Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 104. MEMBERI PELAJARAN


__ADS_3

Mata Ratna melotot saat sadar siapa yang bersama Laras.


"Loh Anda juga di sini?"


Abimana merasa malas menanggapi Ratna. Sebenarnya dia masih dendam dengan Ratna. Bukan perkara uang yang dikeluarkan untuk membeli tanah. Namun karena Ratna yang sudah berbohong tentang keberadaan Laras, hingga membuatnya membuang-buang waktunya. Jika saja dia tidak hanya fokus mencari ke kota itu, mungkin anak dan istrinya sudah ditemukan lebih awal.


"Mas ke dalam dulu ya sayang." Abimana berlalu tanpa menanggapi Ratna.


Manik mata Ratna membola saat mendengar panggilan sayang yang disematkan pria itu untuk Laras. Dia semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya pria ini.


"Ssstttt... Siapa dia? Kamu ga ada cerita tentang pria itu?" tanya Ratna pada Vera sambil berbisik.


"Ga tahu Bu. Vera tidak nyimpen nomernya apalagi follow akun sosmednya." Vera menjawab dengan berbisik juga. Dia memang tidak tahu persis bagaimana kehidupan Zaskia selama di Jakarta, apalagi tentang ibunya.


"Masuk dulu Mbak, maaf tadi suami Laras mungkin sudah lelah. Dia baru sembuh dari cidera kaki, kelamaan berdiri mungkin pegel." Laras masih mencoba berbaik hati pada sang kakak. Jauh di lubuk hatinya, dia juga ingin mempunyai saudara yang saling menyayangi.


Dengan cueknya, Ratna dan Vera masuk ke ruang tamu. Lagi-lagi mereka terkejut dengan keberadaan seorang pria paruh baya di ruangan itu.


"Jadi sebenarnya yang jadi suaminya Zaskia itu Om apa Mas Beny? Bener kan Om ini sugar dadynya Kia?"


Mulut pedas Vera mulai bereaksi. Praktis semua mata menatap horor ke arahnya.


Zaskia yang masih jengkel dengan Vera pun akhirnya mendekati papa mertuanya dengan masih menggandeng Revan.


"Ma, pinjem Papa dulu ya," ucap Zaskia meminta izin pada mama mertuanya.


Zaskia duduk di antara Papa Tomo dan Revan. Otak Vera sepertinya belum konek. Nampaknya dia belum sadar atas kelakuan konyolnya itu. Sesekali Vera harus merasakan batunya


Andre yang tadi memang belum pulang, terlihat masuk bersama Arya dan Faisal. Dia memalingkan mukanya saat ekor matanya beratapan langsung dengan manik mata Vera. Andre sudah benar-benar malas bertemu dengan perempuan yang pernah dia nikahi itu.


Zaskia tidak jadi bersuara saar Vera mulai meracau lagi.


"Jadi mas Andre menceraikan aku karna masih mau mengejar perempuan gatel ini?" teriak Vera sambil menunjuk-nunjuk Zaskia.


"Dan kamu... Bagaimana bisa kamu berhubungan dengan 3 laki-laki sekaligus. Kamu dendam sama aku karena Mas Andre pernah memilihku? Murahan banget sih jadi perempuan!" seru Vera lagi.


Plak....


Plak...


Tamparan keras melayang ke pipi Vera kanan dan kiri.

__ADS_1


Kiara yang tangannya sudah gatal dari tadi akhirmya mendapat pelampiasan. Dia juga tahu para lelaki yang dituduh Vera tak kan mau untuk berbuat kasar. Dia tahu watak Papa dan abangnya, tidak akan main tangan dengan perempuan, sesalah apapun dia.


"Kamu lagi halu kan? Tuh udah aku bangunin. Gimana? Udah sadar belum?" tanya Kiara kemudian.


Arya mengusap punggung tunangannya. Untung sudah ada Kiara yang mewakili memberikan sedikit sentilan, batinnya. Jujur sebagai kakak, Arya pun tak rela, Zaskia dituduh sehina itu.


