
Perasaan hampa selalu memenuhi hari-harinya. Sejak dia mengenal Clara, wanita yang sudah dia nikahi 7 tahun yang lalu, dia merasa jiwanya tersesat dan tak tau arah pulang.
Keluarganya dan orang-orang terdekatnya hanya tahu bahwa dia sangat mencintai wanita itu sampai mengabaikan pendapat Mama Rena yang kurang menyukai Clara. Reno anak pertama dari Sutomo Alzein Abidin adalah sosok yang ramah, penyayang, pekerja keras.
Sayang, kisah cintanya tak seindah yang terlihat. Bahkan Reno seperti memendam rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Setahun yang lalu, dia tahu bahwa isterinya itu menggoda adik bungsunya, dia tahu bahwa istrinya itu sering pergi ke klub bersama teman-temannya yang berakhir dengan berbagi peluh di hotel. Bukan dia tak mau menghukum atau memberi pelajaran pada Clara. Dalam hatinya dia sangat murka, tapi entah apa yang sebenarnya terjadi, saat berhadapan dengan Clara dia menjadi lemah, tak bisa marah, yang ada dia hanya selalu berkata 'Iya' dengan semua permintaan istrinya.
Sejujurnya dia ingin mengadu dan menceritakan apa yang dirasakan kepada keluarganya. Namun entah mengapa, mulutnya itu rasanya seperti dijahit tak bisa bicara apa-apa.
Menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya, dia hanya berusaha mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.
Setiap malam tak pernah terlewatkan untuk sholat tahajud, sholat istikhoroh, atau apapun yang bisa menentramkan jiwanya.
"Ma, Pa... Reno memutuskan untuk mengurus cabang yang di Surabaya, sekalian Clara bilang ingin dekat dengan keluarganya." ungkap Reno waktu itu pada kedua orang tuanya.
Semua memang hanya alasan, karena sesungguhnya ada sebagian dari jiwanya yang menuntunnya untuk ke kota itu.
Meski jiwanya seperti seorang tahanan, namun secara akal kadang dia masih sadar bahwa selama ini clara sedang mengeruk hartanya dan Reno sendiri tidak bisa mengatakan 'tidak'.
Dia menitipkan semua asset yang dia miliki kepada Papa Tomo secara tidak langsung, karna semua barang-barang berharga itu hanya dia taruh dilaci meja kerja Papanya, yang tidak terpakai.
Setidaknya jika masih ada di rumah itu, semua itu tidak akan jatuh kepada orang yang salah. Yang dia bawa hanya ATM serta buku tabungan hasil dari gajinya selama bekerja di perusahaan papanya. Tak lupa dia juga menonaktifkan kartu kredit tanpa batas milik istrinya.
"Kamu yakin sayang?" tanya Mama Rena meyakinkan.
"Insya Allah Ma, doakan yang terbaik untuk Reno. Maaf jika Reno belum bisa membuat kalian bangga." ucap Reno dengan mata berembun.
"Pasti sayang, tapi sering-sering temuin kami ya. Mama belum terbiasa jauh dari anak-anak Mama." ucap Mama Rena meyakinkan.
"Mama tenang saja, Reno pasti akan menyempatkan diri kok." ucap Reno lalu memeluk kedua orang tuanya.
Clara bahkan tak mau pamit saat mereka akan berangkat ke Surabaya.
Tempat yang pertama ingin Reno kunjungi setelah sampai di Surabaya adalah rumah Zainal Abidin dan Melina, yang dia panggil Papi dan Mami.
Setelah istirahat sejenak di apartemen, Reno segera meluncur ke kediaman adik dari ayahnya itu. Clara tak tahu ada di mana, keberadaannya benar-benar seperti jaelangkung.
"Assalamu alaikum..." Ucapnya saat melihat pemilik rumah sedang nyore di teras depan.
"Wa alaikum salam...." jawab Mami Meli.
"Reno... Mami kangen. Kok ga ngabari mau dateng? Sendirian aja? Istrimu mana?" tanya Mami
"Zahra mana Mi?" bukannya memjawab pertanyaan Mami, Reno melah menanyakan adik kecil kesayangannya.
Sejak pernikahannya dengan Clara, dia seperti hilang tanpa jejak. Mengganti nomor kontak, tidak pernah aktif di sosmed. Di grup keluarga pun dia juga tidak ikut masuk.
Waktu Reno menikah, usia Zahra baru 18 tahun, baru tamat SMA. Mami pernah cerita bahwa Zahra ingin mengapdikan diri menjadi guru setelah kuliah nanti.
"Zahra hanya pulang ke sini kalau Sabtu minggu Ren... Setelah diterima jadi PNS 2 tahin lalu, dia ditugaskan di daerah xx, agak jauh kalau harus nglaju." jawab Mami.
