
Naura masih mengalami rendevous masa mudanya meski kini hanya berakhir tragis dipenjara.
Masa mudanya yang penuh warna. Penuh gejolak dan gairah cinta.
Hhhh..... Naura menghela nafasnya dalam-dalam. Bayangan Kemal kembali melintas.
Pria itu..... menghilang tanpa jejak setelah menitipkan Naura muda disebuah kompleks kostan putri ditengah kota.
Bahkan hingga 2 tahun lamanya, Naura bertahan disana. Hidup tak jelas dan tak puguh karuan. Bersama beberapa orang perempuan berusia mulai dari 16 tahun sampai yang berumur 40 tahun.
Mereka bekerja serabutan. Saling bantu. Demi mempertahankan hidup dan isi perut. Mirisnya!
Mulai dari berjualan makanan dan minuman, menjadi SPG toko pakaian, sampai menjadi penjual minuman isotonik keliling perkotaan.
Hingga ada beberapa orang yang dengan sengaja dan 'terbuka' juga menjajakan cinta.
Dua tahun lamanya bercokol disana, sudah pasti asam garam manis pahit kehidupan bersama telah Naura lalui juga.
Sampai suatu ketika salah seorang dari mereka hampir 'menjual' dirinya kepada seorang mucikari demi sejumlah uang yang germ* itu tawarkan.
Syukurnya Naura bisa kabur melarikan diri. Hingga ia tidak sampai terjerumus semakin dalam ke lembah hitam.
Perjalanan hidupnya terus berlanjut.
Naura merantau ke ibukota bersama dua orang rekannya. Sejujurnya ia memiliki ijazah SMU, tapi Naura tak ingin kembali kerumah kakaknya untuk mengambilnya disana.
Alhasil, dikota metropolitan yang kejam dan durjana itu pekerjaannya hanyalah serabutan. Hanya pekerjaan rendah saja karena tak bermodalkan ijazah.
Tukang cuci, tukang antar barang, bahkan sempat juga beberapa bulan menjadi pembantu rumah tangga.
Apa mau dikata. Hidup diibukota memang perlu skill dan pengalaman. Sedangkan Naura....kala itu baru berusia 20 tahun saja. Belum punya banyak pengalaman kerja selain pekerjaan diatas.
Hingga suatu ketika,....
Bruk!!!
"Aduh!!!" Naura menjerik keras ketika stang seorang pengendara motor yang melaju menyenggol 3 kardus bawaannya yang berisi makanan ringan.
Berhamburanlah ketiga kardus itu ditepi jalan raya. Membuat sipengendara menghentikan motor KLX-nya dan berlari kearah Naura.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa khan?"
Ia membuka helmetnya yang tertutup rapi dan berwarna hitam itu. Membuat Naura yang tadi siap dengan amarahnya seketika melunak bahkan menyunggingkan senyum.
"Aku tidak apa-apa!" jawab Naura.
"Ada yang luka?" tanyanya lagi seraya memperhatikan pergelangan tangan Naura kiri dan kanan.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala. Sementara sang pria bangkit mengumpulkan kembali kardus-kardus bawaan Naura.
"Maaf ya, aku terburu-buru. Jadi sembrono bawa motornya!"
"Iya. Tapi lain kali jangan begitu! Bahaya kak! Bisa-bisa kecelakaan dijalan raya!"
"Iya. Terimakasih sudah mengingatkan saya! Tapi benar kamu tidak apa-apa? Apa perlu ke dokter atau tukang urut? Karena takutnya sekarang kamu tidak apa-apa, tapi malamnya ada yang memar dan terasa nyeri."
"Ga apa. Cuma kena kardusnya saja, kak!"
"Begini saja, berapa nomor ponselmu? Biar saya simpan. Nanti saya misscall, kalau kamu merasa sakit badan bisa telepon balik saya!"
"Oh...mmmh...saya tidak punya handphone kak!"
Pria itu menatap wajah Naura. Seakan tak percaya pada ucapan gadis manis yang ada dihadapannya itu. Naura hanya menunduk malu.
Ia memang pernah memiliki handphone beberapa bulan lalu. Tapi karena itu HP second yang harganya hanya 500 ribu rupiah, ya wajar sajalah jika hanya bertahan dalam hitungan bulan.
Hhh... Tanpa sadar Naura menghela nafasnya. Membuat pria itu merasa tak enak padanya.
"Begini saja....," ia mengambil sesuatu dari kantong belakang celana jeansnya.
Sebuah dompet. Lalu ia mengambil sesuatu dan memberikan pada Naura.
"A apa ini?"
"Ini kartu nama saya. Dan ini untuk mengganti isi kardus yang kemungkinan rusak isinya."
Pria itu memberikan Naura kartu namanya dan tiga lembar uang seratus ribuan. Tentu saja Naura menerimanya.
Meskipun isi kardus yang hanyalah snack makanan ringan, dan tak mungkin juga rusak parah. Tapi uang 300 ribu adalah sangat berharga bagi Naura. Cukup untuk bekal hidupnya selama satu minggu di Jakarta.
__ADS_1
"Terima kasih!"
"Tolong hubungi saya! Oiya nama kamu siapa?"
"Naura!"
"Nama yang cantik secantik orangnya. Nama saya Fendy Martin! Kalau begitu saya pamit ya, Naura! Please jangan lupa telepon ya?!?"
Naura hanya memandangi Fendy yang terus menerus memintanya untuk menghubunginya.
Ya. Itulah awal mula ia bertemu dengan Fendy suaminya.
Pria baik yang ternyata menjadi jodohnya. Namun takdir Tuhan pula, membuatnya menjadi tersangka pembunuh suaminya sendiri.
Dunia begitu kejam bagi Naura.
Kentreng kentreng kentreng....
"Makan siangmu!"
Seorang sipir wanita memukul-mukul teralis jeruji penjara. Mengagetkan Naura yang tengah melamunkan masa lalunya.
"Terima kasih!"
Ia bangkit. Mengambil piring rangsum plastik melamin yang berisi nasi, tumis toge, goreng tempe dan sepotong kecil ikan cue. Juga segelas air putih diwadah alumunium besar.
Seginipun sudah alhamdulillah.
Makan dipenjara tiga kali dalam sehari. Walaupun waktunya tidak selalu tepat, tapi untuk orang-orang pesakitan seperti dirinya sudah cukup diperlakukan manusiawi.
Walau kadang rasa makanannya entah kemana. Kadang asin kadang tiada rasa. Tak jarang terlalu matang, namun lebih sering kurang matang. Tapi semua masih layak makan.
Masih bersyukur Pemerintah masih mau memikirkan makannya para 'sampah masyarakat' . Begitu bukan para netizen mengumpamakan para tahanan penjara? Hhhh....
Naura makan setelah membaca doa dalam hati. Rasa masakannya kali ini cukup nikmat. Hingga piring rangsum Naura bersih tak bersisa. Atau memang lapar melanda perutnya. Yang pasti kali ini Naura makan dengan lahap.
Affandi. Kemana pengacara itu? Pasti dia sedang pergi menyelidik mencari bukti-bukti tentang diriku. Apa dia bisa mengungkap semua ini? Apakah dia akan dapat menemukan kejanggalan-kejanggalan kasusku ini?.... Hhhhh.... Semoga tidak!
Naura menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Kepedihan kembali melandanya.
__ADS_1
Fendy..... Nama itu kembali ia gumamkan dalam hati.
.............BERSAMBUNG.............