
"Kamu mencintai Naura dan berharap Naura membalasnya bukan? Padahal mas tahu, Naura sudah memiliki suami!"
Affandi membuat Kemal tersedak kopi putih yang dia hirup.
"Kau..... Kau menuduhku yang telah membunuh suaminya?"
"Tidak. Aku tidak berkata begitu. Tapi kau sendiri yang bilang sendiri!"
"Aku tidak membunuh Fendy! Silakan kau selidiki aku! Bahkan ketika kejadian itu aku sedang sakit. Dirawat dirumah sakit selama 8 hari karena typus ku kambuh!"
"Aku percaya padamu, Mas! Dan sidik jari dipisau dapur itu memang sidik jari Naura. Bukan sidik jarimu! Tapi bisa saja khan, kau menekan Naura agar melakukan itu untukmu! Semua khan mungkin saja terjadi!"
"Kau menuduhku secara halus!"
"Tidak. Hanya mengungkapkan pemikiranku saja!"
"Aku bisa saja menuntutmu dengan tuduhan pencemaran nama baik, pak pengacara!"
"Hehehe....woles mas bro! Aku toh tidak berbicara di publik. Aku juga tidak berkoar-koar di layar televisi seperti para pengacara kondang yang sengaja tampil pasang badan ketika menjadi lawyer pengusaha kelas kakap! Kau juga tak bisa menuduhku sembarangan tanpa bukti."
Lagi-lagi Kemal hanya mendengus. Kesal. Ia akhirnya tersadar, kalau Affandi sedang memasang perangkap untuknya. Salah-salah bicara bisa fatal bagi dirinya sendiri.
"Naura tidak ingin dibela siapapun. Ia pasang badan untuk kasusnya ini! Tapi aku mencium aroma ketidak-adilan yang menjeratnya. Hhhh.... Kalau kau benar-benar sayang Naura, tolong bantu dia dengan membantu penyelidikanku mas! Dan aku tidak menuduhmu juga. Karena feelingku tidak padamu!"
"Lalu pada siapa? Siapa dalang dibalik semua ini?"
"Aku sendiri tidak tahu!"
"Hhhh..... Naura sama sekali tidak mau bicara? Setidaknya, ada sedikit ucapannya yang bisa menjadi petunjuk?"
"Tidak ada clue dari Naura! Itu yang membuatku susah untuk mencari celah, siapa orang yang berada dibelakang Naura. Karena aku memiliki firasat, Naura tidak membunuh suaminya seorang diri. Dan kau tahu mas? Ada tetangga yang mengatakan ciri-ciri fisik pas sekali denganmu, yang beberapa kali terlihat kurang lebih sebulan sebelum kejadian!"
"A apa??"
__ADS_1
"Makanya, ada baiknya kau ceritakan semuanya padaku. Sebelum dirimu terbawa jauh kedalam kasus Naura! Kecuali, memang kau lah orang yang ada dibalik semua ini!"
Kemal mengeratkan rahangnya. Terlihat keseriusan level tinggi ditatapan mata dan raut wajahnya.
"Memang, dua bulan yang lalu awal aku berjumpa lagi dengan Naura setelah bertahun-tahun lost contac."
Kemal mulai bercerita.....
"Kami bertemu didepan minimarket. Dan tepat diseberangnya, Naura yang baru saja turun dari angkot tiba-tiba berteriak ketika dompetnya ditarik seorang pencopet!
Aku tidak tahu kalau itu adalah Naura. Karena setelah aku menolongnya dari bapakku sepuluh tahun silam, kami tak pernah berjumpa lagi!"
Kemal menarik nafas sebentar sebelum ia melanjutkan ceritanya.
"Aku menyesal. Aku tidak menemui Naura setelah aku menitipkan ia di kostan putri milik temanku. Karena,... saat itu aku memiliki kekasih! Dan aku adalah tipe pria setia. Jadi aku hanya ingin membantu Naura tanpa menyakiti perasaan hati pacarku.
Setelah putus dua tahun lebih, aku berusaha menyambangi Naura. Ternyata kata temanku Naura sudah pindah entah kemana!"
"Lalu,... kalian benar-benar baru bertemu setelah kejadian Naura dijambret?"
"Ya. Aku yang kebetulan dilewati pencopet itu, langsung menghajar telak si pencopet hingga dompetnya kembali padanya."
"Hm.... Lagi-lagi kamu jadi penyelamat Naura!"
"Mungkin sudah takdir begitu! Hhhh.... Aku juga tak tahu, bro!"
"Panggil saja namaku, Affan.... Jadi kita bisa lebih santai."
"Oke!"
"Setelah itu? Hubungan kalian kembali terajut?"
__ADS_1
"Hubungan apa? Hubungan yang bagaimana maksudnya? Hei! Naura itu wanita baik-baik! Itulah kelebihan dia. Dia tidak pernah memanfaatkan kecantikannya untuk menarik perhatian lelaki lain yang menyukainya!
Sekali lagi kau rendahkan dia, aku tidak terima!"
Cinta yang tulus juga rupanya. Seperti cinta Ismail pada Naura. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi tetap menyanjung wanita pujaannya. Hhhh.....
Affandi menelan salivanya. Naura semakin membuat hati dan jiwanya bergetar.
"Maaf, mas! Aku tak bermaksud merendahkanmu!"
Kemal diam sesaat. Mengatur pernafasannya untuk memulai kembali ceritanya.
"Aku mengantarkannya pulang dengan motor bebekku! Hanya sampai depan perumahannya karena dia menolak kuantar sampai depan rumah. Alasannya, tak enak jika dilihat tetangga!"
"Tapi kenapa kamu akhirnya sering menyambanginya bahkan nekat mengetuk pintu rumahnya?"
"Suaminya yang meminta aku!"
"Suaminya? Fendy? Kamu kenal dan berteman dengan suami Naura?"
Affandi membelalakkan matanya. Dia kaget dengar cerita Kemal.
"Ternyata perusahaan tempat kami kerja satu rekanan. Dia bagian penagihan diperusahaan keramik. Sedangkan aku karyawan bagian keuangan di PT Material. Otomatis kami seminggu sekali bertemu muka dan mengenal satu sama lain sejak lama."
"Lalu, kamu baru tahu kalau Fendy itu suami Naura?"
"Iya. Setelah dompet Fendy tertinggal dimeja kerjaku. Dan aku melihat foto pernikahan mereka didalamnya!"
"Oke, aku faham! Lalu?...."
Affandi semakin tertarik dan mulai tak sabar ingin mendengar cerita Kemal selanjutnya.
...........BERSAMBUNG............
__ADS_1