
Prok prok prok....
"Hebat sekali kalian ini. Sungguh aku baru tahu selama ini aku sudah diperdaya. Ya, aku benar-benar bodoh karna telah merasa bersalah padamu, sampai harua mengorbankan perasaan keluargaku hanya untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak kulakukan?" Ucap Reno terlihat sekali kilatan amarah di matanya.
" Ren, apa yang kamu katakan sayang. Tadi itu tidak seperti apa yang kamu denger. Aku bisa jelaskan kok, masuk Yuk! " Clara segera meraih tangan Reno, namun Reno cepat menepisnya.
"Jangan sentuh aku lagi! Aku jijik melihatmu." bentak Reno.
Clara membeku, bahkan untuk menelan ludah saja rasanya sulit. Selama bersama Clara tak pernah melihat Reno marah. Baru kali ini Clara melihat sisi lain dari Reno.
"Apa yang kamu bicarakan Nak, ayo sini duduk. Sudah lama kamu tidak ke sini. Sini Nak, Mama kangen lho." ucap Mama Clara mencoba membujuk Reno.
Alih-alih menjelaskan dan membuat alibi, Clara malah tak bisa bicara apa-apa.
"Maaf Mama mertua, saya ke sini hanya ingin menyampaikan bahwa saya akan segera mengurus proses perceraian ke pengadilan. Dan kamu Clara Merviana, hari ini aku Reno zayan Abidin memberikan talak tiga padamu. Aku bebaskan kamu dari segala hal yang pernah mengikat kita dalam pernikahan." ucap Reno dengan lantang.
"Tidak Ren, kamu bercanda kan? Aku ga mau kamu ceraikan! Aku bisa jelasin Ren." ucap Clara mencoba meraih tangan. Bukan hanya menepis, kali ini Reno bahkan mendorong Clara hingga terjengkang ke sofa.
"Jangan mengharapkan harta gono-gini. Bahkan kalau perlu aku akan menuntutmu untuk mengembalikan uangku yang selama ini kamu pakai untuk maksiat itu, sebagai tindakan penipuan. Bukankah selama ini kamu memang menipuku?"
"Tidak Nak, janganlah lakukan itu. Kami bisa jelaskan. Jangan terburu - buru mengambil keputusan." Mama Clara masih mencoba membujuk Reno.
"Saya rasa, saya sudah menyampaikan apa yang harus saya sampaikan. Permisi!"
"Jangan Ren! Reno... Jangan pergi!" Clara menangis sejadi-jadinya.
"Sudah Clara, Reno audah pergi. Apa gunanya kamu menangis. Sekarang pikirkan caranya agar Reno Tidak menceraikanmu!"
"Aaarrggghhhh...!"Clara menjerit kencang. " Aku tidak akan biarkan dia lari dariku Ma, tenang saja. Dia tidak punya bukti apa-apa. Karna hanya aku yang tahu kelemahan dia." ucapnya setelah emosinya reda.
"Maksudmu?" Mama Clara penasaran.
"Mama pikir aku suka cari kepuasan di luar itu karna apa? Reno itu lemah, dia tidak pernah bisa memuaskanku. Bahkan 2 tahun ini ularnya tidak bisa berdiiri, mungkin sudah bereingkarnasi jadi ulat bulu sekarang." ucap Clara menghina Reno. "Dia akan kembali padaku, mana ada wanita yang mau dengannya, meskipun dia tampan dan tajir." lanjutnya.
Mama Clara hanya geleng-geleng kepala.
*******
Orang bilang 'I hate Monday' tapi bagi Kia, hari Senin Ini dia seperti mendapat rejeki nomplok, hanya karna mendapat jadwal libur di hari Senin.
Sejak pagi dia terus mengembangkan senyumnya. Hari ini Kia janjian dengan mbak Rita untuk jalan-jalan ke mall.
Setelah subuh dia langsung ke dapur. Ini pertama kalinya dia membuat sarapan untuk Revan.
"Abang... Abang udah bersiap belum? Sarapannya udah siap." tak ada jawaban dari dalam.
"Bang... Kia masuk ya." masih belum ada jawaban.
Kia membuka pintu perlahan sambil menutupi sedikit matanya, takut melihat hal-hal yang belum boleh dilihat.
"Kok, ga ada. Masak mandi lagi? Tadi kan udah mandi. Sragamnya juga udah ga ada kok." ucapnya lirih.
