RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Perkelahian Yang Tak Dapat Dihindarkan


__ADS_3

Naura memang merasakan euforia luar biasa melihat Ismail teman kecilnya dalam beberapa hari ini.


Ia sangat antusias karena Ismail juga merantau ke Ibukota seperti dirinya.


Makan siang kali ini ia akhirnya menerima juga ajakan Ismail untuk makan bersama.


Affandi yang terlambat beberapa puluh menit terkejut ketika Witha memberitahukannya kalau Naura pergi makan siang bersama Ismail.


Affan merasakan jantungnya berdebar kencang sekali mendengar nama 'Ismail' disebut Witha.


Meski ia tak menjalin kasih dengan Naura, tapi Affan terbakar api cemburu yang sangat besar. Terlebih karena sebenarnya kedatangannya ke toko bunga mamanya adalah untuk melihat wajah Naura yang sudah 3 hari tak ia jumpa.


"Makan siang dimana, mbak?" tanya Affan cemas pada Witha.


"Saya juga tak tahu mas! Tapi langkah mereka ke jalan arah sana! Mungkin di Tobasco Restaurant situ!"


"Mereka naik kendaraan?"


"Kurang jelas saya, mas! Tapi sepertinya jalan kaki."


"Haish!!!! Kenapa diizinkan mbak?"


"Ini kan...jam makan siang! Masa' saya..."


"Ya sudah!" potong Affan gusar.


Tubuhnya merasakan ketidak stabilan hatinya. Ia bolak-balik, mondar-mandir didepan toko bunga milik mamanya itu.


"Sudah berapa kali pria itu datang kesini?" tanya Affan lagi membuat Witha gugup juga meski hatinya tersenyum melihat kecemburuan anak majikannya itu.


"Sudah tiga hari ini mas, lelaki itu sering kemari setiap siang dan sore."


"Sudah tiga hari? Pagi dan sore pula? Dan aku sama sekali tidak tahu akan hal itu? Nauraaaa!!!"


Affan menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal, meskipun tidak gatal.


"Yassalaaam....!Kenapa kau ini, pak pengacara? Gusar sekali kelihatannya!?"


"Naura makan siang bersama Ismail, mas!" kata Affandi pada Kemal yang baru tiba ditoko itu.


"Is...mail? Ngapain itu anak ada disini?" kontan saja Kemal kaget.


"Aku juga tidak tahu, mas!"

__ADS_1


"Cari mereka! Cari sampai ketemu! Jangan biarkan Naura bersama cecunguk itu!" kali ini Kemal lebih grusak-grusuk mendengar Naura bersama Ismail.


Kedua pria dewasa itu berjalan cepat menuju arah yang Witha tunjuk tadi.


Niat Kemal untuk membeli bunga penyambutan kepada klien rekan bisnisnya terlupa sudah.


Ia khawatir Ismail masih penasaran untuk mendapatkan Naura meski dengan jalan yang salah.


Affan dan Kemal mengambil jalan yang berbeda untuk mencari tempat makan siang Naura dengan Ismail.


............


Sementara itu Ismail, tersenyum senang karena siang ini berhasil juga mengajak Naura pergi bersamanya.


Dengan alasan mengajak makan siang, Ismail berhasil membawa Naura kesebuah restoran kecil yang ada cukup jauh dari toko bunga tempat Nau bekerja.


"Restorannya sepi sekali."


"Iya. Makanya kita makan disini saja. Biar pemiliknya senang, ada pelanggan!" kata Ismail membuat Naura tersenyum.


Naura hanya menatap wajah Ismail tak percaya.


"Kukira kamu tidak akan pernah meninggalkan kampung kelahiran kita, Il! Hehehe...."


"Demi kamu, Nau! Hehehe...apapun pasti kulakukan!"


"Roman Picisan!"


"Hahahaha.... kukira kamu tidak akan meralat kesalahanku!"


Kedua kawan lama itu tertawa lepas. Ismail sangat senang mendengar Naura yang menggodanya.


Padahal niat Naura bukan menggoda dalam versinya Ismail. Tapi hanya bercanda saja. Seperti dahulu ketika muda dulu.


Bibirnya kembali mendawamkan lafal-lafal jampi pelet ilmu yang almarhum Mbah Kliwon turunkan.


Tapi Naura segera menyadarinya. Bibirnya Naura juga mengingat Qur'an Surat An-Nas dan membacanya dalam hati. Kemal pernah memberinya peringatan tempo hari. Dan kini hatinya yang suci merasakan rasa yang tak biasa itu.


Ismail sedang mengganggu fikirannya.


Naura menunduk. Ia izin pada Ismail untuk pamit ke toilet.


Disana Naura langsung menelpon Kemal Pasha, yang memang sedang mencarinya bersama Affandi.

__ADS_1


"Mas....! Mas Kemal, tolong aku! Aku ada di resto Writoland bersama Ismail! Sepertinya ia agak aneh. Aku takut!"


Naura segera menutup teleponnya setelah Kemal menjawabnya dan memintanya menunggu beberapa saat.


"Sudah Nau?"


"Iya!"


Naura kembali duduk dan berusaha tersenyum menandakan ia tidak mencurigai Ismail.


Minuman dan makanan yang mereka pesan telah datang. Naura segera menyeruput es teh manisnya berusaha menetralisir keadaan hatinya yang panas tanpa tahu sebabnya.


Ismail tersenyum menatapnya.


Naura semakin bisa melihat, kalau tatapan Ismail terlihat aneh dan mesum.


Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Naura memijat pelipisnya pelan.


"Kenapa Nau?" tanya Ismail.


"Kepalaku...tiba-tiba pusing!"


Tiba-tiba pintu restoran terdengar didorong dengan keras.


"Naura!"


Affandi dan Kemal berdiri disana dengan wajah merah karena marah.


Naura yang mulai terlihat tidak stabil seolah melihat kedua pria itu membelah diri menjadi empat orang.


Kemal menjotos telak wajah Ismail. Membuat beberapa pelayan resto terpekik kaget.


"Bawa Naura keluar dari sini, Fan! Pasti orang ini telah memberi Naura sesuatu!" teriak Kemal pada Affandi.


Suasana yang tadinya sepi kini terlihat ramai. Banyak orang berdatangan karena ingin melihat keributan bukan niat melerai.


Affan segera menuntun jemari Naura keluar dari kerumunan. Naura yang berjalan agak sempoyongan membuat pria itu turut yakin pada apa yang Kemal tuduhkan kalau Ismail telah mencampurkan sesuatu kedalam minumannya.


Kemal masih terlibat perkelahian dengan Ismail didalam restoran. Sedang Affan mengamankan Naura untuk pergi dari sana masuk menuju kendaraannya.


"Kamu tidak apa-apa Nau? Naura...!"


"Kepalaku agak pusing mas!"

__ADS_1


"Sandarkan kepalamu dipundakku, Nau!"


............BERSAMBUNG.............


__ADS_2