
Naura kembali mengenang masa lalunya.
Ketika ia masih dalam sekapan Datuk Irhamsyah dirumahnya dengan mbaknya, Ayuni Kartika.
Sedangkan sejak kejadian kakaknya ditarik paksa dari kamar sekapnya, mbak Ayuni tidak lagi menampakkan batang hidungnya.
Ini adalah hari yang mbak Ayuni bilang tempo hari. Hari H dimana Datuk melakukan perjanjian ijab kabul dengan Naura katanya mbak.
Seperti yang Naura prediksi, Datuk memerintahkan ajudannya dengan membawa seorang perias pengantin untuk mendandaninya.
Naura terlihat semakin cantik dengan gaun pengantinnya yang berbahan dasar brokat berwarna putih tulang. Anggun sekali meski mimik wajahnya begitu flat tiada hiasan senyuman.
Ia kini hanya berpasrah pada ketentuan Tuhannya. Apakah takdirnya benar-benar membawa keburukan dikehidupan selanjutnya.
Ingin sekali rasanya Naura berlari pergi. Tapi takut terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan pada kakak satu-satunya itu.
Mbak Ayuni sendiri tidak terlihat menyambanginya yang kini telah berias pengantin itu.
Apakah mbak Ayuni juga disekap sama sepertinya? Naura tak tahu. Bahkan Lyora keponakannya pun tidak dia lihat disekitarnya. Hanya ada beberapa gadis cilik yang ada ditempat Naura dan Datuk dijadwalkan berijab kabul.
Datuk yang masih terlihat gagah meski umurnya sudah hampir mencapai 50 tahunan itu tersenyum begitu sumringahnya. Apalagi setelah melihat calon mempelai wanitanya yang kecantikannya bertambah 3 kali lipat. Semakin semangat ia!
Pak Penghulu sudah datang, Naura pun di bawa keluar tempat acara diadakan.
"Datuk! Tolong izinkan saya bertemu mbak Ayuni!" pinta Naura sebelum ijab kabul dimulai.
Airmatanya meleleh tatkala pupilnya mengiba menatap calon suaminya yang telah duduk disampingnya.
Ia ingin pastikan kakak kesayangannya itu dalam kondisi baik-baik saja. Ia ingin melihat keadaan Ayuni sebelum pernikahannya dimulai.
__ADS_1
"Kalau Datuk tak menuruti keinginan saya, saya yakinkan pernikahan ini tidak akan terjadi!" ancam Naura dengan bibir bergetar menahan amarah.
Datuk akhirnya menerima kekalahannya. Memberi kode pada salah satu anak buahnya agar membawa segera istri ke-empatnya itu dihadapan mereka.
Belum sempat orang suruhan Datuk menuruti perintah tuannya, seorang pria berdiri menghadangnya.
"Mas Kemal!?!?"
"Duduk!!!!"
Pria muda yang usianya sekitar 22-25 tahun itu membentak ajudan Datuk hingga gelagapan dan berhasil 'dikuasai'nya karena akhirnya mengikuti perintahnya.
Wajah Datuk yang tadi sumringah, langsung berubah. Datar dan kaku tanpa kata-kata.
"Apa Bapak sudah hilang urat malunya!!!"
"Kemal! Ini bukan urusanmu, Nak! Pulanglah!"
Ternyata pria ini anaknya Datuk! Naura bergumam dalam hati.
"Ibuk sakit keras. Dan Bapak malah enak-enakan hendak walimahan lagi! Dimana otakmu, Pak?!?"
Semua orang yang ada diruangan itu terkesima mendengar ucapan pria muda bernama Kemal itu. Termasuk penghulu yang hendak menikahkan Datuk dengan Naura.
Datuk berdiri tegak. Hendak menampar pipi anaknya, tapi dengan gesit pria muda itu menangkisnya.
"Cukup sudah kelakuan bejadmu, Pak! Kalau kau tidak ingin menyesal dikemudian hari, sebaiknya batalkan pernikahan ini!"
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Kemal! Ini akan jadi pernikahan terakhirku. Aku janji!"
"Huh! Janjimu janji palsu!"
Pria itu lalu menarik tangan Naura dan mendekapnya dalam pelukannya.
Kaget semua orang yang ada diruangan itu termasuk bapak kandungnya sendiri. Yakni Datuk Irhamsyah.
Kemal mencium Naura tepat dibibirnya. ******* lembut semakin dalam dan cukup lama hingga lidahnya masuk menyusup ke mulut Naura.
Naura seolah terhipnotis. Tak melakukan apa-apa termasuk berontak. Hanya diam bak ikan mati yang disimpan dalam frezeer. Membeku jiwa raganya.
"Kemal!!!!"
Sekali lagi Kemal berhasil menangkis pukulan tangan bapaknya yang menyerangnya tanpa aba-aba.
"Maaf, Bapak! Pengantinmu aku culik!"
Kemal menggendong tubuh mungil Naura. Ia mengeluarkan sebuah senjata dari balik jas seminya.
Pistol revolver berkaliber 44 berwarna hitam pekat dia acungkan kepada orang-orang yang hendak menghadang langkahnya.
"Jangan mencegahku! Kecuali kalian ingin mati! Atau kalau kalian memaksa, aku akan menembak kepala perempuan ini sekarang juga!"
"Kemal!!! Sudah gila kamu!!!" Datuk Irhamsyah berteriak keras.
"Pulanglah pak! Ibuk sedang sakaratul maut! Setidaknya, berilah penghormatan terakhirmu pada istri pertamamu yang telah setia dan rela mendampingimu meski kelakuanmu seperti dakjal!"
Pria itu berjalan cepat dengan bahu memangku Naura.
...........BERSAMBUNG............
__ADS_1