
"Mbah, Mbah....! Mbah Utiiii.....!!!"
Naura baru selesai mengakhiri bacaan tahyiatul akhir di sholat Maghribnya. Telinganya mendengar suara dari pintu rumah ibuknya.
Suara perempuan dan ketukan pintu yang berkali-kali. Membuatnya segera bergegas keluar dan membuka selot pintu yang mengganjal dipintu rumah ibunya.
"Lyora!!"
"Bibi Naura?? Bibiiii...."
Naura langsung menangkap tubuh langsing keponakannya yang kini telah beranjak remaja itu.
Tangisnya kembali pecah. Mereka berpelukan erat sekali.
"Maaas, ada bibi Naura!" teriak Lyora pada seseorang yang masih duduk diatas sepeda motornya.
Suasana malam yang gelap gulita menyulitkan Naura melihat siapa seseorang yang Lyora beritahu itu.
"Naura!"
Sayup-sayup suara seorang pria yang agak familiar ditelinga Naura memanggil namanya.
"Mas Kemal!"
Kemal kini berdiri dihadapan Naura. Terpancar binar bahagia dikedua bola matanya.
"Dari kapan kamu disini, Nau?"
"Dari tadi sore, mas!"
"Huh, kenapa si Affandi tidak mengabari kepulanganmu padaku?!" ujarnya agak sebal membuat Naura tertawa kecil.
"Mas Affan sendiri tidak tahu kalau saya pulang kampung hari ini juga!"
"Lyora mau nginap disini! Papa dirawat di RS. Mas Kemal juga pastinya harus bolak-balik kantor papa dan rumah sakit."
Lyora menyela pembicaraan Naura dan Kemal Pasha.
Naura langsung mendekap tubuh gadis muda yang dulu imut mungil itu kini telah berubah bentuk tubuhnya.
"Ya udah. Katanya mas mau pulang cepat! Gih sana! Lyora nginap disini. Besok sekolah dari sini, naik ojeg!"
Kemal seketika terlihat ragu-ragu.
"Masuk dulu mas Kemal! Ngobrol dulu!"
Tiba-tiba terdengar suara ibuknya Naura menyuruh Kemal masuk. Sudah pasti langsung disetujui pria dewasa itu.
Lyora memeletkan lidahnya meledek kakak tirinya itu.
"Ish! Tadi katanya cuma antar aku sampai depan saja. Koq mas malah ikutan masuk?!" kata anak perempuannya almarhumah Ayuni menggoda Kemal.
Pria itu cuek bebek mendengar ocehan Lyora dan bergegas masuk untuk mencium punggung lengan ibuknya Naura.
Kini mereka berempat lesehan selonjoran didalam ruangan rumah yang cukup luas itu.
Belum lama mereka berbincang dengan masing-masing segelas teh panas ditemani gula merah aren asli buatan warga kampung yang ibuk Naura beli tempo hari, tiba-tiba pintu rumah diketuk.
__ADS_1
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" Serentak mereka menjawab.
Suaranya seperti suara Ismail.
Naura langsung berdiri membukakan pintu rumahnya pada sang tamu yang ada diluar.
Ismail tersenyum dengan sepiring singkong dan talas kukus yang masih mengepulkan asap panasnya.
"Nau, ini... untuk caneutan malam!"
Wajah Naura berbinar cerah. Ada wajah tampan Ismail terlihat dimatanya. Apalagi dibawah lampu neon yang cahayanya agak redup meskipun bukan spaneng.
"Ismail? Wah... kamu mau pergi kemana? Keren banget! Top Markotop! Ganteng sekali!" mata indah Naura berbinar cerah melihat kedatangan Ismail.
Terang saja hati Ismail langsung kebat-kebit.
Jampi peletku berhasil!
Ismail girang setengah mati.
Sementara Ibuk, Kemal dan Lyora masih menunggu Naura masuk kembali kedalam dan mengobrol lagi bersama mereka.
"Siapa Nau?" tanya Ibuk.
"Ismail, Buk! Bawa singkong dan talas rebus!"
"Suruh masuk sini!"
