
Affandi keluar dari rumah Kemal pukul 11 kurang. Siang mulai menampakkan batang hidungnya. Hingga teriknya sinar mentari mulai menyengat mengingat musim kemarau yang telah datang.
"Mas Affandi!"
Affandi menoleh kebelakang. Dimana arah suara memanggil namanya.
Mbak Ayuni Kartika.
Wanita lebih tua 8 tahun darinya itu menyodorkan sesuatu padanya. Secarik amplop putih tipis.
"Apa ini, mbak?"
"Tolong! Biarkan Naura dengan pendiriannya!"
"Apa maksudnya ini? Mbak..... sedang menyuapku? Mbak takut, kalau mbak juga terseret menjadi tersangka utama dibalik pembunuhan Fendy?"
Pucat pasi wajah Ayuni seketika. Pengacaranya Naura ternyata bukan pengacara sembarangan.
Meskipun ia masih cukup muda usianya, walaupun Naura tidak secara langsung menyewanya sebagai kuasa hukumnya tapi atas bantuan pemerintah.
Ternyata kinerja Affandi Rajata tidak boleh disepelekan olehnya. Affandi telah bisa membuka tabir gelap yang selama ini Ayuni tutup rapat-rapat.
Merebak seketika binaran kesedihan dibola matanya yang indah. Jatuh berderai membasahi kedua belah pipinya yang tirus.
Affandi mengajaknya bicara empat mata.
Ayuni menuruti sang pengacara muda itu masuk kedalam mobil Affandi setelah menengok kiri kanan dan belakang kondisi sekitar rumah Kemal.
...............
Affandi memesan dua gelas kopi cappucino dan seloyang pizza sebagai teman camilan kopinya pada pelayan cafe.
Ayuni menunduk tak berani menatap. Sedari tadi matanya tak henti mengeluarkan lelehannya.
"Ini maksudnya apa, mbak?" tanya Affan setelah dikira suasana mulai kondusif.
"Aku.... bukan bermaksud menyogokmu. Tapi itu, adalah....cek senilai 20 juta."
"Untuk apa? Untuk Naura kah?... Maksudnya mbak, untuk kuberikan pada Naura?"
"Bu bukan begitu juga!" Ayuni terbata-bata menyangkal.
"Lalu?"
"Maksudku,... Naura sudah akan bertanggung jawab sepenuhnya menjadi terdakwa atas terbunuhnya Fendy. Dan.... sudahlah, jangan lagi kamu mencari-cari bukti lain yang mengada-ngada yang akan membuat proses hukum ini semakin melebar, maksudku!"
__ADS_1
"Begitu? Dan mbak biarkan adik kandung mbak yang menanggung semuanya sendiri sedangkan mbak cuci tangan begitu saja?"
"A ee, bukan..bukan begitu juga."
"Lalu? Mbak mengancam Naura untuk terus bungkam dan mengaku kalau dia sendirian melakukan pembunuhan itu? Lantas mbak sendiri? Kenapa mbak? Apa mbak tak sayang pada adik mbak yang hanya satu itu?"
Ayuni terisak menangis. Seolah menyesali tapi sayangnya terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.
"Kenapa mbak melakukan semua ini? Kenapa?"
"Karena aku mencintai Kemal. Dan aku, cemburu buta pada Naura!"
Affan menahan nafasnya sesaat karena kaget.
Jadi, Ayuni melakukan ini bukan karena simpati pada Naura yang telah diselingkuhi Fendy hingga ia gemas dan membunuh adik iparnya?! Waah.... hhhh...., semakin menarik ternyata! Dan, hmmmmm..aku salah terka rupanya!
"Kemal sering mengunjungi Naura. Kemal bahkan pernah bercerita pergi ke Tempat Hiburan Pasar Malam bersama Naura. Dan, dan aku panas mendengarnya. Karena, sejak keduanya bertemu lagi setelah bertahun-tahun lamanya,....Kemal tak lagi mengajakku jalan-jalan malam meskipun hanya sekedar mencari makanan!"
Ayuni membuka semua rahasia hatinya. Termasuk kejadian yang menimpa Fendy itu sebenarnya hanyalah 'kecelakaan' saja.
Karena sebenarnya ia sama sekali tak bermaksud membunuh Fendy. Bahkan ia berteriak-teriak agar Fendy segera dibawa kerumah sakit.
Tapi ternyata, kata-kata Fendy yang terus memojokkannya hendak lapor polisi membuat Ayuni semakin kalut dan gelap mata. Hingga beberapa kali pisau dapur milik Naura tertancap lagi didada Fendy.
Ayuni juga menceritakan penderitaan dirinya belasan tahun lamanya hidup bagaikan tawanan perang.
Ayuni diam mendengar celotehan Affan setelah cukup lama hanya menyimak dan menjadi pendengar setia.
"Teganya dirimu, Mbak! Adikmu menanggung semua penderitaannya sendirian demi menjaga nama baikmu. Adikmu diam seribu bahasa, menutupi ini semua demi rasa sayangnya padamu. Tapi kamu, mbak!.... Demi dirimu sendiri dan hasrat ***** terpendammu itu kamu menyakiti lagi adik kandungmu sendiri yang tak punya salah sama sekali!"
"Aku menyayanginya! Sangat menyayangi karena dia adikku satu-satunya!"
"Tapi caramu 'menyingkirkannya' membuatku menilai dirimu rendah!"
