RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Naura dan Rencana-Rencananya Yang Gagal


__ADS_3

Prang!!!!!!


Gombrang!!!!!!


"Sial*aaaaaaaan! Itu orang benar-benar ngajak ribut aku rupanya!!!"


Ismail kalap. Kedua matanya merah menahan amarah. Bibirnya yang agak hitam karena terlalu candu akan rokok bergetar. Bahkan giginya bergemerutuk kesal.


Cangkir alumunium beserta tutupnya menjadi sasaran. Terbang seketika akibat pelampiasan amarahnya.


Dari kemarin Naura menginap dirumah almarhumah Mbak Ayuni dan sampai kini belum juga kembali.


Bagaimana bisa Ismail memikat hati dan perasaan Naura dengan bulu perindunya.


Kini justru hati dan jiwa Ismail lah yang semakin menggelepar menginginkan raga serta jiwa Naura.


"Nauraaaaaa!!!!! Nauraaaaaa!!!!! Kembalilah padaku Nauraaaaaa!!!!!" teriaknya berkali-kali bagaikan orang gila.


Naura, putri pertamanya mengintip dibalik gorden kamar bapaknya dengan wajah ketakutan.


Bocah berumur lima tahun itu belum faham pada apa yang bapaknya itu inginkan.


Ia hanya bingung juga terkejut mendengar 'nama'nya disebut-sebut! Apalagi bapaknya tadi melemparkan gelas kalengnya kearah dinding tembok kamar hingga terdengar suara klontang yang lumayan kencang.


Sedangkan Embah Kung dan Embah Uti nya hanya diam. Seolah pura-pura tak mendengar.


Sementara adiknya Cinta hanya duduk tak berani beranjak dari pangkuan Mbah Uti nya.


Cinta benar-benar berhasil membuat Ismail 'gila'. Gila pada paras cantik Naura yang telah membutakannya.


Sementara orang yang digilainya itu tengah duduk lesehan bersama ibuk dan juga ponakannya.


Naura memang tak putus-putus beribadah. Ibadah lima waktunya, juga mengaji Qur'annya ia lakukan setiap saat selama dirumah Mbak Yu nya.


Naura menyadari sepenuhnya, kalau Mbaknya itu butuh doa darinya juga dari putri tercintanya tentunya.

__ADS_1


Lyora kini sudah duduk dibangku SMA kelas 2. Setahun lagi sekolah menengah atasnya tamat.


Gadis muda itu berencana melanjutkan kuliahnya nanti di kota. Dan akan tinggal dirumah Kemal Pasha.


"Lyora bisa tinggal dengan bibi dan Simbah!" ajak Naura seraya mengelus-elus rambut lurus milik keponakannya yang menyenderkan kepalanya dipangkuannya.


Jadi simbah mau diajak ke kota, Bi?"


"Iya Lyora. Kasihan kalau simbah tinggal sendirian disini!"


"Terus kebun ibuk bagaimana Nduk?" tiba-tiba ibunya menyela.


"Dijual saja. Biar kita tinggal bersama dikota, buk!"


"Jual tanah itu tidak seperti jual terasi, Nau! Kadang bisa sampai berbulan-bulan. Apalagi sekarang sedang musim paceklik. Jangankan untuk beli tanah, untuk makanpun susah!"


Naura termangu. Mendengar komentar ibunya.


"Lagipula, itu tanah peninggalan kakekmu dari bapak! Beliau juga berpesan, agar jangan sampai tanah itu dijual. Kalau bisa, digarap dan dibangun anak cucu buyut nanti! Begitu katanya, dulu!"


Hhhh.....


"Tapi.... Naura ingin membawa ibu ikut serta ke kota. Disana kita bisa memulai hidup baru, Buk!"


"Ibuk ini sudah tua. Lebih nyaman tinggal dikampung ketimbang dikota. Apalagi disana ibu tidak ada kerjaan! Kalau disini, ibu bisa ke ladang. Bisa ikut tandur disawah orang juga. Jadi banyak gerak dan sehat!"


