
"Pak Andre... Ga nyangka kita bertemu di sini." ucap Mario menyapa atasannya.
"Eh... Mario kan? Iya ini mau cari tiket untuk ibu saya."
"O gitu, denger-denger Bapak satu kampung ya dengan Vera? Bapak tau ga dimana kostnya, soalnya sudah beberapa hari ini tidak kelihatan."
"Memangnya kenapa kamu nanya-nanya kostnya?" tanya Andre dengan nada datar.
"Ga papa Pak, kangen aja." sejenak terdiam, lalu dengan ragu Mario mengatakan, " Sebenarnya saya, berniat menjalin hubungan yang serius dengannya Pak."
"Maksudnya? Selama ini kalian punya hubungan khusus?"
"Eh, gimana ya Pak menjelaskannya..."
Belum selesai Mario bicara, Andre sudah memotong
"Dia hanya sedang tidak enak badan, besok mungkin sudah mulai kerja lagi." Mario hanya manggut-manggut. "Saya duluan kalau begitu, masih ada urusan lain." lanjutnya.
Tanpa menunggu jawaban Mario, Andre segera berlalu.
******
Reyhan dan keluarganya sudah sampai di rumah sakit.
Mama sudah tidak sabar ingin segera melihat keadaan putra bungsunya, dengan langkah tergesa dia membuka ruangan.
" Mama... Kok bisa sampai sini?" Revan terkejut mendengar pintu dibuka sedikit kasar. Sang Mama tidak langsung menjawab tapi langsung memeluknya sambil terisak.
"Revan ga papa Ma, tapi kalau meluknya kenceng gitu malah jadi sakit ini Ma." Ucap Revan setengah mencandai Mamanya.
Mama menyadari itu langsung mengurai pelukannya.
" Dasar anak nakal, kenapa ga langsung kabari Mama sih." ucap Mama Rena mulai tenang, "Mana yang masih sakit?"
"Udah ga sesakit tadi pas bangun Ma, kata dokter besok juga boleh pulang kok." jawab Revan sambil tersenyum.
"Tadi pagi pas bangun lihat bidadari, makanya langsung sembuh anak Mama itu." sahut Revan yang baru datang.
Revan hanya mendengus tanpa berniat menanggapi.
"O iya, gadis penyelamat kamu bagaimana?"
Revan menggeleng lemah sambil menatap kakaknya.
Reyhan yang mengerti arti tatapan Revan pun berkata, "Sebentar lagi orangnya datang, kamu bicara sendiri."
Siera dari luar datang bersama Bimo sambil membawa paper bag berisi makanan, "Makan Van, makanan rumah sakit pasti ga enak kan?" tuturmya sambil mengeluarkan makanan yang dia bawa.
"Bukan makanannya yang ga enak Bu, bidadarinya yang bikin dia berselera makan ga ada." celetuk Bimo sambil terkekeh, diikuti tawa dari mereka yang ada di ruangan itu.
"Ledek terus, orang patah hati malah dibully." ucap Revan cemberut mode manja sambil mencari perlindungan Sang mama yang masih di sampingnya yang di balas dengan usapan di kepalanya.
__ADS_1
"Ketemu Bimo di mana yang?" tanya Reyhan pada istrinya.
"Di loby, habis urus administrasi katanya." jawab Siera singkat.
"Tadi jadi nganter Kia Bim?"
"Jadi Pak Rey. Barusan dia balas pesan saya, tapi sepertinya saya merasa ada yang tidak beres, saya sudah mencoba telpon tapi ga di angkat."
"Ya sudah, sebentar lagi Ardi ke sini, biar dia yang memastikan." jawab Reyhan
Tok tok tok...
Pak Tomo dadang bersama seorang laki-laki yang sudah mereka tunggu dari tadi. Mereka bergantian menyalami Papa Tomo, "Kok bisa kayak gini Van? Papa kira semalam kamu nginep di apartemen kok malah ngungsi di sini... Coba mana lihat yang sakit?" Papa Tomo memperhatikan luka lebam di wajah dan badannya. "Lain kali hati-hati, udah gede masih aja ceroboh."
"Namanya juga musibah Pa."
"Pantesan semalam ditungguin ga nongol-nongol ternyata pindah haluan." ucap Ardi yang ternyata salah satu tema Revan. "Jadi apa yang bisa gue bantu nih?"
Reyhan pun menceritakan semuanya secara rinci. Bimo memberikan alamat yang kemarin mereka cari.
Tanpa menunggu lama Ardi pun segera pamit untuk mencari gadis yang konon sudah merebut hati sahabatnya itu.
"Segera kabari ya bro!" Ucap Reyhan sesaat sebelum Ardi keluar ruangan yang hanya dijawab deng acungan jempol.
