RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kegundahan Hati Seorang Naura


__ADS_3

"Maaf Naura! Aku membawamu kerumah ini tanpa meminta pendapatmu terlebih dahulu!"


Affandi memegang kedua jemari Naura. Namun segera Naura tepis dengan lembut sambil menengok kanan dan kiri.


"Hahaha... Kenapa Naura? Takut ke-gep Papa Mama ya?"


"Jangan seperti ini, Mas! Aku malu. Sangat malu! Kumohon,... aku takut memiliki harapan terlalu tinggi hingga jauh melambung!"


Affandi menatap dua bola mata Naura. Terlihat redup tapi menenangkan. Membuat Affan termangu memandangnya.


Betapa inginnya ia menyelam berenang diriak manik-manik indah nan misterius itu.


Affandi seolah tersihir pesona Naura. Hatinya selalu bergetar setiap kedua netranya tepat menembus bola mata Naura.


Sungguh serba salah jadinya.


Affandi ingin sekali segera mempersunting wanita dihadapannya ini. Bahkan kini niatnya semakin bulat beberapa kali lipat.


Ia selalu teringat Kemal. Karena pria yang berumur 5 tahun lebih tua darinya itu juga menyimpan 'rasa' pada Naura. Khawatir sekali dirinya jika Naura dan Kemal berjumpa, sedangkan hati Naura belum jatuh sepenuhnya padanya.



"Naura!"


"Ya mas?"


"Bisakah kamu berjanji satu hal padaku?"


"Janji apa, mas?"


"Maukah kamu berjanji untuk menikah denganku?"


"Mas!...."


"Jangan kau tolak dan buatku hancur!"


"Pfff....(Naura hampir tertawa) Seperti lirik lagu, mas!"


"Iya. Lagunya Yovie & Nuno yang judulnya Janji Suci! Haish...!!! Aku ini bersungguh-sungguh, Naura! Bukan sedang main tebak lirik dan judul lagu!"


Naura tertawa. Terdengar begitu renyah ditelinga Affandi. Saking gemesnya, ia ingin merangkul Naura tapi tiba-tiba...


"Eit, eit!... Affan! Hayo,... sedang apa kalian? Mau Mama langsung bawa ke KUA sekarang saja, apa?"


"Hahahaha.... Mama nih! Kami cuma lagi bercanda, Ma!"

__ADS_1


"Biarkan Naura istirahat dikamar! Ayo! Kamu juga kembali ke kamarmu! Ayo, cepat!"


"Ma...!" rajuk Affandi imut sekali.


"Ayo! Nurut ga?!? Rek digebot eta' bujur na'?"


"Ish, mama nih! Affan koq jadi ngerasa seperti bocil SMP yang ke gep mojok dibawah pohon sawo deh!"


"Hahahaha....! Tah geuning, ngarasa oge'! Hahaha....!"


Affandi pergi meninggalkan Naura dan mamanya.


Naura tersenyum mengangguk sopan pada mamanya Affan.


"Masuk, Nak!" ujarnya seraya membukakan pintu kamar untuk Naura beristirahat.


Naura menurut. Kini keduanya sudah berada didalam kamar tamu berukuran 5x5 meter itu.


Naura mengikuti ajakan mamanya Affan untuk duduk ditepi ranjang kayu yang sederhana tapi apik itu.


"Terima kasih, sudah mau menerima ajakan putra Mama untuk main kerumah ini! Semoga, Naura suka dan bisa menerima semua kekurangan keluarganya Affan ya?"


"Naura yang harusnya berkata itu, Bu!"


"Jangan panggil Ibu. Panggil Mama saja, seperti Affandi. Ya?!?"


"Hehehe.... Itu terdengar lebih santai, Naura!"


"Iya."


"Ya sudah. Naura istirahat ya? Sebentar lagi Maghrib lalu Isya. Kami terbiasa kumpul lagi bersama setelah pukul 7.30 untuk makan malam. Naura nanti mama panggil lagi pas waktunya makan, ya?"


