
Papa Tomo rencananya dari hotel berangkat subuh. Mereka ternyata membawa semacam seserahan agar terlihat seperti orang mau mantenan, bukan mau arisan, kata Mama Rena.
Arya dan Kiara tentu tak ingin ketinggalan juga. Mereka bahkan telah mempersiapkan untuk membuat vlog untuk mereview beberapa pantai, penginapan, tempat nongkrong, tempat makan yang recomended di jogja. Ya jalan-jalan, ya kerja. Begitu konsep mereka.
Saat ini bahkan mereka sudah berani merambah ke dunia artis dan musik. Arya pun membuatkan chanel youtube sendiri untuk Kiara. Baru semingguan yang lalu dibuat, tapi sekarang sudah mencapai 3 juta subcriber. Ternyata ini ada hubungannya juga dengan kejadian di kafe waktu itu. Kiara sendiri juga sangat mudah belajar. Mereka bahkan lebih sering berada di apartemen Arya untuk menggarap video-video mereka sebelum diupload.
Sebuah mobil warna silver berhenti di jalan depan rumah. Halaman sudah dipasang deklit dan ditata kursi jadi tidak bisa lagi untuk parkir. Sedangkan mobil Revan dan Abimana juga hanya dititipkan tempat Pak RT.
Tin.. Tin...
Zaskia berlarian keluar rumah, dia kira yang datang adalah mertuanya, ternyata Bulik Marni beserta anak dan suaminya.
"Bulik apa kabar?" sapa Zaskia sopan.
"Baik banget Ki. Tambah mulyo tambah sugeh. Lihat, Bulik baru saja beli kalung emas. Ini juga tasnya baru lho. Bagus kan?"
Zaskia hanya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Penting ya, kalau orang tanya apa jawabnya malah kemana-mana?
Suaminya dan anaknya juga keluar dari mobil dan langsung menyapa Zaskia. Sebenarnya suami Bulik Marni ini orangnya baik, cuma dia takut sama istrinya.
"Wah tambah ayu yo nduk. Bundamu mana? Simbah sudah ada di sini. Do apik to?" Paklik memberikan pertanyaan yang beruntun membuat Bulik bermuka masam.
Sedangkan Gisela yang memang tidak pernah mengakrabkan diri dengan Zaskia hanya diam saja. Saat Zaskia menyalaminya juga hanya menyambutnya dengan datar.
"Monggo, masuk dulu, sepertinya masih pada siap-siap di dalam," ucap Zaskia mempersilakan tamunya masuk.
"Mbak, dicari Mas Revan. Eh, Bulik sudah datang?"
Faisal menyalami ketiga orang yang baru datang itu dengan takdzim.
"Saya tinggal dulu geh Lik? Dek Ical, tolong bilang orang belakang untuk bikinkan minum ya."
Zaskia menuju kamarnya setelah berpamitan dengan tamunya.
Marni mulai menelisik seluruh sudut ruangan. Saat ini mereka di ruang keluarga. Matras yang semalam untuk alas tidur sudah disingkirkan ke kamar kosong. Maklum, namanya juga baru dibangun, pasti masih ada yang belum beres penataannya. Mereka baru sadar kalau rumah ini sudah dibangun.
"Pak, sepertinya Laras habis bangun rumah ya? Dapat duit dari mana. Memang gosip Laras jadi istri simpanan itu bener ya?" tanya Marni curiga.
"Ya ga tahu lah Bu. Memangnya Bapak ini kurang kerjaan suka kepoin orang," jawab suaminya.
"Ck, Bapak nih, gak kompak." Terlihat Marni kesal dengan suaminya.
Gisela hanya mengendikkan bahunya saat Ibunya meminta pendapatnya.
Tak berapa lama Laras pun keluar bersama suaminya. Bersamaan juga Simbah putri yang keluar bersama Dinda.
"Loh, Dek Marni sudah datang? Kok ga ada yang kasih tahu. Gimana kabarnya?" Sapa Laras yang berusaha melupakan sakit hatinya, saat dulu dia pernah dihina.
Marni terbengong saat melihat penampilan Laras. Apalagi saat melihat sosok pria yang sudah tidak muda tapi belum juga terlihat tua, bahkan masih terlihat gagah. Wajahnya tampan untuk seumuran dia. Laras juga terlihat lebih glowing dan seperti kembali muda. Penampilan dan baju yang mereka gunakan juga terlihat klimis. Tidak lecek seperti yang biasa Laras pakai.
