RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kesadaran Naura Yang Telah Pulih


__ADS_3

Entah pukul berapa ini. Affandi sampai lupa kalau hari telah beranjak malam.


Naura masih terlelap dalam pelukannya terbungkus selimut dengan keadaan tubuh tanpa busana.


Memerah wajah Affandi mengingat kelakuannya tadi. Ia benar-benar seperti mendapatkan durian runtuh.


Naura sangat memuaskannya. Hingga tanpa sadar bibirnya tersenyum menandakan hatinya yang bahagia.


Gugup juga ia melihat Naura yang bergerak. Dengan cepat Affan menutup matanya. Pura-pura masih terpejam.


Kini, giliran Naura yang tersadar.


Wajah wanita itu merah bak kepiting rebus menyadari dirinya yang tergeletak tidur dengan bahu dirangkul sang pengacara tampan yang tadi menolongnya melarikan diri dari Ismail.


Semakin padam muka Naura menyadari tubuhnya yang terbalut selimut bulu tapi tanpa selembar pakaianpun.


Naura perlahan sekali.... mencoba bangun dengan satu tangan mendekap mulutnya dan satu tangan lagi memegangi selimut dibagian dadanya.


Dirinya malu sekali dengan keadaannya.


Naura terkejut dan hampir memekik melihat selimut yang ditariknya ternyata hanya selembar dan juga menjadi penutup tubuh Affandi. Hingga tubuh pria itu tersingkap dan dadanya yang telanjang dengan hanya memakai semp*k saja.


Naura menutup matanya.


Affan yang terkejut juga karena tubuhnya kini terbuka masih bersandiwara berpura-pura tidur demi menjaga rasa malu Naura.


Naura mindik-mindik berjalan perlahan menuju kamar mandi dengan tubuh berbalut selimut.


Berkali-kali kedua telapak tangannya menepuk-nepuk pipi kiri dan kanannya menyadari dirinya yang tadi tak bisa menahan hawa nafs* birah*nya. Kini ia sangat menyesali.


Naura membuka selimut dan menggulungnya hingga menggantungkannya di capstock tembok kamar mandi.


Dipojokannya masih teronggok pakaian basah miliknya juga milik Affan.


Lagi-lagi Naura hanya bisa menutupi wajahnya karena rasa malu yang teramat tebal seolah menempeli mukanya.


Tubuhnya yang putih mulus diperiksanya. Ada banyak noda merah bekas cumb*an sang pengacaranya.

__ADS_1


Mereka tadi bercinta hingga beberapa kali. Dan Naura setengah sadar melakukan itu.


Jatuh seketika airmatanya karena malu pada Tuhannya. Ia telah berzina dengan pria yang bukan muhrimnya.


Naura membuka keran shower kamar mandi. Keramasi kepalanya dengan shampoo yang tersedia di kotaknya.


Memohon ampun kepada Allah didalam hati atas segala dosa dan kekhilafannya dengan berlinang airmata.


Shampoo membuat matanya terasa pedih hingga merah. Semakin membuat Naura merasakan rasa bersalah yang teramat besar. Hingga tanpa sadar isak tangisannya membesar membuat Affan juga mendengar.


"Nau...Naura! Naura!!! Naura..... buka Nau!"


Tangisan Naura membuat Affan kalut. Khawatir jika Naura melakukan hal-hal yang ia takutkan.


"Nau... Jangan takut, Nau! Mari kita selesaikan masalah kita secara dewasa! Naura, please!"


"Hik hik hiks.....!"


Naura membuka pintu dengan malu-malu. Rambut dan tubuhnya masih basah karena ia keramas dan niat mandi junub.


Wajahnya tertunduk dalam sekali. Sangat malu hingga tak berani memandang wajah Affan.


Airmata Naura makin deras mengalir. Malu pada Affan juga dirinya sendiri. Terlebih ia sangat malu pada Tuhannya, Allah Ta'ala. Malu sekali pada kelakuan binalnya yang sampai membuat Affandi melakukan kesalahan juga.


"Ma af kan...aku, mas! Aku ini....perempuan gak bener. Hik hik hiks....Maaf!...."


Naura menutupi wajahnya lagi. Ia merasa sangat berdosa. Apalagi mengingat-ngingat tingkahnya yang tadi seperti kupu-kupu malam yang menarik perhatian kumbang ditengah taman yang gersang tanpa bunga.


