RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kesetiaan, Pengorbanan dan Airmata dari Pengkhianatan Cinta


__ADS_3

"Apakah kamu pernah jatuh cinta? Pernah merasakan bagaimana indahnya cinta? Pernahkah kau juga merasakan sakitnya terhempas oleh cinta?"


Affandi menatap bola mata Naura yang tajam namun indah. Lekat dan lama. Riak maniknya membuatnya begitu ingin berenang dilautan beningnya.


"Usiaku sudah 31 dan bulan depan akan 32 tahun, Naura! Apakah seumurku kau fikir aku tidak pernah mendapatkan kesempatan bermain cinta?...."


Kini Naura yang menikmati tatapan tajam pria tampan kuasa hukumnya yang usianya hanya beda sepuluh hari dengannya itu.


"Aku sudah berkali-kali jatuh bangun bermain-main dengan cinta, Naura!"


"Seharusnya kau bisa merasakan perasaan kakakku, bukan?"


"Cinta yang bodoh, yang tidak seharusnya ia pupuk!"


"Tapi.... setidaknya, jangan membenci kakakku karena dia salah mencinta!"


"Aku tidak benci kakakmu, Naura! Aku hanya benci perbuatannya yang salah memilih dan menempatkan cinta! Dan salah mengartikan cinta!"


"Kakakku hanya terjebak pada fatamorgana cinta! Dia tidak pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Dia itu rapuh karena mendamba cinta!"


"Kau yang rapuh! Kau yang terlalu lembut, Naura! Kau itu ibarat tofu Jepang tanpa bahan pengawet!"


Naura diam. Merenungkan perkataan Affandi yang mengibaratkannya seperti tahu Jepang. Membuatnya spontan tertawa.


Affan yang memang 'sengaja' memancing amarah Naura agar melunak, ikut tertawa lepas.


"Kalau aku Tofu kamu apa? Coklat?"


"Bukan, aku bukan Coklat. Tapi aku Padi!"


"Hahahaha.... ternyata kamu bisa tahu maksud candaku!"


"Kita seumuran Naura! Hahahaha.... Terang aja aku tahu kamu memancingku dengan nama grup-grup band papan atas tahun 2000! Hahaha...."


Naura tersipu, tapi kemudian ia diam.


"Tolong,.... jangan libatkan mbak Ayuni! Aku mohon, aku sangat memohon padamu! Aku akan sangat berterima kasih jika mas Affan bisa menghapus nama mbakyu ku dari daftar hitammu hingga dia 'aman' dan tetap tak tersentuh hukum! Aku akan melakukan apapun yang mas inginkan untuk semua itu!"


Affandi menatap tajam wajah Naura. Tak habis fikir dirinya pada sikap Naura yang begitu kekeuh pendiriannya agar kakaknya itu tidak ikut terlibat.


"Kamu sangat menyayanginya!"


"Dia harus mengurus suaminya yang sekarang stroke. Dia juga harus membiayai hidup Ibuk kami dikampung. Mbak Ayuni juga punya anak gadis yang harus ekstra dijaga! Pergaulan jaman sekarang sangat menakutkan. Bahkan lebih menakutkan dari 'rumah hantu' di Pasar Malam!"


"Hhhh....! Lalu, kamu ingin barter apa denganku?"

__ADS_1


Naura diam. Tak tahu harus menjawab apa. Harta dia tak punya, sesuatu yang berharga pun Naura tidak ada.


"Dirimu yang berharga. Cintamu yang berharga, aku mau itu! Bagaimana? Sanggup?"


Merinding bulu kuduk Naura mendengar Affan mengucapkan kalimat itu dengan pelan tapi terdengar begitu jelas ditelinganya.


Naura menelan salivanya. Menunduk. Pura-pura tak mendengar dan hanya berfokus pada cup juice minumannya yang telah tandas isinya sedari tadi.


"Kamu tidak mau? Atau kamu tidak berani? Hehehe.....! Sok-sokan berkata, akan melakukan apapun yang aku inginkan! Hati-hati dengan ucapan Naura! Salah-salah ucapan itu akan membelit dirimu sendiri!"


