RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Me Time Naura Bersama Kemal Pasha


__ADS_3

"Mas Affan?"


"Kalian mau kemana?"


Naura menatap netra Affan yang terlihat sedih. Naura jadi terenyuh. Iba juga ia melihat Affan yang seperti itu.


"Maaf ya Fan! Ini privacy kami. Kau tak boleh mengganggu!"


"Naura sudah izin mama?" tanya Affandi padanya. Tak ia hiraukan ledekan Kemal yang mengganggu hati serta jiwanya.


"Sudah mas!"


"Mama mengizinkan?"


"Iya. Dengan catatan Naura tidak pulang lebih dari jam 7 malam!" jawab Naura membuat Affan mengernyitkan dahinya.


"Sampai jam 7 malam?"


"Kenapa memangnya?" Kemal menyela ucapan Affan.


"Maaf mas! Ada sesuatu yang harus kami bicarakan! Nau mohon izin mas Affan!"


Affan lemah, jika Naura sudah mengucapkan mohon. Alhasil hanya anggukan kepala saja tanda persetujuannya pada Naura.


"Terima kasih ya Mas! Nau tidak akan melewati batas jam pulang!"


"Iya!" jawabnya lesu.


Kemal tersenyum penuh kemenangan. Puas sekali ia menggoda pria bertitel Sarjana Hukum itu.


Dengan gaya pongah, Kemal membukakan pintu mobilnya untuk Naura. Tentu saja niatnya memancing keresahan hati Affan. Dan tingkah tengil nya berhasil.


Wajah Affan semakin datar. Pria itu masuk kedalam toko bunga mamanya tanpa menengok lagi ke arah Naura. Membuat Kemal tertawa ngakak.


"Haish! Bocilnya, pengacara itu! Hahahaha..."


"Mas! Jangan merendahkan mas Affandi mas! Mas Affandi tidak bocil. Beliau dewasa sekali! Bahkan menurut Nau, mas Affan lebih dewasa dari mas Kemal!"


"Dih? Kamu tuh ya? Sekarang bela dia! Mentang-mentang mamanya mendukung kamu untuk jadi istrinya!"


"Maaaas! Jangan bicara seperti itu mas! Malu aku! Aku ini bukan gadis remaja mas! Janda pula!"


"Tapi kamu antusias sekali ikuti permainan ini! Kamu sampai mohon-mohon sama aku untuk ikut memberinya surprise dihari ulang tahunnya bersekongkol dengan mama papanya!"


"Hehehe.... maaf mas Kemal! Aku suka sekali membuat orang senang. Apalagi jika ikut andil memberikan orang lain kebahagiaan. Mas Affan selalu menolongku! Dia orang yang sangat baik sekali!"


"Jadi aku tidak baik nih?"


"Bukan begitu mas! Mas Kemal juga orang yang sangat baik! Kalian orang-orang yang selalu baik padaku. Tapi kali ini, mas Affan sampai lupa hari ulang tahunnya. Dia sibuk sekali dipekerjaannya juga sibuk membantuku! Sampai lupa waktu. Lupa akan tanggal 4 September yang merupakan hari lahirnya!"


"Hm, begitu! Lalu, kamu tahu tanggal lahirku gak?"


"Maaf, mas....hehehehe... tanggal berapa mas lahir?"


"Haiiiiiiish! Yassalaaam! Berapa lama kau kenal aku, berapa lama kau kenal si Affan itu? Kenapa ulangtahunnya kamu ingat sedang ulang tahunku kamu malah tak ingat?"


Naura tersipu. Ia tertawa kecil seraya menghaturkan kata beribu maaf pada Kemal Pasha.


"Dengar ya Nau! Aku lahir tanggal 11 Mei. Sebelas Mei. Tolong dihafal! Ingat, ingat!"

__ADS_1


"Hahaha iya mas! Maafin Nau mas!"


Naura tertawa renyah sekali. Membuat Kemal jadi ikut tertawa.


"Ya sudah! Kita beli tart dulu atau kemana dulu ini?"


"Nau boleh minta tolong antar ke toko pakaian?"


"Mau beli kado baju buat si Affan?"


"Hehehe....! Naura rasa uang tabungan Nau hanya cukup untuk membeli sepotong dasi!"