"Ini beneran Papa bakalan dapet mantu baru?" tanya Papa Tomo sambil tertawa, dalam hati pun dia sangat berharap putra bungsunya itu segera mendapatkan jodohnya.
"Berdoa saja Pa, semoga keberuntungan ada dipihak kita." tutur Mama Rena yang disahuti kata Aamiin secara serentak tanpa dikomando.
" Bu Rena mau ga lihat pemandangan yang syahdu?" tanya Bimo sambil melirik Revan.
"Apa lagi Bim? Awas macem-macem!" ancam Revan.
Bimo tak peduli dan menyerahkan ponselnya kepada Mama Rena. Diluar dugaan, Mama Rena bukannya tersenyum malah matanya berembun, mungkin dia terharu dan bersyukur bahwa anaknya masih bisa berdekatan dengan lawan jenis. Merasa penasaran Reyhan merebut ponsel yang dipegang Mamanya, lalu mlihatnya bersama-sama. Ekspresi mereka berbeda-beda, Sang Papa tersenyum samar, kakak dan kakak iparnya malah tertawa lebar, mungkin senang mungkin juga terkenang saat mereka dulu pada masa pendekatan.
Revan hanya bisa pasrah, Mama kembali memeluk anaknya penuh sayang.
Menjelang maghrib Reyhan, istrinya dan Bimo kembali ke Rumah besar. Bimo memang menempati paviliun di belakang rumah besar untuk melancarkan dan memudahkan pekerjaan, juga karna Bimo seorang perantau, daripada menyewa rumah, itu juga fasilitasnya sebagai aspri bosnya. Di sana juga terdapat rumah di sayap kanan dan kiri gerbang menuju rumah utama sehingga jalan masuk rumah utama lebih terlihat seperti jalan masuk komplek yang melingkar. Jika hanya dilihat sekilas dari depan, rumah besar tidak terlihat, karna ditengah halaman yang luasnya seperti lapangan sepak bola yang terdapat diantara rumah sayap kanan dan kiri ada taman besar, ada air mancur juga di tengah-tengah kolam ikan yang berada ditaman itu. Rumah sayap kanan di tempati oleh Revan, tapi dia lebih banyak berada di rumah utama, hanya sesekali saja dia disana. Sedangkan rumah sayap kiri difungsikan sebagai studio foto saat ada pemotretan baju-baju desighn terbaru butik sang Mama.
Saat ini Mama Rena dan papa Tomo yang masih menunggu Revan, "Mama sama Papa pulang saja, Reban ga papa di sini sendiri. Papa pasti capek kan habis pulang kerja? Mama juga harus jaga kesehatan, ga bagus lama-lama berada di sini."
Revan terus berusaha kedua orang tuanya. "Sebentar lagi Ardi ke sini, biar dia aja nanti yang temenin Revan." lanjutnya.
"Ya sudah, nanti nunggu Ardi dulu baru kami pulang." ucap Mama memberi keputusan. Revan menarik napas lega.
Tak lama datanglah Ardi, namun dari raut mukanya menyiratkan seperti membawa berita yang tidak baik. Tanpa dimintapun Ardi langsung memberikan laporan.
"Sori bro, saat sampai sana, aku tanya tetangganya yang berada di samping rumah tunangannya, katanya tadi pagi berlangsung pernikahan Andre dan Vera, pas selesai ijab qobul datang perempuan yang bernama Zaskia. Dan Andre ini ternyata tunangan Zaskia, gadis yang nolongin kamu semalam. Zaskia sempat menangis histeris tapi bisa ditenangkan oleh ibu dari Andre. Tapi setelah 2 jam-an zaskia terlihat keluar dari rumah Andre, sebelumnya terlibat adu mulut dengan Vera, wanita yang dinikahi Andre. Mereka baru tahu, ternyata Zaskia dan Vera adalah saudara sepupu." terang Ardi panjang lebar.
" Sori lagi bro, untuk keberadaan Zaskia gue belum mendapatkannya, gps di ponselnya tidak aktif, jadi belum melacaknya." tambahnya.
Speechless, itu saat ini dirasakan Revan. Tangannya mengepal kuat, tak lama dia segera mengambil ponselnya.
__ADS_1
Berkali-kali melakukan panggilan ke no Kia.
" Kamu ngapain sih dek, angkat dong...!!! " gumamnya, raut mukanya terlihat sangat gelisah sampai sudut matanya berembun. Panggilan ke sembilan akhirnya diangkat,
"Assalamu alaikum Abang, maaf baru buka hape. Abang sudah baikan?" ucap Kia lembut.
Lega... Itu yang dirasakan Revan. Air di sudut matanya tak terasa menetes.
"Kenapa bohong sama abang, abang sudah bilang kan kalu ada apa-apa segera hubungi abang. Kenapa saat ada masalah kamu malah bilang baik-baik saja?" Suara Revan terdengar berat membuat Kia merasa bersalah. "ganti ke panggilan video ya, abang pengin lihat adek."
