
Zahra masih berusaha untuk tidak takut, dia terus berdoa di dalam hati agar Allah melindunginya.
Tiba-tiba Ferdi menghentikan mobilnya dan membuka seatbeltnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra
"Aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu dek... Aku ingin kamu menjadi istriku. Aku janji akan selalu membahagiakan kamu dek. Plis kasih aku kesempatan." ucap Ferdi dengan jarak yang sangat dekat. Zahra bukan hanya panik tapi juga takut.
"Jangan gini Kak, tolong... Zahra ingin pulang. Zahra ga bisa menikah dengan Kak Ferdi." ucap Zahra yang ketakutan sambil berusaha mendorong wajah Ferdi yang semakin mendekat. Tangannya berusaha membuka pintu mobil, sayangnya pintu terkunci. Zahra bertambah panik.
Ya Allah lindungi hamba. Bang Reno tolongin Rara. Zahra tak henti berdoa dalam hati. Entah mengapa saat sulit seperti ini selalu Reno yg ia ingat pertama kali.
"Pokonya kamu harus mau menikah denganku Zahra. Jika kamu tidak mau dengan suka rela menjadi istriku maka aku akan memaksamu." ucap Ferdi dengan tangannya yang mencoba meraih wajah Zahra.
Zahra sekuat tenaga menepis tangan Ferdi yang hendak menyentuhnya. "Kakak mau apa, jangan sentuh Zahra kak. Saya mohon. Sadarlah!" ucap Zahra memohon dengan air mata yang sudah mengalir karna ketakutan.
Ferdi tak menggubris teriakan Zahra. Dengan paksa dia malah menarik pasmina yang dipakai hingga lehernya terkena tusukan jarum pentul yang tadi ia pakai.
Zahra semakin berteriak histeris, "Tolong... Tolong... Lepaskan saya Kak. Tolong!" sekuat tenaga Zahra masih mencoba melawan. Namun Ferdi juga semakin kasar. Yang tadinya hanya ingin menggeretak, namun saat melihat Zahra yg sangat cantik, hasratnya tiba-tiba naik.
Matanya terarah pada bibir zahra lalu turun ke leher. Dengan cepat Zahra memukul sekuat tenaga. Namun Apalah daya, tenaga Ferdi jauh lebih kuat.
"Tolong Kak, jangan! Lepaskan Zahra." dengan sisa tenaga Zahra masih berteriak. Dia yakin Allah akan membantunya.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya Zahra... Dengan begini kamu takan akan menolakku lagi." Ferdi benar-benar sudah hilang kewarasan. Dengan kasar dia menarik tunik yang dipakai Zahra sampai kencingnya terlepas sebagian yang memperlihatkan dadanya yang mutih dan mulus. Meski masih dilapisi tanktop, namun dua gundukan itu terlihat menantang.
Zahra refleks menutupi dadanya dengan mencengkeram tunik yang tanpa kancing itu dengan kencang.
"Tolong... Tolong... Abang... Tolongin Rara! Rara takut Bang!" kali ini tangis Zahra meledak. Dia sangat ketakutan, wajahnya pucat. Suaranya sampai serak karena dari tadi berteriak minta tolong.
"Lihat aku Zahra... Apa kurangku?" Ferdi membuka kancing bajunya, setelah itu dia membuka ikat pinggangnya. "Aku bisa memuaskanmu sayang, percayalah kamu akan menjadi wanita yang paling aku cintai."
"Tidak Kak, Zahra tidak mau. Lepasin Zahra. Tolong....!!"
Tiba - tiba kaca mobil dipecahkan dari luar.
Prang....
Tiba-tiba kaca mobil dipecah dari luar.
"Brengsek lo! B*j"*ng*n... Apa yang sudah kamu lakukan? Biadab! "
Reno menarik paksa Ferdi keluar mobil dan menghajarnya. Tak lama anak buah Reno datang. Reno segera menghampiri Zahra yang duduk meringkuk ketakutan, dengan kakinya yg dinaikkan ke atas jok dan menenggelamkan kepalanya diantara lututnya.
" Jangan... Jangan lakukan." ucap Zahra yang sudah hampir Kehilangan tenaga.
