Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 67. 3R BERSAUDARA


__ADS_3

"Adek lo kenapa sih?" tanya Reno setelah makan malam selesai. Pasalnya dia masih penasaran dengan sikap Revan yang menurutnya tidak biasa.


"Adek lo juga kalo lo lupa! Mainnya sama nanek lampir mulu, sampe lupa sama sodara." ujar Reyhan menyindir Reno.


"Ga usah mengungkit masa lalu. Gue masih sama seperti yang dulu kok. Sini! Lo mau gue peluk kan?" ucap Reno sambil terkekeh kecil.


"Ogah, mending dipeluk istri gue. Lebih nikmat!" jawab Reyhan.


"Ck, lo mah kelon mulu yang dipikirin. Jadi kenapa tuh anak?" tanya Reno mengulangi pertanyaannya.


"Biasa orang kalau sudah masuk golongan bucin mah gitu. Semenit ga dapet kabar dari ayank tercinta rasanya kayak setahun pisah tanpa kabar, bawaannya galau, kaya mau makan orang, hahaha...!" seloroh Reyhan menertawakan adiknya.


Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga. Reno sengaja meminta mereka berkumpul karena ada yang ingin dia sampaikan. Reno dan Reyhan orang yang pertama ada di ruangan itu. Siera menemani si kembar di kamarnya setelah makan, sedangkan para perempuan masih di dapur menyiapkan teh dan cemilan untuk teman ngobrol.


"Ga usah ngatain orang bang, kayak sendirinya enggak bucin!" ucap Kiara yang muncul sambil membawa kripik disusul Zahra yang membawa nampan berisi minuman.


"Emang Revan bisa bucin juga? Kiarain dia bakalan kaku kayak kanebo kering, hehehe!" ucap Reno.


"Hemmm... Bang Ren belum tahu aja. Bang Revan itu manjanya minta ampun sama Kia. Astaga Ara aja sampe ga ngenalin Bang Revan lho waktu pertama lihat mereka." ucap Kiara lagi sambil mencari tempat yang nyaman untuk duduk.


Sejak bertemu Zahra, Kiara selalu menempel padanya. Mungkin dia rindu saat-saat dulu sering bersama Zahra. Zahra selalu memanjakan Kiara. Semua yang diminta Kiara selalu diturutin, apa-apa mbak Rara, ga mau sama yang lain. Dan itu bukan menjadikan Zahra benci, namun dia malah bahagia, setidaknya dia merasa berguna menjadi bagian dari keluarga Zaenal Abidin.


"Duduk sini sayang!" ucap Reno menepuk sofa di sampingnya. "Kamu ngapain sih nempelin Mbakmu mulu?" tanya Reno yang melihat Kiara masih mengikuti Zahra yang akan duduk di dekatnya.


"Ya biarin lah bang, orang Ara masih kangen sama Mbak Rara." sahut Ara.


Zahra pun memilih duduk di karpet dekat Reno, disusul Kiara yang duduk di sampingnya. Reno mengulas senyum, setidaknya dia masih bisa mengelus kepala istrinya.


Sejak berada di rumah besar, Reno tak pernah melepas pandangannya pada istrinya. Seolah jika ditinggal berkedip saja, Zahra akan hilang dari pandangannya. Hal itu juga tak lepas dari pengamatan mama Rena dan mami Meli. Bahkan mereka bertanya dalam hati, tumben Clara tak menempel padanya.


"Lihat deh mbak kelakuan anak sulungmu, mepet terus sama Zahra. Bener-bener ga peka deh. Gemes aku tuh nglihatinnya. Aku yakin deh mbak, aslinya dia itu suka sam Zahra. Mbak lihat kan cara Reno memandang Zahra?" ujar Meli dengan tangan yang mengepal karena gemas.


"Kamu bener Mel, gimana kalau kita nikahkan aja mereka, sekalian besok bareng Revan. Ga papa kali, punya istri lagi kalau modelan istrinya macam Clara? Kalau ga mau. Jangan harapbtu bocah bisa deket-deket sama Zahra lagi. Biar kapok!" sahut Mama Rena yang juga gregetan.