Ada rasa kecewa tak bisa bertemu dengan gadia kecilnyaga.
"Padahal, Reno kangen lho Mi. Lagian Rara ganti nomer kok ga kasih tau Reno sih Mi. Terus kalau temu keluarga juga ga pernah ikut. Rara udah lupa ya Mi sama Reno?" tanya Reno menggebu-gebu.
Mami Meli sebenarnya tahu alasan Zahra menghindari Reno, hanya saja dia tidak mau memberitahu semua orang. Karna sebenarnya Zahra pun tak pernah memberi tahu keluarga angkatnya itu.
"Nanti kamu hubungi sendiri saja ya, nanti Mami kirim nomernya. Tapi jangan kasih tau kalau Mami yang kasih tahu, ok!"
"Ck... Kenapa sih Mi, ada yang mami tutupin dari Reno?"
"Apa yang mau ditutupin sih Ren. Jangan-jangan kamu yang lagi nutupin sesuatu. Hayo ngaku! Kelihatan lho kamu itu ga bahagia!" cecar Mami membuat Reno gelagapan.
"Eh, Ren! Kapan datang? Sudah lama? Kok sendirian?" kali ini Papinya datang sambil menenteng kandang burung beserta isinya.
"Lumayan om. Tapi Reno haus om, dari tadi belum ditawari minum, hehe...!"
"Biasanya juga nylonong aja. Ya udah yuk, masuk. Udah makan belum?"
"Belum Mi, sengaja ke sini mau numpang makan. Kangen masakan Mami."
"Ck... Ga usah alasan. Tadi ga dimasakin bini kan?"
Reno hanya nyengir.
Hari itu Reno seperti terlepas dari belenggu hidupnya saat memutuskan untuk menginap di rumah Mami dan tidur di kamar Zahra. Reno mengambil ponselnya dan membuka aplikasi hijau lalu mengirimkan pesan.
"Zahra, my little girl... I Miss You..." pesan dikirim.
Reno menunggu pesannya di balas sambil berguling-guling. Hampir satu jam, bahkan pesannya masih centang abu-abu.
__ADS_1
Reno turun dari ranjang, iseng membuka dan melihat-lihat isi kamar Zahra. Setidaknya mungkin bisa menemukan foto terbarunya.
"Ck, kamu ceroboh banget sih ra, naruh dokumen sembarangan." ucap Reno saat menemukan SK dan Berkas lain di atas meja, "Jadi kamu ngajar di sana? Dapet, kamu ga bisa menghindar lagi!"
Reno menarik laci berniat memasukkan berkas iti ke dalamnya, namun dia malah menemukan buku kecil warna soft pink. "Ini buku lama apa baru sih? Ra, boleh lihat ya? Aku udah izin lho. Jadi jangan marah!"
Di buku itu ternyata banyak curhatan Zahra saat masa remajanya. "Busyet, adek gue ternyata idol juga ya, hahahaha...! Tapi sayang dari banyak pria yang menyatakan perasaannya, tak ada yang menarik perhatiannya."
Sampailah Zahra pada curhatan tentang cowok yang nampaknya sangat dia sukai.
Dear diary,
Abang makin ganteng aja, boleh ga sih berharap suatu saat kamu yang jadi imamku❤️❤️
Lembar berikutnya
Diary, aku sedih... Tenyata Abang sudah punya kekasih.
Tak apalah, aku sadar diri kok. Mencintaimu itu seperti hanya ada di dalam mimpi. Kudoakan yang terbaik.
Semua hanya tentang pria yang dia panggil abang, tapi tak dia sebutkan namanya. Tibalah di lembar terakhir...
Dear diary,
Ternyata melepaskan orang yang sudah tepatri di hati itu ga gampang. Hari ini dia sudah resmi menjadi milik orang, dan akhirnya harapanku tak akan pernah menjadi nyata.
Aku masih berharap di kehidupan selanjutnya, kita bisa berjodoh. Love you Bang...
Maaf, jika Zahramu pergi. Berbahagialah.
Maaf diary aku tak akan menulis lagi, terima kasih suda *me*njadi tempatku berbagi selama ini.
Deg
Deg
Deg
Reno melihat tanggal terakhir Zahra menulis diary ternyata sama persis dengan hari pernikahannya.
"Jadi, selama ini Zahra... Astaga... Kenapa aku baru tahu. Bodoh!" Reno bermonolog.
Tring... Notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
"Dalem Bang... Apa kabar?" balas Zahra, dia tahu pesan itu dari Reno, karna kata-kata itu hanya Reno yang pernah mengatakannya.
"Abang ga baik Ra... Boleh video call?"
Tidak ada jawaban, namun pesan sudah centang biru.
Tak menunggu waktu lebih lama lagi Reno segera menekan tombol panggilan video.