Hati Reno ikut sakit meliht keadaan Zahra yng berantakan tanpa jilbab, tangannya masih di depan dada memegangi bajuny.
"Its ok sayang, ini Abang. Tenang ya! Kamu sudah aman sekarang." ucap Reno sambil memeluk Zahra menyalurkan kekuatan dan kenyamanan.
Mendengar suara yang sangat dia kenal, Zahra mendongak pelan, tangisnya kembali histeris.
"Tolong Rara bang, dia mau jahatin Rara. Bawa Rara pergi, Rara takut bang!" Rara berteriak sambil memeluk Reno dengan erat.
Reno mengambil pasmina yang tadi ditarik Ferdi dan memakaikannya asal. Reno membopong Zahra ke mobilnya ke kursi tengah tengah. Anak buahnya segera tanggap, salah satu mereka langsung berada di posisi sopir.
Dalam perjalanan, Zahra sama sekali tak melepaskan rangkulannya dari Reno. Zahra dari tadi hanya memejamkan matanya, bukan tidur, namun karna masih ketakutan. Sedang Reno masih berusaha menenangkannya.
"Jangan takut, abang akan selalu menjaga Rara. Tenang ya, kamu sudah aman. Sebentar lagi kita akan sampai." ucap Reno menenangkan.
__ADS_1
Tak lama mobil sudah sampai di halaman yang luas. ART sepertinya sudah dikabari tentang kedatangan majikannya yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Setelah dibukakan pintu, tanpa pikir panjang Reno langsung membawa Zahra ke kamarnya. Bi Situm mengikuti Reno dari belakang barangkali nanti ada yang Reno butuhkan.
Bi Situm sudah mengenal Zahra sebagai sepupu angkat Reno, namun dia tidak tahu kalau ternyata mereka sedekat ini, sampai Reno membawa wanita ini ke dalam kamarnya.
"Tolong bawakan air putih hangat ya Bi." pinta Reno pada bi Situm.
Tanpa disuruh dua kali Bi Situm langsung berbalik mengambilkan pesanan majikannya.
Perlahan Reno meletakkan Zahra yang sudah tertidur dengan hati-hati. Baru saja dia akan beranjak, tiba-tiba Zahra kembali menjerit histeris.
"Jangan! Jangan sentuh saya! Tolong... Abang... Tolongin Rara... Rara takut. Hik hik hik...!" Zahra menangis pilu sambil ketakutan. Bi Situm yang baru saja datang yang mendengarnya merasa kasihan.
Bi Situm memberikan air putih yang dibawanya pada Reno yang masih berusaha menenangkan Zahra sambil memeluknya.
"Sayang.... Ra... Sadar, ini Abang. Jangan takut, kita sudah aman, ok! Minum dulu ya, biar lebih tenang." ucap Reno sambil menepuk-nepuk pipi Zahra untuk mengembalikan kesadarannya.
Perlahan Zahra mulai tenang namun masih sesenggukan. Dia membuka matanya dan melihat ada Reno di sana. Zahra memeluk Reno sangat erat.
" Jangan tinggalin Rara bang... Rara takut... Dia mau jahatin Rara bang." ucap Zahrabtanpa melepaskan ataupun mengendurkan pelukannya. Dia bahkan sudah lupa dengan bajunya yang sudah tidak layak pakai dan kepalanya yang sudah tidak tertutup hijab.
"Iya sayang, abang di sini temenin Rara. Minum dulu ya!" bujuk Reno sambil membantu Zahra minum.
Setelah minum, Reno kembali merebahkan tubuh Zahra. Bi Situm segera kembali ke belakang setelah meminta izin.
"Sekarang kamu tidur ya. Abang akan jagain Zahra. Jangan takut!" ucap Reno sambil mengusap kepala Zahra yang saat ini tidur berbantalkan lengannya.
Seperti terhipnotis, Zahra akhirnya tertidur. Reno berusaha melepaskan diri dari pelukan Zahra yang sangat kuat. Setelah terlepas, Reno menaikkan slimut sampai di dadanya. Reno tiduran miring dengan bertumpu pada sukunya. Dengan lembut dia membelai pipi Zahra.