Andre mengelus dada lalu menarik nafas kasar. Tak mempedulikan ocehan Vera, Andre memilih untuk berpamitan.


"Om... Bun... Andre pulang dulu ya. Sekali lagi maaf, karena Andre, semua jadi menanggung beban." pamit Andre pada orang tua laras yang dijawab dengan senyum dan tepukan di bahunya.


Andre beralih menghampiri keluarga Abidin.


"Maaf Pak, Bu... Kalian harus menyaksikan secara live menantu Ibu diperlakukan tidak baik. Saya pamit duluan. Kalau berkenan, saya mengajak Pak Tomo dan Bu Rena serta keluarga untuk mampir ke gubuk Bapak saya."


Andre menyalami satu persatu mereka untuk pamitan.


Papa Tomo menilai, pada dasarnya Andre memang orang yang baik, meski pernah keblinger. Mereka memerima dengan baik kehadiran Andre di tengah-tengah mereka. Karena sepertinya, Andre pun sudah ikhlas Zaskia menikah dengan Revan, jadi tak ada salahnya jika mereka pun menerima maksud baik Andre yang ingin menjalin tali silaturahmi ke depannya.


"Main ke rumah kami, kalau sudah balik ke Jakarta Ndre!" seru Papa Tomo.


"Siap Om!" jawab Andre singkat.


Andre beralih pada pengantin baru di samoing Papa Tomo.


Vera yang melihat interaksi mereka sedikit demi sedikit mulai terkonek.


Andre melangkah kaki keluar rumah Laras tanpa mempedulikan Vera dan ibunya. Ada yang harus diurus di kantor kelurahan karena ternyata Vera sudah benar-benar membuat ulah di sana.


"Mbak Vera... Sekali lagi, kalau mulutnya ngomong sembarangan, Dinda sendiri yang bakal jahit. Dulu pas sekolah itu mulut ditinggal di rumah ya. Makanya sekarang disekolahin. Jangan cuma bikin rusuh aja. Sedikit aja biar pinter!" ucap Dinda lantang.


Pedes juga nih anak kalau ngomong, untung aku ga pernah ganggu kehidupan Zaskia. Kalau enggak bakalan malu juga aku. Batin Gisela saat menyadari bahwa keluarga ayah Zaskia dan mertuanya bukan orang sembarangan.


"Duduk Mbak, Ver, kita ngobrol baik-baik," Laras masih bisa berlaku sabar.


Dengan ragu mereka duduk di sofa yang masih terlihat baru dan mahal. Namun ini bukan saatnya untuk mengagumi barang-barang Laras. Ratna menelan ludahnya kelat. Sepertinya ada yang menghalangi tenggorokannya.


"Di depan keluargaku, keluarga kita... Coba sekarang katakan Mbak, apa yang membuat Mbak benci sama Laras? Apakah selama ini Laras sudah pernah berbuat jahat sama mbak? Apa salah saya Mbak?" tanya Laras yang kini mulai mengeluarkan air matanya.


Abimana menarik Laras ke dalam dekapannya untuk memberikan ketenangan dan kekuatan.


"I... Itu... Karena kamu dilahirkan labih cantik dari aku. Aku benci kamu Laras. Karena kamu selalu jadi penurut sampai ibu dan bapak lebih sayang padamu. Kamu jadi kesayangan semua orang. Aku benci itu Laras, aku tidak suka!" perkataan yang tadinya lirih tiba-tiba menggelegar saat di akhir kalimat.

__ADS_1


"Lalu apa yang Mbak sudah dapat dari membenciku? Mbak puas karena bisa melihatku dan Zaskia hidup dalam penderitaan? Mbak bahagia kan saat aku kelimpungan membesarkan anakku sendirian. Dan sekarang, apakah Mbak sudah merasa lebih hebat dariku?"


Pertanyaan Laras membuatnya tak bisa menjawab, karena ternyata dewi fortuna tetap berpihak pada Laras, meskipun Ratna selalu berusaha menjauhkannya dari kebahagiaan.


