
"Aku benar-benar tidak menyangka lho Laras ini Bundanya Kia. Pantesan pas pertama lihat fotonya kok kayak pernah kenal gitu." ucap Mami Meli yang kegirangan karena mendapatkan surprize dipertemukan lagi dengan orang yang membantu merawat anak-anaknya.
Setelah bertemu dengan Laras yang nampak kebingungan di rumah sakit saat Kia terserempat motor, Zaenal Abidin memutuskan untuk mengajak Laras bekerja di rumahnya.
Mungkin ini salah satu jalan Tuhan juga untuk mengungkap, kejahatan baby sitternya yang terdahulu, yang ternyata sering melakukan kekerasan terhadap Kiara dan selalu menindas Zahra. Keberadaan Laras di rumah Melina sudah dianggap seperti saudara sendiri.
Namun sayang, ketakutan akan Diana yang akan mencelakai Kia membuat Laras memutuskan pergi dari rumah Zaenal Abidin. Laras tidak mau keluarga yang sudah menolongnya itu ikut terkena kegilaaan Diana.
"Pasti Kiara dan Zahra sudah besar-besar ya Mbak? Mereka di mana, kok ga kelihatan?" tanya Bunda Laras sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Zahra sudah bekerja, dia memilih jadi guru seperti cita-citanya dulu. Katanya nanti mau ke sini Zahranya, setelah tahu kalau Mamanya mau ke sini. Kalau Ara kuliah di jakarta. Katanya pengen deket sama Abangnya. Si Revan calonnya Kia itu. Mungkin karna sejak remaja juga ara lebih dekat ke mamanya dari pada maminya. Jadilah sekarang kita malah cuma berdua. Ga papalah hitung-hitung pacaran lagi, hahaha." jawab Mami Meli sambil berkelakar.
"Ok, karna sekarang kita adalah keluarga, jadi kita ga usah terlalu formal ya. Panggil saja saya dan suami saya seperti kamu memanggil Meli dan suaminya. Biar makin akrab. Ga papa kan?" tanya Mama Rena.
"Ah, iya mbak. Tapi saya ga enak kalau tidak mengerjakan apa-apa di sini. Apakah ada yang bisa saya kerjakan selama di sini Mbak Mel?" tanya Laras sungkan.
"Kalau cuma untuk kegiatan, kamu bisa bantu2 di butik aja gimana? Bagian nyatet-nyayet barang aja. Bisa dong Laras kan pinter juga dulu. Tempatnya deket sini juga. Yang penting keluar rumah pake masker biar ga ada yang kenal." ucap Mama Rena.
"Buat dirimu senyaman mungkin Dek Laras, biarkan kami yang mengurus dan menyelidiki keadaan suamimu. Nanti setelah semuanya jelas, pasti kami kabari." tutur Papa Tomo.
"Terima kasih Mas. Tapi sebentar lagi Kia juga akan melaksanakan prosesi kelulusan, menurut Mas Tomo bagaimana?" tanya Laras.
"Tidak usah cemas, biarkan semua berjalan normal. Kami akan mengusahakan yang terbaik agar semua aman. Sepertinya Revan juga sudah tidak sabar memunggu lebih lama lagi untuk menghalalkan anakmu, hahahaha..." ucap Papa meyakinkan Laras.
"Terima kasih Mas, Mbak... Kia sangat beruntung bertemu kalian." ucap Laras haru.
"Kami yang beruntung ketemu Kia, dia yang sudah memberikan harapan baru untuk kebahagiaan anak kami."
"Assalamu alaikum..." ucap Zahra dan Reno bersamaan.
Mereka datang bersamaan seperti itu lebih terlihat seperti suami istri yang sedang berkunjung ke rumah orang tuanya. Mama Rena sepertinya tak berhenti berharap Zahra akan benar-benar menjadi memantunya, meski ia tahu semua tak akan mungkin.
