
Revan tak melepaskan tautan tangannya pada tangan Kia, meskipun tangan kirinya menenteng bungkusan besar.
Baru mau memasuki lift apartemen, terdengar suara melengking...
"Bang Revan...." teriak seorang gadis yang Kia taksir umurnya tidak jauh dari dia. "Abang kemana aja sih kok ga pernah pulang ke apartemen. Ara telponin juga ga nyambung, abang ganti nomer ya?" cerocosnya lagi.
Revan tersenyum, kemudian melepaskan genggaman tangannya. Setelah meletakkan bungkusan besar itu di tepi pintu lift, Revan pun melangkah menuju gadis tadi.
"Hape Abang ilang sayang, maaf ya! Ada sedikit insiden kemarin." ucap Revan sambil memeluk gadis itu sebentar lalu mengacak rambutnya.
"Ara kangen tau, giliran Mau gantian minta tolong malah ga nongol-nongol." Ucap gadis itu merajuk sambil bergelayut manja pada Revan.
"Beneran cuma karna itu? Ga kangen yang lain? " ucapan Revan terdengar ambigu.
Zaskia masih mematung melihat interaksi mereka.
Siapa gadis ini, apa dia pernah menjadi kekasih abang? Tapi mengapa masih tetap mesra kalau hanya mantan? Apa aku yang salah selama ini menilai abang? Ya, mungkin aku menempatkan diri teelalu tinggi. Batin Kia merasa perih melihatnya.
Kia bingung harus kemana. Namun dia harus kerja dan sragamnya ada di atas. Dengan langkah perlahan tanpa disadari mereka, Kia masuk ke dalam lift. Kia masih menahan sesak di dadanya.
Di dalam lift yang hanya seorang diri, Kia tak dapat membendung tangisnya.
"Seharusnya dari awal kamu harus sadar diri Kia! Dan sekarang setelah hatimu kau berikan semuanya, apa yang tersisa selain rasa sakit?" ucap Kia lirih menyalahkan dirinya sendiri.
Sementara revan belum menyadari jika Kia sudah tak ada di sana.
"Kangen dong, kangen morotin abang. Ara jadi ga bisa minta uang jajan kan sama Bang Revan." ucap gadis itu sambil nyengir. "Tapi ada yang lebih penting, abang harus gatian pura-pura jadi pacar Ara."
"Ck, buat apaan emangnya pake acara pura-pura punya pacar. Abang bilangin mami lho. Mesti udah mau pedekate sama cowok kan? Ngaku!"
"Ih Abang ga asik ahhh... Nybelin! Jangan dibilangin mami ya... ya....!!"
"Jadi bener kamu suka sama cowok?" ucap Revan setengah berteriak.
"Abang ih, kenceng banget kaya toa!" ucap Ara sambil membekap mulut Revan.
"Makanya kuliah yang bener dulu, ga usah pacar-pacaran." ucap Revan serius.
"Ck, Abang ga asyik banget sih. Iya iya ga pacaran kok, aku cuma pengen tau aja, dia tuh ada rasa ga sama Ara." ucap Ara sambil cemberut.
"Terus kalau ada rasa memang mau apa?"
"Ya ga papa. Aku kan senang, jadi Ara bisa jaga hati buat setia sama dia."
"Ck, dibilangin juga!"
"Jadi kapan? Nanti ya!" bahasa lain dari kata-kata Ara adalah tidak menerima penolakan.
"Ga bisa, Abang sibuk sama calon istri Abang."
"What? Siapa siapa? Ara ga salah denger kan?" tanya Ara tidak percaya.
"Makanya jangan nyerocos mulu, emang ga lihat tadi abang gandengan sama di... a." ucap revan terputus saat tau gadisnya tak ada di sana. Revan menepuk jidadnya.
"Astaga, dek... Kamu dimana? Ah... Gara-gara kamu sih, salah paham kan pasti dia." Revan segera mengambil bungkusan tadi dan menunggu pintu lift terbuka.
Ara masih membuntuti Revan, dia masih belum percaya, jika Revan yang selama ini tidak mau dekat dengan perempuan, bisa punya calon istri.
Revan hanya meletakkan barang yang dia bawa tadi di sembarang tempat. Dengan panik dia membuka kamar Kia. Bahkan saat ini Kia baru saja akan memakai bajunya. Untungnya kaos manset panjang sudah terpasang sempurna meski terlihat jelas lekuk tubuhnya.