"Iyalah, kalau kayak gitu terus Zahranya makin baper, kan kasihan. Anak baik gitu disia-siain." ucap Meli lagi.


"Ya udah, ke depan yuk. Kita harus ngomong sama suami kita." ajak Mama Rena pada Meli.


Sementara di ruang keluarga sudah tampak Revan yang bergabung, wajahnya sudah tidak mendung lagi. Dia sudah kembali menjadi dirinya yang hangat saat bersama kelaurga. Siera juga sudah duduk bergabung di karpet yangbyentu saja posisinya selalu harus mepet dengan Reyhan.


"Ra..." panggil Revan yang membuat Zahra dan Kiara menengok. "Gue panggil Zahra bukan Kiara!" lanjutnya yang membuat bibir Kiara mengerucut sedangkan Zahra tersenyum kemudian tangannya merangkul Kiara.


"Iya bang, kenapa? Dari tadi Bang Revan belum nyapa Rara lho ngomong-ngomong. Kirain sudah lupa." ucap Zahra menyinggung Revan.


Revan hanya nyengir saat menyadari kalau sejak dia pulang kerja, dia sudah mengabaikan semua orang.


"Sori, pikiran abang sedang berkelana. Hati abang terbawa sebagian jadi ga fokus, hehe." Revan terkekeh menyadari sepupu angkatnya sedang dalam mode protes. "Sini, geser duduk deket abang. Jangan lama-lama deket bang Ren, ujung-ujungnya di php. Dia itu ga peka Ra, besok abang carikan suami aja gimana?" goda Revan pada Zahra yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.


Ini kenapa sih, apa semua orang tahu, kalau sebenarnya Rara suka sama Bang Reno? Ya Allah, malunya aku. Batin Zahra, lalu menunduk malu.

__ADS_1


Reno berdecak lalu ikut duduk di karpet. Posisinya sekarang benar-benar tak ada jerak dengan Zahra. Dia mengalungkan lengannya di leher Zahra, membuat zahra tambah tersipu dan menunduk semakin dalam.


"Jangan didengerin sayang, kamu jangan jauh-jauh dari abang, ok!" ucap Reno kemudian sambil memeluk Zahra dari samping.


"Tuh kan ga sopan banget. Pokoknya Mama ga mau tahu ya. Kamu harus nikahin Zahra. Bareng sama Revan sekalian, biar irit juga! Kalau ga mau nikahin Zahra, jangan harap besok-besok kamu ketemu sama anak gadis mama. Bimo panggilin deh, kalau Reno ga mau nikahin Zahra mama rasa Bimo dengan suka rela mau menjadi suaminya." ucap Mama Rena berapi-api.


Semua jadi menertawakan Reno karena semua orang terkesan sedang menekannya. Sedangkan Zahra dalam hati justri merasa lega, ternyata keluarganya mendukung hubungannya dengan suaminya. Sebelumnya Zahra sebenarnya takut kalau keluarganya akan menentang hubungan mereka.


"Mama apaan sih, jangan macem-macem deh. Enak aja Bimo disuruh nikahin istri Reno. Zahra hanya milik Reno, dia ga boleh deket sama pria manapun." ucap Reno sambil mengeratkan pelukannya.


"Tuh Ma selain ga peka, sekarang anak mama jadi halu! Ga usah halu Bang, abang langsung ijab qobul sekarang aja ga usah nunggu lusa!" ucap Reyhan menimpali.


Sejenak Reno menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan. "Sebenarnya ada yang ingin Reno sampaikan, tapi sebelumnya Reno mau minta maaf dulu kepada semuanya. Mungkin Reno selama menikah dengan Clara menjadi jauh dengan keluarga. Maaf karena Reno sudah menjadi pecundang, tidak pernah bisa bertindak tegas pada Clara yang selama ini sudah berbuat tidak sopan pada kalian." ucapan Reno terjeda saat mengambil nafas. Semua masih terdiam, ingin mendengarkan Reno sampai selesai.