Reno akui, kecantikan Zahra memang akan membuat siapa pun dengan mudah jatuh cinta padanya. Apalagi sifat cerianya membuat dia mudah sekali beradaptasi dengan siapa saja. Ferdi sampai hilang akal karena ingin memiliki Zahra.
Perlahan dia bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil ponselnya, tadinya dia ingin mengabari keluarganya, namun tidak jadi. Reno menimbang ulang. Zahra mungkin tidak akan merasa nyaman jika keluarga besanya mengetahui kejadian ini, akhirnya dia menelepon pakde Zahra . Reno meminta agar pakde ke sini. Dialah kerabat kandung Zahra yang dekat dari sini. Dan selama ini hubungan keduanya juga baik dan dekat.
Setelah mengabari bahwa akan ada orang yang akan menjemput pakdenya, Reno meminta pakde untuk bersiap-siap. Pakdenya Zahra ini juga mempunyai anak, namun merantau ke Kalimantan. Padahal Reno audah menawarkan pekerjaan agar dia bekerja di lantor atau di hotelnya saja, tapi dia sudah terikat kontrak dengan tempatnya bekerja saat ini.
Setelah setengah jam-an menunggu, akhirnya pakde Zahra datang. Reno meyuruh orangnya untuk langsung megantarnya ke kamarnya. Reno tidak mau sedetik pun meninggalkan Zahra.
Saat pakde masuk, Reno sedang duduk di tepi ranjang sambil mengusap kepala Zahra.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada Zahra Nak Reno?" tanya pakde saat mereka sudah sama-sama duduk di sofa kamar. Mata mereka masih sama-sama tertuju pada Zahra.
"Baru saja Zahra hampir diperkosa pakde." ucap Reno pelan, takut membangunkan Zahra.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya pakde khawatir.
"Reno belum tahu kronologinya, tiap membuka mata, Zahra akan menjerit ketakutan. Reno belum bisa bertanya. Dia tidak mau Reno tinggalin, makanya saya ajak dia ke sini. Maaf untuk itu pakde." jelas Reno.
Pakde hanya mengangguk dan menepuk bahu Reno sambil tersenyum, tanda bahwa pria itu memakluminya. Zahra seeing main ke tempatnya. Dia sering dengar curhatan keponakannya itu pada istrinya, bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan, meski Zahra mengatakan sambil bercanda tapi pakde tahu bahwa Zahra serius.
"Pakde... Reno ingin menikahi Zahra jika pakde mengizinkan. Reno ingin menjaga Zahra pakde, tapi Reno takut, dengan status kami yang sekarang nantinya malah ak menimbulkan fitnah." Reno mengungkapkan keinginannya.
"Bagaimana dengan istrimu? Apakah kau sudah tahu, kalau Zahra memang menaruh hati padamu?" tanya pakde sambil tersenyum.
"Maaf, Reno baru tahu akhir-akhir ini. Soal Clara... Sebenarnya kami masih salam proses perceraian. Reno telah menjatuhkan talak padanya Pakde." ucap Reno menjelaskan.
"Ya, pakde merestui kalian. Siapkan malam ini juga. Yang penting kalian sah dulu. Pakde akan menikahkan kalian di sini juga. Sesegera mungkin. Kamu sanggup?" tanya pakde.
__ADS_1
"Iya pakde, saya akan siapkan. Tolong di sini dulu jagain zahra ya." jawab Reno penuh semangat. Tanpa mendengar jawaban pakde, Reno segera berlalu sabil setengah berlari. Dia meminta anak buahnya untuk mempersiapkan tempat. Sementara dia sendiri menghubungi pak ustadz untuk meminta saran siapa yang bisa dimintai tolong untuk jadi penghulunya.
Untung rumah Pak RT hanya berselang beberapa rumah dari tempatnya. Reno sendiri yang mendatangi rumah pak RT untuk memintanya menjadi saksi.
Untungnya lagi, Reno sudah berinisiatif mencari beberapa ART sebelum mengunjungi maminya kemarin sehingga bisa menyiapkan menu alakardanya untuk menjamu tamu yang menghadiri pernikahan dadakan sebagai saksi.
Reno merasa lega, saat kata sah menggema di ruang keluaraga tersebut. Reno memang sengaja memilih ruang tengah karna dari situ dia bisa mendengar jika sewaktu - waktu zahra terbangun dan histeris lagi.
