
Naura berjalan masuk kedalam selnya. Setelah mengantarkan Naura, penjaga sipir wanita ber-name tag Santy itu mengunci kembali gembok sel tahanan tempat Naura.
Tinggallah ia kini seorang diri dalam sel karena kelima temannya sedang menjalani pembinaan rutinitas harian mereka sebagai tahanan tetap LAPAS.
Berbeda dengan Naura yang masih sebagai tersangka dan terdakwa yang sedang menunggu proses sidang yang masih dalam penyelidikan dan penyidikan pihak Kejaksaan setempat.
Naura duduk berselonjor dilantai tanpa alas itu. Membuka lembaran demi lembaran buku Teka-Teki Silang yang Affan berikan padanya.
Otaknya sedang panas, membuatnya malas untuk mengisi kolom-kolom kosong menurun dan mendatar itu.
Jadi Naura hanya membolak-balikkan setiap lembarannya saja. Buku TTS kedua, sama tebal dengan yang pertama.
Tapi ternyata ada satu lagi buku terselip diantaranya. Sebuah buku tulis kosong.
Tidak, tidak..... Ternyata ada coretan tulisan tangan dilembar pertama dan kedua.
Naura terpaku memandang tulisan yang rapi dihadapannya itu.
Dear Naura!
Sengaja aku menulis dilembar pertama buku tulis kosong ini, untuk mengungkapkan semua isi hatiku tentangmu.
Mungkin bagimu ungkapan rasaku ini adalah sesuatu yang penuh kebohongan dan tipu muslihat. Tapi.... ini adalah cara terbaikku untuk meredakan beban cinta yang kini sedang kualami karenamu.
Sebaiknya, aku memperkenalkan diriku terlebih dulu.
Namaku Affandi Rajata. Usiaku sama denganmu, hanya lebih tua sepuluh hari. Karena aku lahir tanggal 4 September dan kamu 14 September-nya.
Aku, seorang anak yang dibuang orangtua kandungnya dikali Ciliwung.
DEG.
Jantung Naura bagaikan tersengat saat membaca kalimat itu, lalu berhenti sebentar guna menarik nafasnya meredakan rasa kagetnya.
Aku hidup dipanti asuhan selama 4 tahun. Hingga akhirnya Papa dan Mama angkatku yang pasangan suami istri tidak memiliki anak, datang mengadopsiku.
Sampai sini, kuyakin kamu cukup jelas mengenal diriku bukan? Kuharap, penerimaanmu tidak berubah setelah mengetahui riwayat hidupku yang kelam dan suram.
Kembali keniat awalku menulis dilembaran ini, karena aku ingin mengutarakan keinginanku untuk mengenalmu lebih dekat. Tentunya sebagai pasangan yang saling cinta, berbagi kasih sayang. Aku ingin bersamamu selalu, saling genggam telapak tangan melewati rintangan terjal, jalan berbatu dan berliku. Bersama dirimu, suka maupun duka.
Aku inginkan wanita sederhana yang mau menemani hari-hariku yang sepi. Aku mendambakan cinta suci seorang wanita yang begitu tulus menyayangi dan mengasihi suaminya. Dan aku menemukannya ada didirimu, Naura.
__ADS_1
"Maukah kau menjadi teman hidupku, Naura?"
.........................
"Bodohnya kau, Affandi! Kau tidak suka pada tindakan mbak Ayuni karena mencintai Kemal yang tidak pada tempatnya!.... Lantas, bagaimana dengan dirimu sendiri? Yang justru tidak sadar, kalau kaupun sebelas dua belas dengan kakakku itu. Kau jatuh cinta hanya pada fatamorgana!"
Naura menghela nafasnya setelah tersenyum kecut membaca 'surat cinta' Affandi yang ditujukan padanya.
Dia dan Affandi bukan bocah ingusan. Mereka juga bukan ABG yang sedang manis ranumnya hingga begitu bergelora terkena sihir cinta.
Naura hanya menghela nafasnya lagi. Dan kali ini lebih dalam dan panjang.
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Senang tapi bingung. Senang karena ia juga bukanlah wanita berhati batu yang tak meleleh mendapati pengakuan cinta pria yang baru sebulan ini ia kenal.
Dan bingung pula. Karena ia baru saja 'membunuh' suaminya sendiri dengan sebilah pisau dapur meskipun hanya satu tusukan setelah 8 tusukan pertama adalah perbuatan kakak kesayangannya.