"Abang... Kia mau pake baju ini. Kok ga ketuk pintu dulu sih!" protes Kia tanpa senyum dan nada manja seperti biasanya.
__ADS_1
Revan memeluk tubuh Kia tanpa mempedulikan Kia yang memberontak.
"Kenapa ninggalin Abang dek?"
"Terus mau ngapain Kia tetap di sana? Melihat Abang yang sedang mesra - mesraan dengan cewek lain?" Kia masih mencoba melepaskan diri.
"Lepasin Bang! Kenapa sih abang jahat banget sama Kia, salah Kia apa?" kali ini tangisnya benar-benar pecah dalam dekapan Revan.
Tuh kan bener, calon ibu negara ngambek. Jadi begini rasanya dicemburuin? Ah, ternyata selain senang juga bikin kalang kabut, Batin Revan.
"Jangan marah dulu Dek... Kamu hanya salah paham sayang." Revan melepaskan pelukannya, beralih memegang ke dua sisi wajah Kia, menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Kia. "Hei, sudah nangisnya! Nanti bengkak, katanya mau kerja. Apa mau disini saja? Ga usah kerja, hmmmm?"
"Ya udah Kia mau berangkat sekarang aja." Kia dengan cepat memakai bajunya.
Revan semakin kelabakan ketika Kia hanya menyambar tasnya dan melangkah sedikit berlari ke luar kamar.
Kemudian di menyusul gadisnya itu.
Sampai di ruang tamu Kia terpaku.
Bahkan abang juga mengajakmya masuk. Batin Kia.
Sejenak pandangan mereka bertemu. Kia berusaha menekan kecemburuannya, dan tersenyum sekilas.
"Eh, jadi beneran Abang sudah punya cewek. Tapi kok kayaknya aku ga asing ya?" Ara berdiri dengan sumringah mendekati Kia. "Kenalin aku Kiara, panggil aja Ara, Aku adek kesayangannya Bang Revan. Jadi beneran kamu calon kakak ipar aku?" tanya Ara tanpa jeda.
Kia jadi gelagapan, kakak... Adek... Kakak ipar?
Sejenak Kia melirik Revan yang udah ada di sampingnya.
"Dia adek sepupunya Abang, namanya Kiara. Anak dari adiknya Papa." ucap Kia lembut, memperkenalkan sekaligus mengurai kesalah pahaman tadi.
"E eh... A... Aku. Aku Zaskia, panggil Kia aja." jawab Kia, merasa bodoh karna sudah cemburu pada orang yang salah.
"Eh... Beneran tadi Kia cemburu? Maaf... Jangan tinggalin Abang ya, Ara jamin, Abang Revan ini orangnya setia. Yaa yaa!" Ara berbalik membujuk Kia.
"Eh.. Enggak, Kia enggak cemburu kok." sahut Kia malu, karna ketahuan tadi di matanya ada kilat cemburu.
"Beneran? Kalau gitu sekarang kita berteman kan? Eh, bersaudara maksudnya. Oke, janji?" Ara menyodorkan jari kelingkingnya yg disambut oleh Kia dengan melakukan hal yang sama dengan senyum lebar.
Revan merasa lega, satu masalah teratasi.
"Kayaknya umur kamu ga beda jauh kan sama aku? Aku panggil Kia aja ga usah pake kakak ya, hehe? Kamu panggil aku nama juga aja. Ok!"
Kia mengangguk sambil tersenyum
"By the way... Abang ini orang tajir melintir. Tapi dia pelit sama aku."
"Araa...!"
"Tuh kan, ga mau dia jeleknya diomongin. Sekarang aku minta uang jajannya sama kamu aja. Jadi kamu harus ambil semua kartunya Abang terus nanti kita belanja bareng, pake duit abang, Ok.!" Ara memprovokasi Kia sambil mencandai. Kia hanya menggelengknan kepala.
" Ara, jangan ngajarin yang jelek-jelek. Kia ga matre kayak kamu! "
" Abang ih, nyebelin, pelit! Ara laporin ke Mama Rena biar dijewer karna udah nakalin Ara, wlek! " ucapbara cemberut dan duduk kembali.
Kia perlahan duduk menyusul Ara samnil melirik jam dinding, waktu masih menunjuk jam 14.45 WIB.
" Ara mau duit? "Kia membuka tas, uang yang di berikan revan tadi ternyata ada 5 iket, dan Kia lupa belum menyimpannya. Dia mengeluarkan semua isinya.