Setelah semua selesai, semua tamu pun pamit undur diri. Pakde juga pamit pulang dan mempercayakan Zahra pada Reno.
"Semoga ini yang terbaik sayang. Jika dengan bersama abang kamu akan bahagia, maka abang sudah kabulkan. Aku sudah tidak sabar melihatmu memarahiku saat kamu sudah sadar nanti." ucap Reno pelan sambil membelai wajah wanita yang kini berstatus istrinya ini.
Zahra menggeliat saat Reno mendaratkan kecupan mesra di keningnya. Reno akhirnya ikut terlelap sambil memeluk istrinya dengan posesif.
Menjelang subuh Zahra menggeliat. Ada rasa nyaman dan hangat yang ia rasakan. Namun dia segera menutup mulutnya saat akan menjerit. Bagaimana tidak, posisinya saat bangun tidur sangatlah intim. Reno dan Zahra saling memeluk posesif dengan kaki saling membelit. Kepala zahra berbantalkan lengan Reno.
Dia kembali teringat kejadian semalam. Jika bukan karena Reno yang datang tepat waktu, Zahra tidak tahu apa yang akan terjadi. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Tidaaak! Aku tidak mau." tiba-tiba Zahra berteriak, membuat Reno seketika bangun.
"Sayang, kamu kenapa hemm?" tanya Reno kemudian saat melihat zahra hanya menggelengkan kepalanya berulang-ulang sambil memejamkan mata. "Kamu masih mengingatnya? Katakan, apa yang dilakukannya padamu. Jangan takut, ada abang di sini." kata Reno lembut.
"Apakah Zahra sudah kotor bang? Dia sudah melihat tubuh Rara bang. Dia mau menjamah Rara. Rara takut bang." ucapnya dengan suara bergetar.
"Tidak sayang, tidak terjadi apa-apa denganmu. Ada abang, mulai sekarang abang yang akan menjaga Rara. Mulai sekarang kita akan sama-sama terus. Kamu hebat sayang. Kamu sudah sekuat tenaga melindungi harga diri kamu. Kamu masih suci, tidak kotor." ucap Reno menenangkan Zahra.
Zahra kembali memeluk Reno. Dia mengabaikan status mereka, dia ingin sesekali egois, dia benar-benar membutuhkan Reno saat ini untuk berlindung dan mengadu.
Namun baru beberapa saat, tangan zahra meraba tubuhnya. Ada yang berdeda. Matanya menelisik mengamati pakaiannya. Dia menggunakan kaos dan trining milik Reno yang tentu saja terlihat kebesaran jika dipakainya. Namun bukan itu masalahnya.
Reno yang mengerti kebingungan Zahra pun berkata, "Kemarin bi Situm yang gantiin baju kmau. Maaf ya, abang ga ada baju cewek di sini. Jadi pake punya abang dulu. Nanti kita cari dulu atau ambil ke kontrakan kamu ya." ucap reno lembut. "Mulai sekarang kita tinggal di sini bersama, di kamar ini." lanjut Reno.
"Apa? Ga, Rara ga mau. Rara bisa disate sama istri abang. Abang ga lucu." sahut Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup...
Karena gemas Reno mencium bibir istri barunya itu sekilas. Mata Zahra membola karena terkejut.
"Ihh... Abang kok ciumnya disitu? Itu kan buat suami Rara nanti. Abang jahat banget sih." protes Rara cemberut sambil memukul pelan dada Reno.
"Ya berarti sudah bener dong tadi. Ah sepertinya masih kurang, lagi ya?" tanya Reno menggoda.
"Gak lucu!" sepertinya Zahra beneran ngambek.
"Sayang... Zahraku, istriku... Dengar! Aku Reno Zayan Abidin mulai semalam, aku sudah resmi menjadi suamimu. Dan mulai saat itu juga aku berjanji akan melindungimu, akan menyayangimu dan menjagamu dengan sepenuh hati." ucap Reno serius.
"Istri?"
TBC...
Mana suaranya yang ingin Reno dan Zahra bersatu?
Udah dikabulin ya...
Ngambek ya othornya kalo ga tinggalin jejak😭
Jangan lupa like and komennya.
__ADS_1
Makasih ❤️❤️