Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 100. NGIDAM MARTABAK?


__ADS_3

Setelah makan malam, mereka masih ada yang bercengkerama di ruang tamu, ada juga yang pindah ke ruang tengah sambil menonton tv.


Zaskia sendiri berada di ruang tengah. Ada beberapa matras springbed yang sudah di tata. Zaskia duduk di atas salah satu matras dengan kepala Revan berada di pangkuannya. Tangannya tak berhenti mengusap rambut suaminya yang sedang dalam posisi memeluk perutnya.. Dia sedang bercerita dengan adik perempuan Faisal yang saat ini ada di atas matras yang berbeda.


"Itu suami Mbak sudah tidur lho," ucap Dinda memperingati Zaskia.


"Biarin aja, capek pasti dia. Seharian diajakin keliling Mbak," jawab Zaskia masih dengan posisi yang sama.


"Mas Revan orangnya gimana sih? Umpetin lah Mbak dari Mak Vera, tar disrobot lagi sama dia," ucap Dinda lagi dengan sewot.


"Coba aja kalau bisa. Jangan harap aku akan diam saja sekarang. Ngalah terus lama-lama juga capek Din."


Zaskia mengungkapkan perasaannya. Mungkin karena sama-sama wanita, usia mereka juga hanya terpaut bebrapa bulan, makanya mereka pun sepertinya terlihat lebih kompak. Mereka memang jarang berkomunikasi lewat hp atau sosmed, tapi kalau bertemu mereka tak pernah bisa diam, ada saja yang diceritakan. Dinda yang baru kelas 2 SMA, sepertinya menyukai karakter Zaskia yang kalem tapi pinter.


"Memang harus gitu Mbak, harusnya dari dulu. By tha way, Gisel anaknya Bulik Marni juga hot lho Mbak sekarang. Jadi artis tiktok. Mudah-mudahan aja dia ga ikut salah jalan seperti Mbak Vera ya."


"Emang iya? Aku malah ga punya akun tiktok. Belum kepengen juga. Tapi nanti kalau udah masuk ke pekerjaan, kayaknya perlu juga deh bikin akun. Buat jualan online gitu, sepertinya menguntungkan. Bisa juga buat bantu promosi hotel atau kafe."


"Jualan buat apaan Mbak? Nanti kebanyakan duit bisa berjamur lho. Bingung mau buat jajan apaan soalnya. Hahaha..."


Bahkan suara tawa Dinda yang cempreng tak membangunkan Revan, terusik pun tidak.


"Nanti kamu akan tahu kalau kita bisa menghasilkan duit sendiri. Rasanya akan bangga dan seneng, di situlah seseorang akan bisa mengahrgai uang. Bukan masalah jumlahnya, tapi pengorbanannya."


"Eh, aku belum punya ig Mbak Zalfa lho ngomong-ngomong. Bagi dong mbak!" seru Dinda sambil menyodorkan ponselnya.


Zaskia pun mencari dan memfollownya. Terlihat Bulik Rumi berjalan ke arah mereka.


"Btw suami sama mertua Mbak tajir banget ya? Buah kesabaran Mbak Zalfa berujung manis ternyata. Dinda ikut seneng dengernya," cerosos Dinda lagi.


"Alhamdulillah Din, mereka sangat baik. Itu yang terpenting. Semoga nanti kamu juga dapat suami dan mertua yang baik. Yang penting sekarang, belajar yang rajin, biar Ibu kamu bangga. Jodoh itu sambil jalan. Siapa tahu pas lagi di tikungan dipertemukan jodoh." Zaskia terkekeh sendiri dengan kata-katanya.


" Ck, masa di tikungan sih Mbak, jelek banget tempatnya. Kalau aku ga fokus bisa-bisa ketabrak dong," sahut Dinda cemberut.


"Masih betah ngobrol sayang?" tanya Bulik Rumi mendekati Zaskia.


"Eh, iya Bulik. Kebetulan ke sini, ada yang mau Kia bicarakan. Bentar ya."


Dengan hati-hati Zaskia memindahkan kepala Revan ke atas bantal. Perlahan dia turun dari matras dan menuntun Bulik Rumi ke kamarnya.


"Bulik... , selama ini kalian sudah banyak membantu kami. Kia seneng banget karena kalian selalu peduli sama Kia dan Bunda. Bulik selalu sabar meski Kia selalu ngrepoti. Ini ada sedikit buat beli lauk dan jajannya Dinda. Bulik terima ya."


Zaskia menyerahkan amplop coklat yang lumayan tebal, dengan ragu Bulik Rumi menerimanya.