"Dek... Jangan lari-lari! Astaga, hobi banget sih bikin orang senam jantung." teriak Reno saat Zahra berlari dan hampir jatuh karna kesrimpet kakinya sendiri.
Dan yang diteriaki hanya nyengir kuda.
"Maaf, habis Zahra kangen sama Mama." jawab Zahra sambil menyalami dan memeluk semua yang ada di sana.
Reno pun melakukan hal yang sama, meski usianya sudah dewasa namun kedekatannya dengan orang tuanya masih terlihat jelas.
"Sebentar... Kayaknya Tante ini pernah lihat. Coba Rara inget-inget dulu." ucap Zahra ketika menyalami Laras. Dia mengerutkan alisnya, pertanda sedang berpikir keras.
Reno menarik tangan Zahra dan menuntunnya untuk duduk didekatnya. Mungkin karna masih sambil berpikir, Zahra bahkan tak sadar jika duduknya kini bahkan menempel pada Reno.
"Sambil duduk, ga sopan berdiri terus!" ucap Reno mengingatkan Zahra dengan lembu.
"Hehe... Maaf tante... Habis masih sambil mengingat-ingat." ucap Zahra sambil nyengir.
Gimna Reno tidak gemas, dan sekarang bahdan dengan iseng tangannya memilin-milin ujung jilbab Zahra.
"Ini tante Laras bukan sih Mi, soalnya masih lupa - lupa inget. Hehe..." ucap Zahra lagi.
"Ah, senang sekali Zahra masih ingat tante. Kamu apa kabar sayang?" tanya Laras.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik tante. Tante kok lama banget ga main ke sini." tanya Zahra lagi.
"Sebelum tante Laras yang jawab, Mama mau kasih tahu dulu nih... Kalau tante Laras ini adalah calon mertua Bang Revan lho." ucap Mama memperkenalkan Laras sebagai calon besannya.
Reno dan Zahra sedikit terkejut, namun kemudian tersenyum bersamaan.
"Beneran, sama Zaskia ya berarti? Alhamdulillah, dunia. Emamg sempit ya ternyata. Sekarang Zaskianya mana tante? Ya ampun, dulu waktu masih kecil sering Zahra uyel-uyel saking gemesnya. Pipiny itu bulat kayak bakpau pengen Zahra gigit rasanya. Hahaha..." ucap Zahra mengenang masa lalu.
"Kamu tuh ketinggalan dek, siapa suruh ga masuk grup keluarga. Aku masukin lagi ya?" tanya Reno yang lebih mirip pemberitahuan karna tidak menunggu jawaban dari Zahra dia segera memasukkan Zahra ke grup keluaraga.
Zaskia hanya mencebik pada Reno, Reno pun tak mau tahu.
" Zaskianya tinggal di apartemen Revan. Makanya, seklali-kali mainlah ke Jakarta. Lama banget lho kamu ga ke rumah Mama." kali ini Mama Rena yang menjawab.
"Kalau sama saya sudah kenal belum tante?" tanya Reno pada Laras.
"Kamu Reno kan? Kakaknya Nak Revan. Tante baru ketemu sekali ini sama idolanya Zahra. Sekarang idolanya sudah berpindah apa belum?" tanya Laras mencandai Zahra.
"Ih... Tante kok buka kartu sih. Sekarang udah enggak tante... Udah punya pawang dia, pawangnya galak, Zahra ga berani-berani deh." ucap Zahra yang di sambut gelak tawa dari tetua mereka.
Sedangkan tangan Reno sudah dileher Zahra dengan gerakan mencekik dan menarik ujung hidung Zahra.
" Oh... Gitu ya, beraninya kalau rame-rame. Kalo cuma sama Abang ga berani ngadu hemmm? "
Tawa mereka masih awet melihat kelakuan 2 orang berbeda gender yang sudah tidak terbilang muda lagi ini.