"Di Jakarta nanti Naura khan bisa menemani Nau. Ibuk bisa menunggu Nau pulang dari kerja. Terserah ibuk mau mengerjakan apa saja!"


"Kamu akan bekerja?"


"Iya. Sekarang sudah tidak ada lagi kak Fendy yang menafkahi Nau, bu! Otomatis Nau harus bekerja. Ibuk juga, kini mbak Ayuni juga sudah tiada. Tiada lagi yang membantu keuangan ibuk disini, nanti!"


"Ada keluarga mas Sarmin dan mbak Ngatini. Mereka sudah menganggap ibuk saudara. Ismail juga selalu bilang, agar ibuk jangan sungkan minta tolong padanya!"


"Tapi mereka itu orang lain, buk! Tak enak kita terus-teruskan meminta bantuan mereka. Dan Naura tidak mungkin membiarkan ibu hidup seorang diri dikampung. Kalau ibu sakit bagaimana? Lagipula, Nau juga tinggal sendirian dikota. Hidup sendirian, terasa berat bagi Nau bu!"

__ADS_1


Ibu memandangi wajah Naura. Ada tatapan iba, juga bimbang penuh kebingungan diriak matanya.


Ibu merasa berat untuk ikut Naura ke ibukota. Berat meninggalkan tempatnya selama puluhan tahun. Tempat dimana ia dan bapak Naura memulai hidup baru sebagai pasangan suami istri.


Perlahan dengan sangat lambat dan merayap, keadaan mereka cukup stabil karena berhasil membangun rumah bilik ala kadarnya.


Hingga lahirlah Ayuni dan delapan tahun kemudian Naura. Semua penuh kenangan baginya. Suka duka, derai tangis air mata serta tawa bahagia, silih berganti dirumah yang kata orang itu sangat sangat sederhana.


Untuk itu, Ibuk sangat mempertimbangkan ajakan Naura untuk tinggal bersamanya dikota.


"Sepertinya ibu ada ide, Nau! Ibu akan ikut kamu ke kota setelah Lyora tamat SMA. Kita bisa tinggal bersama. Dan mungkin saja tanah warisan bapak bisa laku terjual jangka waktu itu. Bisa untuk modal hidup ibu dikota!"


"Jadi, tahun depan ibu baru bersedia ikut Naura?"


"Iya. Ibu juga bisa bolak-balik kerumah mbak Yu mu menengok Lyora! Tak baik anak gadis ditinggal sendirian tanpa pengawasan! Ibu lebih khawatir dengan Lyora, Nau!"


Apa yang ibu kata itu masuk akal. Naura juga mengerti maksud ibu. Bahwa Lyora juga masih akan tinggal dikampung ini untuk jangka setahun kedepan.


Selepas SMA, baru lah Lyora akan kuliah di Ibukota.


"Nanti Nau akan kirim uang jajan untuk ibu setiap bulan lewat rekening Lyora, ya? Kalau Nau sudah mendapatkan pekerjaan. Doakan ya bu!?"


"Tentu anakku! Ibu pasti mendoakan yang terbaik untukmu, Nau! Juga untuk Lyora!"


Lyora yang sedari tadi diam hanya menyimak obrolan bibi dan juga neneknya itu.


Gadis muda itu kini memang telah jauh berubah. Sejak mamanya meninggal dunia dengan jalan yang tragis, Lyora berubah 180 derajat.


Lyora juga tak lagi banyak bicara apalagi membantah perkataan orang-orang terdekatnya.


Semakin membuat Kemal, Naura, juga neneknya iba pada dirinya.


Perubahan dirinya sangat drastis. Bahkan rasanya janggal melihat Naura yang sekarang.


Dulu Lyora ramai berisik orangnya. Suka berdebat dan suka memberontak. Semakin dilarang, Lyora justru semakin menentang.

__ADS_1


Kini, sifatnya jauh berubah. Mungkinkah batinnya juga terluka menyaksikan ibunda tercintanya menggantung dirinya karena merasa tak mampu menyelesaikan masalah? Hanya Lyora seoranglah dan AllahTa'ala tentunya yang mengetahui rahasia hati Lyora kini.


............BERSAMBUNG..............


__ADS_2