"Ini apa Nduk? Bulik ikhlas kok, Bulik sayang sama kamu dan Bundamu. Jadi tidak perlu seperti ini. Saudara itu harus saling menyayangi. Ini kamu simpan saja, buat pegangan kamu. Nanti kalau suamimu tahu dia akan marah."


Bulik Rumi mengembalikan amplop itu pada Zaskia. Namun Zaskia segera mencegahnya.


"Abang ga akan marah Bulik... Ini cuma sedikit untuk Bulik. Kia udah dikasih banyak sama suami dan ayah. Jadi Kia mohon, Bulik terima ya. Pokoknya kalau butuh apapun, jangan sungkan hubungi Kia ya."


Perlahan Bulik Rumi menarik tangannya dengan amplop yang masih ada di tangannya.


"Terima kasih Nduk, semoga rejeki kalian lancar. Diberikan kesehatan dan dilancarkan semua urusan."


Saat mengucapkan itu, Bulik Rumi menjadi terenyuh. Dia ingat saat-saat tersulit bagi Laras dan anaknya. Dia ikut senang karena akhirnya Laras dan Zaskia menemukan kebahagiaannya.


Bulik Rumi pun memeluk Zaskia sambil terisak.

__ADS_1


"Ada apa yang?" tanya Revan yang tiba-tiba masuk dengan muka bantalnya.


Zaskia dan Bulik Rumi mengurai pelukannya saat Revan datang. Bulik Rumi menegakkan badannya lalu menghampiri Revan. Sedangkan Zaskia tiba-tiba merasa panik, takut Revan bereaksi.


"Titip Zaskia yo Le... Jangan dibuat nangis. Kalau nangis disogok pake martabak telor aja, pasti diem."


Bulik memberikan wejangan sambil diselingi canda. Sebenarnya itu adalah kenyataan. Dulu waktu Zaskia masih SD, dia sering dibully teman-temannya sampai nangis kejer. Jarak sekolah dengan rumah agak jauh, lebih dekat ke tempat Bulik. Senjata yang paling ampuh untuk mendiamkan Zaskia adalah dengan memberinya martabak telor. Makanan itu termasuk mahal dan langka saat itu. Karenanya Zaskia sangat menyukainya karena jarang memakannya.


Zaskia Langsung memeluk Revan dari samping.


"Enggak By. Bulik bohong, Kia ga suka nangis kok."


Mendengar itu, Revan malah terkekeh. Dia balas memeluk istrinya gemas.


"Revan pasti jagain Kia Bulik... Nanti kalau pengen martabak, Revan belikan sama penjualnya sekalian."


"Bulik ih, suka buka kartu. Ngomong-ngomong martabak kok Kia jadi pengen ya. Tuh kan, jadi kepikiran."


"Kamu ga lagi ngidam kan sayang?" tanya Bulik kemudian.


"Ih Bulik... Ya nggak lah. Masa belum ada seminggu udah ngidam aja."


Jawaban Zaskia malah membuat dua orang di depannya itu tergelak.


"Ya sudah, Bulik keluar dulu ya. Sing rukun, ojo do tukaran."


"Inggih Bulik..."


Revan mengernyitkan dahinya, sedikit mengerti dengan yang diucapkan Bulik.


"Abang ga mual kan?"


"Tadi Kia ngasih uang sama bulik satu iket. Maaf ga bilang Abang dulu. Kia inget masih punya utang sama Bulik buat berobat Bunda. Waktu itu Kia terpaksa karena ga punya pegangan. Untung ada Paklik dan Bulik yang selalu membantu kami. Sejak kami di sini merekalah yang selalu kami repoti," ucap Zaskia yang masih berada dalam pelukan suaminya.


Revan terenyuh mendengar cerita Zaskia. Dia semakin ingin melindungi istrinya itu.


"Kenapa cuma seiket? Itu uang kamu sayang. Ga perlu minta izin Abang." Revan memang tidak mempermasalahkan tentang materi. Dirinya malah senang kalau Zaskia mau memakai uang hasil kerjanya. Itulah harga diri laki-laki. Ketika bisa menafkahi istri dengan layak meskipun sang istri bisa hidup tanpa uangnya.


"Kia cuma bawa 5 Bang, tadi udah kepake juga. Takut besok masih ada keperluan. Kapan-kapan aja Kia kirim uang jajan buat Dinda. Dinda itu tomboy, tapi sebenarnya dia itu sangat patuh pada orang tuanya. Kia ingin sekali Dinda bisa menjadi sukses juga nantinya seperti Masnya. By the way, Abang kenapa bangun tadi?"


"Ga ada yang peluk Abang, beda rasanya," jawab Revan random.


