
Sejak keberadaan Laras di mansion Abimana, perhatian semua pelayan tertuju padanya. Ada yang menatap tidak suka, ada yang terheran-heran karena dia bisa melayani Abimana dengan baik, ada yang takjub karena dialah satu-satunya pelayan wanita yang bisa sedekat itu dengan tuannya meski memang statusnya adalah perawat. Namun bagi mereka dengan adanya Laras, sebagian besar dari mereka menyambut baik. Gerak - gerik mereka seperti sudah terbaca oleh Laras. Meski mereka ada yang mengatakan bahwa dia sengaja mendekati dan merayu Abimana, namun ada juga yang senang karena akhirnya ada yang bisa mengendalikan tuannya dan senang karena Laras dipandang melakukan tugasnya dengan baik. Dari situ Laras pun tahu, siapa dulu yang harus dia dekati dan dia percaya.
Sehari setelah masuk kembali ke mansion suaminya. Zahra mulai bergerak mengumpulkan informasi. Yang pertama dia lakukan adalah mencari tahu apakah pelayan masih ada yang tulus mengabdi pada suaminya. Sepertinya Pak Endra memang kepala pelayan yang jujur dan setia. Hal itu telah Laras buktikan saat dia sengaja seolah-olah teledor sehingga bisa saja menyebabkan kecelakaan pada Abimana.
"Pak Endra... Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Bisakah ke kamar Tuan Abimana sekarang?" tanya Laras. Waktu itu mereka sedang di dapur, Laras menyiapkan makan siang untuk Abimana dan Pak Endra sedang mengawasinya.
"Baik mbak Dela." jawab Pak Endra datar namun tetap sopan.
Laras berjalan menuju kamar Abimana dengan Pak Endra membuntutinya dari belakang. Pak Endra sedikit heran karena Dela yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Bukankah itu tidak sopan? Dan itu sudah menjadi peraturan di mansion Abimana, setiap pekerja dan pelayan yang akan menemui Abimana terutama di kamar dan ruang kerjanya wajib mengetuk pintu.
Di dalam kamar tak terlihat Abimana berada di sana. Bahkan kursi rodanya pun tak terlihat habis digunakan. Pak Endra terlihat panik.
"Di mana Tuan Abimana? Apa saja yang kau lakukan sampai Tuan tidak kau awasi dengan benar?" tanya Pak Endra sambil mondar-mandir menyisir ruangan dengan perasaan cemas.
Laras tidak marah karena ucapan Pak Endra yang meninggi, justru dia lega karena Pak Endra memang setia kepada Tuannya. Sejenak Laras tersenyum lalu berjalan dengan santai ke arah balkon, lalu membuka pintunya.
Pak Endra lega karna melihat Tuannya yang sedang duduk di sofa single yang ada di balkon sambil mengotak atik ponselnya.
"Makan dulu Mas, lanjutkan lagi nanti. Jangan sampai di hari penting putri kita, Mas malah sakit." ucap Laras lembut.
Abimana tersenyum lalu memberikan ponselnya pada istrinya. "Iya sayang, tadi Mas hanya menanyakan sudah sampai mana persiapan untuk besok." jawabnya kemudian.
Pak Endra yang mendengar dan melihat interaksi mereka dibuat melongo. Dia seperti bermimpi. Ada hubungan apa sebenarnya Tuan dan perawatnya ini? Mengapa mereka bisa sedekat dan semesra ini. Apakah benar perawat ini sudah merayu dan memanfaatkan tuannya, seperti desas desus yang beredar di kalangan para pekerja di mansion ini?
Saat akan bersuara, Pak Endra dikejutkan lagi dengan Abimana yang tiba-tiba berdiri sendiri tanpa ada keluhan dan nampak seperti sudah pulih seperti sedia kala.
Abimana yang baru tahu keberadaan Pak Endra di kamarnya hanya tersenyum. Dia tahu, pasti kepala pelayannya itu shock.