Pasangan yang dulu sempat digadang-gadang bisa menjadi pasanganyang sesungguhnya. Namun takdir ternyata berkata lain.
Seketika darah reno berdesir, jantungnya memacu lebih cepat. Ada apa, masa tiba-tiba dia mengalami kelainan jantung sih?
Dengan pelan Reno merenggangkan tangannya, namun masih mempertahankan tangannya dipundak Zahra. Menampilkan wajah senormal mungkin agar tak ada yang tahu, kalau jantungnya tengah berdisko.
Ini adalah pertama kalinya Reno merasakan perasaan yang entah apa namanya. Dengan Clara, bahkan dia sering tidur satu ranjang namun tak pernah merasakan getaran seperti ini.
Sedangkan Zahra, sejak menyadari posisinya yang begitu dekat, dia mati-matian untuk tidak salah tingkah. Bagaimana dia bisa move on kalau seperti ini. Apalagi Reno sudah tak canggung lagi untuk menempel padanya. Zahra tak mau bereaksi berlebihan agar mereka tak curiga bahwa hatinya sedang gundah gulana.
"Eh, jadi Reno sudah beristri? Kok ga di ajak." tanya Laras.
"Gak tan... Dah di buang ke laut. Soalnya dia nakut-nakutin Zahraku." ucap Reno setengah bercanda sambil melirik zahra lalu tersenyum.
"Bisa aja kamu Ren..." ucap Laras menganggapi.
Reno sadar, jika kehadiran Clara di tengah keluarganya akan selalu membuat mereka tan nyaman. Tapi entahlah, dulu Reno tak mau tahi. Yang Reno tahu, dia ingin mengajak Clara kemana pun dia pergi.
Terlihat seperti bucin memang, mereka tak tahu jika sebernarnya Reno benar-benar menjadi budaknya Clara bahkan tanpa cinta. Dan semua sudah berlalu, semoga ini tak akan terulang lagi, harap Reno dalam hati.
******
Saat ini Abimana sedang melihat-lihat foto dan video yang dikirimkan Arya kemarin. Mengamati setiap detail cetakan Yang Maha Kuasa, yang mirip sekali dengan istrinya. Seperti foto copy labih tepatnya.
"Zaskia... Maafkan Ayah sayang. Hidupmu pasti tidak mudah Nak. Harusnya kamu tumbuh dengan baik di sini tanpa kekurangan apa pun, tanpa harus banting tulang. Ayah sangat meeindukan kalian sayang. Kembalilah..." ucapnya lirih.
Abimana meraih ponselnya dan menghubungi Zian yang saat ini ada di ruang kerjanya.
__ADS_1
" Ke kamarku Zi! " ucapnya singkat.
Tak lama pintu kamar Abimana diketuk dari luar.
Ceklek...
Zian membuka pintu setelah dipersilakan masuk.
"Ada yang bisa saya lakukan Tuan?" tanya Zian.
"Kapan aku bisa bertemu dengan kekasih anakku. Apakah kau sudah membuat janji." tanya Abimana.
"Maaf Tuan. Sebelumnya, ada hal yang ingin saya sampaikan. Ternyata kekasih Nona muda adalah orang yang sama, yang bekerja menangani masalah perizinan di pemerintahan." ucap Zian memberi informasi.
"Benarkah? Aku senang jika ternyata dia adalah orang yang baik. Siapa pun yang bisa membahagiakan anakku, bukankah aku harus menerimanya dengan baik? Apalagi dia hadir saat masa - masa sulit Zaskiaku." jawab Abimana dengan membingkai senyum di wajahnya.
"Saya baru saja menghubunginya Tuan. Kapanpun dia bisa bertemu dengan Tuan. Kita hanya harus memastikan kan tempat yang aman dan tak ada yang mengetahui pertemuan ini." ucap Zian lagi.
