja. Jangan laporkan polisi Mas!" Lina yang merasa terancam pun akhirnya memohon pada Revan.


Mama yg sudah tidak tahan lagi menyaksikan drama di depannya akhirnya memghampiri mereka.


Plak... Plak...


Mereka yang bekerja di rumah utama memang tidak ada yang berani macam-macam, bukan cuma dipecat bahkan masa depannya bisa saja suram.


" Maaf Bu, ampuni saya. Saya hanya ingin mengejar cinta saya. Saya tidak bermaksud menyakiti Mas Revan. Maafkan saya Bu, jangan laporkan saya ke polisi. Anak saya masih kecil Bu. Siapa yang akan menafkahinya." ucap Lina memohon maaf.


"Kamu sudah tahu kan peraturan di rumah ini? Lalu mengapa masih kamu langgar? Bukankah itu artinya kamu juga sudah siap dengan konsekuensinya?" ucap Mama tegas.


"Tidak Bu, saya mohon Ampuni saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Lina masih mengiba.


Tak lama datanglah 3 orang berseragam polisi yang masuk dari arah samping rumah.


"Tangkap dia Pak! Jangan biarkan dia lepas, siapapun yang menjamin!" ucap Mama Rena masih menahan amarah.


"Ma, sudah. Biarkan mereka yang mengurus. Jaga emosi Mama, jangan sampai tensi naik. Masuk yuk!" ucap Revan membujuk mamanya. Sedangkan Kia ikut merengkuh Mama dan mengusap punggungnya untuk menenangkan.


"Silakan di bawa Pak, bukti-bukti akan segera kami susulkan!" ucap Revan lagi.


"Gak Mas, Lina gak mau. Tolong lepasin saya, saya minta maaf." teriak Lina yang berintak saat polisi membawanya.


Revan tak mempedulikan teriakan wanita itu. Dia segera mengajak Mama dan Kia ke dalam. Ternyata banyak yang diam-diam mengintip kejadian itu, akhirmya mereka bersorak setelah Lina digelandang polisi.


"Akhirnya nenek lampir itu kena karma juga. Sudah bosan juga aku jadi kacungnya. Masa semua kerjaan aku yang kerjain dan di suka main suruh-suruh kayak bos." ucap Bunga


"Hah, beneran? Kenapa kamu ga bilang Bu Rena? Kalau bilang kan pasti dah dipecat sejak dulu." Mbok Sri ikut menanggapi.


"Sudah mau aku laporin, tapi dia selalu menindasku. Dia bilang kalau dia keluar dia juga akan bikin aku keluar dari sini. Kan sayang Mbok, dimana lagi dapet kerjaan dengan gaji gede seperti di sini."

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kamu bekerjalah dengan tenang. Sudah beres pekerjaan kamu kok main di dapur?"


"Iya mbok sudah, mau bantuin mbok aja. Bosen di belakang, masih emosi juga sama si Lina itu."


Sementara setelah huru hara terjadi Revan mengantarkan Zaskia ke kafe. Dia bersikeras ingin masuk kerja pagi ini.


"Jangan kerjain yang berat-berat. Adek tuh seharusnya istirahat aja di rumah, biar pulih dulu." ucap Revan serius.


"Kia udah ga papa Bang. Iya nanti Kia kerjain yang ringan-ringan aja. Abang mau langsung pulang?" tanya Kia lagi.


"Sebentar Dek. Masih pengen sama Adek sebenernya." ucap Revan lirih.


"Abang lihat deh , kafe udah mulai rame lho. Ini Kia udah terlambat banget. Udah jam 10 ini." ucap Kia sambil memperlihatkan jam yang melingkar di tangannya.


Revan hanya diam sambil tersenyum memperhatikan bibir Zaskia yang sedang ngomel. Benar-benar terlihat sedang menggodanya. Perlahan kepala Revan maju.


" Abang mau apa?" tanya Kia panik saat melihat wajah mereka hanya berjarak satu senti.


Revan tak menjawab. Pelam namun pasti dia mengarahkan bibirnya pada bibir Kia.


Cup...


Kecupan singkat akhirnya mendarat di bibir Zaskia. Kia sendiri hanya diam dan membelalakkan matanya.


Sekali lagi cup... Kali ini Revan menahannya agak lama. Tangannya bergerak memegang tengkuk Kia, lalu dengan pelan bibirnya mulai ******* bibir Kia.


Kia masih tak bereaksi, dia masih mengatupkan bibirnya. Logikanya menolak tapi tubuhnya menginginkan. Dasar penghianat!


Revan tersenyum saat melihat Kia mulai memejamkan matanya. Gerakannya mulai rakus dan tak sabaran, dia menggigit bibir bawah Kia agar bisa mengakses ke dalam. Terlihat sekali Kia yang memang belum pernah berciuman.


Belum sempat Kia berteriak saat bibirnya digigit, Revan sudah berhasil menjajah sampai ke dalam rongga mulutnya. Revan baru melepaskan saat Kia hampir kebahisan nafas.


"Abang ih!" Kia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.


"Enak ya? Nanti lagi ya yang..." ucap Revan menggoda Zaskia.


"Tau ah Abang... Sana buruan balik! Kia mau turun." ucap Kia sambil membuang pandangannya ke arah luar jendela mobil.


"Yakin, ga mau sekali lagi?" ucap Revan lagi sambil mengusap pipi Kia yang memerah. Kia hanya menggeleng.


"Ya udah kamu boleh turun, inget pesen Abang! Pake maskernya dulu!" ucap Revan sambil memakaikan masker pada wajah Kia.


Kia meraih tangan Revan lalu menciumnya, kemudian dia turun dari mobil.


Setelah memastikan Kia masuk ke dalam, Revan segera menjalankan mobilnya kembali ke rumah besar.


TBC...


Baca juga karya baru aku ya



Tolong dukungannya ya bestie...


Jangan lupa tinggalkan komentar atau saran dan like nya

__ADS_1


Terima kasih❤️❤️


__ADS_2