
Ismail berhasil mengubah kesedihan Naura menjadi keceriaan kembali. Setiap hari ia membawa Naura pergi. Walaupun hanya sekedar berkeliling kampung dari kebun ke sawah, dari sawah ke alun-alun kota.
Dan Ismail bahagia sekali, melihat tawa Naura yang kembali menggema.
Seperti ketika mereka masih kanak-kanak. Tawa canda, bahkan keributan-keributan kecil kembali hadir diantara mereka.
Taman bunga Ismail yang dulu gundul dan gersang, kini kembali tumbuh subur bunga-binga cintanya tersiram oleh keceriaan Naura.
Ismail tahu, Naura milik orang lain. Naura milik suaminya. Dan Ismail tidak berniat mengusik itu semua pada Naura.
Ia hanya ingin, Naura bahagia. Dan ingin sekali, Naura tetap disampingnya. Meskipun dia hanyalah sebagai teman masa kecilnya Naura saja. Begitulah cintanya.
Cinta yang Agung dan Luhur.
Tapi kadang cinta bisa berubah menjadi liar dan juga ganas. Pesona Naura benar-benar membutakan mata dan hatinya.
Terlebih...., siang itu suaminya datang dan berniat membawa Naura kembali ke Ibukota.
Terang saja hati Ismail kebat-kebit belingsatan dibuatnya. Ia ketakutan sekali, tak lagi bisa melihat Naura lagi.
Berlarian disepanjang pematang, tak tolih telapak kakinya melepuh karena tak beralaskan sandal butut miliknya. Ismail mengejar Naura yang sudah duduk manis didalam angkutan umum yang membawanya kembali ke Ibukota.
Hanya lelehan airmata, saksi bisunya. Dan juga rintihan hatinya yang kembali terluka ditinggal kekasih hati.
Kalut dan kembali kepada dirinya yang terpuruk dan terhempas oleh cinta. Ismail hanya menangis, meraung bergelindingan dipematang sawah yang baru saja ditandur.
Seorang kakek tua mentertawainya karena sedari tadi menyaksikan dirinya yang benar-benar telah dibutakan oleh cinta.
"Dasar bocah gemblung! Kau menangis meraung, tak kan bisa merubah semuanya kembali seperti semula!"
Ismail tak menghiraukan ocehan kakek tua yang tertawa-tawa melihat tingkah gilanya itu.
__ADS_1
Lumpur sawah membuatnya terlihat semakin mirip orang gila. Hingga sikakek itu menyebornya dengan seember air membuatnya termangu dan tersadar.
"Ayo, ikut kerumahku! Aku akan membuatmu melupakan sakit hatimu!"
Ismail menurut. Bajunya lepek basah. Bahkan hingga tembus ke dalemannya.
Rumah si kakek tua itu gubug bambu. Tapi terlihat begitu kokoh dan seolah masih baru. Mungkin karena permukaan bambunya yang rapi dipernis. Membuatnya mengkilap jika kena pantulan sinar matahari.
"Kakek tinggal sendirian disini?" tanyanya malu-malu.
"Iya. Baru empat bulan lalu istriku meninggal dunia!"
"Maaf kek! Kalau pertanyaanku membuat kakek jadi sedih!"
"Tidak apa-apa. Toh semua makhluk hidup pasti akan mati. Termasuk aku dan juga dirimu. Semuanya hanya soal waktu saja!"
Ismail menunduk. Perkataan kakek begitu bijaksana terdengar ditelinganya.
"Aku frustasi kek! Pujaan hatiku kembali pergi meninggalkanku! Aku sakit hatiiiii, sakiiiit sekali rasanya. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata!"
"Lalu kau ingin buat pujaan hatimu bagaimana?"
"Hik hik hiks.....andaikan bisa, aku ingin dia kembali padaku. Karena hanya aku yang bisa membuatnya tertawa bahagia!!!!" Ismail kembali berteriak lalu kemudian menangis histeris.
Untungnya saung kakek tua itu berada ditengah-tengah kebun luas dan hanya berdiri sendiri tanpa ada tetangga kiri kanan. Sehingga lengkingan suara tangisnya tak mengganggu orang lain selain sang kakek penolongnya.
"Dia meninggalkanmu dengan pria lain?"
"Iyaaaaa! Huaaahaaa hik hik hiks!!!"
"Baiklah! Lalu, sekarang maumu bagaimana? Kau ingin melampiaskan dendammu dengan cara seperti apa?"
__ADS_1
Ismail termangu mendengar pertanyaan kakek tua yang begitu besar empatinya padanya itu.
"Maksud.....kakek?'
"Jangan panggil aku Mbah Kliwon, jika tidak bisa membuat wanita itu mengalami kesakitan...seperti yang kau rasakan!"
"Benarkah begitu, Kek? Eh Mbah?...."
Mbak Kliwon menepuk dadanya. Terlihat pongah, tapi sepertinya kesaktiannya tak bisa dipandang sebelah mata.
Ia mengambil sesuatu dari balik sakunya. Sebuah kantung kecil berwarna hitam legam, yang entah berisi apa. Ismail tak tahu pasti.
"Dibuat seperti apa Mbah?" tanyanya penasaran.
"Siapa nama perempuan itu, lengkap dengan bintinya?!"
Ismail mengucapkan nama Naura dan nama bapaknya pada Mbah Kliwon.
"Malam ini, dan malam-malam berikutnya..... perempuan itu tidak akan bisa merasakan lagi yang namanya kebahagiaan! Dia akan merasakan kesakitan luar biasa. Bahkan hingga batinnya juga!"
"Jangan buat dia gila, Mbah! Jangan! Aku hanya ingin membuat dia kembali ke kampung ini dan menyadari, betapa aku adalah pria yang sebenarnya yang paling tepat untuknya!"
"Jangan panggil aku Mbah Kliwon, jika kesaktianku tidak bisa menuruti keinginanmu, bocah gembung!"
"Ma...maaf mbah! Bukan...maksud saya, mengatur mbah! Maafkan saya!!!"
Sejak saat itulah, Ismail berubah. Baik perangai maupun jalan pemikirannya.
Ia menjadi pengikut mbah Kliwon yang setia. Seorang dukun penganut aliran ilmu putih, kadang ilmu hitam.
Karena setiap jampi-jampi dan juga jangjawokan yang ia lafadkan, ada juga menyebut Tuhan sebagai penentunya. Meski lebih sering memanggil para arwah leluhur ataupun setan-setan fenomenal yang terkenal kesaktian dan keganasannya dikampungnya tinggal.
__ADS_1
.............BERSAMBUNG.............