Entah mengapa, didepan Ismail, Naura terlihat ingin agak manja. Ia menarik tungkai lengan Ismail dan menggandengnya. Membuat Ismail makin percaya diri dengan perlakuan wanita idamannya itu.
Mereka masuk kedalam. Lalu ikut duduk hingga tanpa sadar membuat circle lingkaran.
Mata Elang Kemal menatap kearah Ismail dan juga Naura yang menjadi berbeda dimatanya.
Mengapa Naura terlihat agak aneh sepertinya. Kemal hanya terus menyimak obrolan antara keduanya yang sebenarnya tidak terdengar sinkron tapi membuat Naura cengar-cengir mendengar ocehan Ismail.
Kemal melihat 'ada yang salah' dengan Naura.
"Mas, biasa aja dong liatin bibi Naura-nya!"
Kaget juga Kemal disikut adik tirinya yang mesem-mesem melihatnya tak lepas memandangi Naura.
Kemal adalah anak Datuk Irhamsyah. Seorang tokoh adat kampung yang sudah barang tentu bukan kaleng-kaleng orang sembarangan.
Ilmu-ilmu dan juga 'pelindung ghoib' bapaknya pun, Kemal tahu sedikit-sedikit.
Jadi, untuk gelagat 'aneh' dari Naura malam ini pun ia bisa menerka. Kalau Naura sudah terkena jampi-jampi pelet milik Ismail.
"Mas katanya mau ke Rumah Sakit temenin papa?"
"Ga jadi Lyora! Mas juga akan menginap disini temani kamu, Simbah juga bibi Naura!" jawabnya tegas.
"Hah?!?"
"Kalian bertiga perempuan semua! Khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!" jawab Kemal lagi.
__ADS_1
Matanya masih terus melirik kearah Naura dan juga Ismail.
Entah mengapa Naura dan pria codot itu terlihat asyik kasak kusuk berdua.
"Naura!"
"Iya, mas Kemal?"
"Ikut aku!"
"Kemana?"
Kemal menarik tangan Naura. Tapi Ismail dengan lantang menahan.
"Mau kemana?"
"Ini urusan intern keluarga!" kata Kemal dengan suara tegasnya.
"Aku sudah dianggap keluarga juga disini!"
Wow. Ismail tak kalah tegasnya.
Kini kedua pria itu berdiri sejajar saling berhadapan.
"Aku ingin membicarakan tahlilan tujuh hari mbak Ayuni. Apa itu juga urusanmu?"
Ismail terdiam.
"Kenapa tidak dibicarakan bersama disini saja, mas?" akhirnya pertanyaan Ismail melemah.
"Naura belum tahu keseluruhan kematian kakaknya. Dan aku butuh privasy bicara berdua dengannya. Apa itu salah? Sedangkan kau sedari tadi hanya menggoda Naura. Apa itu benar?"
Ismail lagi-lagi hanya diam termangu.
Treeet...treeet...treeet
Hape Kemal bergetar dan berbunyi.
Affandi ternyata yang meneleponnya.
"Hallo, apa kabar pak Pengacara?"
[Mas Kemal, apa kau masih dikampung? Atau sudah di Jakarta? Apa kamu membawa Naura pergi dari rumahnya? Aku sekarang ada dirumahnya, tapi sepi dan terkunci. Naura pergi kemana ya, kira-kira? Tolong beritahu aku, apa kamu tahu tempat yang biasa Naura kunjungi?]
"Pertanyaanmu banyak sekali. Pengak telingaku mendengarnya! Aku ada urusan penting. Nanti kutelpon balik!"
Klik.
Kemal mematikan panggilan telepon sang Pengacara yang terdengar cemas diujung sana.
Senyumnya menyeringai seraya menarik jemari Naura. Affandi disana pasti sedang pusing tujuh keliling memikirkan kemana Naura pergi, fikir Kemal.
Ia lalu menuntun Naura masuk ke arah kamar. Membiarkan sepasang mata Ismail yang juga nanar menatap mereka menghilang dibalik gorden kamar.
Bibirnya komat-kamit. Berusaha menyelipkan nama Naura disela-sela jampi peletnya.
...........BERSAMBUNG...........
__ADS_1