Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 43. TENTANG MANTAN


__ADS_3

Zaskia mengerjapkan matanya. Kepalanya masih berdenyut, namun perutnya sudah tak lagi melilit. Dia mengedarkan pandangan, rupanya dia sudah berada di kamar Revan. Tangannya tertancap jarum impus, ternyata dia sudah membuat gaduh. Pasti mereka cemas saat menemukannya tergeletak tak sadarkan diri tadi, pikirnya.


Zaskia, mengingat-ingat kejadian tadi. Bukannya sedih, Zaskia malah tersenyum. Apa yang terjadi pada dirinya, mengapa Zaskia jadi selemah itu? Bukankah dari kecil mentalnya sudah tertempa? Lalu mengapa hanya karna ada kecoak kecil yang menekannya dia jadi lemah. Bodoh, pikirnya.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka, Zaskia menengok ke arah pintu.


"Kia... Kamu sudah sadar?" ucap Kiara berjalan tergesa menuju ranjang. "Alhamdulillah... Sebentar ya, aku bilang dokter Adam dulu." Kiara sedikit berlari keluar kamar tanoa mendengar jawaban Zaskia.


Tak lama terdengar derap langkah beberapa orang menuju kamar yang Zaskia tempati.


"Apa yg Mbak Kia rasakan?" tanya dokter Adam sambil memeriksa denyut nadi dan detak jantung.


"Saya merasa baik-baik saja dokter... Cuma kepala saja yang sedikit nyeri." Kia meraba pelipisnya dan ternyata ada perbannya. Zaskia bahkan lupa, kenapa ada luka di sana.


"Baguslah kondisinya memang sudah lebih baik ya. Saya hanya memberikan obat untuk lukanya saja. Jangan lupa banyak makan ya Mbak? Apakah tadi belum makan?" tanya doktwr Adam sembari tersenyum. Kiavyang baru ingat bahwa memang sejak tadi pagi belum makan, hanya nyengir kuda.


"Iya dok... Terima kasih." jawab Zaskia singkat sambil tersenyum.


Setelah itu dokter pamit pergi dari rumah itu.


"Kamu kenapa sih Ki... Kok sampai kayak gini. Mbak khawatir tau ga, kamu pingsannya lama banget. Mana Revan di telpon ga diangkat-angkat lagi." ucap Siera dengan nada cemas.


"Maaf mb, Kia jadi bikin heboh. Tadi itu Kia tiba-tiba merasa pusing dan ga inget apa-apa. Abang jangan dikasih tahu, nanti dia panik. Biar aja dia menyelesaikan pekerjaannya." jawab Kia sambil membayangkan wajah cemas Revan kalau tau dirinya sampai pingsan bisa-bisa besok dia tidak boleh kerja lagi.


"Tapi luka di kepala kamu mana bisa diumpetin sih Ki. Emang bener kamu tadi belum makan?" Kiara ikut menyela obrolan mereka.


Kia yang tadi pagi merasa perutnya tidak nyaman memang enggan untuk sarapan. Tadi siang karna merasa belum lapar dia juga menunda makannya. Nanti saja habis dari taman, pikirnya.


"Iya, lupa." jawabnya singkat sambil nyengir.


"Mbak ambilin Makan ya kalu gitu?" tanya Siera menawarkan diri.


"Eh, enggak usah, maksudnya ga usah diambilin, aku ke meja makan aja sendiri. Aku udah ga apa - apa kok. Beneran, tuh lihat!" ucap Kia sambil mencoba berdiri dari tempat tidur, dan mencoba bersikap biasa kepada mereka agar mereka tidak mencemaskannya.


Tadi sebelum dokter Adam pergi, Kia memang memintanya melepas infus karna merasa tak bebas dan Kia merasa dirinya tidak lemas.


Zaskia merapikan bajunya lalu menarik tangan Kiara, "Temenin makan yuk. Mbak, Kia makan dulu ya." seru Zaskia dan pamit pada Siera. Siera hanya geleng-geleng kepala, rasanya gemas melihat tingkah Zaskia. Mereka pun akhirnya keluar bersama.


"Tante... Tante sudah sembuh? Tadi Nesha takut lihat tante beldalah-dalah." ucap Danesh.