"Apa...Naura boleh bantu Mama?"


"Tidak! Naura tamu hari ini. Jadi Mama mohon, Naura istirahat saja disini! Kunci pintunya! Kalau Affan ganggu, usir saja ya? Hehehehe... Mama keluar sekarang ya?"


Naura menghela nafasnya. Kaget tapi senang. Ternyata keluarga Affandi begitu menyenangkan.


Dia seolah membandingkan dirinya yang dulu bersuamikan Fendy. Juga kedua orangtua Fendy. Yang mencecarnya dengan bermacam pertanyaan ketika pertama kali bertemu.


Sangat jauh berbeda.


Bukan bermaksud merendahkan atau menghinakan keluarga Fendy. Memang setiap keluarga punya tata cara tersendiri dalam hal penerimaan ataupun perkenalan pada seseorang yang diindikasi akan menjadi 'keluarga baru'nya.


Hhhh.....

__ADS_1


Naura merebahkan tubuhnya dikasur empuk berspreikan batik warna hijau daun. Dipejamkannya dua kelopak mata indahnya.



Fendy Martin, Affandi Rajata. Hhhhh....


Apa yang orang kata tentang aku ini, nanti! Hhh... Setelah membunuh suamiku sendiri, kini aku malah 'jalan' dengan pengacaraku juga.


Ya Allah ya Tuhanku!.... Serendah inikah akhlakku? Sampai tiba-tiba diriku menjadi 'seperti' ini?


Naura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu menyelimuti seluruh jiwa raganya.


Suaminya meninggal dunia ditangannya sendiri. Bahkan belum genap seratus hari. Tapi kini dia malah ikut lawyernya menginap dirumah kedua orangtua pengacaranya itu.


Ini suatu keberuntungan ataukah pertanda akan datang lagi 'musibah'? Naura merutuki dirinya yang begitu lemah akan cinta.


Sejak dulu, sejak masih gadis remaja.... Naura selalu saja seperti ini. Tidak bisa berkata 'tidak' untuk seorang pria yang berbaik hati padanya.


Seolah tidak mempunyai prinsip dan ketegasan.


Dirinya mengenang kembali pria-pria yang hadir dihidupnya.


Ismail. Dialah teman pria yang Naura anggap tulus sedari kecil. Lalu Kemal Pasha. Anak pertama Datuk Irhamsyah yang mencuri ciuman bibir pertamanya.


Kemudian Fendy Martin. Suaminya yang sempat berhasil dan hampir membuahkan seorang anak laki-laki jikalau saja ia tak keguguran.


Kini,... Affandi Rajata. Akankah cinta terakhirnya berlabuh pada bujang keren, sempurna dan paripurna itu?


Hhhh... Entahlah.


Hanya Tuhan-lah Penentu Segalanya. Naura tak berani berangan-angan tinggi pada pria yang selalu ada dan membantunya segenap jiwa raga akhir-akhir ini.


Dirinya hanyalah perempuan kampung. Tamatan SMU pula. Sangat tak sebanding dengan Affandi yang seorang Sarjana Hukum. Sukses pula dibidang karier serta tampan dan gagah orangnya.


Meskipun Affandi merendah, dengan menceritakan jati diri dan asal usul riwayat hidupnya, tapi dimata Naura pria itu sangat tinggi nilai kedudukannya.


Naura tak berani bermimpi. Apalagi mimpi indah bersanding dengan Affandi.


Naura mengetuk dahinya berkali-kali. Menyadari kebodohannya. Harusnya fokusnya kini hanyalah pada Ibuk dan juga Lyora.


Lyora kini seorang Piatu. Sudah tidak lagi beribu. Otomatis tanggung jawabnya lah Lyora dipundaknya.


Bukan saatnya memikirkan cinta. Yang hanya akan menjadi batu sandungan hidupnya saja.


Hhhh....

__ADS_1


Naura bangkit dari rebahannya setelah adzan Maghrib berkumandang.


.............BERSAMBUNG..............


__ADS_2