Tanpa menunggu jawaban Kia, Revan mengubah jadi panghilan video. Terlihat saat ini dia sedang berada di sebuah kamar. Entah mengapa, belum ada sehari tapi di mata Revan gadis itu menjadi semakin cantik namun manisnya tidak hilang.
"Kamu di mana, abang jemput ya!"
"Ga mau, abang masih sakit, besok aja kalau sudah sembuh. Lagian Kia udah dapat kerjaan, sekarang aku di rumah teman baru aku. Namanya mbak Rita, tadi ketemunya di mini market. Pas itu aku dengar dia ngobrol sama temennya lagi butuh orang untuk kerja di kafe. Ya udah aku minta tolong aja untuk bawa aku besok ke sana."
" Kamu bikin abang khawatir tau ga? Besok lagi jangan diulangi!"
" Maaf Bang... Iya Kia janji." ucapnya sambil mengacungkan ke dua jarinya, hati Kia menghangat mendapatkan perhatian dari Revan." Sekarang abang istirahat ya, biar cepet sembuh, Kia udah dipanggil makan malam sama Bu Rus, ga enak kalau mereka nunggu kelamaan."
" Ya udah, makan yang banyak ya. Besok kasih tau aja alamat tempat kerja adek biar abang tengok. Jangan lupa untuk sering-sering kabari abang ok! "
" Iya abang... Bawel ya sekarang. "
"Bawel juga gara-gara kamu."
"Abang juga makan yang banyak biar cepet sehat, ya udah Kia tutup ya, Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Panggilan berakhir, Revan menarik nafas lega. Sedangkan pasangan suami istri itu sejak tadi hanya mendengarkan interaksi yang manis meski lewat video call, karna terharu mereka reflek sambil berpelukan. Sedangkan Ardi hanya melongo, masih tidak percaya kalau sahabat yang di kenalnya sangat tidak mudah didekati wanita saat ini malah berkata manis dan lembut pada seorang gadis belia. Setelah kesadarannya terkumpul dia mendekati Revan dan memegang keningnya.
"Lo ga sakit kan Van? Ah... Ga panas kok, tadi dokter ga bilang kamu gagar otak juga kan" Ardi masih penasaran.
Revan menepis tangan Ardi yang masih menekan keningnya.
"Apaan sih, awas lo bilang-bilang ke yang lain. Ini rahasia kita."
"Oke lah, yang penting ada tutup mulutnya beres. Punya bos tajir itu memang harus dimanfaatkan."jawab Ardi sambil terkekeh.
Revan memiliki saham yang cukup besar di perusahaan milik ayahnya. Karna saat ini dia belum ada keinginan untuk bergabung maka Ardi dipercaya Revan untuk bekerja di sana menggantikan Revan.
Selain saham di 3R Group, dia juga memiliki 10% saham diperusahaan asing. Saat itu sahabat almarhum kakeknya, yang juga rekan bisnisnya, Mr. Abrisam hanya hidup berdua dengan istrinya karena tidak memiliki keturunan. Kakeknya pernah mengajak Revan untuk menemaninya menghadiri makan malam dengan Mr, Abrisam. Revan yang mudah menyesuaikan diri membuat Mr. Abrisam menyukai Revan dan menganggapmya sebagai cucunya. Hubungan yang kian dekat membuat Mr. Abrisam memutuskan bahwa Revan akan menjadi salah satu orang yang berhak menerima harta peninggalanya kelak. Selama ini, Revan hanya beberapa kali mengikuti rapat pemegang saham secara langsung, selebihnya hanya mengikuti secara online. Meski tanpa bekerja sebenarnya Revan sudah menjadi milyarder. Hanya saja uang milyaran yang setiap bulan masuk ke rekeningnya itu di serahkan kepada Mamanya, Revan merasa belum perlu uang dalam jumlah banyak. Sedangkan untuk kebutuhannya, uang dari kafe yang dikelola sahabatnya yang lain pun masih sisa banyak. Gajinya sebagai ASN yang dia dapat setiap bulan bahkan hanya dia habiskan untuk mentraktir teman-temanya kalau sedang kumpul. Meski mamanya tidak kekurangan uang, tapi minimal sekali dalam sebulan Revan memaksa mamanya untuk belanja menggunakan uang pribadi Revan. Jadi jelas dia bekerja di kantor pemerintahan bukan karna mengejar uang.
Papa dan Mama Revan yang sudah merasa tenang dengan keadaan Revan akhirnya pamit pulang dan menitipkan Revan pada Ardi.
Maaf, typo masih bertebaran
Jangan lupa like dan komennya pemirsah...
❤️❤️
__ADS_1
"