
"Marilah kuantar kamu pulang, Nau! Masih ada waktu, begitu kata si notaris tadi. Pihak kantor Agraria juga tidak terlalu berpihak pada mereka. Jadi, kita bisa ajukan banding Nau!"
"Sudahlah mas! Biarlah! Kita sudahi urusan dengan mereka. Aku ikhlas dengan semua ini! Mana yang benar dan mana yang salah tak mungkin tertukar! Baik didunia maupun diakhirat nanti, pasti akan ada balasannya!"
Affandi hanya menatap wajah sendu wanita pujaannya itu.
Meski memang terlihat tol*l juga bod*h, tapi kebesaran hati Naura berhasil menjerat hatinya.
Terkadang orang bodoh memang menyebalkan. Tapi kebodohan yang seperti apa yang bisa membuat orang begitu membenci akan tingkah bodohnya. Karena hakekatnya setiap orang berbeda karakter dan juga berbeda cara pandang serta menangani setiap permasalahan yang datang kepadanya.
"Okey! Lantas, langkah apa yang akan kamu ambil sekarang, Nau? Apa tetap tidak akan melanjutkan proses hukum yang terlanjur membelitmu? Atau legowo menerima perjanjian antara kamu dengan keluarga Fendy?"
"Aku menerima dengan ikhlas takdirku ini!"
"Artinya?"
"Aku akan memulai hidup baru. Aku akan mengikuti keinginan mereka! Aku lepaskan semua beban dalam hidupku. Dan aku terima semuanya!"
"Lalu langkahmu selanjutnya? Setelah kamu meninggalkan rumah yang telah kalian beli berdua, cukup begitu saja? Tak ada pemberontakan sama sekali? Ataupun sedikit pelajaran untuk mereka tak mau kamu berikan juga?"
"Tidak perlu. Biarlah itu urusan Yang Maha Kuasa!"
"Hhhh....!!! Baiklah!"
"Mas! Apa aku ini orang yang menyebalkan? Apa aku ini sangat bodoh hingga orang dengan mudah membohongiku, juga membenciku?"
Affandi tersenyum lembut. Tangannya mengusap perlahan kepala Naura.
__ADS_1
"Kamu terlalu polos menjalani hidup ini Nau!"
"Mungkin ya. Aku juga menyadari diriku yang bodoh ini! Tapi aku hanya ingin jujur dengan diriku sendiri. Tak ingin menjadi orang jahat dengan menyalahkan orang lain karena nasib burukku ini.
Aku sadar diriku tak sempurna. Aku juga tahu, diriku penuh kekurangan. Tapi bukan berarti aku bisa membalas setiap perbuatan jahat dengan kejahatan pula. Aku sama saja seperti memperpanjang dosaku sendiri.
Mas! Aku minta bantuanmu lagi, boleh?"
"Katakanlah!"
"Tolong carikan aku kerjaan mas! Tukang masak, pembantu rumah tangga, atau apapun yang penting halal, akan kuterima dengan sangat senang hati. Karena aku bingung akan tinggal dimana setelah ini!
Untuk pulang ke kampung rasanya aku belum sanggup! Aku ingin disini dulu menguatkan hatiku sampai beberapa bulan kedepan, mas!"
"Baiklah! Tapi kamu harus menuruti perintahku juga untuk kali ini."
"Berkemaslah hari ini juga! Mama butuh seorang kasir ditoko bunganya di daerah Selatan Kota. Ini betulan! Jangan kamu anggap aku merekayasa keadaan, Nau! Toko bunga Mama sudah cukup lama membutuhkan seorang kasir. Mama pasti senang jika kamu bersedia membantunya!"
"Iya kah mas? Hik hik hiks.... ya Allah ya Tuhanku! Tolong ringankanlah langkahku! Permudahkanlah jalan kebaikan untukku!"
"Aamiin!"
Kini Naura menurut pada permintaan Affan. Ia percaya, pria itu tidak akan memanfaatkan kelemahannya. Meskipun dengan sangat terbuka mengatakan 'cinta' pada dirinya dalam waktu yang cukup singkat.
Naura berharap, hidup kedepannya lebih baik dan lebih tenang.
Sementara itu Tita bersorak bersama keluarga suaminya.
__ADS_1
Rencananya berhasil setelah hampir seminggu ia hilir mudik ke seorang dukun jahanam meminta bantuan supranatural agar urusannya dalam 'mengusir' Naura berhasil.
Sebelum menghasut kedua mertuanya, Tita juga telah berhasil 'menjebak' Fendy sebelum Fendy meninggal dunia.
Ia memang memanas-manasi almarhum Fendy agar mengirimkan sertifikat rumah yang ditempatinya bersama Naura ke keluarganya dikampung halaman.
Pria itu sudah kena sihir cinta harta Tita. Apalagi melihat Naura semakin hari semakin susah ia dekati lagi secara biologis. Otomatis Tita seorang sajalah yang bisa membahagiakan hatinya diatas kenikmatan sesaat saja.
Walaupun hati kecilnya tidak terlalu menyukai tingkah laku Tita yang bertolak belakang dengan Naura. Tapi demi kesenangan biologisnya, akhirnya Fendy termakan hasutan Tita juga.
"Malam ini Ibu dan Bapak bisa tinggal sementara sama aku dikontrakan! Semoga saja perempuan jahat itu cepat hengkang angkat kaki dari rumah itu. Dan kita bisa tinggal bersama!" kata Tita pada kedua orangtua almarhum suaminya itu.
Hati kecilnya bahagia sekali. Apalagi mengingat 'kiriman makhluk' yang dukunnya beri pada Naura. Sudah pasti Naura tak kan bisa betah berlama-lama tinggal disana.
Perut Tita semakin membesar seiring waktunya melahirkan yang tinggal menghitung minggu.
Pemilik kontrakannya juga sudah beberapa kali menegurnya. Memakinya bahkan menghardiknya agar lekas pindah dari kontrakannya karena sudah tiga bulan lebih belum membayar.
Tita sampai harus berlutut menangis, memohon kebijaksanaan sang pemilik kontrakan. Ia minta waktu satu bulan dan berjanji akan membayar lunas nanti setelah rencananya berhasil.
Meski begitu, karena terlanjur kesal pada tingkah Tita, sang pemilik tetap mengangkat barang pribadi milik Tita seperti TV dan laptop peninggalan Fendy.
Siapa yang menabur, dialah yang menuai. Pepatah mengandung kebaikan ini ternyata bisa juga menjadi bumerang bagi Tita.
Untuk saat ini ia boleh bergembira ria merayakan kemenangannya mendapatkan simpati dari mertuanya.
Tapi lihat saja, karma perbuatannya tengah menunggu dirinya untuk menuai sendiri hasil taburannya.
__ADS_1
...........BERSAMBUNG............