
Malam ini terasa sepi. Tiada seorangpun diantara teman satu selnya yang berkicau seperti biasa.
Biasanya mereka terdengar bernyanyi, bersenandung, bahkan kadang berteriak tertawa karena ada salah seorang yang bercerita lucu gila.
Kini semua hanya diam dengan fikirannya masing-masing. Masih menyimpan kenangan tak menyenangkan peristiwa keributan tadi siang.
Naura, seperti biasa. Menggelosorkan tubuhnya kedinding tembok sel tahanannya. Menghadap 'kawan tidur'nya yang dingin dan putih pucat. Juga beberapa tulisan tak jelas maksud dan tujuan sipenggurat selain kata-kata gabut kesepian.
Beginilah. Hidup dipenjara. Waktu pun terasa lama. Detik juga seolah lambat bergerak dari putarannya. Sangat membosankan.
Naura kembali mengingat masa remajanya. Yang manis bak gulali warna-warni didepan pasar rakyat perkampungannya.
Usia 18 tahun, ia telah berhasil menamatkan sekolah menengah atasnya. Lalu ikut mbak Ayuni tinggal bersama mereka dikampung sebelah.
Naura muda, begitu mempesona. Cantik berseri, bak bunga mawar merah yang baru merekah. Harumnya begitu menggoda. Apalagi rupanya yang cantik jelita.
Banyak kumbang dan kupu-kupu berdatangan walau hanya sekedar melintas bahkan hampir mempersuntingnya.
Tapi kenyataannya, hidupnya tak secantik rupa nya. Setelah ia ikut dengan kakaknya, mbak Ayuni Kartika, justru disinilah awal kehidupan suram mulai menggelayuti dirinya.
Mulanya Naura sama sekali tak menyangka. Jika Datuk Irhamsyah ternyata ada rasa dengannya. Bahkan seringnya ia membelikan barang sebagai hadiah kepadanya karena bersedia tinggal dan menemani istri serta anaknya.
Kakak iparnya yang kini tidak lagi menjabat sebagai Kepala Desa ternyata masih belum insaf dari perilaku buaya daratnya. Datuk Irhamsyah juga sangat ingin menikahi dirinya menjadi istri barunya, entah yang keberapa.
Padahal ia sudah memiliki 3 orang istri. Belum beberapa orang wanita lain lagi yang telah mundur karena tak kuat hidup dimadu.
Bahkan Ayuni Kartika mbaknya Naura sendiri sebenarnya adalah istri yang ke-empat. Dengan mbaknya, pernikahan mereka dikaruniai satu orang anak perempuan yang kini berusia 3 tahun bernama Lyora.
Usia 18 tahun, adalah usia yang menyedihkan bagi Naura.
Kakaknya tak mampu melindunginya. Dengan alasan 'balas budi', Naura dipaksa Bapak Ibuknya bahkan juga mbaknya untuk menerima lamaran Datuk Irhamsyah.
Entah bagaimana pola fikir mereka. Bisa-bisanya kedua orangtuanya menyuruhnya menerima lamaran yang notabene adalah kakak iparnya sendiri. Bahkan mbak Ayuni juga memintanya menuruti kemauan bapak ibuk agar Naura bersedia menjadi madu kakaknya sendiri.
Gila ini namanya! gusar jiwa Naura menerima perlakuan orang-orang yang mereka sayangi.
"Kau ini waras apa sinting, mbak? Mana mungkin aku menerima lamaran suamimu? Sedangkan aku adalah adik kandungmu sendiri."
"Terimalah lamaran Datuk, Naura!"
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan pernah menerima lamarannya! Apalagi sampai hati menikah dengannya! Lihat dirimu mbak! Kau ini sampai kurus kering seperti ini karena beban fikiran mbatinmu karena tingkah polah suamimu yang doyan perempuan!"
"Naura! Tidakkah kamu mengingat jasa-jasa Datuk padamu? Pada kedua orangtua kita?"
"Jasa apa?"
"Jasa apa? Apa kau tidak bisa melihat, tidak bisa menilai....darimana biaya hidup kalian selama ini? Biaya sekolah SMP, SMUmu? Darimana kalau bukan dari Datuk setiap bulannya!"
"Eling, Mbak...eling! Mana mungkin aku tega menjadi madumu sendiri? Nyebut mbak, istighfar! Gusti Allah akan murka jika kita saudara sedarah menjadi istri dari suami yang sama!"
"Selama aku ikhlas dan rela dimadu, pernikahan itu akan sah-sah saja, Naura!"
"Tidak, mbak! Pernikahan seperti itu diharamkan. Buka Al-Quran surat An-Nisa' ayat 23-24. Baca lagi mbak Qur'an mu selepas shalat Maghribmu nanti! Apa kau lupa ajaran agama kita?"
"Tapi poligami disahkan, adikku! Boleh dilakukan jika mampu."
"Ya. Boleh dilakukan jika mampu! Apakah suamimu mampu berbuat adil, dengan seadil-adilnya? Dan lagi, bukan dengan perempuan yang sedarah, Mbak!"
"Aku menerimamu sebagai maduku, Naura! Justru itu akan menjadi lebih baik!"
"Apa yang lebih baik? Dosa dan siksa Tuhan pastinya yang kita dapat!"
