RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Apakah Cinta Ini Cinta Suci?


__ADS_3

🎶


Cinta, apakah itu cinta


Bertanya tanpa sengaja


Cinta, berkorban jiwa


Indah harum bermakna


He-he-hee


Ha-ha-haa


Mmm-mm-mmm


Oh, itukah cinta


Cinta, oh cinta suci


Janganlah kau nodai


Merintis diri sendiri


Menangis diruang sunyi


Perasaan yang tanpa kabar


Takkan tahu kapan dia datang


Mulianya hati jernihkan fikiran


Siapkan iman kepada Tuhan


Bila kau rindu fikiranmu terganggu


Bila kau dapah siaplah 'tuk berkorban


Cinta yang suci dunia 'kan abadi


Bila terkhianat ingatlah diri


........


🎶


Suara lantunan lagu dari penyanyi yang sedang viral saat ini mengalun begitu menggelitik hati Naura juga Affandi.


Hingga tanpa sadar, mereka saling bertatapan dan saling lempar senyuman.


"Lirik lagunya menggoda jiwa! Hahaha..."


"Iya, betul mas! Hihihi..."


"Kayaknya penulis lagunya pas nyiptain lagu ini lagi patah hati, tapi gak mau dia terlihat cengeng!"

__ADS_1


"Hahaha... gitu ya?"


"Analisis sepintas saja. Hehehe...!"


"Pakar hukum kalau bicara, pasti selalu dengan analisa ya? Hehehe..."


"Terbiasa ngobrol serius tingkat tinggi Nau! Jadi begini lah! Hiks...! Hehehe...."


Naura tersenyum mengangguk-angguk.


Makan malam benar-benar spesial dengan menu "Masakan Mertua" membuat Naura dan Affandi bahagia bersama.


"Mas! Kalau semisalnya aku jual rumah lalu pindah ke kampung, mungkin jalan cerita hidupku akan lebih baik ya? Aku bisa mengurus ibuk juga Naura disana!"


"Rumah dijual? Lalu, kamu mau usaha apa dikampung?"


"Itu yang masih Nau fikirkan! Dikampung paling ya 'tani' mas! Pabrik masih jarang, kecuali daerah kotanya. Dan gajinya juga kecil. Tidak sesuai UMR mas!"


"Nah, itu....fikirkan masak-masak! Rumah dijual untuk apa?"


"Mau kubagi dua dengan Tita hasil penjualannya!"


Affandi hanya menatap mata Naura. Terdengar miris ditelinganya.


"Kamu sudah memberinya uang dana kematian suamimu semua sama dia. Itu jumlahnya cukup besar, Nau! Ada 8 juta rupiah. Dan kamu tidak mengambil untuk dirimu sedikitpun! Lalu, biaya hidupmu sendiri nanti?"


"Kami punya simpanan deposito berjangka senilai 5 juta, mas!"


"Hanya itu?"


"Tidak, Nau! Urusan perusahaan sudah dihibahkan ke keluarganya Fendy Martin di Palembang karena kasus pembunuhan yang kadung memvonis dirimu dimata umum, Nau!"


Naura hanya bisa termenung. Padahal justru uang itulah yang cukup besar nominalnya seingat Naura. Sekitar 25 juta rupiah.


"Itu rumahmu sendiri. Hanya cukup mengeluarkan zakat dan pajak. Tidak wajib berbagi dengan istri siri almarhum suamimu! Tapi kalau boleh aku beri saran, memang sebaiknya rumah itu kamu jual. Untuk kebaikan mental dan psikis mu sendiri, Naura!"


Naura diam. Menimbang-nimbang saran Affan.


"Tapi aku tetap harus memberi Tita! Dia ada anaknya Fendy!"


"Aku sudah cukup baik dengan menjamin biaya persalinannya nanti jika waktunya tiba. Dia punya aset kendaraan bermotor juga dari Fendy meskipun statusnya masih kredit! Urusan diambil pihak dealler karena tidak membayar angsuran adalah urusan dia! Bukan urusanmu! Kamu sendiri masih harus menghadapi keluarga Fendy jika rumah itu jadi dijual!"


"Iya."