Ratna menunduk dalam, ingin mengaku salah tapi gengsi. Karena pada dasarnya, egonya belum bisa menerima kekalahannya.


"Vera... Sebaikmya belajar dari pengalaman. Jangan hinakan dirimu dengan melakukan sesuatu di luar nalar hanya karena obsesi. Kamu tahu siapa yang berada di samping Zaskia?" tanya Laras dengan nada datar.


"Ya kan Zaskia itu simpanannya Om, Om itu." jawab Vera asal.


"Bener-bener ya mulut kamu itu. Sini ga lo, ayo cepet sini! Astaghfirullaah... Bude dulu ngidam apa sih?" teriak Dinda lagi.


Faisal mendekap adiknya dari belakang menenangkan adiknya.


"Ssatttt... Setan kayak dia jangan ditanggapin, nanti kita ikut kerasukan," ucapnya kemudian agar adiknya bisa mengatur emosinya.


"Jadi gini mbak Vera... Biar Kia kenalin aja ya. Beliau ini adalah Papa mertua aku... Papa ini tipe setia, dia tidak akan tergoda dengan wanita di luar rumah karena istrinya saja masih cantik. Lihat Mama mertuaku. Masih cantik, seger, dan berkelas. Nah, kalau ini adalah suami aku? Ganteng kan? Iya lah, orang Mbak Vera sendiri sampai terpesona kok. Tapi sayangnya Kia ga mau bagi-bagi. Jadi maaf ya kalau suami aku, aku kuasai sendiri." ucap Zaskia yang lagi-lagi membuat Vera terkejut.


"Kamu yakin kalau dia bakal setia?" tanya Vera mencibir. Ah, benar-benar mulutnya mengandung racun.


"Denger ya, dia itu punya pacar pelayan kafe. Kalau di kafe namanya Beny, bukan Revan. Kalau ga percaya kamu cek aja di Rembulan cafe. Aku ga bohong."


Mendengar pernyataan Vera yang sangat percaya diri itu sontak membuat keluarga Abidin tertawa. Mereka seperti melihat stand up comedy secara live.


"Mbak mau tahu ga pelayan kafe itu siapa? Dan mbak mau tahu pemilik mafe itu siapa?" tanya Kiara.


Keluarga Laras yang memang belum tahu tentang kisah Zaskia itu pun menyimak perdebatan mereka dengan was-was.


"Ngapain kurang kerjaan, tanya-tanya tempat orang?" bukannya menjawab Vera malah balik bertanya.


"Kalau begitu sekedar info saja. Rembulan cafe... Ownernya adalah abang dan yang kamu sebut pelayan kafe itu adalah Zaskia sendiri. Gegayaan pake ponsel canggih tapi ga tahu kafe hits di Jakarta. Coba buka! Biar Mbak tahu, aku bohong apa enggak. Lihat juga di you tube, banyak yang mereview kafenya abang."


Mendengar penjelasan Kiara, bukan hanya Vera saja yang langsung membuka ponsel. Tapi juga Dinda, Gisela dan Faisal. Mereka tampak takjub dengan berita yang ditulis di sana.


Vera langsung bungkam, dia sekarang merasa kalah. Tidak punya senjata lagi untuk menyakiti Zaskia. Tapi untuk mengakui kesalahannya tentu saja Vera masih belum mau. Dia masih tidak terima jika kehidupan Zaskia lebih baik dan lebih bahagia darinya.


Setelah beberapa lama Ratna dan Vera disidang oleh keluarganya. Baru mau mereka meminta maaf, meskipun sebenarnya rasa iri itu semakin besar. Apalagi saat mengetahui suami Laras dan besannya orang kaya raya. Marni seketika juga jadi bersikap baik pada Laras. Entah tulus atau tidak, Laras hanya berharap semoga ke depannya mereka akan hidup lebih baik dan tidak akan saling menyakiti.


TBC...


Udah keser gaes ini nulisnya, 3 bab oer haru selama seminggu, ditunggu feedbacknya...

__ADS_1


Dengan cara like vote dan komen.


Makasih🙏❤️


__ADS_2