Zaskia jongkok menyakan tingginya dengan Danesh seraya mengusap kepalanya.


"Tante ga papa, tadi main ayunannya ga hati-hati makanya jatuh. Danesh sama Nesha besok kalau main hati-hati ya, dan jangan lari-larian biar ga jatuh kayak tante, Ok!" ucap Kia yang diangguki oleh kedua bocah kembar itu.


"Nesha udah ga takut kan sama tante? Sini, tante pengen cium." Nesha yang tadinya mengintip dari balik sofa pun mendekati Zaskia lalu memeluknya.


"Nah, sekarang tante mau makan dulu ya biar ga lemes dan nanti bisa main sama kalian. Katanya tadi mau maem es krim sama-sama. Jadi ga?" ucap Kiara menengahi.


"Mbak Kia mau makan? Mbok Mi panasin dulu ya Mbak, udah dingin soalnya." ucap Mbok Mi saat melihat Kiara dan Zaskia menuju meja makan.


"Ga usah Mbok, santai saja sama Kia. Mbok Mi lanjutkan saja pekerjaannya." cegah Zaskia saat mbok Mi hendak meraih lauk dan sayur di meja makan.


Zaskia memang sudah biasa makan makanan yang tidak panas, di kampung juga biasanya masak cuma pagi saja untuk makan sehari. Kalau di sini masih mending, nasinya panas.


Setelah makan Kiara dan Zaskia masih bercengkerama di meja makan. Hari memang sudah sore, ini adalah makan siang yang terlambat, untung Zaskia tak punya riwayat maag.


"Jangan bilang sama Abang ya kalau tadi pingsan, besok pasti ga dibolehin kerja kalau tahu tadi pingsan." ucap Zaskia pada Ara.


"Iya iya... Tapi bantuin bujukin Abang, biar dia mau ngrestuin Ara nikah muda." ucap Ara seraya memohon.

__ADS_1


"Hah, kamu mau nikah juga? Tadi ke sini juga sama Kak Arya memang?" tanya Zaskia.


Ara hanya mengangguk. Tadi memang diantar oleh Arya, namun dia hanya menurunkan Kia di halaman lalu langsung pergi.


Setelah makan dilanjutkan dengan man es krim bersama sesuai permintaan si kembar di ruang keluarga.


" Yah, sendoknya jatuh. Biar tante ambil lagi deh sendoknya. Danesh ganti pake ini yang masih bersih." ucap Zaskia kemudian melangkah ke belakang menuju dapur.


Saat mengambil sendok, gerakannya terhenti saat melihat wanita yang tadi menemuinya di rumah kaca itu terlihat berlari terburu-buru lewat samping. Zaskia diam-diam mengikutinya. Kia sudah memantapkan hatinya, dia tak akan mundur jika bukan Revan sendiri yang meminta. Bukankah memang dia harus percaya pada calon suaminya?


Baiklah... Kamu sudah mengibarkan bendera perang, kita lihat, siapa yang akan menang. Ucap Kia dalam hati.


Terlihat wanita itu bersembunyi di balik dinding sambil tersenyum. Tak lama terdengar suara mobil berhenti, wanita itu langsung mengeluarkan ponselnya. Dan ada yang terjatuh dari sakunya.


Mata Kia membola melihat benda itu, kain segi tiga warna abu-abu. Dilihat dari potongannya saja sudah bisa dipastikan, iti adalah milik laki-laki.


"Itu kan mobil Abang, jangan-jangan benda itu 1juga punya Abang. Astaga... Apa mungkin selama ini wanita itu berfantasi mesum sama Abang. Dasar perempuan ga punya akhlak!" ucap Zaskia lirih sambil mengepalkan kedua tangannya.


Dengan langkah pasti Zaskia mendekat namun tak bersuara.


"Ehem... Sudah lama tante jadi penguntit?" Bisik Zaskia tepat di belakang telinga wanita itu.


Wanita itu terlonjak kaget. Buru-buru dia mematikan rekaman video yang tadi dalam mode on. Sepertinya dia juga geram karna dipanggil tante.


"Mau tahu ga cara perempuan kampungan ini menyambut calon suaminya. Siapa tahu nanti bikin tante jadi mupeng." ucap Zaskia memprovokasi sambil tersenyum menyeringai.


Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, zaskia berlari ke arah mobil Revan saat Revan terlihat hendak turun dari mobilnya.


"Abang....!" teriak Zaskia sambil berlari menuju Revan dengan senyum merekah.


Senyum Revan pun tak kalah lebar, melihat gadisnya sangat antusias menyambut kedatangannya. Revan segera merentangkan tangannya sambil mengucapkan salam.


"Assalamu alaikum calon istri... Abang kangen!" ucao Revan. Posisinya bukan cuma memeluk, bahkan tubuh Zaskia sudah terangkat dalam gendongan depan Revan.


Tak mau berdebat Revan pun menurunkan Kia namun masih memeluknya. Namun Revan terkejut saat menyibakkan tambut Kia.


"Kepala kamu kenapa yang... Hey, kenapa sampai diperban gini sih. Sakit banget ini pasti." ucap Revan panik.


"Abang jangan panik gitu, ini tuh ga papa kok. Nih lihat!" Kia mencoba tidak meringis saat tangannya menekan lukanya.


"Keren kan Kia? Udah ah, ayo masuk!" ucap Kia lalu menggandeng tangan Revan, menuntunnya masuk ke dalam. Melalui pintu belakang.


Wanita penguntit itu kelabakan saat dia tahu Revan akan lewat belakang. Di langsung lari dan bersembunyi agar tidak ketahuan. Bahkan benda yang jatuh tadi pun tak dihiraukan.


"Tante... Tante cantik kok lama sih ditungguin. Es klimnya keburu habis. Eh, oom suda pulang? Tadi tante cantik jatuh telus berdalah Om. Telus tadi tante juga tidulnya lama banget kayak olang mati. Tapi tadi udah Danesh obati pake es klim. Sekalang jadi sembuh deh, iya kan tante? " adu Danesh pada Revan.


Zaskia menepuk keningnya. Dia lupa bahwa anak sekecil dia adalah makhluk yang paling jujur.


"Beneran Dek?" Revan nampak terkejut mendengar penuturan Danesh.


"Eh itu tadi lho Bang, pas Kia kirim foto selfie di rumah kaca. Ga sengaja kepleset terus kebentur pojokan ayunan, tapi ga papa kok ini, cuma lecet aja." ucap Kia menyakinkan Revan.


"Terus tadi katanya tidurnya lama kayak orang mati apa? Kamu pingsan?" tanya Revan lagi.


"Eh i.. Itu tadi Kia habis diobati terus tidur, lama banget. Ya kan Danesh ganteng?" untungnya saat di bilang ganteng Danesh langsung mengangguk girang.


"Udah, ayo masuk, Abang mandi dulu! Tante temenin Oom mandi dulu ya. Nanti tante nyusul lagi. Ok, sayang!" pamit Kia pada Danesh yang di jawab dengan anggukan kepala.


Untungnya tadi tiang dan bekas inpus sudah disingkirkan dari kamar jadi Revan tidak akan tahu.


Tidak semua pegawai di rumah besar bisa memasuki kamar Revan. Yang boleh membersihkan dan masuk kamar Revan memang hanya mbok Mi. Dan tadi adalah pertama kalinya Siera menginjakkan kaki di kamar Revan, itu pun karna Kia yang sedang sakit. Sedangkan Ara memang beberapa kali pernah masuk hanya sekedar membangunkan Abang sepupunya itu.

__ADS_1


Ceklek!


Begitu masuk kamar Revan langsung mengunci pintu, dengan tak sabar revan membopong tubuh Kia dan meletakkan di atas ranjang.


"Kangen yang..." ucap Revan dengan suara berat sambil menindih tubuh Kia dan memeluknya.


Kia meresapi rasa yang membuncah di dalam dadanya. Perlahan tangannya bergerak membalas pelukan Revan.


"Kia juga kangen.... Kangen banget!" ucap Kia yang masih memeluk Revan erat. "Abang....!"


"Hemmmm...." Revan hanya berdehem.


"Kia boleh ga nanya sesuatu?" tanya Kia dengan ragu-ragu.


Revan melonggarkan pelukannya. Dia memiringkan tubuhnya dengan satu tangan sebagai penyangga. Satu tangannya lagi digunakan untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya.


"Tanya apa?" tanya Revan lembut.


