
Naura hanya duduk termangu ditengah kesadarannya yang lambat laun membuka fikiran dan mata hatinya.
Mereka terus berbicara menuntut Naura segera menandatangani surat kuasa baru. Affandi sendiri sebagai pengacara resmi Naura sesekali menimpali perkataan kedua orang tua Naura.
Mereka saling berebut argumen mengklaim kalau pihak merekalah yang benar. Affandi pun tak kalah set menjawab dan melontarkan bantahan serta membuka fakta yang bisa membela hak Naura.
Naura benar-benar merasakan kosong hatinya.
Airmatanya telah kering sudah. Tersedot oleh pusaran 'cinta yang tak bermakna'.
Mengapa hidup begitu kejamnya mempermainkan nasibnya menjadi nasib buruk berkepanjangan.
Apakah dirinya terlalu hina untuk mendapatkan 'cinta suci' nan 'abadi'?
Apakah karena dirinya yang miskin harta juga ilmu, hanya berasal dari kampung kecil hingga seolah bisa dibohongi selama ini?
Apakah sebegitu bodohnya kah dirinya hingga butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari kalau dirinya tak sebeharga fikirannya dimata Fendy Martin, suaminya?
Naura mencari-cari semua titik kelemahan yang ada pada dirinya selama berumah tangga dengan Fendy.
Memori ingatannya seolah merewind semua kisah hidupnya mulai awal perkenalan hingga sepuluh tahun hidup bersama Fendy.
Ya. Selama 2 tahun Naura merasakan begitu nikmatnya hidup berumah tangga.
Suami yang gagah perkasa. Baik hati dan mencintainya sepenuh hati. Pria dewasa yang berhasil membimbingnya, mengarahkannya untuk menjadi pasangan yang baik pula meskipun dirinya tak berani mengaku sempurna.
Ia yang serba tidak tahu dan tidak faham dalam dunia nyata, dunia rumah tangga hingga dunia hingar bingarnya Ibukota,.. perlahan berhasil ia takhlukan seiring waktu perubahannya.
Naura yang cupu, norak dan tidak modis dandanannya perlahan mengikuti arus jaman hidup di kota metropolitan.
Ia yang dulu tak suka memakai bedak apalagi gincu, seiring berjalannya waktu dan juga teknologi canggih berhasil menggodanya untuk ikut tampil memakai make up meskipun harus mencari harga yang termurah demi menyenangkan mata dan hati suaminya tercinta.
Meski penghasilan Fendy hanya cukup untuk kebutuhan primer dan juga sekunder seperti kredit televisi, lemari es serta peralatan rumah tangga lainnya, Naura berusaha mengencangkan ikat pinggangnya demi untuk menyisihkan sedikit demi sedikit pundi-pundi demi membeli pakaian yang lebih enak dipandang mata serta tidak jadul dipandang orang.
Naura juga tak ingin hanya dirinya saja yang terlihat menawan. Tapi ia juga inginkan penampilan yang sepadan untuk Fendy suaminya.
Walaupun kenyataannya gaya hidup Fendy ternyata 'tak semurah' yang Naura kira. Sebab Fendy lebih melihat merek ketimbang hanya sekedar 'sedap' dipandang mata.
Harga-harga pakaian dan juga asesoris suaminya itu jauh berkali lipat dari apa yang ia sendiri beli/gunakan.
__ADS_1
Naura tidak mengerti gaya hidup, fashion dan merek terkenal suatu barang. Baginya yang penting berwarna tak pudar, bersih dan manis terlihat, itu sudah cukup.
Sedangkan Fendy, selalu berkata, "Mahal itu adalah harga sepadan untuk suatu kualitas dan cara pandang orang! Orang akan menilai kita lebih tinggi jika kita memakai barang yang 'lebih' nilai jualnya ketimbang barang yang pasaran apalagi barang diskonan!"
Naura hanya berfikir, apalah arti barang mahal kalau fungsinya tetap sama dan tetap tak ada bedanya. Hanya mungkin beda kelas saja.
Namun Naura mengerti suaminya. Sangat mengerti.
Fendy adalah pria pekerja keras. Dia juga yang gigih mencari nafkah untuk dirinya selama ini. Otomatis, Naura tidak pernah membantah apalagi membangkang setiap kata suaminya itu.
Alhasil semua pengorbanannya untuk kebahagiaan berumah tangga membuahkan hasil.
Fendy selalu menggandengnya dengan percaya diri kemanapun ia pergi.
Suaminya itu menikmati juga hasil kepiawaiannya dalam mengurus dirinya dan memanjakan dirinya luar dalam.
Naura selalu ingat. Bahwa dalam rumah tangga, pelayanan istri yang terbaiklah yang mendukung dan menjadikan kebahagiaan serta kesuksesan pasangan.
Rutinitas sunnah rosulnya selalu ia perhatikan. Naura suka minum jamu-jamuan entah itu sari rapet ataupun jamu sehat wanita guna menunjang kesehatan jasmani serta rohaninya.