Tiba-tiba... Greepp...
"Abang... Bikin kaget aja sih. Usil banget jadi orang." teriak Kia kaget reflek berbalik dan memukuli dada Revan.
Revan tertawa puas sudah berhasil mengerjai gadisnya itu. Kia masih melakukan gerakan memukul meski Revan sudah mendekapnya erat.
Jantung Kia selalu beraksi berlebihan
__ADS_1
"Kok dipukul sih Yang, mau kerja nih. Kasih semangat dong! Sini, cium Abang!" ucap Revan sambil menunjuk bibirnya.
Blusss...
Muka Kia memerah, pikirannya tiba-tiba terbayang adegan sedang berciuman dengan Revan. Kia menunduk menyembunyikan muka merahnya karna malu. Tangannya pindah memukul-mukul kepalanya pelan.
Astaga, sepertinya aku sudah tertular pikiran mesumnya abang. Batin Kia.
"Ga boleh." jawab Kia lirih.
Revan menuntunnya duduk di sofa, kemudian dia merogoh kantong celananya. Tanpa aba-aba, dia memakaikan cincin yang dia beli beberepa hari yang lalu.
"Abang... Ini? Cantik sekali..." puji Kia.
"Kamu suka?" tanya Revan sambil membelai pipi Kia.
Kia mengangguk sebagai jawaban.
"Sebenernya Abang pengen kasih ini saat nglamar Adek. Tapi rasanya ga sabar. Abang pengen dunia tahu kalau Adek itu sudah ada yang punya. Adek milik Abang." ucap Revan dengan tatapan sendu.
Kia meraih tangan Revan yang ada dipipinya, lalu menciumnya.
"Makasih Abang." ucap Kia tulus sambil tersenyum.
Revan sedikit mengacak rambut Kia. Kemudian meraih ponsel yg ada di atas meja.
"Abang belum ada foto kita lho ngomong-ngomong. Sini! Yang mesra... Buat ganti wall paper sama foto profil."
Namun Kia menutupi wajahnya
"Untung Kia udah mandi dan ganti baju!"
"Nanti kirim ke Kia ya Bang."
"Gampang itu, yang penting ciumnya dulu, tadi belum lho. Buat bekal Yang..." ucap Revan merajuk.
"Malu Bang, entar aja." jawab Kia lirih." Sekarang sarapan dulu, itu lebih penting." lanjutnya.
Kia mengambil tas kerja Revan lalu menarik revan ke meja makan.
"Kia cuma bikin nasi goreng, mudah-mudahan rasanya cocok di lidah Abang." ucap Kia sambil menyiapkan piring dan mengambilkan nasi dan telur ceplok
"Apapun Abang pasti makan. Ah, senengnya ada yang ngurus Abang. Besok kalau pulang untuk wisuda sekalian akad ya Yang?" ucap Revan setengah merengek.
"Kia sih ga masalah Bang, terserah Bunda aja sih." jawab Kia.
"Ah, jadi ga sabar kenalan sama Bunda." ucap Revan.
Setelah sarapan dan membereskan meja makan, Kia mengambil tasnya ke kamar, melihat Revan yang memainkan ponselnya sambil bersandar di depan pintu keluar, Kia mengambil ponselnya dan mengambil foto candid.
Cekrek...
Kia tersenyum melihat hasilnya.
"Abang keren! Lihat deh!" ucap Kia girang sambil memperlihatkan hasil jepretannya.
"Kalau keren buat foto profil dong!" kata Revan mengambil alih ponsel dan membuka aplikasi hijau lalu mengganti foto profilnya.
"Boleh emang?" ucap Kia belum tahu jika foto profinya sudah berganti.
__ADS_1
"Boleh dong, seneng malah." Revan mengembalikan ponsel Kia.
"Aku tag tag di ig juga ga papa?" tanya Kia lagi.
"Iya sayang, Abang seneng karna itu artinya Adek mengakui Abang sebagai pemilik hati Adek." jawab Revan sambil mengacak rambut Kia.
"Ih, Abang kalau ngomong suka bikin Kia terbang deh. Cup cup!" Kia mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri Revan.
"Ah, ini nanti kayaknya jadi pengen cepet pulang deh!" ucap Revan sambil merengkuh bahu Kia menggiringnya keluar apartemen.
******
Mobil Revan telah terparkir apik di tempatnya. Revan berjalan menyusuri koridor menuju ruangannya. Revan ingin bekerja di pemerintahan bukan tanpa tujuan.