Naura diam. Tak berani mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Hatinya menyetujui setiap ucapan Affan. Makanya dia tak lagi mendebat semua perkataan sang pengacara tampan itu.


Lagi-lagi Naura dibuat melting dengan tindakan Affan yang mengusap-usap kepala dan poninya.


Ia seolah bagaikan anak pudel yang keenakan dielus lembut oleh sang majikan. Hingga tanpa sadar, Naura menyukai elusan lembut jemari Affandi dikepalanya.


Matanya sesekali melirik. Lalu dihempaskannya nafasnya agar sesak yang menyumbat pernafasannya terlontar jauh kedepan.


Tidak! Ini tidak benar! Aku tidak boleh lemah karena kebaikannya. Apalagi, statusku hanyalah kliennya saja. Dan.... dia tidak mungkin seserius itu mengatakan kalimat tadi! Bisa jadi dia adalah seorang 'pecinta ulung' player sejati yang sedang mempermainkan perasaanku! Sadarlah Naura! Sadar! Siapa dirimu, siapa dia! Dan kau.... kau adalah seorang narapidana pembunuh suamimu sendiri! Hhhh..... Bodohnya dirimu jika terjerat cinta palsunya!


Oke,.... dia memang pantas kau acungkan jempol karena nilai ketampanan dan kebaikannya. Tapi bisa jadi itu hanyalah topeng saja. Bisa jadi dia sedang bersandiwara karena senang melihat dirimu yang akhirnya jatuh pada perangkapnya. Hhhhh......


Naura menundukkan kepalanya semakin bawah.


"Naura! Aku akan menyanggupi permintaanmu! Tapi dengan satu syarat,...."


"Kau.... harus mau menyerahkan diri dan cintamu padaku Naura!"


Naura hanya diam memandang tak berkedip.


Sebagai apa? Sebagai pembantu rumah tangganya kah? Atau sebagai apa?.... Sebagai 'gundik' selir pemuas nafsunya kah? Apakah ia punya rencana membuka bisnis haram jual beli 'cinta satu malam'?


Hati Naura penuh dengan berbagai pertanyaan. Yang pasti, semua fikiran buruk tertuju pada sikap dan tindakan Affandi.


Dia seorang yang berpendidikan tinggi. Pengacara pula! Tidak mungkin mengambil 'cinta' sembarangan bagaikan memungut sampah untuk didaur ulang kembali. Tidak mungkin! Tidak semudah itu bukan?


"Aku tahu jalan fikiranmu yang nethings padaku! Aku juga tidak menyalahkanmu! Mungkin aku dipandang pria gampangan yang mudah jatuh cinta! Hehehe.... Terserah padamu!"


Naura menunduk kembali. Affan bisa membaca jalan fikirannya dengan tepat. Entah karena dia yang begitu polos, atau mungkin memang Affandi adalah pria yang lihay dan profesional dalam percintaan. Naura menghela nafasnya.


"Kau bertanya padaku apakah aku pernah jatuh cinta?....Aku jawab, aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada seseorang yang kini duduk disebelahku. Dan rasanya, manis, asem, asin....bahkan pahit. Aku menikmatinya, meskipun aku menyadari kalau cintaku ini bisa saja semu dan menghempaskanku kepada rasa sakit hati yang menyiksa didada! Aku menerima semuanya!"


Naura masih diam. Berusaha menyimak perkataan Affan yang begitu tinggi bahasa kalbunya. Membuatnya pusing kepala.


"Aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Aku menyukai kesederhanaanmu. Aku menyukai kegigihanmu, aku juga menyukai semua ketidak sempurnaan dalam dirimu! Aku menyukai semuanya yang ada didirimu dan jiwa serta pemikiranmu!

__ADS_1


Aku jatuh cinta pada dirimu, Naura! Aku sungguh-sungguh tidak bisa tidur karena terus-terusan memikirkanmu. Bagaimana cara aku agar bisa meloloskanmu dari jeratan hukum dan membawamu pulang kerumah sederhanaku untuk kujadikan ratu rumah tanggaku!"


Deg.


