RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Obrolan dan Juga Nasehat Kemal Yang Baik


__ADS_3

Naura terkejut bukan kepalang.


Kemal mendudukkannya diatas ranjang kayu yang sudah agak reyot itu dengan sedikit agak kasar.


Kedua tangan Kemal langsung memegang kepalanya. Entah apa yang Kemal dawamkan. Tapi bibirnya bergerak sedikit lalu meniup tepat ke ubun-ubun Naura.


"Astaghfirullahal'adzim! Mas Kemal?!?!"


"Alhamdulillah! Akhirnya kamu bisa istighfar!"


Naura masih bingung maksud ucapan Kemal padanya.


Pria itu lalu menarik lagi jemarinya. Dan tiba-tiba menekan syaraf nadi di tangannya hingga Naura berteriak kesakitan.


"Uhuk uhuk uhuk!!!"


Ismail terbatuk-batuk seketika. Gatal tenggorokannya. Membuatnya batuk tanpa henti.


Ibuk Naura menuangkan air teh diteko kedalam gelas. Kemudian memberikannya pada Ismail. Putra tetangganya yang sudah dianggapnya anak sendiri.


"Minum lagi, Il!" tawar ibu tapi ditolak Ismail dengan gelengan kepala.


Ismail masih batuk. Tenggorokannya semakin terasa gatal dan tak nyaman. Wajahnya berubah pucat pasi seketika menahan rasa sakit dan gatal dikerongkongannya.


"Buk, Mail pamit dulu! Huk uhuk uhuk... Uhuk!"


Dia keluar tergesa-gesa masih dengan mengukuk batuk.


Sementara didalam kamar Kemal tersenyum lega memandangi wajah cantik Naura.


"Maafkan aku, Nau! Tak pernah menyambangimu di tahanan!"


"Tak apa mas! Aku faham.... Penjara bukanlah tempat yang baik untuk disambangi!"


"Aku hanya tak ingin kamu sedih. Aku.... Hhhh...! Percuma aku berkata-kata! Toh hanya seolah pembelaan diri sendiri kesannya!"


"Hehehe..."


Naura tersenyum kecil. Wajah Kemal ditatapnya dengan tatapan mengerti.

__ADS_1


Tapi seketika senyum itu menghilang dari wajah Naura mengingat 'cinta' kakaknya yang begitu besar pada pria yang kini ada dihadapannya itu.


Naura menundukkan kepalanya.


"Mas!"


"Ya?"


"Mbak Yu..... begitu mencintaimu!"


"Aku tahu. Aku sudah menutup lembaran itu. Seperti halnya Mbak Yun, yang telah menutupnya sendiri meskipun jalan yang ia pilih adalah salah!"


"Kamu...... apakah, punya perasaan yang sama pada mbak Yu? Setidaknya, dia akan tenang dan bahagia dialam sana!"


"Aku mencintainya. Cintaku sebagai bakti seorang anak yang mencintai ibunya setulus hati!"


Naura mengangkat wajahnya. Mata mereka beradu. Kini Naura kalah melihat kejujuran dimata Kemal Pasha.


"Aku menyayangi mbak Ayuni sejak pertama kali bertemu. Aku sedih, melihatnya selalu menangis, menyendiri diatas balkon disiang hari. Aku ingin memberinya hiburan, meskipun kadang terlihat kasar dan agak menyebalkan!"


"Apakah itu pertanda cinta?"


Kemal turun dari ranjang kayu yang mulai berdecit itu. Ia menyandarkan kepalanya diatas ranjang dengan mata menatap Naura.


Terlihat imut sekali. Bagaikan bocah yang tengah merajuk pandangannya.



"Maafkan aku! Aku menutupi perbuatan Fendy demi menjaga perasaanmu, Nau!"


Naura menghela nafas.


"Kalian para lelaki. Sudah terbiasa kong kalikong kerjasama untuk menipu para wanita!"


"Siapa bilang? Aku justru takut kamu terluka! Aku hanya datang dengan tujuan menghiburmu. Bukan untuk bekerjasama dengan si Fendy dalam hal mengelabuimu!"


"Hhhh.... Sudahlah mas! Nasi sudah menjadi bubur. Aku juga sudah ikhlas ridho dengan nasibku yang seperti ini! Kini yang ada difikiranku hanyalah ibuk dan Lyora."


"Jangan takut, Nau! Ada aku. Aku akan selalu bersama kalian!"

__ADS_1


"Terimakasih, mas!"


"Kamu jangan sungkan-sungkan untuk membagi suka duka dan cerita padaku. Oh iya, apa kasusmu sudah selesai? Aku belum bertemu lagi Affandi. Aku turut senang kamu sudah keluar dari penjara!"


"Sebetulnya kasusku masih mengambang mas! Apakah kematian mbak Yu bisa kukatakan 'berkah'....hhhh....yang pasti surat wasiat mbak Yu membuatku mendapatkan keringanan pidana bersyarat. Aku juga masih harus wajib lapor setiap hari Rabu ke Lapas. Mungkin tiga hari lagi aku pulang ke kota!"


"Iya. Aku akan mengantarmu ke Jakarta."


Naura menunduk lagi. Butiran airmatanya jatuh perlahan.


"Tita.....sudah mau 8 bulan sepertinya, usia kandungannya. Apa.....wanita itu, lebih cantik dari aku mas? Sampai...sampai kak Fendy, mmmm..... berpaling dariku?"


"Tidak. Perempuan itu dimataku tiada harganya! Kamu lebih segala-galanya dari dia!"


"Tapi....aku juga tak menyalahkan kak Fendy, mas! Dalam hal ini,...akulah yang bersalah. Aku..... telah menciptakan jarak sendiri dengan kak Fendy! Membuat dia lelah sendirian dan kewalahan menghadapi aku!"


"Sejujurnya aku tidak tahu permasalahan rumah tangga kalian! Tapi memang Fendy type cowok lemah. Harusnya dia membuat situasi yang dingin diantara kalian menjadi hangat kembali. Bukannya justru pergi menjauh dan mencari pelampiasan kepada wanita lain! Itu perbuatan pria cengeng!"


Naura tak lagi menyahut perkataan Kemal. Hanya diam dan sesekali menyusut air mata yang masih menetes dipipinya.


Naura terkesiap. Jemari Kemal mengusap airmata yang ada dipipinya.


"Kuatkan dirimu Nau. Juga hatimu! Jangan lemah! Juga jangan lengah! Seseorang sedang menyukai sisi lemahmu. Dan kau bisa saja terjelembab ke lubang yang lebih besar lagi."


Naura tak mengerti ucapan Kemal. Sama sekali tak faham, maksud Kemal itu apa.


"Aku ada selalu menjagamu! Tolong, percayalah padaku! Dan satu pesanku. Jangan pernah percaya pada ucapan pria codot diluar itu! Apalagi sampai mau diajak pergi berduaan saja olehnya! Faham?"


Naura langsung mengerti. Tawanya pecah seketika mengira kecemburuan Kemal yang tak beralasan.


"Ismail itu teman Naura sedari kecil, mas! Dia itu sudah seperti saudara bagiku!"


Naura hanya berusaha menjelaskan posisinya pada Ismail.


"Dia tidak sebaik yang kamu kira, Nau!"


"Terimakasih mas, atas nasehatnya. Tapi ada baiknya aku jaga jarak dengannya. Dia sedang bermasalah dengan istrinya. Kuharap mereka kembali bersama dan rumah tangga mereka akur seperti semula."


"Aamiin...!!!"

__ADS_1


...........BERSAMBUNG............


__ADS_2