
"Naura dirawat di RSKL?"
Affandi sangat terkejut mendapat kabar berita dari Kalapas tempat Naura ditahan.
Ia segera menancap gas kendaraan roda empatnya menyusuri jalanan raya kota kelahiran Naura menuju Ibukota.
Hatinya terasa sakit bagaikan tertusuk duri. Entah mengapa!
Mendengar Naura terluka, dirinya seperti orang yang terluka juga. Padahal... tidak ada hubungan spesial diantara mereka. Bahkan hingga detik ini, dia dan Naura hanya sebatas Kuasa Hukum dan Klien saja. Tidak ada yang istimewa.
Mungkinkah karena rasa cinta dihatinya yang semakin ia pupuk berharap pohon cintanya 'kan berbunga dan bisa berbuah.
Hhhh..... Hanya helaan pendek dan panjang saja yang bisa ia lakukan.
Juga doa dihati kecilnya mohon Allah meringankan beban penderitaan Naura.
Affandi khawatir Naura melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan seperti Ayuni.
Tapi.... Mengingat kegigihan serta ketabahan dan ketegaran Naura selama ini, Affandi berharap kesabaran Naura tidak putus sampai disini.
Tuhan tidak mungkin menguji ummat-Nya melebihi kemampuan kapasitasnya. Hanya dibutuhkan kesabaran luar biasa dalam hal menerima dan menjalani ujian itu.
Selebihnya, waktu jualah yang mampu mengobati luka hati dan kepedihan hidup yang dijalani.
Dengan tetap berdoa dan berusaha yang terbaik tentunya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hingga masalah terlewati dan kebahagiaan 'kan kita jelang.
Itu harapan semua orang. Meskipun pada kenyataan setiap orang memiliki cara dan pemikiran yang berbeda dalam menangani permasalahannya sendiri-sendiri.
Semua tergantung pribadi masing-masing.
............
"Nau!"
Naura menatap wajah cemas Affandi.
__ADS_1
Pria itu langsung menubruk tubuhnya dan memeluk Naura dengan menahan isak tangisnya.
"Jangan lakukan hal-hal yang dibenci Tuhan, Naura!" gumamnya pelan terdengar ditelinga kiri Naura.
"Maaf, mas! Aku sama sekali tidak melakukan tindakan bodoh lagi. Ini...., ini murni pendarahan saja!"
Affandi merah wajah dan matanya. Terlihat butiran bening dikedua sudut netranya.
"Janji padaku, jangan untuk tidak berbuat hal-hal yang sangat dibenci Allah! Janji? Janji ya?"
Tangannya memegang kedua belah pipi Naura. Bahkan wajah tampannya didekatkan kearah wajah Naura yang pucat pasi.
"Ada aku, Naura! Ada aku! Aku berjanji akan menjagamu. Semampuku, sekuatku. Aku akan berusaha setia disampingku! Izinkan aku untuk selalu bersamamu. Menjagamu! Ya?"
Naura tergugu melihat butiran-butiran bening itu meluncur dipipi Affandi.
Ia ikut terhanyut dan bola matanya yang sedari tadi berkaca-kaca langsung pecah seketika.
"Kenapa kamu cengeng sekali, mas? Kenapa kamu begitu melankolis dengan kisah hidupku yang tragis? Kenapa?
Affandi lagi-lagi memeluk Naura.
"Mari kita saling berbagi kesedihan itu. Mari kita lewati semuanya berdua. Kau dan aku. Naura dan Affandi. Percayalah pada kebesaran Allah! Kita bisa mengatasinya bersama, Naura!
Kau dan aku..... Kita hadapi semua masalah yang ada didepan kita! Mau ya?"
Naura menangis sesegukan.
Betapa terharunya perkataan Naura menyentuh hati serta jiwanya.
Affandi. Pria tampan yang seumuran dengannya itu mengucapkan banyak kata sederhana tapi begitu luar biasa menggetarkan kalbunya.
"Aku.... tidak punya apa-apa, mas Affan! Jangan buat aku melayang dengan pernyataanmu itu! Jangan bikin aku menjadi wanita paling beruntung karena kamu memberiku banyak cinta dan kasih sayang, jika pada akhirnya itu semua hanyalah angin lewat dan juga fatamorgana padang pasir yang menyilaukan saja. Tapi setelah itu, semua hilang entah kemana! Jangan!"
"Naura! Aku mengerti kamu takut! Aku juga faham kamu tak percaya aku! Tapi aku hanya ingin kamu tahu.... Aku ingin bersamamu selalu. Ingin kita menjadi satu pasangan yang solid. Pasangan yang dihalalkan Tuhan dengan semua keberkahan-Nya! Itu saja!"
__ADS_1
"Huaaa.....mas! Hik hik hiks...."
"Kamu telah tahu siapa aku. Jati diriku. Dan aku juga tahu dirimu. Semua tentang kisah hidupmu bahkan dimasa lalu! Maukah kamu berbagi hidup denganku? Karena aku ingin berbagi suka duka denganmu!"
Kedua orang yang telah terkena cupid dewa asmara itu hanya bisa menangis bersama. Dengan kepala saling beradu dan kedua jemari saling berpegangan.
"Naura!.... Jangan kaget kalau aku katakan sesuatu hal yang menyakitkan dan menyedihkan untukmu!... Karena, aku tidak ingin menutupi kenyataan ini lebih lama lagi darimu!"
"Be berita sedih apa, mas?" gugup Naura menanggapinya.
"Mbak Ayuni,..."
"Kenapa mbak Ayuni? Ada apa dengan mbak Yu ku itu, mas?"
"Mbak Ayuni....telah..... meninggal dunia, Nau!"
"Apa???? Kamu pasti bohong khan mas? Kamu pasti sedang bercanda khan?"
"Maaf, Naura! Maafkan aku.... memberimu kabar sangat buruk!"
"Hik hik hiks, mas....! Katakan kalau kamu bohong! Kamu pasti bohong! Iya khan? Iya khan?"
Naura menangis histeris. Suara tangisannya menyayat hati. Membuat Affandi segera memeluknya untuk menyalurkan semangatnya kepada Naura.
"Embaaaaaaaak!!!! Mbak Yuuuuuun.....!!!! Kenapa kamu meninggalkanku mbaaaaaak!!!????!"
"Naura! Tabahkan hatimu, Naura!"
"Ya Tuhaaaaan.....!! Kenapa Kau mengujiku dengan cobaan yang maha dahsyat iniiiiiiiii!!!???? Tuhanku Yang Maha Pengasiiiiiih, Tuhanku Yang Maha Penyayaaaaang.... Tolonglah hamba-Mu yang penuh dosa iniiiiiiii!!!! Huaaaaaa..... Aku tidak kuat lagi, aku mohon....aku tidak sanggup menanggung beban derita iniiiiiii!!!!
Tuhaaaaaan!!! Tolong angkat semua beban deritaku ya Allah ya Tuhankuuuuuu!!!!!"
Affandi ikut bercucuran airmata. Hanya bisa mengamini doa-doa Naura agar Tuhan mendengar semua doanya.
Tubuh Naura yang basah dan dingin membuatnya seketika terkulai lemas setelah mengucapkan kalimat istighfar.
__ADS_1
............BERSAMBUNG..............