"Dinda masih di sana?"


"Ada, udah ngorok kenceng banget."


Mereka malah terkikik. Zaskia tahu, pasti suaminya itu terbangun karena suara Dinda yang ngorok.


"Jadi pengen martabaknya? Ada layanan G**food ga sih yang, di sini?" tanya Revan sambil membuka aplikasi di ponselnya.


"Coba aja Bang. Aku kan ga pernah pake itu."


"Ada nih yang, mau yang apa?" tanya Revan sambil menyodorkan ponselnya. Di sana tertera banyak menu.


"Tar dulu Bang, lihat di luar udah pada tidur belum. Kalau belum belinya jangan cuma dikit."


Zaskia melangkah ke luar kamar. Di ruang tengah ada Dinda dan Simbah yang sudah tidur. Sedang di ruang tamu adaBu RT, Bunda dan Bulik yang masih ngobrol. Sedang diluar ada Abimana, Paklik, Faisal dan beberapa tetangga termasuk Pak RT.

__ADS_1


"Kenapa Nduk? Pengen sesuatu?" tanya Paklik saat melihat Zaskia keluar.


"Boten Paklik... Cuma ngabsen. Mau pesen teman ngopi. Di belakang masih ada ibu-ibu ga Yah?" tanyanya kemudian.


"Udah pada pulang barusan sayang. Tadi habis bikin lemper. Kia mau?" kali ini Laras yang menyahut.


Zaskia kembali masuk ke rumah.


"Oh, ada lemper juga. Mau deh Bun, nanti aja tapi. Kia mau pesen martabak dulu. Gara-gara Bulik nih, Kia jadi pengin."


"Halah, alasan aja to kamu Nduk? Memang pesen di mana? Yang jual mau nganterin ke sini?" tanya Bulik yang memang gaptek.


"Pake hape Bu, nanti dianter ke sini sama tukang ojeg." Faisal masuk dan menjawab pertanyaan ibunya.


"Lah, memang bisa? Kok kamu ga ngajari Ibu to Le. Tau gitu kan pas Ibu kehabisan micin ga usah lari-lari ke warung."


"Ibu nih generasi micin makanya ga ngerti. Lagian kalau ibu bisa pake aplikasinya, bapak nanti yang bakalan ngamuk-ngamuk," ucap Faisal.


"Lha kok iso?" tanya Bulik Rumi


"Iya lah Bu, nanti duite Bapak habis buat pesen ini pesen itu sama ibu. Mentang-mentang ga perlu keluar rumah."


"Iyo yo, bener-bener. Kan sing penting istri bahagia to le, jare pepatah kae."


"Sampean bahagia, Bapak sing nangis-nangis. Ibu tega?"


"Yo nggak to Le, wong Ibu cinta kok karo Bapakmu"


Zaskia hanya terkikik geli namun segera beranjak ke kamar lagi.


"Lho Mbak, Mas Revan mana? Katanya mau cerita-cerita?" Faisal ternyata menyusul Zaskia dari belakang. Meskipun usia Faisal lebih tua, namun menurut silsilah dia adalah adiknya Zaskia, jadi tetap dengan sopan memangginya Mbak.


"Di kamar. Aku lihatin dulu ya." Zaskia masuk ke kamarnya dengan pintu yang tidak tertutup sempurna.


Grep...


"Lama banget sayang, Abang kangen." Revan langsung memeluk istrinya lagi begitu melihatnya masuk kamar.


"Ya ampun Bang, belum juga 10 menit. Beli 4 aja Bang, udah pada pulang ibu-ibunya. Abang mau lemper?"


"Udah aku pesen 5 martabaknya. Habis adek lama. Tar aja lempernya, sekarang kangen-kangenan dulu."


Revan membawa Zaskia ke ranjang dan menindihnya. Zaskia sampai lupa kalau dia sedang meninggalkan Faisal di luar kamar.


"Seharian tadi Abang ga di kasih ini sama ini. Abang mau minta sekarang," ucap Revan dengan suara serak menahan hasratnya.


Zaskia tersenyum, tangannya terulur ke wajah Revan. Dia membelai bibir Revan dengan ibu jarinya. Revan sudah tak sabar, dengan cepat dia mengecup bibir istrinya, mengecup lagi untuk yang kedua kalinya, baru saja ingin melum*tnya, pintu kamar sudah diketuk.


Tok tok tok...


"Mbak, Mas Revan sudah tidur?"


TBC....


Gimana, masih mau lanjut? Udah 100 episode kuy...


Makasih ya, yang udah setia kasih jempolnya dan aktif berkomentar

__ADS_1


Love you❤️❤️


__ADS_2