Airmata Naura meleleh. Kiri dan kanan meluncur tak bisa ia tahan.


Wanita mana yang tidak meleleh mendengar pengakuan cinta yang begitu mengharu biru.


Wanita mana yang tak merasakan kebahagiaan mendapatkan ungkapan perasaan dari lawan jenis yang begitu mengagungkan dirinya bak puteri sejati dari syurgawi.


Naura kembali menangis. Jatuh kembali perasaannya kepada rasa sakit yang dideritanya selama ini.


Kesakitan yang teramat dalam karena cinta.


Cinta yang menyanjungnya setinggi langit. Yang menerbangkannya bagai layangan elok meliuk-liuk dilangit biru angkasa raya.


Cinta yang dulu begitu indahnya. Yang selalu ia puja dan jaga, setiap menit dan detiknya. Agar tetap indah dipandang mata setiap orang yang melihatnya.


Tapi kemudian...... dengan kejamnya menukik tajam dan jatuh diselokan lumpur yang berbau.


Yang rasanya lebih sakit dari sesetan bilah pedang tipis yang diasah dengan sempurna.


Sakit. Tapi tidak berdarah. Nyeri sekali, namun tidak bernanah. Semua kasat mata,... tapi rasanya mampu memukul telak jantung hatinya tepat diulu hati.


Terlebih, ketika ia mengetahui..... istri lain dari suaminya itu, telah 'berhasil' menghadiahkan kekasih hati, pujaan sejatinya, sebuah tropi kebanggaan. Berupa janin yang bersemayam dirahim madunya itu.


Bangs*t, t*i kucing,..... anj*ng, mony*t...... Semua penghuni kebun binatang nyaris Naura ucapkan dilubuk hatinya yang paling dalam demi melampiaskan kesakitan hati dan runtuhnya jiwa suci kebanggaan dirinya sebagai seorang wanita. Semua telah dirampas dengan sangat menyakitkan dari dirinya, oleh seorang wanita lain yang lebih segala-galanya darinya.


Setan alas, kuntilanak, wewe gombel,..... semua dedemit makhluk halus tak luput dari bibir hati Naura dengan bahasa kasar yang tak pernah sekalipun ia lontarkan seumur hidupnya, karena Ibuknya pasti akan menjembel bibirnya dan memukul pant*tnya jika berkata-kata kasar seperti itu.


Semua itu ia ungkapkan kepada wanita lain yang telah menyalib dan mengambil alih peranannya sebagai seorang istri sah kesayangan suami tercintanya. Fendy Martin.


Tapi wanita itu juga tiada bersalah. Karena Nauralah yang memiliki kekurangan sehingga celah itu menjadi kesempatan wanita lain bernama Tita yang usianya jauh lebih muda dan wajahnya jauh lebih fresh dari dirinya, untuk masuk kedalam hati seorang Fendy Martin suaminya.


Membuat Naura benar-benar terhempas oleh Pengkhianatan Cinta. Cinta yang membunuh semua rasa didalam dirinya. Menjadi jiwa yang mati, tak punya harga diri lagi. Dan menerima semua kepahitan cinta yang menerpanya dengan lapang dada.


Naura menangis terisak menyayat hati. Membuat Affandi bingung dibuatnya.


Respon Naura tidak seperti prediksinya. Affandi hanya bisa mengelus-elus punggung Naura perlahan ketika Naura menenggelamkan wajahnya dimeja bangsal ruang pertemuan mereka.


"Permisi, pak! Waktu kunjungan Anda sudah habis!"


Seorang sipir wanita bertubuh padat berisi mengagetkan Affandi hingga ia mengangguk cepat.


"Naura! Maaf.... Bukan maksudku untuk membuatmu sedih! Maaf, Naura! Aku permisi. Besok aku akan kemari lagi menemuimu! Semangat selalu ya? Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu!"

__ADS_1


Naura mengusap airmata dipipinya dengan cepat. Ia berdiri dan mengangguk. Bersiap kembali ke sel tahanannya. Dimana kini adalah tempat terbaik saat ini yang ia miliki.


............BERSAMBUNG............


__ADS_2