RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Candaan Naura dan Affandi


__ADS_3


Naura seperti biasa. Tiduran lesehan setelah jam makan siang dan melaksanakan ibadah sholat Dzuhur-nya.


Hari ini tak tampak batang hidung Affandi. Setelah kemarin berakhir dengan dirinya yang terlarut dalam kesedihan masa lalu rumah tangganya dengan Fendy.


Naura selalu ingat pesan dari ibuknya diawal pernikahannya.


"Nduk!.... Jagalah nama baik suami dimuka umum terlebih diantara sahabat dan kerabatnya. Seburuk-buruk suami, tak akan lebih buruk jika sang istri menutupi setiap kekurangannya. Telan semua pahit rumah tangga sendiri! Jangan pernah bercerita keluh kesah apalagi kekecewaan rumah tangga pada banyak orang. Dosa hukumnya!"


"Bukankah suamimu itu adalah pilihanmu sendiri? Kecuali, nasibmu seperti mbak Yu mu. Yang memang tidak cinta sedari awal. Menikah karena dijodohkan! Tapi ternyata, dia bisa bertahan sampai sejauh ini tanpa pernah ibu dengar keluhan darinya!"


Ibuk memberi Naura banyak wejangan. Tentang sebuah rumah tangga dan semua seluk beluknya. Yang belum sepenuhnya Naura mengerti pada saat itu.


Dan kini, Naura semakin mengerti seiring bertambah usianya.


Seperti biasa, kelima temannya sedang mengikuti pembinaan diruangan yang lain.


Membuatnya kembali menghalu melamun mengingat masa lalu.


Kontreng...kontreng...kontreng


Seorang sipir wanita membuka gembok pintu selnya.


"Terdakwa Naura Salsabila. Kuasa hukummu datang menjengukmu!"


"Terimakasih!"


Naura mengekor sang sipir yang berjalan keluar ruangan menuju bangsal tunggu pengunjung khusus.


"Naura, apa kabar?"



Naura terpana melihat senyuman manis Affandi yang tertuju padanya.


Indah! bisik hatinya terpesona.


"Maaf, datangnya siang sekali! Soalnya ada lawyer yang melangsungkan pernikahan dan kami semua dijadikan pagar bagusnya!" katanya membuat Naura tersenyum.


Mirip anak TK yang harus selalu laporan jika datang telat!kata hati Naura memandang Affandi.



Affandi memang berdandan rapi sekali hari ini. Membuatnya semakin terlihat gagah, tampan mempesona.


Setelan jasnya juga semi resmi membuat usia mudanya masih jelas tergambar di penampilannya itu.


Naura jadi teringat Fendy suaminya. Fendy juga suka style ala-ala CEO muda nan trendy seperti itu.


Ia jadi ingat rumah sederhana mereka. Sudah mau dua bulan ia tinggalkan tempat penuh kenangan bersama suami tercintanya itu.


Apakah ada yang merawatnya? Entahlah..... Naura tak tahu.

__ADS_1


"Naura makin cantik hari ini." Affandi berbisik ditelinga kiri Naura.


Naura jadi tersipu juga karena memang dia akhirnya memakai make up pemberian Affan kemarin meskipun bersama kelima temannya juga.


"Kakak..... Hebat sekali kamu! Bisa mendapatkan skincare dan serum produk mahal ini!" pekik Juwi senang sekali melihat aneka macam perlengkapan dan peralatan dandan yang Naura perlihatkan pada mereka kemarin sore.


"Ayo kita pakai sama-sama!" ajaknya.


"Boleh? Apa nanti pengacaramu bakalan komplen kalau skincare mu cepat habis?" tanya nona Rambut Mie.


"Halah, peduli amat! Dia bilang, ini harus dipakai. Kalau tidak, mubazir! Begitu katanya!"


"Yeaaaay....!!! Mari kita mengglowing!"


Naura senang, melihat semua orang senang.


"Nau??"


"Ah iya. Maaf, hehehe.....!" jawab Naura agak terkejut karena Affan membangunkannya dari lamunan.


Naura duduk. Seperti biasa, mereka saling berhadapan.


"Ini!"


"Apa ini?"


"Surat kematian suamimu. Dan berkas-berkas lainnya. Kalau kamu tandatangan disini, dana kematian Fendy bisa dicairkan sekarang juga."


Naura menghela nafasnya.


"Naura!"


