
Kemal membetulkan letak duduknya yang agak kurang nyaman. Sementara Affandi tetap diposisi dengan telinga on, siap mendengarkan.
"Fendy sedang mengalami masa pubertas kedua."
"Maksudnya???"
"Dia 'ada main' dengan salah satu karyawan ditempat kerjaku!"
"Bagaimana dengan Naura? Naura tahu kalau suaminya 'main gila'?"
"Ternyata insting Naura cukup tajam. Dan dia sebenarnya mengetahui suaminya telah berubah!"
"Kenapa mas Kemal tidak menegur Fendy, kalau perbuatannya itu bisa melukai hati Naura? Apa mas memang sengaja membiarkan Fendy dengan tingkahnya supaya bisa bersama Naura?"
"Maaf. Aku tak sepicik itu, pak Pengacara!"
"Fendy selingkuh?"
Kemal menghela nafasnya. Sedikit kesal raut wajahnya.
"Kenapa kau tak mengingatkannya? Kasihan Naura! Sebagai seorang kerabat yang punya hati nurani dan juga cinta suci, sebaiknya mas menegur Fendy. Memberitahunya kalau tingkahnya itu tidak baik, bukan?"
"Hhhh...... Aku tidak ingin terlalu jauh ikut campur urusan rumah tangga mereka. Kufikir, Fendy sudah dewasa pula. Pasti tahu langkah apa yang seharusnya ia ambil! Dan aku juga tidak berani memberinya nasehat. Karena dia pernah curhat, katanya sudah dua tahun lebih mereka nyaris tak pernah berhubungan badan!"
"Hah?!?!"
"Naura selalu menolaknya. Itu katanya. Dan aku, meskipun usiaku diatas mereka.... Aku masih lajang dan tidak paham urusan ranjang! Tapi yang namanya berumah tangga, s*x itu suatu kebutuhan bukan? Bahkan kewajiban. Jadi...., namanya lelaki, lumrah menurutku jika Fendy membutuhkan tempat menyalurkan hasrat biologisnya!"
Hhhhh.... Affandi menghela nafasnya lagi. Speechless. Tak tahu lagi hendak bertanya apa.
Tapi satu jawaban akhirnya bisa ia simpulkan. Kemungkinan Naura membunuh suaminya karena sakit hati yang ia rasakan.
"Apa yang Fendy katakan pada mas, agar selalu menyambangi Naura?" tanya Affandi, menginterogasi lagi Kemal.
__ADS_1
"Awalnya Fendy tidak suka padaku setelah tahu akulah anak tiri kakaknya yang pernah menyelamatkannya dari pernikahan paksa. Dan dia mulai arogan karena tahu akulah si lelaki pencuri 'ciuman pertama' istrinya. Hhhh.... Kurasa Naura itu terlalu jujur menceritakan semua masa lalunya pada si Fendy!"
"Lalu?"
"Tapi akhirnya dia sendiri yang mencoba 'mengambil hati'ku setelah aku memergoki dia dan Tita sedang berciuman dipojok gudang. Kartu mati-nya ada ditanganku!"
Affandi menatap Kemal tak berkedip. Merasa cerita pria dewasa itu suatu hal yang mustahil terjadi tapi benar adanya.
"Aku dititipi amplop berisi uang untuk Naura. Ia titip pesan, malam ini tak bisa pulang kerumah katanya."
"Hei, tak masuk akal! Ada handphone mas bro! Kenapa tidak ia kabari istrinya lewat hapenya langsung? Kenapa harus melalui dirimu!"
"Dia tahu, aku masih mencintai Naura. Dia sengaja mengambil kesempatan itu dalam kesempitan. Kau faham maksudku, pak Pengacara?"
"Okay, I see!"
"Aku mendatangi rumahnya. Berbekal tahu kompleksnya saja, lalu bertanya pada tetangganya. Aku pun berhasil menemuinya dirumahnya!"
"Kau pasti senang, bisa ada alasan untuk menemuinya bukan?"
"Naura itu ibarat buah mangga. Semakin matang, semakin manis menggiurkan. Dan semakin membuatku candu untuk terus menerus melihatnya!"
"Kamu.... mengutarakan cintamu padanya?" Affandi bertanya menyelidik. Kali ini Kemal menunduk diam. Mempermainkan jari jemarinya yang putih pucat agak berurat.
"Hhhh.... Andai dia masih sendiri! Aku sudah utarakan itu sebelum semua ini terjadi. Aku terlambat terlalu jauh! Tak ada kesempatan!"
"Jadi kamu hanya memujanya dalam diam?"
"Sepertinya begitu!"
"Naura tahu perasaanmu?"
__ADS_1
"Kuharap ia tahu. Tapi ia seringkali menyuruhku sadar, kalau ia adalah istri orang. Dan setiap kali ia menyuruhku pergi dari rumahnya setelah sejam lebih karena tak enak dilihat orang. Tak elok katanya! Dan aku,... hanya bisa pergi meninggalkannya dengan muka datar!"
"Naura pernah menanyakanmu tentang suaminya? Atau bagaimana kerjaan suaminya padamu?"
"Tidak! Ia termasuk istri yang cuek meskipun dihatinya yang paling dalam cintanya begitu besar. Tapi Naura termasuk tipe perempuan yang gengsian!"
"Iya, betul! Aku juga bisa merasakan itu!"
"Kesetiaannya semakin menawanku!"
"Kenapa kamu tidak mencari wanita lain mas? Kamu tampan. Sempurna menurutku diusia matangmu!"
"Hah??? Tak salah dengar aku? Merinding aku dipuji sesama pria!"
"Asem! Bukan seperti itu maksudku! Tapi kenapa kau belum juga menikah sedangkan kau mapan, itu maksudku!"
"Hahaha.... ternyata kau juga baperan ya pak Pengacara!?! Aku hanya gurau tadi. Atau kau memang 'belok' mengingat usiamu juga sudah cukup dewasa untuk menikah? Hahaha...!"
"Haish!.... Aku pria normal bro! Dan aku berharap sainganku mendapatkan Naura tidak ada saingan! Itu maksud pertanyaanku tadi!"
"Eh??? Kau serius?"
"Tentu saja!"
"Bagaimana kalau Naura mendapatkan hukuman mati? Dan... apa kata keluargamu yang sudah susah payah menyekolahkanmu tinggi-tinggi tapi hanya beristri seorang MANTAN NAPI?"
Affandi menatap wajah Kemal.
Serius sekali lelaki ini menimpali perkataanku. Akhirnya, aku bisa memancingnya lagi. Kemungkinan dia memang mengucapkan kata cinta dan menggoda Naura. Lalu membuka borok suaminya hingga Naura gelap mata sampai menikam suami yang begitu dicintainya. Hhh.... Kemungkinan selalu ada, bukan?!?
"Aku tahu kau mencurigaiku, pak Pengacara muda yang tampan! Silakan korek terus diriku!"
Affandi menelan salivanya. Sepertinya isi hatinya terbaca Fendy. Membuatnya mundur selangkah, guna mengatur strategi selanjutnya.
__ADS_1
...........BERSAMBUNG...........