"Assalamu alaikum Abang." suaranya lembut dan merdu mendayu-dayu. Terpampang di layar, wajah ayu yang kepalanya ditutup hijab. Wajah putihnya seperti bersinar, terlihat makin dewasa.
"Wa alaikum salam. Masya allah adekku ternyata berubah menjadi bidadari. Apa kabar sayang? Ga kangen sama Abang?"
"Enggak... Ga boleh kangen sama suami orang. Nanti Zahra di labrak lagi." meski pelan, namun ucapan Zahra mampu membuat senyum Reno mengembang.
"Tapi Abang kangen, gimana dong?"
Zahra tak menjawab.
"Abang di mana? Kok ga asing kayaknya?"
Reno mengarahkan cameranya.
"Ih... Abang di kamar Zahra?"
"Kan Abang tadi bilang kangen, mau peluk orangnya ga ada, ya udah, nih, peluk gulingnya." ucap reno sambil mempisisikan diri tidur memeluk guling.
Sejak saat itu mereka kembali berkomunikasi. Namun begitu, Zahra masih sulit untuk di ajak bertemu. Sedangkan Reno hanya bisa pasrah tak ingin memaksa, namun dia tetap mengawasinya tanpa sepengetahuan Zahra.
*****
Hampir setahun Reno di Surabaya, pikirannya semakin terbuka, apalagi saat dia memutuskan untuk ikut kajian di pondok pesantren, tempat dimana Zahra juga sering mengikuti kajian - kajian untuk mengisi waktu senggangnya.
Reno sengaja menemui seorang ustadz secara pribadi di untuk berkonsultasi secara langsung.
"Asaalamau alaikum Ustadz... Maaf, mengganggu waktunya."
__ADS_1
"Wa alaikum salam Pak, tidak masalah. Kami malah senang mendapat kunjungan secara langsung dari donatur tetap pesantren ini. Jangan sungkan, katakan saja jika ada yang jika ada yang bisa kami bantu."
"Begini tadz...." Reno pun menceritakan masalahnya secara detail. Bukan bermaksud mengumbar aib, namun menceritakan masalah keluarga yang tepat memang seharusnya kepada orang tepat, yang bisa memperbaiki dan memberikan saran secara obyektif bukan?
"Sudah lama Bapak mengalami hal itu?"
"Sudah 7 tahun lebih Pak ustadz..."
"Begini Pak, ada baiknya kita menemui pak kyai secara langsung. Saya masih takut salah menduga. Karna yang saya tangkap dari cerita Bapak, saat ini Pak Reno berada dibawah pengaruh ilmu sihir, lebih tepatnya terkena pelet. Dan yang seperti ini memang ada, itu termasuk ilmu sihir yang di dalam islam sendiri sangat dilarang." jelas pak ustadz panjang lebar.
" Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Hindarilah tujuh perkara yang mencelakakan” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah! Apa tujuh perkara itu?” Beliau bersabda, “(yaitu) Menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang diharamkan oleh Allah kecuali terdapat alasan yang dibenarkan, memakan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh zina terhadap perempuan baik yang mejaga kehormatan dirinya serta beriman.” (HR. Muslim)
"Baiklah ustadz, kapan saya bisa menemui beliau?"
"Gini saja, nanti saya kabari lagi. Karna saat ini pak kyai sedang tidak di tempat. Atau ada baiknya jika Pak Reno melakukan ruqyah sendiri, caranya :
Ambil air wudhu dengan niat menyucikan diri.
Memohon ampun kepada Allah Swt dan membaca istighfar.
Baringkan tubuh Anda dengan posisi tangan dan kaki yang lurus. Pastikan posisi Anda nyaman untuk memudahkan proses ruqyah.
Pejamkan mata seraya mempersiapkan diri.
Baca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing 3x.
Setelah itu, setel murotal Alquran dan bacaan ruqyah dalam bentuk kaset atau video YouTube.
Selesaikan proses ruqyah hingga akhir. Reaksi aneh mungkin saja terjadi, seperti sakit pada bagian tertentu, rasa panas dan terbakar, kesetrum, atau dingin.
Proses ruqyah bisa diakhiri dengan meminum air mineral yang telah dibacakan ayat-ayat Alquran dan doa ruqyah.
Bisa di mengerti ya Pak? "
"Insya Allah akan saya coba ustadz, kalau begitu saya permisi. Terima kasih banyak atas waktunya. Kalau bisa tetap kabari saya kapan saya bisa sowan dengan ndalem?"
"Tentu saja Pak."
Lega, itulah yang dirasakan Reno, ketika apa yang kita simpan bertahun-tahun akhirnya bisa kita ungkapkan kepada seseorang.
TBC...
Mohon tinggal komentarnya kakak, biar othornya lebih semangat nulisnya.
Jangan lupa tekan 👍dan❤️
__ADS_1
Makasih❤️❤️