"Bukan salahmu sepenuhnya Nau! Aku juga..... Tapi itu karena pengaruh obat yang Ismail berikan padamu lewat minuman pesananmu, Naura!"


"Tapi.... Aku tidak melihat ia menuangkan sesuatu kesana. Dan...makanan juga minuman itu dibawa langsung oleh waitresnya, mas!"


"Ya. Waitresnya sekongkol Nau! Ismail telah memberinya uang 150 ribu padanya untuk menaruhnya diminumanmu!"


"Hik hik hiks....!"


Affandi mengusap-usap bahu Naura dengan maksud menenangkannya.

__ADS_1


"Nau! Jika kamu.....merasa kelakuan kita tadi tidak baik,... aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Kita tobat nasuha. Lalu kita....melangsungkan ijab kabul. Itu lebih....."


Affandi tak melanjutkan ucapannya. Ia menunggu respon Naura yang masih menutup wajahnya berkali-kali dengan kedua telapak tangannya.


"Aku....aku....wanita hina ya mas?! Hik hik hiks!"


"Tidak Nau...! Tidak sama sekali. Yang tadi itu bukan dirimu yang sesungguhnya. Aku tahu, Nau! Jangan khawatir! Aku tidak akan pernah memandang rendah kamu. Tidak sama sekali! Justru aku kagum pada dirimu. Kamu menjunjung tinggi dirimu! Kamu perempuan yang sangat baik! Kamu selalu menjaga harkat dan martabatmu dengan begitu gigihnya, meskipun statusmu bukan lagi seorang gadis!"


"Aku malu mas! Maluuuuu sekali!"


"Mungkin ini cara Allah mendekatkanmu denganku Nau!"


"Tidak. Ini murni kesalahan kita. Kita tidak bisa menahan nafs*. Terlebih ini adalah kesalahanku. Aku yang berdosa besar, mas! Hu huuuhuuu...."


Naura kembali menangis tersedu-sedu.


"Kamu tidak punya keinginan memperbaiki kesalahan ini?"


"Ca caranya, mas?"


"Kita menikah. Semoga Allah tidak semakin murka dengan menghalalkan hubungan kits secepatnya."


"Mas.....! Mas tidak jijik sama aku?"


"Kenapa harus jijik? Sudah kukatakan berapa kali, aku....mencintaimu, Naura! Aku jatuh cinta padamu. Dan serius ingin menjadi suamimu! Bukan karena hanya melihat rupa serta fisikmu saja. Tapi aku, melihatmu dari hatiku. Hatiku telah menetapkan dirimu sebagai pilihanku."


Naura kini memberanikan menatap netra Affandi yang terlihat teduh itu.


"Mas Affan tidak khawatir kalau nanti kawan-kawan mas kasak-kusuk menggosipkan mas yang beristrikan seorang mantan napi? Nama baik mas akan tercemar, mas! Belum lagi nanti keluarga besar mas! Papa Mama.... andai tahu diriku yang sebenarnya!"


"Aku sudah ceritakan semuanya tentang dirimu pada mereka. Bahkan sebelum kamu memutuskan untuk menolakku tempo hari, mereka telah tahu, Naura! Dan sampai Mama memintamu untuk tidak berhenti bekerja karena merasa tak enak hati telah menolak pernyataan cintaku. Mama Papa sudah tahu tentang kasusmu jauh-jauh hari."


Naura menelan salivanya. Malunya semakin bertambah. Apalagi setelah kedua orangtua Affan mengetahui jati dirinya, tapi masih begitu sombongnya menolak cinta putra kesayangan mereka. Bagaimana perasaan mereka?


Naura menutup kembali wajahnya. Malu sekali.


Betapa hebatnya kedua orangtua Affan menurutnya. Masih bisa menerimanya bahkan mencoba menahan dirinya dengan alasan tidak mencampur adukkan masalah pekerjaan dan perasaan.

__ADS_1


Naura semakin malu. Orangtua lain jikalau tahu anaknya diperlakukan seperti Affandi yang ditolak cintanya, pasti akan mencak-mencak tidak terima. Bukan malah tetap menerimanya sebagai karyawan ditoko bunga mereka. Justru mereka menahan untuk tidak pergi dan tetap tinggal ditoko bunga itu. Salut hati Naura!


...........BERSAMBUNG...........


__ADS_2