"Tidak apa-apa, mas! Hanya agak penat saja dengan semua keadaan ini."


"Kau tahu? Istri sirinya Fendy sebenarnya yang menginginkan dana kematian Fendy mengalir padanya!"


Naura langsung mengambil ballpoint yang tergeletak diatas lembaran pengajuan dana kematian suaminya itu dan langsung membubuhi tandatangannya.


"Nau?"


"Boleh minta tolong, mas?"


"Iya. Katakanlah!"


"Tolong cairkan dana ini! Dan berikan semuanya pada dia."


"Maksudnya?"


"Untuk pegangan dia melahirkan, mas! Pasti Tita lebih membutuhkan daripada aku. Oh iya,... hhhh..... Andaikan saja, ibuk bisa ke kota. Ibu tinggal dirumah kami, maksudku....mengurus rumah kami di sini, kasihan juga ibu ya?!? Hhh... Rumah dikampung juga pasti terbengkalai!"


Affandi menatap wajah Naura penuh makna.


Tertegun dia mendengar penuturan kliennya yang begitu dewasa itu.

__ADS_1


Bagaimana tidak. Dirinya tengah terbelit kasus yang maha pelik, tapi masih memikirkan madunya yang hendak melahirkan.


Naura juga memikirkan keadaan ibuknya juga rumahnya. Entah terbuat dari apakah perasaannya yang super lembut dan bijaksana itu.


Affandi hanya bisa menarik nafas panjang.


"Ini, untuk istri sirinya si Fendy?"


Naura mengangguk, mengiyakan. Membuat Affan semakin gemas dibuatnya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu butuh apa, mau kubelikan sesuatu?"


"Tidak usah, mas! Terima kasih! Kamu sangat membantu diriku!"


"Istri siri Fendy juga sudah bersedia menjadi saksi dipersidangan nanti. Setidaknya, pengakuannya sebagai istri dari suamimu bisa meringankan hukumanmu nanti, Naura!"


Naura kini yang menatap wajah Affandi.


"Terima kasih!" katanya dengan mata berkaca-kaca.


"Ingat,.... Kamu harus berkata yang telah kuajarkan padamu Naura! Dan ini, skenario yang akan kubuat untukmu sidang nanti. Berjanjilah, mau bekerjasama denganku untuk masa depanmu sendiri!"


"Aku sudah tak punya masa depan lagi, mas! Aku hanya mengikuti alur saja. Apapun Kehendak Allah, aku manut saja!"


"Ya. Tapi sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berakal, wajib untuk kita merubah nasib ke arah yang lebih baik!"


Naura diam mendengarkan perkataan Affandi.


"Bye the way, apa tulisanku di lembar pertama buku kosong itu sudah ada lanjutan jawabannya?" tiba-tiba Affandi bertanya dengan senyum malu-malu. Ada semburat merah jambu menjalari wajahnya.


"Apa, ada tulisan....butuh jawaban?" Naura balik bertanya dengan canda jebakan. Juga tersenyum tipis.


"Hahahaha.... iya ya?!? Lupa aku! Harusnya dibawahnya kutulis 'Empat kali empat sama dengan enam belas. Sempat tidak sempat harus dibalas'! Hahaha..... Haish, ketauan banget jadulnya aku!"


"Hihihihi.....!" Naura ikut terkikik mendengar celotehan Kuasa Hukumnya itu.


Cukup menghibur hatinya yang kadang up kadang down.


"Kamu semakin cantik jika sering tersenyum!"


Deg.


Naura langsung terdiam mendengar pujian Affandi.


"Maaf mas! Saya bukan ABG labil yang langsung klepek-klepek mendengar pujian mas!" jawaban Naura membuat Affandi kembali tertawa.


"Saya juga tidak suka memuji ABG labil, Naura!"


Kini Naura yang bersemu merah wajahnya.


Entah memang berjodoh, atau kah ini Takdir Illahi, baik Naura maupun Affandi merasakan adanya tik tok kecocokan diantara mereka.


Hanya tersenyum menerima kebahagiaan yang menjalar dihati mereka. Dan melihat serta menunggu bagaimana Tuhan mengatur kisah mereka berdua kedepannya.

__ADS_1


Mereka hanya berpasrah pada Si Empunya Kehidupan. Yakni Tuhan Yang Maha Kuasa saja.


............BERSAMBUNG..............


__ADS_2