"Kamu tahu apa tentang diriku dan Naura?!? Kamu hanya sebulan kurang mengenal Naura. Dan itu pun karena kau adalah pengacaranya! Aku bisa membayarmu dua kali lipat agar kau mau bungkam dan tetap menjalani tugasmu dengan santai tanpa harus berlelah-lelah kesana kemari mencari barang bukti!"
Prok prok prok.
Affandi bersorak, bertepuk tangan.
"Hebat!... Kau hebat mbak Ayuni!"
Ayuni hanya menelan salivanya menatap wajah pengacara Naura yang muda dan rupawan itu.
"Kau sangat santai berkata seperti itu, sementara adikmu bergelut mati-matian memperjuangkan hidup matinya di sel tahanan demi dirimu! Dimana nuranimu mbak? Apa kau senang adikmu ada dibalik jeruji penjara kini?"
__ADS_1
"Mana mungkin aku senang melihatnya disel! Tapi ini salahnya sendiri. Andaikan saat itu mereka menuruti perkataanku dan langsung membawa Fendy kerumah sakit, pasti nyawanya terselamatkan!"
"Apa kau bisa tidur dengan nyenyak setelah melakukan tindakan menusuk Fendy selama 8 kali? Apa setan Fendy tidak gentayangan mencari-carimu?"
Mata Ayuni membulat. Bergetar bibirnya. Hendak bicara tapi tak bisa. Karena sebenarnya dirinya hingga saat ini masih terus bermimpi aneh dan menyeramkan meskipun tidak sampai mengancam jiwa apalagi nyawanya.
"Kamu merasa dirimu adalah perempuan teraniaya? Kamu iri pada adikmu sendiri? Bahkan sampai hendak menusukkan pisau ketubuh Naura jika Fendy tak menjadi tameng!"
"Aku hanya pura-pura berbuat begitu pada Naura! Naura tahu, aku tak kan mampu melakukan kejahatan apalagi sampai melukai fisik. Itu hanyalah ancaman saja! Tapi Fendy yang baru pulang kerja menyaksikan itu seolah aku benar-benar akan membunuh Naura!"
"Apa Kemal tahu kalau kamu mencintainya?"
"Tidak. Kemal tidak boleh tahu. Ia tidak boleh sampai mengetahui isi hatiku!"
"Kenapa? Kalau kau benar-benar cinta, kenapa kau tak berterus terang pada anak tirimu itu tentang perasaanmu padanya? Kenapa mbak?"
"Karena..... aku takut, takut Kemal akan merasa tidak nyaman dan menjauhi diriku. Aku..tak ingin semua itu terjadi! Aku hanya berusaha tetap bertahan disisi bapaknya yang sekarang tanpa daksa karena mendapat hukuman dari Allah!
Aku, aku bertahan karena Kemal juga berdiri disampingku. Membantuku dan Lyora dalam segala hal!"
"Tragisnya cintamu, mbak!"
"Biarlah..... biarlah aku menjadi korban dari ketidak-adilan hidup keluargaku. Asal Kemal selalu ada bersamaku. Menemani kami sampai akhir nanti!"
"Sebagai apa? Sebagai ibu dan anak? Atau....sebagai kekasih gelap? Atau...sebagai kekasih yang tak dianggap? Hehehehe.... Kebodohan membelenggumu hingga menjadi orang jahat! Kau jahat karena kau justru telah mengorbankan adikmu sendiri demi kebahagiaanmu yang sangat sedikit itu!"
Affandi tertawa melihat Ayuni melamun memikirkan ucapannya.
"Kenapa kubilang kebahagiaan yang sangat sedikit? Karena hanya kau yang memendam rasa cinta, sedangkan Kemal tidak. Kemal justru sama sekali tak mengetahui perasaanmu padanya. Itu miris!!! Hehehehe.... dan hanya orang bodoh yang mau melakukan tindakan sepertimu mbak!"
"Apakah salah jika aku juga menginginkan cinta dan kebahagiaan dalam hidupku, pak pengacara?"
"Tidak salah. Tidak ada salahnya menginginkan cinta dan kebahagiaan. Karena itu adalah hak setiap insan manusia! Yang salah itu adalah caramu mendapatkannya, Mbak!"
"Lantas aku harus seperti apa? Harus bagaimana? Hik hik hiks...."
"Sangat disayangkan! Meskipun usiamu jauh lebih tua delapan tahun dari Naura, kedewasaanmu jauh sepuluh tahun dibawah adikmu itu!"
"Kamu sangat membela Naura! Ada apa antara kalian? Apa.... Naura menyuruhmu untuk menyerangku?"
"Asal kau tahu, Mbak! Adikmu mati-matian membelamu! Bahkan dia selalu mengacuhkan diriku. Dia tidak pernah menyebut namamu apalagi menjelek-jelekkan dirimu. Jangankan untuk menyerangmu, mengatakan bahwa sesungguhnya kaulah yang menusukkan pisau itu ke dada suaminya sendiri tak pernah ia lontarkan.
Tapi kau, Mbak! Kau masih saja mendengki dan berfikir jahat pada adik yang begitu menyayangimu dengan tulus! Hhhh.... Kau tak pantas memiliki adik yang berhati emas!"
Affandi kesal. Ditinggalkannya Ayuni sendirian didalam kafe yang sepi itu dengan selembar amplop berisi cek yang tadi ia serahkan pada dirinya.
__ADS_1
Tinggallah Ayuni seorang yang menangis sesegukan sendirian. Menyesal karena akhirnya, dia sendirilah yang telah membuka kedoknya sendiri.
..........BERSAMBUNG............