"Baru juga masuk kok Mbak. Ibu juga sudah di sini, apa kabar Bu?" suami Marni langsung menyalami mertuanya dan beralih pada Laras dan Abimana.
"Ibu semalam tidur di sini? Badan Ibu ga sakit-sakit kan?" tanya Marni saat menyalami ibunya sambil melirik Laras. Sementara yang dilirik hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata adeknya itu belum berubah.
"Wong kasure saja baru kok, springbed empuk, menu-menul. Pie kabare Mar?" Kali ini Rumi yang menjawab. Meskipun dengan adik kandung, nampaknya mereka tidak akur. Namun dia tetap berusaha untuk bersikap baik.
__ADS_1
Marni tampak menarik napas kasar. Kakaknya itu selalu saja membela Laras. Mereka semua saling bersalaman. Abimana bersikap dingin pada tamunya itu, dia seperti mengibarkan bendera perang.
"Jadi benar, kamu jadi simpanan orang Ras?"
Satu pertanyaan dari Marni yang sepertinya bisa memancing amarah orang banyak. Tapi Laras mencoba menanggapinya dengan santai. Dia tidak ingin menghabiskan banyak tenaga untuk orang-orang sekelas dia.
"Oh... Itu. Lihat suami aku ganteng kan? Namanya Mas Abi, dia adalah..." Belum sempat Laras menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Zaskia datang terburu-buru.
"Ayah bisa ikut sebentar ga? itu Abang butuh bantuan." Zaskia sedikit menarik lengan ayahnya.
"Apaan sayang?" tanya Abimana bingung.
"Iss... Ayo, buruan Yah!" seru Zaskia sambil menarik ayahnya.
Hal itu membuat yang lain jadi panik. Mereka reflek ingin ikut ke kamar Zaskia.
"Eh, ga usah pada ikut. Ayah saja. Ini urusan pribadi," ucap Zaskia dengan gerakan tangan menyetop mereka.
Mereka masih berdiam mematung di tempatnya. Entah apa yang sedang terjadi, batin mereka bertanya-tanya.
"Ga papa Ras, itu suami kamu berduaan dengan anakmu di kamar?" Semua orang reflek menatap Marni dengan malas.
"Memangnya kenapa? Seorang anak minta bantuan ayahnya apa salahnya?" sentak Rumi yang mulai kesal. Laras sendiri hanya tersenyum puas.
"Ayah? Anak? Dia ayahnya Zaskia? Bagaimana mungkin? Bukannya Laras dulu sudah diusir? Terus kalian sudah bersama lagi begitu?" tanya Marni penasaran.
"Makanya, punya saudara itu yang peka, yang sayang. Jangan termakan gosip melulu. Temenanmu sama si nenek lampir itu sih," sahut Rumi emosi.
"Sudah-sudah... Ngeteh dulu yuk! Itu sudah dibawakan minuman. Sambil nunggu sarapannya siap," ucap Laras menengahi.
"Ayah kenapa senyum-senyum gitu sih? Kenapa Revan?" tanya Laras saat suaminya sudah berada didekatnya.
"Senjatanya Revan kejepit resleting, hahaha...!" Abimana menjawab dengan berbisik namun diikuti tawa.
Reflek Laras mencubit perut suaminya yang tetap terlihat rata itu.
"Aw... sakit sayang," seru Abimana sambil mengelus bekas cubitan istrinya.
"Mas Abi sih."
"Ya kan Mas cuma jawab pertanyaan kamu sayang."
Interkasi mereka yang terlihat mesra meskipun usia yang tak lagi muda, praktis membuat Marni terbangong. Pasalnya suaminya itu sendiri tak pernah bisa mesra padanya, bahkan hanya sekedar panggilan sayang pun tak pernah dia dapatkan.
Melihat muka cengonya Marni yang lain hanya tersenyum mengejek.
Sementara di kamar Zaskia, Revan masih uring-uringan saja. Dia masih bersandar di sofa sambil memegangi senjatanya yang hanya berlapis sarung.
"Masih sakit? Sini Kia bantuin elus-elus," ucap Zaskia yang tak tega melihat suaminya meringis.
"Adek mau nyiksa Abang? Gara-gara gagal terus mau masuk sarang ini Yang," ucap Revan memelas.
"Terus Kia harus gimana? Maafin Kia Bang... Ya udah, sini Kia bantuin biar ga terlalu sakit." Zaskia berlari kecil menuju pintu dan menguncinya. Dengan gerakan cepat dia menarik sarung yang dipakai suaminya.
