
Prang.
Affandi terkejut melihat gelas kaca yang ada dimeja kerjanya tiba-tiba jatuh berantakan dilantai.
Mungkin tersenggol berkas-berkas map kerjanya yang menumpuk lumayan banyak disebelahnya.
Hari ini firma tempatnya tergabung mendapatkan kasus kakap.
Seorang petinggi negara tersandung kasus pembunuhan dan juga diduga melakukan rasuah oleh pemerintah sesama rekanan bisnisnya yang juga termasuk orang penting dalam tatanan negara.
Ini kasus yang cukup berat.
Bahkan sang pejabat itu sampai menyewa jasa lima belas pengacara di firma hukum tempat Affandi bekerja.
Kepala lawyer menunjuk Affandi salah satunya. Karena kinerja Affan cukup membanggakan firma mereka meskipun ia masih dianggap bau kencur dibidang hukum karena ia paling junior difirma itu.
Makanya hari ini kerjaan Affan lumayan padat. Tadi pagi ia meeting bersama ke-empat belas rekannya yang lain.
Setelah itu ia juga harus mempelajari serius berkas-berkas mengenai kasus yang kini ia tangani bersama itu.
Hingga ia tak sempat istirahat dan makan siang dengan santai. Kecuali melipir beberapa puluh menit untuk ibadah dzuhur saja.
Sebenarnya fikirannya terbagi juga pada Naura. Pada janjinya untuk menemui wanita pujaannya itu dirumahnya.
Tapi tadi Affan sempat memberitahukan Naura kalau hari ini ia sibuk sekali. Harapannya semoga Naura bisa mengerti dan memahami pekerjaannya sebagai seorang yang tak bisa diprediksi jam kerjanya.
Affan meminta tolong seorang office boy membantunya membereskan pecahan beling dibawah meja kerjanya.
"Maaf ya mas Parto! Saya jadi merintah, nambah kerjaanmu, mas!"
"Ga papa, pak Affan! Hehehe... ini sudah jadi bagian tugas saya!"
Affan tersenyum malu pada OB itu. Diselipkannya uang lembar dua puluh ribu ditangan pria yang usianya lebih tua sekitar 5-6 tahun itu darinya.
"Untuk beli nasi Padang makan siang!"
__ADS_1
"Terimakasih pak!"
Ia pun kembali sibuk dan tenggelam dengan pekerjaannya.
Bahkan hingga Adzan Ashar. Affan hanya keluar sebentar. Lalu kembali lagi fokus dengan tablet dan juga laptopnya.
Jemari kanannya juga sibuk mencatat dibuku Jurnalnya.
Affan benar-benar sibuk hingga malam menjelang.
...........
Sementara Naura, masih mengobrol dengan Ismail diteras rumah teman kecilnya itu hingga adzan Ashar berkumandang.
Ia baru tersadar kalau dirinya belum masuk kedalam rumah orangtuanya sendiri.
"Aku pulang dulu, Il! Ibuk sepertinya sebentar lagi pulang dari ladang."
"Iya, Nau! Nanti malam kita sambung lagi cerita-ceritanya!" jawab Ismail semangat 45.
"InshaaAllah!"
Sosok yang dicari ternyata baru saja tiba, dan terbelalak mata belonya menatap Naura yang ada dihadapannya.
"Anakku, Nauraaaa!"
Kedua ibu dan anak itu berangkulan. Menangis keras saling berpelukan.
Tak Naura hiraukan tubuh basah peluh ibunya yang baru pulang dari ladang. Hatinya dilanda kegalauan yang parah dan ingin sekali berbagi kisah dengan induk semangnya itu.
Mereka menangis hingga tersungkur dijalan teras rumah. Saling memeluk erat tubuh masing-masing guna mencairkan kebekuan hati satu sama lain selama ini.
Ibuk mengusap wajah Naura yang basah airmata.
Anak gadisnya yang dulu begitu imut penuh pesona itu kini telah berubah menjadi wanita matang nan dewasa dan jelita.
__ADS_1
Ia memeluk tubuh Naura sekali lagi. Sedih kembali menyelimuti. Mengingat putri sulungnya yang kini telah tiada.
Ayuni Kartika, satu lagi belahan jiwanya telah berpulang ke Rahmatullah.
Entah karena kemiskinan yang sudah kadung merajai hidupnya, ataukah ada kesalahan dan dosa dimasa lalunya, Ibu hanya menangis sedih. Pasrah pada ketentuan Gusti Allah.
Tangannya yang sudah mulai peyot dan keriput itu mendekap pinggang Naura. Mereka bangkit dan berjalan masuk kedalam rumah yang hanya dikunci dengan pengait paku dengan tali seadanya dari atasnya saja.
"Ibuk? Jadi rumah ini sama sekali tidak dikunci?"
"Buat apa dikunci! Wong didalam rumah ini tak ada barang berharga sama sekali!" tutur Ibunya membuat Naura gemas jadinya.
"Ya Tuhaan! Nau dari tadi menunggu ibuk dirumahnya Ismail! Nau pikir rumah dalam keadaan dikunci!"
Ibunya menciumi pipi putrinya yang kini tinggal semata wayang saja.
Airmatanya kembali berjatuhan. Antara senang, sedih, juga menyesal bercampur menjadi satu.
Senang karena Naura sudah kembali kepadanya. Sedih karena kehidupan susah dan penuh derita bertubi-tubi selalu menimpa keluarganya. Juga menyesal karena tak pernah bisa membahagiakan putri-putrinya sedari mereka kecil.
Ingatannya pada tangisan Ayuni kecil masih berbekas dan selalu terbayang dipelupuk matanya.
Saat itu Ayuni menangis, karena iri melihat Naura kecil dengan pakaian barunya. Sedangkan ia hanya mendapatkan pakaian bekas yang bapak beli dipasar lowak.
"Naura bajunya baru! Sedangkan aku baju bekas orang!" protes Ayuni kala itu.
Ayuni saat itu sudah berumur 13 tahun, sedangkan Naura baru berumur 5 tahun saja. Makanya Naura tidak ingat peristiwa itu.
Ibuk kembali memeluk tubuh Naura sembari menangis pilu.
"Semoga Allah memberimu kebahagiaan selalu, anakku!" katanya dengan isak tangis yang menyayat hati.
Tentu saja Naura semakin meratap. Menangisi nasib hidup keluarga mereka yang tak kunjung membaik perekonomiannya.
Keduanya terus rendevous mengenang kepahitan hidupnya.
__ADS_1
Dalam hati mereka, terselip doa yang tulus pada Allah Ta'ala. Semoga esok hari, bahagia kan menyapa. Membawa mereka dalam senyum dan tawa. Bukan lagi tangis dan airmata.
..........BERSAMBUNG...........