"Ah, Pak Endra pasti terkejut kan kenapa tiba-tiba saya sudah bisa berjalan seperti dulu?" tanya Abimana sambil sedikit terkekeh menyaksikan Pak Endra yang mengangguk lalu menunduk dengan pertanyaannya itu.
Sementara tanpa disadari, Laras sudah berada di depan meja rias melepas tompel, wig dan kacamatanya.
Abimana lalu duduk di sofa, di mana tadi Laras meletakkan makanan di meja dekat sofa. "Kalau istriku, apakah kau juga tidak mengenalinya?" tanya Abimana sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.
Pak Endra menengok ke arah Laras. Lagi-lagi jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya. Sungguh kejutan yang luar biasa.
__ADS_1
"Nyo... Nyonya Laras. Anda? Ini benar Anda kan? Maaf karena tidak mengenali Anda Nyonya." ucap Pak Endra kemudian berlutut karena merasa bersalah telah membentak dan mencurigai majikannya.
"Sudah Pak, jangan begini. Saya justru berterima kasih karena selama ini Pak Endra sudah menjaga suamiku dengan sangat baik. Maaf jika Laras harus menjadi orang lain untuk masuk ke rumah ini. Berdirilah Pak!" ucap Laras sopan.
Pak Endra pun perlahan berdiri, dia masih memunduk menantikan perintah atau tugas yang akan disampaikan majikannya. Karna dia yakin, Laras memanggilnya karena memang ada hal yang penting.
Abimana masih melanjutkan makan siangnya. Laras mendekati suaminya dan duduk di sampingnya.
"Ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada Pak Endra. Pak Endra tahu kan kalau Mas Abi curiga, di mansion ini ada yang menjadi mata-mata?" tanya Laras langsung ke inti masalah.
"Iya Nyonya, tapi maaf, sampai sekarang saya belum berhasil menemukan orang itu." jawab Pak Endra merasa tidak enak karena tidak berhasil melaksanakan tugas.
"Baiklah. Gini Pak, terus terang saja, sejak saya masuk ke rumah ini, ada seseorang yang langsung menjadi atensi saya. Namanya Safira Andriyani, kalau di sini namanya Yayan kalau tidak salah. Dulu waktu saya di Surabaya, dia bekerja di rumah adik Pak Sutomo. Waktu itu dia hampir menculik Kiara dan sering menganiaya Kiara juga Zahra. Ternyata setelah orangnya kabur, terungkap fakta bahwa dia salah satu sindikat penculikan dan eksploitasi anak. Nampaknya dia bersembunyi di sini. Pak Endra masih ingat, dia di sini sejak kapan?" tanya Laras diakhir kalimatnya membuat Pak Endra sedikit mengingat-ingat. Pasalnya dia sendiri juga terkejut dengan fakta ini.
"Kalau tidak salah, dia bekerja Sudah sekitar 12 tahunan di sini Nyonya. Dia memang mengaku dari jawa Timur. Tapi saya tidak tahu pastinya. Waktu itu dia mengaku korban pencopetan, jadi identitasnya hilang. Hanya saja selama bekerja di sini dia memang terlihat lebih tertutup. Saya tak pernah melihatmya bercengkerama dengan pelayan yang lain Nyonya. Tapi saya sering melihat dia mengajak ngobrol pelayan lain secara sembunyi-sembunyi. Entah apa yang di bicarakan, namun hampir semua pelayan nampaknya pernah diajaknya seperti itu." tutur Pak Endra menjelaskan dengan jujur. Meski agak penasaran dengan yang dilakukan Yayan, namun Pak Endra pikir itu urusan pribadi para pelayan. Bukan ranahnya untuk ikut campur, pikir Pak Endra.
"Oke, sekarang tugas Pak Endra, mendekati satu persatu pelayan di sini. Desak mereka untuk jujur mengatakan, apakah selama ini Yayan melakukan tekanan atau ancaman dan semacamnya. Berikan jaminan, jika kita akan menjamin kerahasiaan dan keselamatan mereka juga keluarga. Saya khawatir, selama ini para pelayan berada di bawah tekanan." ucap Laras lagi sambil merapikan piring dan gelas bekas makan Abimana.