Wanita mana yang ingin hidupnya diduakan. Wanita mana yang sudi dipoligami. Wanita mana yang rela dimadu. Tidak ada.
Kalaupun ada, dia telah memiliki hati luas seluas samudera pastinya dengan berbagai alasan serta kepasrahannya pada Tuhan. Bukan dengan perjalanan hidup yang mudah. Semua berproses.
Naura berinisiatif pulang kembali kekampung halamannya. Kumpul bersama bapak juga ibuknya. Itu adalah pilihannya.
Dan lagi, seorang Teman Tapi Mesranya yang juga tetangganya, masih lebih baik dibanding Datuk Irhamsyah situa bangka itu.
Ya. Naura memang sedang dekat dengan Ismail. Teman masa kecil yang selalu bersamanya itu menembaknya tepat dihari kelulusan sekolah menengah atasnya. Dan ia belum menjawab 'pernyataan cinta' Ismail karena terlanjur ikut mbaknya ke kampung lain.
Mereka memang satu sekolah, meski beda kelas dan jurusan. Naura anak Sosial sedang Ismail anak Fisika.
Ismail memang tergolong anak yang cerdas dan pintar. Beda dengan Naura yang otaknya standar saja.
Ismail sangat suka menghitung angka, sedang Naura justru kebalikannya.
"Uang khan terdiri dari nominal angka!" ledek Ismail pada suatu waktu.
"Kalau uang beda lagi, Il! Semua orang suka uang, apalagi para perempuan! Uang bisa untuk merubah penampilan. Kulitmu yang hitam pun bisa berubah putih karena uang!" timpal Naura saat itu, membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ya betul. Membeli pemutih pakaian perlu uang ya Naura!"
"Masa' iya, aku harus memakai pemutih pakaian untuk kulit mukaku? Hahaha...!"
"Sama-sama pemutih, toh? Hahaha...dasar kau ini, Ismail bin Mail!"
Hhhh..... Naura rindu Ismail.
Seminggu ditempat mbak Ayuni, Naura selalu ditatap dengan tatapan mesum sang kakak ipar. Belum lagi, iya harus mengunci kamarnya dengan kunci double slot agar si Datuk Maringgi itu tidak seenaknya masuk memakai anak kunci duplikatnya.
Alhasil keputusannya kembali ke rumah adalah pilihan yang tepat.
"Tidak! Kamu tidak boleh pulang! Kamu harus membayar semua kebaikanku dengan bekerja dikantor Desa! Kau tahu Naira? Bapak Ibuk sudah sepakat bahkan, untuk kau kunikahi mengingat utang-utang keluarga kalian kepadaku!"
Suara Datuk Irhamsyah menggelegar. Ia marah besar ketika Naura mengutarakan keinginannya untuk kembali pulang siang nanti disaat mereka tengah sarapan pagi.
"Hutang apalagi?" sela Naura. Nada bicaranya agak tinggi. Emosi jiwa mudanya cukup membuat keberanian diri melawan kekejaman suami mbaknya itu.
"Hutang-hutang biaya hidup kalian, tentu saja. Biaya sekolahmu, biaya pengobatan dan perawatan ibukmu ketika sakit! Bekerja seumur hidup pun, kau tak kan sanggup menggantinya, Naura!"
"Berapa total hutang keluargaku?!?" kata Naura menantang Datuk Irhamsyah. Kontan saja pria bangkotan itu tergelak dengan suara bariton-nya yang terdengar sangat menyebalkan bagi Naura.
"Kau sombong sekali, cantik! Tapi aku makin suka dan tertantang! Hahaha....!"
Naura diringkus para ajudan Datuk. Ia dimasukkan kekamar kosong dilantai 2 rumah yang ditempati mbaknya.
Datuk memang menempati para istrinya dirumah-rumah mewah miliknya yang ada beberapa. Maklum, dia memang orang yang paling kaya dan cukup terpandang dikampungnya. Bahkan ketika menikahi mbak Ayuni pun, pria itu statusnya masih sebagai Kepala Desa.
Hartanya semakin bertumpuk. Entah apakah dari hasil korupsi juga. Atau memang harta warisan leluhurnya yang banyak dan selalu beranak pinak. Naura tak peduli.
Tapi yang Naura benci adalah sikap dan sifatnya yang membuat mbaknya tersiksa jiwa raga. Kemarukannya pada wanita dan juga kedoyanannya berpoligami, meski hasilnya kawin cerai jikalau sang istri atau dia tak bisa menerima keadaan.
Sejak saat itu, Naura dikurung dalam kamar. Hanya kiriman makan saja sehari 3 kali yang bisa keluar masuk kamarnya.
"Naura..... Makanlah nduk! Datuk sudah mempersiapkan pernikahannya denganmu. Dua hari lagi, kalian akan menikah!" kata mbak Ayuni dengan mata berkaca-kaca ketika ia mengantarkan makan malam kepada adiknya tercinta itu.
"Tidak!! Aku tidak mauuuuuu!!!!"
Tiba-tiba dua orang pria tinggi besar menarik tubuh mungil Ayuni hingga nyaris terbentur kayu kusen rumahnya. Dan pintu kamar tempat Naura disekap pun kembali digembok dari luar.
...........BERSAMBUNG............
__ADS_1