
Naura pucat pasi. Teringat bibirnya yang baru saja disosor Kemal tanpa permisi. Merah seketika wajahnya.
"Terima kasih, sudah menolongku dari pernikahan itu!" ujar Naura setelah Kemal membawanya pergi dengan menaiki sebuah mobil yang memang sudah terparkir didepan jalan raya kampung kakaknya.
Pria itu tak menjawab. Hanya diam dan fokus menyetir mobil bak terbuka yang biasa dipakai para petani untuk ke kota sambil membawa hasil panen kebunnya.
Naura hanya bisa menelan salivanya sendiri. Lalu menunduk, tak berani bicara lagi. Malunya berkali-kali lipat bertambah.
Pria disampingnya adalah darah daging Datuk Maringgi. Sudah pasti kelakuannya pun sebelas-dua belas dengan bapaknya. Naura hanya membatin.
"Siapa namamu?"
"Naura Salsabila."
"Berapa usiamu?"
"Delapan belas tahun!"
"Benar kamu adik kandungnya mbak Ayuni?"
"Iya."
Pria itu lalu membawa mobilnya masuk perkampungan tempat Naura tinggal.
"Aku tidak ingin pulang kerumah. Tolong selamatkan aku, mas! Disana keadaan aku tak akan lebih baik! Bapakmu pasti akan kembali menjemputku!"
Cekiiiiiiit ..........
Mobil berhenti mendadak dengan suara mesin rem yang cukup memekakkan telinga.
"Lantas kau mau kubawa kemana?" tanyanya dengan suara keras terdengar kesal.
"Aku tidak tahu."
Hhhhh..... Kemal menghela nafas, sebal.
__ADS_1
Akhirnya ia membawa Naura keluar kampung. Tepatnya diperbatasan antar kota yang cukup ramai dan mirip pasar.
"Turunlah! Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini! Ini! Ambil! Untuk bekal sangu mu. Kurasa cukup untuk menghidupimu dalam beberapa hari kedepan!"
Kemal memberikan Naura sepucuk amplop putih berisi uang. Naura ragu-ragu tapi akhirnya menerima amplop itu dari tangan Kemal.
"Mas Kemal!"
"Cukup! Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi! Jaga dirimu baik-baik!"
Bruk.
Kemal menutup pintu mobilnya. Lalu perlahan kembali melaju meninggalkan Naura yang hanya bengong menatapnya hingga jauh dari penglihatan.
"Suit, suit! Ada pengantin ditengah jalan, sendirian? Alamaaaaak, ayune panganten ne!"
Beberapa lelaki mendekati Naura yang terlihat kebingungan. Bagaimana tidak, pakaian yang dikenakannya sudah pasti memancing orang untuk mendekat dan berkomentar.
Naura hanya tergagap. Berputar sekali lalu mundur dua langkah melihat para pemuda yang sepertinya habis berpesta pora minum tuak dikedai minuman tengah hari bolong. Karena ia mencium aroma alkohol diantara mereka.
"Ayu tenaaan! Ayolah, daripada kabur tak jelas dari tempat pernikahan,.... lebih baik kamu menemani kami-kami semua, sayang!"
Spontan tangan Naura menempeleng salah seorang yang berani memegang wajahnya.
"Haish,... galaknya! Semakin kamu marah, semakin gemas kita-kita!"
Naura menjerit ketakutan. Mereka berlima maju merempuk tubuhnya.
Meski cuaca disiang hari, tak ada orang yang berani menolongnya. Hanya tatapan iba dan turut prihatin saja dari mereka pada Naura.
"Ish, kalian bisa aku laporkan ke Polisi!"
"Lapor saja. Polisinya bapakku!"
"Hahaha....!" Terdengar suara tawa mereka menyakitkan hati Naura.
__ADS_1
Ternyata jabatan dan titel bisa dijadikan tameng untuk mereka berlaku jahat pada orang lain.
Pecah tangis Naura ketika salah seorang memegang kedua tangannya. Mereka seakan menggiring Naura kesebuah tempat yang bisa disebut markas mereka, mungkin.
Letaknya tak jauh dari situ. Hanya agak menjolok sedikit kedalam dari jalan raya.
Tangisan Naura tak menghentikan niat jahat mereka. Membuat Naura berusaha menguatkan dirinya dengan berjongkok sambil menutup wajahnya.
Entah mengapa tiba-tiba terdengar suara 'gedebag-gedebug' disekitarnya.
Naura membuka kedua telapak tangannya yang tadi ia pakai untuk menutupi wajahnya.
Matanya tak berkedip melihat Kemal tengah berkelahi menghajar para preman yang tadi mengganggunya.
"Mas Kemal!" panggilnya lirih.
Ada rasa senang terselip direlung hatinya. Dirinya kini aman dari kejahatan para manusia-manusia 'gagal'.
"Ayo!" Kemal menarik tangannya cukup keras.
Mereka berjalan cepat, meninggalkan tubuh-tubuh menjijikkan yang terbaring tak beraturan ditanah. Habis mereka, kena bogem mentah Kemal.
"Perempuan memang menyusahkan!" umpatnya.
Naura hanya mengekor Kemal berjalan tergesa-gesa hingga kembali ke mobil bak terbuka yang tadi mereka kendarai.
"Masuk!"
Naura menurut. Menutup pintu mobil disampingnya. Lalu duduk diam-diam meski linangan airmatanya tak bisa berhenti mengalir.
Sesekali ia menyekanya. Mengucek matanya yang terasa pedih karena ada sisa-sisa lem bulu mata yang dari tadi menempel di kelopak matanya.
Ada sekitar satu jam Kemal memacu mobilnya hingga keluar jalur dari kotanya. Kini mereka ada diperbatasan kota C yang cukup indah pemandangannya karena masih banyak hamparan sawah sejauh mata memandang.
Kemal menghentikan mobil tepat disebuah toko pakaian. Sepertinya ia risih juga melihat pakaian yang dikenakan Naura. Pakaian pengantin itu terlalu mencolok meskipun style nya tidak terlalu ribet.
__ADS_1
Ia turun dan mengajak Naura ikut serta. Mencari beberapa stel pakaian untuk Naura. Membayarnya dikasir lalu kembali keruang ganti menyuruh gadis yang hampir jadi 'ibu tirinya' itu menukar pakaian yang dikenakannya.
...........BERSAMBUNG...........