
"Beb, lihat deh. Ini mereka salah kirim barang apa gimana sih?" tanya Sheila dengn nada antara bingung dan jengkel.
"Lho... Iya, bahannya beda dari yang kita pesen. Ini kualitasnya jelek banget. Team...! Tolong cek dong, ada banyak ga yang tidak sesuai pesanan!" Zaskia selalu memberikan perintah pada anak buahnya dengan nada sopan dan dengan kata minta tolong agar tidak terkesan bossy.
Mereka bergerak memisahkan pesanan mereka yang sesuai dengan yang tidak sesuai.
"Hampir separo Mbak!" seru salah satu karyawannya.
Mudah sekali untuk mengenalinya, dari pengemasan saja sudah beda. Plastik kemas saja lebih kokoh yang biasa mereka terima.
"Waw, banyaknya. Gimana Beb?" tanya Sheila kemudian.
"Coba deh, aku komplen dulu," jawab Zaskia.
"Eh, ada yang simpan no untuk pengaduan ga?" tanya Zaskia, pasalnya hal seperti ini baru sekali ini terjadi, jadi Zaskia belum menyimpan nomernya.
"Kayaknya di kemasan tadi ada deh Mbak. Nah, ini." ucap salah seorang karyawan sambil menyodorkan kartu nama.
"Tumben... Biasanya ga dikasih. Bismillah, aku coba deh!"
Zaskia mendial nomor yang tertera di sana, tak berapa lama langsung diangkat.
Setelah mengungkapkan apa yang menjadi masalah, nampaknya sedikit terjadi perdebatan.
"Lho tapi kita terimanya beda Pak, kami tidak memanipulasi. Ada cctv di sini kalau Bapak ga percaya. Sebagian barangnya memang ga sesuai. Kami minta di ganti yang sesuai pesanan."
"Kami tidak akan menggantinya karena semua sudah sesuai pesanan, kami pun punya cctv saat mengemas."
Setelah perdebatan, mereka tetep kekeh demgan keputusannya. Tidak ada jalan lain, dia pun menghubungi Ardi yang menangani pemasaran di 3R GROUP. Bukan masalah seberapa kerugiannya. Tapi ini tidak masuk akal, bagaimana bisa barang dari sana sesuai tapi sampai di tempat jadi tidak sesuai. Kalau hal itu terjadi ke semua pelanggan pabrik. Bisa-bisa pabrik mertuanya yang terkena imbasnya.
"Ya Ki.. Tumben telepon, kangen ya?"
"Bercandanya simpan dulu. Ini ada yang labih serius Kak."
"Kenapa, kamu diapain sama suamimu? Ngomong aja ga usah sungkan."
"Kak Ardi ih... Dengerin dulu Kia ngomong."
__ADS_1
"Oke oke... Kakak denger cantik...."
Ah, coba kalau pujian itu dari suaminya. Pasti pipinya langsung bersemu. Tapi karena yang memuji orang lain, maka rasanya biasa saja.
"Ini lho Kak, tadi kan habis bongkar barang datang. Dan barangnya itu sebagian ga sesuai pesanan. Kualitas barangnya juga hancur parah. Kia masih di ruko kalau ga percaya. Tadi Kia udah komplen, katanya barang yang dikirim sudah sesuai dengan pesanan, gitu. Nah, masalahnya nanti kalau kasus kayak gini ga cuma Kia yang alamin, kalau ada pedagang yang lebih besar gimana? Ngerti kan maksud Kia arahnya kemana?"
"Oke oke Ki... Kakak paham. Ini informasi penting. Kamu baru kali ini ya berarti?"
"Iya Kak, terakhir 6 hari lalu masih oke semua kok."
"Ok, Kakak segera meluncur ke sana. Akan ada tim juga yang akan menyelidiki."
"Ok, Kak. Kia tunggu. Assalamu alaikum."
Tuutt....
Zaskia menghela nafas lega.
"Gimana Beb? Ditanggapi? Kamu kenal orang dari kantornya?" Sheila mencecar Zaskia dengan pertanyaan beruntun.
Zaskia hanya tersenyum, dia masih enggan menceritakan keluarganya. Bukan karena tidak percaya pada mereka. Justru Zaskia takut teman- temannya akan canggung saat tahu latar belakang keluarganya.
"Keren kamu ih, bisa kenal dengan orang-orang hebat, bisa sukses semuda ini. Dan alhamdulillah bisa meringankan benan hidup orang-orang seperti kami ini. Thanks ya Ki."