"Sebenarnya jika kasusmu sudah selesai sidang, mereka juga tidak bisa menuntut hak gono-gini karena mereka juga pasti akan mengetahui kalau kamu kena cash denda hukuman, apa mereka juga mau ikut bertanggung jawab membayar! Pasti tidak khan?"


Naura menunduk.


Pembicaraan ini cukup berat juga baginya. Untungnya mereka telah selesaikan makan mereka hingga tuntas sebelum mengobrol ke hal yang serius soal kasusnya.


"Feelingku kamu bisa bebas hukuman penjara, dan hanya dikenai denda saja. Mereka juga tak berani mengambil pengacara untuk menuntutmu lebih karena tak mau menggelontorkan uang pribadi mereka sendiri."


Naura kembali menatap Affan.


"Menurut mas, bagaimana aku sebaiknya?"

__ADS_1


"Oke, kita jual rumah itu. Lalu, uangnya untuk membayar denda yang nanti ditentukan Hakim. Tapi aku pasti akan berusaha menekan seminim mungkin di pengadilan nanti, Nau! Lalu bereskan urusan dengan keluarga Fendy. Tita tidak perlu mendapat bagian! Dan sisa uangnya bisa kamu pakai sebagai pegangan!"


"Tita.... anaknya kak Fendy, nanti bagaimana mereka?"


"Itu bukan urusanmu! Kalau Tita ingin meminta pertanggung-jawaban, ya pada kedua orangtuanya Fendy tentunya. Bukan sama kamu! Kamu sudah tidak bisa dimintai hak lagi olehnya!"


Naura mencerna setiap ucapan Affan. Ada benarnya juga. Dan ia masih dalam tuntutan hukum. Belum pasti berapa yang akan ia keluarkan jika harus kena hukuman denda.


"Nau boleh minta tolong mas Affan lagi?"


"Katakanlah Nau!"


"Boleh minta tolong jualkan rumah kami? Maaf... Aku gak tahu harus menawarkan kemana. Pada siapa. Hhh....."


Affandi tersenyum ketir.


"Menjual rumah tidak seperti menjual sembako! Tapi kalau ditawarkan kepada perkumpulan pengusaha properti, kemungkinan peminat lebih banyak. Aku coba tawarkan ke grup para pengembang properti ya Nau?!"


"Terimakasih ya mas! Aku sangat bersyukur bisa mengenal mas Affan! Mas menolongku tanpa pamrih!"


"Kata siapa? Aku akan minta balasan, nanti! Setelah kasusmu murni selesai, aku ingin melamarmu menjadi istriku!"


"Mas!"


"Maaf,... Untuk saat ini pembicaraan kearah itu aku skip dulu ya Nau! Sebaiknya kamu tidak terlalu memikirkannya sekarang. Yang saat ini aku fokuskan adalah agar kasusmu cepat disidangkan. Dan kamu segera menjadi pribadi yang tanpa cacat hukum lagi."


"Terima kasih mas! Maaf, saya selalu menyusahkan mas Affan!"


"Lama-lama kamu koq jadi seperti mpok Minah di sitkom Bajaj Bajuri di tahun 2000 an sih?"


"Hihihi.... iya ya!"


"Yuk kita pulang! Hari ini tugasku banyak sekali dikantor. Ada kasus besar! Dan kami harus benar-benar menjaga privasy klien kami ini! Hhh... lumayan cukup berat kasusnya, sampai bikin pusing kepala!"


"Ya udah, kita pulang dan istirahat. Sebelum tidur, minum susu hangat biar mas bisa tidur nyenyak! Juga jangan lupa doa tidurnya. Mm... Aku, seperti emak-emak yang cerewet menasehati anaknya ya?! Hehehe..."


"Bukan. Seperti seorang kekasih yang takut orang tersayangnya kenapa-napa!"


Naura menunduk, tersipu malu dengan wajah merah merona. Hanya Affan yang masih tersenyum jenaka senang membuat Naura malu-malu kucing.


🎶


Bila kau rindu fikiranmu terganggu


Bila kau dapah siaplah 'tuk berkorban


Cinta yang suci dunia 'kan abadi


Bila terkhianat ingatlah diri


Cinta yang suci dunia 'kan abadi


Bila terkhianat ingatlah diri


🎶

__ADS_1


..............BERSAMBUNG...............


__ADS_2