Waktu kuliah sambil kerja di 3R GROUP, Revan pernah menangani proses perizinan suatu proyek. Namun entah mengapa setelah proses panjang akhirnya pengajuan izinnya mengalami kegagalan. Padahal dia yakin bahwa semua persyaratan sudah lengkap. Akhirnya peoyek itupun lepas.
3R GROUP termasuk perusahaan yang berkembang dengan cepat, bahkan keberadaannya saat ini sangat diperhitungkan. Dulu memang belum sebesar ini, kegagalan proyek memang tidak berpangaruh pada perusahaan namun Revan masih penasaran dan mencari tahu sebab gagalnya peoses perizinan tersebut.
Usut punya usut, ternyata memang ada yang tidak beres. Persaingan dalam bisnis memang biasa, bahkan mereka menggunakan cara kotor untuk menjegal rival. Itulah yang terjadi waktu itu.
Dalam hal ini sektor pemerintahan yang menangani perizinan memang rawan sekali terjadi kasus suap oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Dewi fortuna lagi-lagi berpihak pada Revan, keinginannya untuk menjegal pihak-pihak yang ingin berbuat curang akhirnya terwujudkan saat dia di tempatkan pada bagian perizinan. Bukan karena dendam, tapi hal seperti itu memang harusnya berjalan sesuai prosedur yang ada. Maka Revan pun hanya perlu menggunakan mata, telinga dan hatinya untuk mengetahui hal-hal yang mungkin saja menyalahi aturan.
"Mas Revan auranya beda ya? Udah sehat Mas? Maaf Mas, kami belum sempet untuk menjenguk!" ucap salah seorang teman kerjanya. Tatapannya berapi-api saat melihat pujaan hatinya, yang seminggu lebih tak dia lihat akhirnya pagi ini ada di hadapannya.
"Ah, Mas Revan sudah masuk, rencananya nanti siang kami baru mau jenguk lho Mas!" timpal yang lain. Karna usianya yang tergolong muda, mereka lebih nyaman memanggil Revan dengan sebutan Mas dari pada Pak.
Meskipun Revan selalu menjaga jarak, namun dilingkungan kerja dia tetaplah bersikap ramah dan baik meski tetap berada di jarak aman.
"Alhamdulillah sudah sehat Bu, Pak, Mas, mbak... Terima kasih semua untuk doanya." jawab Revan sambil meletakkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Yang penting cepat pulih ya Mas! O iya Mas Revan, pagi-pagi tadi ada masuk berkas pengajuan perizinan dari perusahaan baru. Mohon dibantu untuk me-review bisa ya?" ucap atasanya yang baru keluar dari ruang kerjanya.
Pak Riswan memang atasan yang perlu dcontoh, bukan hanya disiplin tapi juga jujur dalam bekerja. Dia selalu datang paling pagi.
"Siap Pak laksanakan." Revan mulai membuka map dan dan meneliti berkas satu persatu.
Pak Riswan sangat dekat dengan Revan, bukan hanya karna pekerjaannya yang cekatan dan bisa diandalkan, namun karna terlihat Revan bukan seorang yang banyak tingkah. Dan dia tahu bahwa Revan memang sangat royal. Mereka bahkan tak tahu identitas asli seorang Revan tapi mereka cukup tahu bahwa Revan dari keluarga kaya.
Hal yang sangat wajar jika Revan menjadi satu-satunya pria yang menjadi target wanita-wanita lajang di ruangan kerjanya, karna selain rupawan dan baik, hanya dirinya saja yang masih single.
Ya single, tapi tak sekarang sudah berganti status jadi 'single but not available'.
"Sekalinya bikin usaha ga main-main ini kayaknya Pak! Tidak ada yang salah sebenarnya, cuman mungkin yang perlu direview ulang adalah keabsahan dan keaslian dokumen-dokumen penunjangnya kali Pak. Itu saja menurut saya."
"Ah ya mungkin benar, baiklah kita akan bekerja sama dengan pihak terkait. Tapi kayaknya, nama pemohon seperti tidak asing." ucap Pak Riswan mengernyitkan alisnya.
Revan melihat dan mengingat-ingat nama yang tertera sebagai pendiri usaha ROY ARKATAMA?
TBC...
Terimaa kasih untuk dukungannya ya kak, jangan lupa
LIKE
KOMEN
Vote
__ADS_1
Makasih❤️❤️