"Soal... Mantannya Abang? Mantan Abang dulu beneran cantik dan seksi ya? Apa bener, Abang ga mau deket sama perempuan karna Abang belum bisa move on dengan... Siapa namanya, mbak Fely ya kalau ga salah. Abang cinta banget ya sama dia?" tanya Kia hati-hati takut menyinggung perasaan Revan.


Revan masih terdiam, dia malah senyum-senyum memandang wajah polos Zaskia yang tanpa make up. Tangannya tak berhenti menyusuri setiap jengkal wajah Kia. Ternyata skincare mahal itu cepet banget mencerahkan warna kulit. Pikirnya. Sepertinya revan tak tertarik dengan pertanyaan Kia tadi.


"Abang ih, ditanya malah senyum-senyum ga jelas. Buruan jawab!" bujuk Kia merengek.


"Abang bingung jawabnya. Waktu Abang jalan sama dia, ya dia itu pasti yang paling cantik, namanya juga pacar. Tapi kalau sekarang ditanya dia cantik apa enggak, ya Abang jawabnya enggak, bukan karna dia udah jadi mantan, tapi karna pikiran abang sekarang lebih rasional dan obyektif. Kalau ditanya perempuan yang paling cantik buat Abang ya calon istri Abang lah." ucap Revan sambil menarik hidung Kia.


"Kalau masalah seksi apa enggak, abang sih sebenernya masih bingung. Ukuran seksi itu dilihat dari mana sih? Kalau yang di bilang seksi itu karena punya dada dan dan pantat besar, aku rasa dia ga punya. Kalau seksi itu dilihat dari pakaian yang terbuka maybe yes. Cuman buat Abang pribadi, Abang sih kurang nyaman lihat orang berpenampilan kayak gitu. Gimana ya, terkesan kayak wanita malam, belum mendekat aja udah bikin Abang mual. Itu sih kalau Abang, kalau yang lain ya ga tau. Kan orang punya sudut pandang berbeda-beda." jawab Revan panjang lebar.


"Abang... Kia jadi gemes deh pengen cubit." ucap kia sambil mencubit pipi Revan.


"Kok dicubit sih, dicium dong. Seharian belum dicium lho. Energinya kurang full. Sini, sini sama sini. Cepetan!" ucap Revan sambil menunjuk pipi kanan, kiri dan juga bibirnya.


Wajah Kia sudah merona malu, dia menggeleng pelan.


"Ga mau, malu!" ucap Kia.


Cup cup cup cup...


Revan kalap, dia mengecup setiap jengkal wajah Kia. Yang terakhir Cup...


Akhirnya bibir Kia jadi mangsa juga.


"Abang... Bibir Kia udah ga perawan lagi! Kia ga mau tahu, pokoknya Abang harus tanggung jawab!" ucap Kia sambil memukul-mukul dada Revan.


Sedangkan pelaku pencurian ciuman hanya terkekeh.


"Abang pasti tanggung jawab, sekarang juga suruh ijab qobul, ayok aja! Jadi gimana mau dilanjutin? Nanggung lho tadi. Lanjutin ya, ya?" ucap Revan memohon.


"Enggak, sana mandi. Kia juga mau mandi." ucap Kia yang wajahnya sudah memerah.


"Adek ngajak Abang mandi berdua?" goda Revan lagi.


"Abang, jangan godain Kia terus ih. Sana duluan mandi. Aku mau nyusul si kembar dulu. Pasti nyariin, Kia udah kelamaan di kamar. Cepetan!" ucap Zaskia sambil mendorong Revan ke kamar mandi. Sementara dia sendiri mengambilkan ganti dan berlalu ke ruang keluarga.


"Tante kelamaan sih perginya. Oom juga, udah gede masa minta ditemenin mandi sih!" ucap Danesh polos.


"Eh ya ampun, salah lagi kan tadi aku ngomongnya." ucap Kia lirih namun masih bisa didengar Kiara dan Siera. Sontak mereka tertawa melihat Zaskia yang serba salah.


TBC...


Terima kasih untuk dukungannya ya semua...

__ADS_1


Tinggalkan komen agar authornya semangat nglanjutin ceritanya, jangan lupa juga tekan👍 dan ❤️


Makasih❤️❤️


__ADS_2