"Ternyata calon mantuku benar-benar ingin melindungi putriku. Aku jadi tidak sabar lagi untuk bertemu. Segera jadwalkan Zi, agar aku juga bisa segera bertemu dengan anakku." ucap Abimana penuh semangat.
"Mungkin sebaiknya kita ambil hari libur saja Tuan, agar tidak mengganggu waktuny bekerja. Bagaimana kalau hari Sabtu Tuan?" tanya Zian sekaligus memberi saran.
"Baiklah... Atur saja tempat dan waktunya. Jangan lupa, terus pantau pergerakan Roy. Apakah dia juga mengincar istri dan anakku?" tanya Abimana lagi.
"Sepertinya begitu Tuan. Kemungkinan mereka akan menggunakan Nyonya dan Nona untuk menekan kita. Tapi saya yakin Tuan, calon menantu Anda pasti sudah mendapatkan informasi dari Tuan Muda Arya bahwa Nyonya mungkin dalam bahaya. Saya yakin, dia akan melindumgi calon mertuanya." ucap Zian menjelaskan pemikirannya.
"Kamu benar Zi. Bukankah itu artinya, aku juga akan bertemu dengan istriku? Aku sangat merindukannya Zi. Kamu tahu bagaimana merindukan seseorang? Ah, kau kan jomblo. Mana mungkin kau mengerti." ucap Abimana seraya mengolok orang kepercayaannya itu.
Astaga, tidak usah diperjelas begitu Tuan. Aku pun ingin ingin segera menikah, tapi dengan siapa. Bahkan pacar saya sudah meninggalkan saya dan menikah dengan pengusaha tusuk sate. Apalagi kalau bukan karna saya miskin. Dan sekarang hidup saya baru mau menanjak, saya takut terperosot lagi Tuan. Biarkan saya sampai atas sekalian. Biarlah sekarang Anda dulu yang menemukan kebahagiaan. Ucap Zian dalam hati.
"Hei... Kenapa diam? Jangan bilang sekarang kamu jadi pengen nikah!" sentakan Abimana menyadarkan Zian dari lamunannya. Kemudian dia salah tingkah karna kedapatan tidak fokus saat diajak bicara.
"Maaf Tuan, saya belum ingin menikah. Nanti saja kalau jodoh saya sudah datang." jawab Zian sambil meringis.
Sebenarnya Abimana tak ingin zian sang asisten Ini terlalu formal padanya. Dia menginginkan sosok anak laki-laki, dan Zian adalah pria muda yang patuh dan cerdas, cocok sekali dengan karakter Abimana. Namun Zian tak ingin besar kepala, swjak menjadi salah satu orang kepercayaan Aditama, dia memang dididik khusus untuk menjadi tangan kanan Abimana kelak. Jadi, meskipun baru beberapa minggu mendampingi Abimana, Zian sudah tahu karakter Abimana.
"Baiklah nanti aku akan memberimu bonus yang besar saat misi kita sudah selesai. Jangan bosan mendengar ocehanku Zi! Karna saat ini yang bisa kulakukan hanya itu." ucap Abimana.
"Tentu saja tidak Tuan, itu sudah menjadi tugas saya. Ah, iya. Saya ingin mengingatkan, satu jam lagi ada jadwal terapi Tuan. Sebaiknya kita segera berangkat saja." ucap Zian.
"Baiklah, siapkan semuanya. Kita brangkat dari pintu samping seperti biasa." jawab Abimana.
"Baiklah Tuan, saya permisi dulu. Sebentar lagi, bodyguard akan datang menjemput." ucap Zian.
Setelah beberapa kali melakukan terapi, kaki Abimana semakin membaik, apalagi semangatnya yang terus membara. Sekarang bahkan Abimana bisa menapakkan kakinya mesk8 masih dengan bantuan penyangga.
TBC....
Semoga kalian suka, mohon tinggalkan komentar.
Jangan lupa tekan 👍 dan ❤️
Makasih❤️❤️
__ADS_1