"Reno sudah membuat keputusan untuk menceraikan Clara. Saat ini bahkan sidangnya sudah digelar beberapa kali dan tinggal menunggu keputusan akhir." sambung Reno lagi.


"Kamu ga bercanda kan sayang?" tanya Mama Rena.


Reno hanya tersemyum sambil menggeleng. Tidak disangka hal ini membuat mamanya bahagia. "Enggak Ma, maaf kalau Reno terlambat membuat keputusan ini. Sebenarnya waktu Reno memutuskan untuk pindah ke Surabaya karena memang ingin memantapkan hati dan juga ada hal yang memang harus Reno selesaikan..." Reno mulai menceritakan semua yang dialaminya selama ini, juga bagaimana dia bisa terbebas dari jeratan Clara.


Semua menjadi terharu, tak disangka di balik semua hal yang dialami Reno adalah sebuah tipu daya yang tak kasat mata.


"Alhamdulillaah... Allah masih melindungimu, melindungi kita semua. Maaf karna Papa dan Mama tidak mengerti akan hal ini dan tidak bisa membaca pikiranmu." Papa Tomo ikut mengomentari sekaligus menyesal karna tidak tahu sedari awal.


"Papi juga ga nyangka Ren. Ah... Jadi setelah ini apakah kamu siap jadi mantunya Papi?" ucap Zaenal, meskipun hanya sekedar celotehan namun sebenarnya dalam hati dia mengucapkannya dengan serius.


Zahra tersenyum menunduk, Reno menggenggam tangan Zahra. Perlahan dia membuka tangannya dan tangan Zahra dengan menampakkan punggung tangan mereka. Reno mengisyaratkan bahwa mereka telah menjadi pasangan dengan menunjukka cincin couple yang melekat di jari manis mereka.


Semua memandang ke arah Reno yang masih mempertahankan senyumannya bersama Zahra.


"Sekali lagi Reno minta maaf kepada semua. Sebenarnya ada hal yang terjadi dengan Zahra, dia hampir diperkosa saat mencoba taaruf dengan seorang laki-laki. Mami ingat kan pas kami balik dari rumah Mami Reno mengantarkan Zahra ke suatu acara. Setelah dari situlah kejadiannya menimpa Zahra." Reno memberi jeda sambil merancang kata-kata selanjutnya.


"Lalu... A.. Apa yang terjadi pada Zahra? Kenapa kamu ga ngabari Mami?" tanya mami sambil terisak.


"Zahra selamat Mi, alhamdulillah Reno yang memang saat itu membuntuti Zahra berhasil menggagalkan aksi pria itu. Namun Zahra seperti trauma dia menjerit histeris dan hanya bisa tenang saat Reno temani. Reno saat itu hanya kepikiran untuk menghubungi pakde, karna hanya dia kerabat Zahra yang paling dekat dan masih ada." Zahra yang teringat kejadian itu menunduk lalu terisak, Kiara yang berada di dekat Zahra segera merangkulnya. Mereka saling berpelukan.


" Dan malam itu juga Reno meminta Reno untuk menikahkan kami. Jadilah kami menikah malam itu. Namun Reno juga sudah mengurus pernikahan kami ke KUA, dan tadi kami sudah mendapatkan buku nikahnya. Maaf sekali lagi jika Reno mengambil keputusan sebesar ini tanpa melibatkan kalian. Waktu itu kalian akan ke jakarta mengantar tante Laras, jadi Reno pikir yang penting keadaan zahra sudah baik-baiik saja."


Ada perasaan lega di hati semuanya. Harapan yang selama ini mereka pendam tiba-tiba saja menjadi kenyataan. Mereka larut dalam suka cita. Entah bagaimana harus menanggapi selain hanya rasa syukur.


Reno mengambil alih Zahra dari pelukan Kiara. Dia memeluk Zahra dengan sayang, seolah mengatakan bahwa semuanaya sudah baik-baik saja.