Naura juga rajin membeli madu, telur ayam kampung untuk kebugaran suaminya.
Pelayanan sebelum mereka tempur selalu ia berikan ekstra dan tak pernah seingat Naura, Fendy mencelanya.
Hingga..... hingga ia hamil. Puncak kebahagiaan itu begitu terasa.
Fendy melarangnya bekerja. Ia takut sekali kalau Naura terlalu lelah, berimbas pada janin yang dikandungnya.
Padahal Naura merasa ia masih butuh pekerjaan itu untuk menunjang penghasilan Fendy yang cukup buat kebutuhan pokok saja.
Tapi Naura bangga sekali. Pertanda Fendy begitu mencintainya dan calon bayi mereka. Bahkan Fendy kata, ia akan melakukan yang terbaik untuk mereka. Untuk masa depan mereka bersama.
Naura menangis bahagia dipelukan suaminya yang begitu hangat itu. Sangaaat bahagia.
Tapi ternyata, Tuhan menguji kekuatan cinta mereka.
Naura harus mengalami kejadian pahit. Jatuh dikamar mandi hingga keguguran yang membuat pisik dan psikisnya terganggu untuk waktu yang lama.
Angan Naura menerawang. Sejak kejadian itu, entah mengapa siklus kewanitaannya berubah drastis 180°.
__ADS_1
Sering sekali ia kesakitan ketika memberikan suaminya itu kewajibannya. Bahkan tak jarang berimbas pada kesehatan dirinya yang terpaksa harus dirawat dirumah sakit karena pendarahan hebat.
Naura mengingat-ngingat, sejak saat itu.... Mereka jarang sampai mencapai ******* kenikmatan. Meskipun Naura semakin rajin melakukan perawatan dari dalam seperti minum jamu, penguat rahim, hingga pil vitamin untuk penambah vitalitasnya.
Sejak itu,.... Fendy perlahan sering terlihat lelah. Dan sering melarikan dirinya ke pekerjaan. Fendy sering ambil lemburan.
Naura seringkali menangis memahami kegundahan Fendy. Ia juga sangat menyesali keadaan dirinya yang seperti ini.
Berkali-kali mereka diskusi hingga berakhir ribut dan tidur saling memunggungi hanya karena Naura memohon Fendy untuk berobat bersama secara intens demi mengetahui penyakit apa yang dideritanya.
Tapi Fendy juga selalu berkilah. Bahwa Naura tidak memiliki kelainan ataupun penyakit karena ia sering berdiskusi dengan dokter-dokter yang menangani Naura setiap kali dirawat karena pendarahan hebat.
Naura ingin sekali didampingi Fendy. Ia takut divonis dokter dengan penyakit yang mematikan. Naura ingin berobat.
Namun suaminya itu bilang, uang yang dibutuhkan untuk semua itu tidaklah sedikit. Bisa sampai ratusan juta, katanya.
Sejak itu, Naura tak lagi berani memohon Fendy membawanya berobat ke dokter.
Dan Fendy juga semakin dingin serta enggan menyentuhnya. Alasannya cukup masuk akal, karena takut Naura kesakitan dan mengalami lagi pendarahan.
Hhhh......
Naura selalu ingat pesan Ibuk.
"Jagalah rumah tanggamu dengan selalu berpatokan pada kemampuanmu didapur, disumur dan dikasur, Nduk!"
"Hilih, Buuuu! Hihihi.... Memangnya niat berumah hanya untuk s*x saja. Yang pasti cinta adalah yang utama!" ralatnya tempo hari setelah ia baru saja menyandang status sebagai istrinya Fendy.
Saat itu Naura malu sekali, karena ibunya membahas soal ranjang dan trik-triknya mengikat suami.
"Perhatikan perut suami, sandang pakaian suami, terlebih kebutuhan biologis suami! Itu penting, Naura!"
Ibuknya adalah perempuan kampung yang sangat sederhana. Tak bisa baca tulis kecuali baca Al-Quran. Bukan wanita pandai dalam segala hal. Tapi beliau begitu faham arti kehidupan berumah tangga dan tata cara pelayanannya pada suaminya.
Malahan Naura dulu sempat memprotes ibunya untuk tidak terlalu memanjakan bapaknya yang keras kepala dan agak saklek kemauannya.
Tapi setelah menikah, Naura baru mengerti apa yang ibunya kata dan ibunya buat untuk keharmonisan rumah tangganya.
Untuk itulah Naura berkaca dan banyak belajar dari beliau.
__ADS_1
"Jadikanlah suamimu itu raja dikehidupan rumah tanggamu! Maka kau pun akan mendapatkan balasan kebahagiaan dari ketulusan dan keikhlasanmu dalam mengurus serta melayani suamimu. Kalaupun tidak sesuai harapan dan cita-cita luhurmu, setidaknya...Tuhan mencatatnya sebagai amal baikmu untuk mengisi raportmu diakhirat kelak!"
............BERSAMBUNG.............