Naura tidak mungkin mengumpat dan menyebutkan Affandi 'pria gila'. Bagaimana tidak, pria inilah yang saat ini tengah berjuang mati-matian menyelidiki kasus pembunuhannya.
Tapi pria ini jatuh cinta padanya tanpa melihatnya lebih dalam dan lama. Bahkan Affandilah yang justru terlihat lemah, hingga dengan pasrah nrimo perasaannya sendiri yang tak lazim pada Naura.
Cinta yang tidak ia bisa ia salahkan juga. Sama seperti cinta mbak Ayuni pada mas Kemal Pasha.
Hhhhh....
Naura mengetukkan ujung ballpoint yang Affandi berikan juga tadi kedahinya yang diplester sang pengacaranya itu.
Naura menggelosorkan tubuhnya kelantai keramik berwarna putih itu.
Matanya mulai riap-riap, mengantuk. Efek makan siang dan se-cup juice alpukat serta pengakuan cinta Affandi padanya membuatnya ingin tidur sesaat.
................
"Nauraaaaa....!!! Nauraaaa, tungguuuuu...!!!!"
"Hahahaha.... kejar ayo kejaaaaaar, Ismaiiiiil! Hahaha!"
"Awas kau ya, kalau aku berhasil menangkapmu nanti! Aku cium kamu yaaaaa!!!"
"Emoooooh, bau jigong gigimuuuuuu! Hahahaha....!!!"
Ismail berlarian mengejar Naura. Keduanya tertawa keras bersama. Terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Tak peduli keadaan sekitar jerami padi yang menumpuk dan juga tebarannya yang bagaikan butiran emas berkilauan terkena terik matahari menjelang siang.
"Aduuuh, curang kamuuu!!!" Naura mengaduh, mengeluh sambil menggosok-gosokkan matanya yang kelilipan akibat lemparan butiran padi Ismail kearahnya.
"Hahahaha maaf, maaf Nau!"
Ismail ikutan membantu Naura mengusap-usap kelopak mata gadis muda dihadapannya itu. Berusaha meniup-niupkan udara ke arah mata Naura agar terbebas dari rasa nyeri yang menderanya.
"Masih sakit?...... Aduh!!!!!"
"Kamu ish, tak boleh lempar-lempar padi seperti itu. Bahaya tahu?" maki Naura sambil memukul bahu Ismail cukup keras.
"Tapi bo'ong! Hahahaha.......!!!!" Naura kembali tertawa berlarian. Membuat Ismail geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Awas kamu ya? Berani menipuku!"
Kini Ismail berlari dengan semangat 45 dan lebih kencang dari larinya tadi. Hingga tangannya bisa menggapai kaos yang dikenakan Naura hingga.....
Bret.
"Ismaiiiiiil!!!!! Bajuku robek!!! Amarga kowe klambiku rusak!"
Kaos yang dikenakan Naura robek hingga terlihat kaos dalamnya.
Ismail yang gugup langsung melepas baju kemeja yang ia pakai. Dan langsung dipakaikan tergesa-gesa menutupi tubuh Naura.
Hingga akhirnya keduanya kembali tertawa-tawa menyadari tingkah konyol mereka.
Sungguh usia muda begitu indahnya. Bebas tiada beban fikiran. Bercanda, bersenda gurau....tanpa banyak yang harus difikirkan.
Mimpi Naura yang indah. Bersama Ismail melewati masa-masa sekolahnya. Melewati batang pohon kelapa menyebrangi kali diperkampungan.
Berlari saling kejar-kejaran mengikuti arus sungai yang kadang deras jika semalam hujan digunung. Belajar bersama, bermain bersama. Dengan Ismail teman pria satu-satunya sedari kecil.
Tiada beban terfikir darimana biaya sekolah itu bapaknya dapatkan. Sedangkan mereka hanyalah petani kecil yang hanya bisa makan dan minum saja sudah disyukurinya.
Begitu menyenangkannya.
Dan kini barulah Naura sadari, kebahagiaannya bisa menikmati masa sekolah SD, SMP dan SMA adalah karena permintaan Mbak Ayuni pada Datuk Irhamsyah. Yang akhirnya bersedia membiayainya hingga tamat.
Itu sebabnya, Naura tidak ingin mbak Ayuni ikut terseret ke dalam kasus beratnya meskipun sesungguhnya Ayunilah pelaku utama yang sebenarnya.
__ADS_1
...........BERSAMBUNG.............