
"By, nanti Kia pulangnya agak telat ya. Mau selesaiin masalah yang kemarin. Ada janji sama Kak Ardi ke pabrik juga," ucap Zaskia sambil menyodorkan suapan ke mulut Revan.
Saat ini mereka sedang sarapan pagi di apartemen. Revan sendiri ada tugas di luar kantor dan akan langsung menuju lokasi setelah mengantar istrinya nanti.
"Iya, Sayang. Nanti Abang jemput di pabrik apa di ruko? Dianter sopir aja ya ke pabriknya, ga usah pake taksi. Atau barengan Ardi aja. Nanti Abang suruh jemput dianya," jawab Revan setelah menelan makanannya. "Makan yang banyak, Yang. Akhir-akhir ini kamu terlalu keras bekerja. Imbangi dengan makan yang bener. Vitaminnya juga jangan lupa!" tambahnya lagi memberikan ultimatum pada istrinya.
"Abang berlebihan deh. Kia banyak kok makannya, emang Kia kelihatan kurus? Vitamin, Kia minum terus kok. Kan Kia istri yang patuh. Sejak kapan Kia bekerja keras, By? Yang ada Kia banyak ongkang-ongkangnya. Tinggal suruh sana-sini. Udah mirip bos belum sih, By?" tanya Zaskia sambil membereskan piring bekas sarapannya.
"Makin cinta deh sama istri Abang. Abang seneng, karena kamu selalu memprioritaskan Abang. Abang bangga sama kamu karna bisa membuat usaha yang langsung maju pesat melebihi ekspektasi. Abang juga senang karena Kia tetap menomorsatukan Abang. Makasih ya?" ungkap Revan bangga pada istrinya. Dia berjalan mendekati istrinya yang sedang mencuci piring dan memeluknya dari belakang.
"Semua itu hanya untuk mengisi waktu kosong, Bang. Kan tujuan Kia memang Abang. Kalaupun Kia disuruh harus diam di rumah, Kia mau kok. Tapi karena suami Kia ini sangat baik, maka Kia ga mau ngecewain Abang,"
Zaskia membalikkan tubuhnya setelah meletakkan piring bersih ke rak yang ada di dekat wastafel, kemudian berbalik menghadap suaminya. Dia mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
"Makasih ya, Sayang. Abang selalu bangga memilikimu. Ah, Mas jadi males kerja kalo gini. Agendakan bulan madu yuk, Yang!" Revan sudah mulai mengendus leher istrinya. Rasanya dia enggan untuk berpisah meski sehari.
"Kia sih terserah Abang. Udah siang lho ini, Bang. Nanti ditungguin sama atasan Abang. Bulan madunya omongin nanti lagi aja."
Revan melepaskan pelukannya, ******* bibir istrinya sebentar, lalu memundurkan tubuhnya agar sang istri bisa berjalan bersisihan dengannya. Zaskia menyambar tasnya lalu merangkul lengan Revan dengan mesra, kemudian keluar dari unit apartemennya.
"Revan!" panggil seorang wanita setengah berteriak, saat mereka sudah berada di depan pintu masuk apartemen.
"Siapa, Bang?" tanya Zaskia saat melihat respon Revan yang hanya berdiri mematung. Bukan hanya itu, tangannya mengepal saat wanita itu mulai mendekat. Revan perlahan memundurkan langkahnya dan berpindah ke belakang istrinya.
Ck, tanda-tanda bahaya mulai on ini. Mana habis sarapan lagi. Kayak ga ada waktu aja, pagi-pagi sudah cariin orang. Dikira mereka ga ada kerjaan apa? Batin Zaskia menggerutu.
Zaskia merentangkan tangannya sebagai isyarat agar wanita itu berhenti mendekati suaminya.
"Ada apa, Tante?"
Mata wanita itu terbelalak mendengar sapaan Zaskia yang disematkan untuknya.
"Apa tadi kamu bilang? Tante? Kamu ga lihat aku masih cantik gini?" tanya wanita itu dengan penuh percaya diri.
"Maaf, Bu. Ibu memang masih cantik kok. Ada apa ya, nyari suami saya? Eh itu, anak Ibu ketinggalan. Kasihan itu sampe nangis kejer," ucap Zaskia sambil menunjuk ke arah belakang wanita itu. Memang benar di sana ada anak kecil dituntun security menuju ke arahnya.
Wanita itu bersungut mendengar ucapan Zaskia.
"Mama! Tadi Zoya nyariin Mama," ucap anak itu sambil terisak.
"Sebentar ya, Sayang. Kamu di sini dulu. Makasih ya, Pak," ucapnya pada petugas keamanan yang mengantar anaknya.
__ADS_1
Security itu pun pamit undur diri setelah memastikan anak itu bertemu ibunya.
"Van, aku ingin bicara sebentar. Ini penting, tolong, beri aku kesempatan." Wanita itu mencoba melangkah maju namun Zaskia mencegahnya.
Revan memandang ke sembarang arah. Dia sungguh muak melihat wanita itu. Tangannya merengkuh tubuh istrinya dari belakang. Bukan bermaksud pamer kemersraan, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meredam gejolak dari dalam perutnya yg ingin keluar.
"Kita sudah tidak ada urusan lagi. Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Ayo, Sayang! Kita sudah kesiangan." Revan menarik istrinya pelan agar segera mengikutinya menuju parkiran.
Dulu, meskipun tak pernah sedekat itu dengan Revan, tapi pria itu tak pernah sekalipun bersikap dingin seperti itu. Dia kembali mengingat masa-masa bersama Revan, meski tak bisa bermesraan, setidaknya Revan selalu memberikan semua untuknya.