" Wah, beneran Ara mau dibagi? "
__ADS_1
" Iya dong! " Kia menarik 2 lembar uang merah dan menyerahkan pada Ara." Buat jajan kan? Udah dapet ini 10 mangkok bakso."
Tawa Revan meledak, gadisnya ini ternyata bisa juga jahil.
"Ck... Cewek sama cowoknya sama aja. Lumayanlah buat beli kuota. Ara pergi ah... Males jadi obat nyamuk." ucap Ara menyambar uang yang disodorkan Kia.
"Abang jangan lupa, nanti pergi sama aku, harus mesra pura-pura pacarannya. Apartemen aku yang paling ujung ya Kia, besok aku ke sini lagi. Daaa...!" Ara menyambar ponselnya yang sejak tadi ternyata mode on perekam video.
Lalu lari keluar apartemen Revan.
" Anak itu...!"teriak Revan sambil geleng-geleng kepala.
Revan kemudian mendekati Kia lalu mengangkatnya agar bisa duduk si pangkuannya dengan posisi menghadap ke arahnya
" Kamu bikin Abang senam jantung Dek... Abang takut tadi Adek mau ninggalin Abang. " ucapnya kemudian sambil memeluk Kia.
"Maafin Kia, sudah salah paham."
"Besok jangan gini lagi sayang, Abang cuma milik Kia, Abang ga akan membaginya. Kalau Adek ga suka Abang terlalu dekat sama Ara, abang bakal usahain."
Dengan cepat Kia menegakkan tubuhnya lalu menggeleng.
"Enggak... Kia percaya sama Abang. Kia suka kok melihat keluarga yang akrab, karna itu impian Kia sedari kecil. Sayangnya saudara Kia malah membenci Kia." ada nada sendu di akhir kalimatnya.
"Udah, ga usah diingat, sekarang Adek punya Abang dan keluarga Abang pasti menerima Adek, abang bisa pastikan itu." Revan mengusap wajah Kia lembut.
Sesaat mereka larut dalam perasaan masing-masing sebelum Kia menyadari waktu terus berjalan.
"Ayok bang, udah sore tar telat."
"Emang kenapa kalau telat? takut dipecat? Kan kamu bosnya!"ucap Revan sambil mencubit hidung Kia manja.
Lalu setelahnya dia membiarkan Kia bersiap.
" Ini di taruh mana Bang? " tanyanya menunjukkan uang yang tadi ada dalam tasnya.
" Atur aja yang... Itu kan sudah punya kamu!" tak mau berdebat akhirnya Kia memilih menyimpan di laci lemarinya.
"O iya Dek... Abang cuma mau bilang, kalau Abang ga mau menjalani hubungan sembunyi-sembunyi. Karna itu aku juga ga akan menutupi kedekatan kita kalau di kafe. Akan lebih baik jika mereka tahu, agar mereka tidak salah paham dan menduga-duga tentang kedekatan kita. Ok! "
"Iya Abang sayang. "
"Ah... Manisnya. Ya udah ayok brangkat! Nanti Abang jalan sama Ara beneran ga papa? "
"Ga papa Bang, kayaknya Ara tuh juga asyik ya orangnya. Dan tatapan dia tadi ga ada tatapan merendahkan karna Kia bukan dari orang berada. "
"Bentar lagi juga dia pasti bikin ribut di grup keluarga. Suka iseng dia tuh, tapi aslinya baik meski manja. Maklum cucu perempuan satu-satunya di keluarga Abidin. Dia juga punya kakak cewek sih sebenarnya tapi kakak angkat. Kami juga menyayanginya. Cuma dia seolah insecure gitu, mungkin dia ngrasa orang luar atau gimana gitu. Kurang paham juga."
" Iyalah Bang, kalau misal aku di posisi nya pasti juga gitu."
" Tapi dulu enggak lho yang... Dia tuh paling deket sama Bang Reno. Bisa dibilang kesayangannya. Cuma setelah nikah mereka kaya tiba-tiba putus komunikasi gitu."
"Kia jadi pengen lebih mengenal keluarga Abang."
"Sedikit demi sedikit pasti abang cerita. Dan nanti ada saatnya kita akan bertemu dan berkumpul."
TBC...
Tolong komentarnya ya kakak... Biar othornya lebih semangat nulisnya
Jangan lupa juga tekan 👍 dan❤️
__ADS_1
Makasih❤️❤️