"Baik Nyonya, saya akan laksanakan misi ini dengan hati-hati. Ah, iya... Saya mengucapkan selamat pada Tuan Abimana karena telah menemukan Nyonya Laras, dan juga saya sangat senang melihat Anda sudah sembuh Tuan. Bagaimana kabar Nona muda?" ucap Pak Endra tulus.
"Ma kasih ya Pak, Pak Endra sudah sabar melayaniku. Ini semua karna istriku, dia yang membantuku sembuh. Lihatlah, istriku masih sama cantiknya sepeti dulu kan? Dan putri kami adalah duplikat bundanya. Dia akan menikah besok. Ah... Padahal rasanya aku masih ingin memeluknya, mengajaknya jalan-jalan, banyak sekali moment yang sudah kulewatkan... Aku memang ayah yang tidak berguna." tutur Abimana dengan nada sendu.
Pak Endra ikut terharu mendengar kabar ini. Dulu Zaskia masih belajar berjalan, dan tiba-tiba dia akan menikah? Pak Endra sebenarnya juga merindukan gadis kecil yang dulu senang sekali jika digendong Pak Endra.
Setelah selesai mendengarkan cerita majikannya, Pak Endra pamit undur diri, kembali ke belakang. Sesuai apa yang diperintahkan oleh Tuannya, dia harus menyembunyikan fakta bahwa Abimana sudah sembuh dan dia harus menyebarkan berita tentang kepergian Abimana sampai besok sore karena acara keluarga, yaitu pertunangan keponakannya. Semua harus diatur sedemikian rupa sehingga berita itu akan sampai pada Roy, dan Roy tidak akan curiga dengan Abimana.
Sejak mendengar fakta tentang pelayan yang dikenalnya bernama Yayan itu, Pak Endra lebih jeli mengamati gerak-geriknya. Sepertinya keberuntungan berada di pihak Pak Endra. Saat malam tiba, dia melihat Yayan sedang menarik Bi Ipah dengan sedikit kasar sambil menengok kiri kanan dan melalui sisi yang tidak terpantau cctv.
"Oh, jadi begini kelakuanmu yang sebenarnya? Kali ini aku harus mendapatkan sesuatu yang berguna. Bagaimana bisa aku terperdaya. Setahuku dia tidak pernah berbuat kasar seperti itu. Apa karena kali ini dia pikir tidak ada yang melihat?" gumam Pak Endra.
Pak Endra diam-diam mengikuti mereka. Sampai di pojokan taman dekat gazebo mereka berhenti.
"Bi Ipah jangan macam-macam ya sama saya. Ingat anak dan cucu Bi Ipah bisa saya celakai kapan saja. Ngomongin apa kemarin sama perawat jelek itu?" tanya Yayan dengan nada mengancam.
"Saya tidak membicarakan tentang kamu Yan. Kenapa sih semua hal harus kamu curigai. Sedikit-sedikit ngancam. Dela itu orang yang baik kok, dia kemarin hanya menanyakan istri Tuan Abi. Itu saja." jawab Bi Ipah jujur.
__ADS_1
Yayan mengernyitkan dahinya, apakah dia sudah kalah star? Batinnya.
Yayan adalah suruhan Diana untuk mengawasi setiap perkembangan Abimana di mansionnya. Diana menyuruhnya untuk memasukkan racun Secara sembunyi. Racun yang sedikit demi sedikit akan melumpuhkan syaraf. Namun karena ketatmya pengawasan yang dilakukan oleh Aditama dia pun tidak berhasil melakulannya. Apalagi Aditama masih sering membawamya ke Singapura untuk mengobati depresinya. Sedikit demi sesikit Yayan mulai menekan dan mengancam semua pelayan wanita agar patuh padanya.