"Tunggu, Van! Plis, aku butuh bantuanmu," ucap wanita itu setengah berteriak.
Revan seperti menulikan pendengarannya. Pria itu bahkan tak menoleh sedikit pun.
"Apakah itu Papa Zoya, Ma?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.
"Mama janji, dia akan segera menjadi Papamu. Bantu Mama, ya!"
Wanita itu bahkan memprovokasi anaknya sendiri. Dialah Felysa, masa lalu Revan yang membuat Revan menjadi anti dengan makhluk yang bernama perempuan. Seandainya Fely tahu kalau Revan adalah anak konglomerat, pastilah dia tidak akan berselingkuh dan mencari kenikmatan sesaat.
Kini setelah semua berakhir dan dia jatuh miskin, berharap Revan masih mau meliriknya. Sudah terencana di otaknya bagaimana harus mendapatkan pria itu. Tidak peduli jika Revan sudah memiliki kekasih. Dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan wanita itu.
Sementara di area parkir, tampak Revan belum juga menggerakkan mobilnya. Dia masih memeluk istrinya erat. Zaskia masih setia mengusap rambut suaminya dengan sayang.
Sejak kejadian di kafe beberapa waktu lalu, baru kali ini Revan kambuh lagi. Padahal Zaskia sudah banyak melihat kemajuan Revan dalam berinteraksi. Selama ada Zaskia yang menemaninya, Revan merasa seperti manusia normal pada umumnya.
"Bentar lagi, Yang. Udah mendingan kok," ucap Revan sambil membuka kancing tunik istrinya.
Zaskia tersenyum, dia tahu kebiasaan suaminya. Persis seperti bayi yang sedang merajuk, dan hanya bisa diam kalau dikasih nutrisi langsung dari sumbernya.
"Minum dulu, By. Biar ga kering tenggorokannya." Zaskia meraih botol air mineral yang berada di sisi kanan Revan, membukanya, lalu memberikannya pada suaminya.
Wajah cemberut Revan membuat Zaskia tergelak. Zaskia harus sedikit memaksa pria itu hanya sekedar untuk minum.
"Jangan cemberut gitu, jelek ih!" Suara Zaskia masih disertai kekehan yang membuat suaminya merasa dipermainkan.
"Bukain, Yang! Abang butuhnya itu. Sebentar doang. Janji ga akan lebih!" Revan mengacungkan kedua jarinya membentuk v sambil mengiba.
Zaskia mencangkup wajah suaminya lalu mendaratkan kecupan di bibir suaminya. Senyumnya selalu terukir manis membuat darah suaminya semakin berdesir.
Tangan Zaskia membuka kancing bajunya yang tadi baru terbuka dua dari atas. Hal itu tentu saja membuat Revan jadi sumringah.
__ADS_1
Revan segera mengeluarkan benda kenyal itu dari tempatnya tanpa membuka pembungkusnya, meraup pucuk pink itu dengan tidak sabaran. Zaskia hanya membiarkan saja apa yang dilakukan suaminya. Semakin hari, wanita itu malah semakin senang jika suaminya sedikit kasar dan tidak sabaran saat menyentuhnya.
"Emmmggghhh, By!" Sepertinya Zaskia ikut larut dalam godaan suaminya.
Revan tidak mengindahkan leng*han istrinya. Gerakannya malah semakin liar. Hal itu membuat Zaskia menjadi semakin gelisah.
Hah hah hah....
Napas Revan terengah-engah setelah melepaskan mainannya.
"Makasih, Yang. Hah, rasanya Abang pengin bawa kamu kemana aja, Yang. Habis bermesraan gini, takutnya gagal fokus nanti. Kebayang ini terus," ucap Revan sambil membantu mengacingkan kembali baju istrinya.
"Kia udah pernah cerita belum sih? Kia pernah salah jawab saat ditanya dosen. Waktu itu habis chatingan sama Abang, ngomongin absurd lagi! Untung bukan hal yang memalukan, coba kalau aku jawab yamg enggak-enggak. Bisa malu tujuh turunan Kia, Bang. Hahaha ...."
"Habis kalau sama kamu bawaannya tegang terus. Maaf ya kalau tadi kasar," ucap Revan penuh penyesalan karena tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Gapapa. Kia suka kok. Gimana sekarang? Udah enakan?"
"Luar biasa. Abang langsung seger lagi. Makasih ya nutrisinya," ucap Revan sambil menatap Zaskia intens.
"Pagi ini, Abang sudah ngucapin terima kasih berapa kali? Sekali lagi pasti dapet piring cantik sebagai hadiah."
"Rasanya terima kasih saja ga cukup, Yang. Kamu sudah seperti canduku. Saat aku sakau, ga ada lagi obat yang bisa menyembuhkanku kecuali kamu sendiri."
"Kia kok seneng ya digombali kayak gini, hahaha! Ya udah, kalau udah enakan. Nanti Abang telat."
"Kamu kayaknya yang telat, Yang udah siamg banget."
"Ga papa, Kia ikut mata kuliah selanjutnya aja. Nanti nongkrong di kafe dulu sambil nunggu jamnya."
"Ya udah, pasang sabuknya. Kita meluncur sekarang."
Mereka pun segera meluncur keluar apartemen. Revan menurunkan istrinya di kare dulu sebelum menuju tempatnya bertugas.
*****
Maafkan Othor ya gaes, baru nongol setelah sekian purnama.
Jangan lupa follow
Ig @momys623
__ADS_1
Tiktok @momy_sum
Love you