"Mama senang sekali mendengarnya sayang, akhirnya cita-cita Mama punya menantu kamu sudah dikabulkan." ucap Mama Rena dengan suara serak.


"Sudah sayang, jangan menangis. Mulai sekarang abang akan jagain kamu, dan jika sebelumnya kamu masih merasa hanya orang asing di tengah kami, maka saat ini kamu sudah resmi menjadi bagian dari kami. Lihatlah mereka orang tua dan saudara-saudaramu. Kamu tidak ingin meminta restu mereka?" ucap Reno berusaha menguatkan hati Zahra.


"Iya, dan sekarang jangan panggil gue abang lagi. Ntar gue Kualat, hahaha....." ucap Revan berusaha mencairkan suasana.


"Ga mau, Rara masih pengen jadi adeknya bang Revan dan bang Reyhan." sahut Zahra sambil masih terisak, namun malah terkesan lucu sehingga mengundang gelak tawa semuanya.

__ADS_1


"Lah... Jadi kamu ga mau jadi istrinya Reno?" tanya Reyhan masih sambil terkekeh.


"Mau... Tapi Rara tetap mau jadi adeknya kalian juga." jawab Zahra yang masih berada di dada Reno.


Obrolan ringan masih terjadi dir yang keluarga. Zahra sudah nampak tenang dan sudah bisa bercanda lagi. Kiara meminta tidur dangan Zahra malam ini. Bukan Kiara namanya kalau tidak berhasil membujuk Reno untuk mengizinkannya.


Semua sudah masuk ke kamar masing-masing hingga tinggak tersisa 3R bersaudara. Lama sekali mereka tidak berkumpul bertiga seperti ini. Sambil ngobrol mereka memutuskan untuk bermain PS.


"Lo itu curang tau ga? Gue aja baru mau sekali, eeh... Elu sudah dua kali kawin." ucap Revan mencerca Reno.


"Namanya juga rejeki bro, masa mau ditolak. Perjalanan gue memang harus seperti itu." jawab Reno sambil memainkan remot di tangannya.


"Nikah udah 2 kali, nah sekarang gue tanya, lo udah lulus belum jadi pria sejati?" tanya Reyhan.


Reno bersungut, membuat kedua adiknya itu tertawa terbahak.


"Jangan bilang lo belum goal Ren? Astaga... Beneran lo belum unboxing?" tanya Reyhan lagi meledek Reno.


Brak...


Revan melempar remot controlnya ke arah Reyhan. Reyhan dengan sigap menangkap dan menggantikan permainan Revan.


"Sumpah lo bro? Apa perlu gue priksa punya lo masih normal apa enggak?" tanya Revan mendekati Reno dan menarik celana abangnya.


"Jangan macam - macam lo Van! Singkirin tangan lo. Najis gue?" ucap Reno sambil menepis tangan Revan.


"Hahahaha...." tawa Reyhan dan Revan pecah.


"Aahhh... Kalah kan gue. Sengaja kan lo main curang." ucap Reno tak terima karna digoda Revan dia jadi salah menekan tombol.


"Habis gemes gue." ucap Revan lagi sambil terbahak.


"Ga usah ngatain gue, lo sendiri gimana? Kaya udah pernah aja." tanya Reno balik pada Revan.


"Ya belum lah, lo mau gue berzina? Gesrek lo!" jawab Revan.


"Ok, daripada kalian ribut mending kalian janjian aja unboxingnya biar seru." ucap Reyhan menengahi.


"Gak lucu!" jawab Revan dan Reno kompak.


"Ya udah, gue kan cuma ngasih saran aja. Udah ah, gue kelon duluan. Lo berdua boleh kok kelonan juga, hahaha..." ucap Reyhan sambil meninggalkan ruang keluarga.


Reno dan revan saling menatap kemudian bergidik, membayangkan mereka tidur satu ranjang berpelukan.


TBC...


Jangan lupa dukungannya ya bestie...


Tinggalkan komentar, like dan vote...

__ADS_1


Makasih❤️❤️


__ADS_2