Sheila memeluk Zaskia, dia bersyukur bisa mengenalnya. Bukan hanya cantik tapi jug baik. Selain memberikan gaji yang besar, Zaskia juga tidak menikmati sendiri keuntungan bersih per bulannya yang berada di kisaran 400juta sampai 1M. 20% biasanya dibagikan untuk karyawannya, 20% dia sisihkan untuk keperluan sosial, 60% baru masuk rekening. Di kampus pun dia tak segan mentraktir teman-temannya saat makan di kantin.
Baru 3 bulan bekerja dengan Zaskia dia sudah bisa membeli motor sendiri, bisa mengirim uang untuk orang tuanya. Bagaimana tidak, pengasilannya mencapai 17 hingga 20juta perbulan. Makan dan tinggal di ruko, semua keperluan dapur dan mandi sudah disediakan. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Apa lagi sekarang banyak reseller baru yang bergabung, tentu zaskia akan menambah bonus mereka.
Tak memakan banyak waktu untuk ke sampai ruko Zaskia, justru yang lama adalah berjalan sampai ke parkiran 3R. Kebetulan juga Ardi akhir-akhir ini lebih senang membawa motor agar bisa memboncengkan ayang Siska.
"Beb, ada tamu itu," tunjuk Sheila menggunakan dagunya.
"Eh, Kak Ardi udah datang. Masuk Kak! Maaf masih berantakan. Ya, kayak gini kondisinya." Zaskia menunjukkan barang yang dia terima yang masih berada di tengah ruangan.
Sebagian karyawan nampak saling berbisik, ada lagi cowok ganteng kenalannya Zaskia.
"Iya, kelihatan banget bedanya." Ardi mengambil satu pak lalu membongkarnya. "Jauh di bawah standard pabrik juga kainnya. Boleh minta copyan cctv saat pengangkut datang sampai selesai bongkar Ki?"
__ADS_1
"Boleh Kak. Tolong dong Ron salinkan!"
Di sana juga ada 2 karyawan pria serabutan yang juga harus bisa mengoperasikan komputer. Sengaja memilih lulusan SMK karena pada dasarnya lulusan SMK basicnya memang untuk bekerja, jadi mereka sudah dibekali keterampilan khusus.
"Siap Mbak!"
Tak menunggu waktu lebih lama lagi, Roni menyerahkan flashdisk berisi rekaman cctv yang diminta Ardi.
"Makasih ya Ron. Ini Kak. Sepertinya ada yang sengaja menyabotase," ucap Zaskia sambil menyerahkan flashdisk pada Ardi.
"Thank ya. Tim dari perusahaan akan menyelidiki."
Di halaman ruko terlihat mobil Porsche tengah berhenti. Hal itu juga menjadi perhatian semua karyawan ruko. Saat si empunya mobil turun, mereka tak kalah terkejut. Pasalnya yang mereka tahu mobil dari kekasih bosnya itu inn*va.
Revan berjalan memasuki ruko, agak heran saat melihat sahabatnya ada di dalam.
"Eh, Bro! Udah lama? Tumben blusukan ke tempat ini." Revan berucap sambil mendekati istrinya dan mengulurkan tangan. Zaskia menyambutnya dan mengecup punggung tangan Revan, sedangkan Revan memberikan kecupan mesra di kening.
Zaskia yang jarang berada di ruko sejak tadi mencuri perhatian, apalagi interaksi semacam ini. Bukankan mereka baru pacaran? Pikir karyawannya. Biasanya Zaskia menghadang Revan di tepi jalan saat minta di jemput. Jika bukan karena ada masalah dengan barang dagangan, pasti tadi Zaskia juga sudah menghadang suaminya di jalan.
Saat menemani live, kondisi ruko sudah sepi. Karena jam operasional memang hanya sampai jam 5 sore. Hanya Sheila dan Syifa saja ditambah 2 orang karyawan pria yang membantu mengurus orderan, karna packingnya tetap dilakukan keesokan harinya.
"Ngapelin bini lo. Kangen katanya sama gue," sahut Ardi sambil terkekeh lalu melakukan tos dengan kepalan tangannya.
"Berani lo?" tantang Revan.
"Gue? Ya enggak lah? Gue masih takut jatuh miskin bro, hahaha..." jawab Ardi sambil tertawa lebar.
Terlihat sekali kedekatan mereka. Mereka menyimpulkan kalau Ardi adalah sahabat Revan.
TBC...
Suppornya ya semua...
Tanpa dukungan kalian apalah artinya tulisan othor yang halu ini.
Jangan lupa tinggalkan like and komennya
__ADS_1
Makasih❤️❤️