Dia melihat bagian tengah senjata suaminya yang masih tegak itu sedikit membiru. Pertama dia meniup-niupnya. Revan memejamkan matanya. Dia pun tak tahu apa yang akan dilakukan istrinya.
__ADS_1
Zaskia yang melihat Revan memejamkan matanya pun tersenyum. Setelah ditiup, tangannya mengelusnya, Revan tak mengeluh sakiti. Zaskia menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, makin lama semakin cepat.
"Yang... Aahhh... Adek mau ngapain? Nanti Abang pengen sayang." Zaskia tak menanggapi ucapan Revan.
Zaskia melepas jilbab instannya kemudian juga gamis rumahannya. Revan yang matanya masih terpejam tidak menyadari aksi istrinya. Namun dia langsung terbelalak saat senjatanya dihisap kuat oleh istrinya. Tubuhnya menegang saat tahu Zaskia sudah tak memakai apa-apa.
"Aahhhh... Sayang." Revan mulai meracau.
Zaskia langsung naik ke pangkuan Revan dan mengabulkan keinginan si J untuk masuk ke sarangnya. Tragedi pagi yang berakhir manis. Mereka tidak peduli dengan hiruk pikuk di luar, asalkan mereka bisa menyalurkan perasaan mereka saat ini. Mereka melakukannya dengan cepat. Ga enak juga nanti kalau di tunggu-tunggu, pikir Revan.
"Maaf, bikin Adek mandi lagi. Abang juga ga tahu, sekarang Abang tuh susah banget mengendalikan hasrat Abang sama kamu sayang. Maaf ya sayang," ucap Revan penuh sesal. Dia membantu mengeringkan rambut istrinya dengan hair drayer.
Zaskia tersenyum, dia membalikkan badannya dan mengikat rambutnya yang sudah selesai dikeringkan.
"Kia ga papa kok, Abang ga usah merasa berslalah. Maaf, sejak kemarin ada saja ya, halangannya?" tanya Zaskia sambil menangkup wajah suaminya dengan mata saling bertatapan.
"Gampang banget yang, kamu bikin Abang tegang."
Bahkan hanya ditatap seperti itu saja sudah membuat dadanya bergetar.
"Abang jangan mesum terus pikirannya. Kita siap-siap ke depan ya. Jangan-jangan Papa sudah datang." Zaskia mencoba mengalihkan perhatian agar suaminya itu tidak menggodanya.
"Emang adek enggak ya?"
Zaskia memalingkan wajahnya yang semakin bersemu merah.
"Lihat Abang! Jujur sama Abang, ga usah mengalihkan perhatian." Revan memegang dagu Zaskia agar melihat ke arahnya. Bukannya menjawab, Zaskia malah memeluk erat suaminya.
"Abang itu selalu bikin hati Kia bergetar. Bahkan hanya melihat dari kejauhan saja, jantung Kia udah deg-degan By. Kalau kita tidak segera keluar, nanti Kia yang pengin disentuh lagi sama Abang."
Mendengar jawaban jujur istrinya, Revan merasa bahagia. Dia balas mendekap istrinya, setelah puas dia mengajak istrinya keluar.
"Ini yang sejak tadi diumpetin Mbak Kia sudah keluar."
Ucapan Faisal membuat semua mata menoleh ke arah dua sejoli yang sedang hangat-hangatnya merajut cinta itu.
Gisela yang sejak tadi bermain sosmed hampir menjatuhkan ponselnya saat melihat kehadiran pria tampan yang merangkul pinggang Zaskia.
"Maaf kami terlambat dan membuat semua menunggu," ucap Zaskia ramah namun penuh penyesalan.
"Masih jam 7 pagi sayang. Kata ayahmu, mertuamu hampir sampai. Udah masuk gang katanya. Kita sarapan sekalian dengan mereka saja ya," ucap Bulik Rumi.
Tak berapa lama terdengar kendaraan berhenti di depan. Mobil Av*nsa Marni yang tadi sudah diparkirkan dihalaman rumah warga.
Terlihat 2 mobil P*j*ro dan 1 mobil pickup yang sepertinya membawa barang-barang seserahan.
Mendadak Marni dibikin minder dengan kedatangan besannya.
TBC....
Ada yang kangen sama cerita Reno san zahra?
Tulis di komentar ya
Terimakasih juga untuk like dan votenya
__ADS_1
Love you❤️❤️