Yayan bahkan sudah sedikit melenceng dari tujuannya. Gaji pelayan di mansion Abimana sangat besar. Dia mulai memeras setiap pelayan agar memberikan sebagian gajinya. Jika tidak, maka dia akan mencelakai anggota keluarganya. Entah dari mana dia mendapatkan satu persatu foto anggota keluarga para pelayan, namun yang pasti para pelayan pun merasa ketakutan dan akhirnya menuruti keinginan Yayan. Bagaimana tidak, majikan mereka tidak berdaya, lalu dengan siapa mereka akan mengadu. Apa lagi Yayan di mansion itu lebih terlihat seperti pengawas bukan pelayan. Hanya jika terlihat Pak Endra saja dia akan bekerja dengan rajin.
Saat akhir-akhir ini Yayan melihat Abimana yang tampak berbeda, dia jadi berpikir ingin mendekati dan merayunya. Ya, akhir-akhir ini Abimana terlihat lebih segar, lebih berisi, lebih tampan di mata Yayan meski masih di kursi roda.
"Apa yang dia tanyakan? Apakah dia tertarik dengan Tuan Abimana? Apakah dia ingin merayunya?" tanya Yayan was-was. Bagaimanapun juga, Laras yang dikenalnya sebagai Dela ini menang banyak karena busa mendapatkan akses untuk dekat dengan Abimana kapan saja, bahkan selama di mansion ini, Laras lebih sering berdua dengan Abimana di kamarnya.
"Mana saya tahu Yan, itu masalah mereka. Selama tuan Abimana tidak merasa terganggu, bibi rasa ga ada masalah." jawab Bi Ipah tenang.
"Pokoknya Bi Ipah harus memberitahukan saya, apapun perkembangan mereka. Ingat Bi, saya bukan hanya mengancam." ucap Yayan lalu pergi meninggalkan Bi Ipah. Sedangkan Bi Ipah hanya mengelus dada sambil geleng-geleng kepala. Dia sudah kebal dengan ancaman Yayan. Sesungguhnya dia sudah tidak bisa lagi membiarkan wanita ular itu lebih lama menindas para pelayan, namun Bi Ipah juga tahu kalau Yayan tidak sendirian.
Sepeninggal Yayan, Pak Endra langsung mendekati Bi Ipah yang masih duduk melamun.
"Ehhmmmm...!" deheman Pak Endra membuat Bi Ipah terlonjak kaget.
"Pak Endra... Ada yang bisa saya kerjakan, Pak? Mengapa malam-malam berada di sini?" tanya Bi Ipah tergagap.
"Ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi Bi! Jangan takut, Tuan akan melindungi kalian dan keluarga kalian." ucap Pak Endra tanpa basa-basi.
"Pak Endra tahu? Sa... Saya sebenarnya sudah lama ingin bercerita pada Pak Endra, tapi saya takut kalau ancaman Yayan itu akan benar-benar dia lakukan." ucap Bi Ipah sambil menunduk.
"Jangan khawatir, sebenarnya Dela lah yang pertama kali curiga pada Yayan. Bi Ipah tahu kalau Yayan itu seorang sindikat penculikan anak? Mungkin karena itulah dia sering mengancam. Bibi ceritakan pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi, Tuan Abimana akan menjamin keselamatan keluarga kalian." ucap Pak Endra dengan nada santai.
Bi Ipah pun mulai menceritakan dari awal Yayan masuk ke sini, bagaimana dia mempengaruhi satu per satu pelayan dan menekannya, hingga sampai saat ini. Bagaimana Yayan sering diam-diam mencampurkan racun pada makanan Abimana, namun gagal karena Abimana selalu membuang makanan yang di berikan oleh pelayan. Untungnya buah yang di konsumsi oleh Abimana, Pak Endra sendiri yang membeli dan langsung di simpan di kulkas mini yang ada di kamar Abimana.
TBC...
Maaf ya semua, updatenya lama syekale....
Habis lebaran keluarga bergantian sakit, jadi ga sempat untuk nulis-nulis. 🙏🙏
Semoga kalian masih setia menantikan kelanjutan kisahnya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan vote
Makasih❤️❤️