"Dasi? Beneran mau beli dasi?"


"I iya. Memang kenapa mas? Jelek ya kalau Nau berikan dasi saja? Uang Nau tidak lebih dari 200 ribu. Nau pernah lihat, dasi yang merk nya biasa dipakai mas Affan harganya minimal 200 ribu! Apa....kurang bagus ya mas?"


"Tidak juga. Hanya saja, dasi itu... pertanda kamu ingin mengikat dia!"


"Maksud mas? Aku, mengikat mas Affan? Bukan begitu maksudnya, bukan...."


Kemal tersenyum melihat wajah Naura memerah karena malu. Akhirnya ia tak berani meneruskan ucapannya soal dasi.


Seperti keinginan Naura. Sebuah dasi dari house off Cuff seharga 200 ribu rupiah pas telah ia pilih sebagai hadiah ulang tahun sang pengacara yang begitu ia hormati.


Setelah dibungkus dengan sangat rapi oleh seorang kasir khusus, Naura dan Kemal melanjutkan tujuan mereka membeli kue tart atas permintaan mama Affandi.


Pukul 6 lewat, mereka telah menyelesaikan misi mereka.


"Kita ngopi dulu, Nau!"


"Langsung pulang aja ya mas kerumah mamanya mas Affan? Ga enak aku, ditunggu mereka. Maaf mas! Lagipula, kita bisa maghriban dirumah!"


"Iya kah mas? Ya sudah, sekarang kita cari musholla dulu!"


Mereka menunaikan sholat maghrib di basement lantai dasar mall, sebelum akhirnya memasuki coffe shop yang ada dilantai 1 mall tersebut.


Dua cangkir kopi latte dan dua buah donat berparut keju menemani obrolan santai mereka.


"Aku lega mendengar ibuk akan diajak pindah ke rumah mbak Ayuni untuk tinggal bersama Lyora, mas! Terima kasih banyak!"


"Ibumu sudah seperti ibuku juga! Lagipula aku khawatir jika ibu tetap tinggal bersebelahan dengan teman masa kecilmu yang gila itu!"


"Ismail tidak gila mas!"


"Memang tidak gila! Tapi pria tak punya otak!"


"Mas!"


"Kau seminggu saja tinggal bertetangga dengannya, kuyakin kau pasti jadi istrinya!"


Naura tersekat tenggorokannya. Ia diam. Bingung mau bilang apa.


"Dia terobsesi denganmu, Nau! Kau tahu? Setan-setan dirumahmu dulu itu kiriman dia salah satunya. Dan bukan hanya dia yang mengirim makhluk tak kasat mata itu! Madumu juga!"


"Tita?"


"Ya. Dia menginginkan rumahmu."


"Lalu Ismail? Untuk apa dia mengirimiku makhluk itu?"

__ADS_1


"Tentu saja ia inginkan dirimu pulang ke kampung agar bisa dia nikahi secepatnya!"


"Apa.... Ismail..masih menyimpan rasa padaku, mas?"


"Yassalaaam, Nau! Kamu sungguh tidak pernah memikirkan perasaan anak itu?"


"Bukan begitu, mas! Aku memang sangat dekat dengan Ismail sejak kecil! Banyak cerita dan kenangan dengannya yang tak bisa aku lupakan tentunya. Ismail anak yang baik! Tak pernah kurang ajar padaku sedikitpun. Hanya setelah kelulusan SMU, ia mengungkapkan rasa cintanya padaku, mas! Belum sempat kujawab, mbak Yun membawaku ikut pindah kerumahnya. Dan...."


Naura menghentikan ceritanya. Tak enak hatinya karena ceritanya menyangkut orangtua Kemal Pasha.


"Iya. Aku mengerti, Nau! Ismail mencintaimu sangat besar! Tapi salahnya dia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal untuk mendapatkanmu. Terlebih dia telah berkeluarga. Jahatnya ia mengusir istrinya sendiri tanpa diperbolehkan membawa serta anak mereka!"


Naura kaget mendengar cerita Kemal.


"Ismail cerita kalau istrinyalah yang kabur meninggalkan dirinya dan anak-anaknya, mas!"


"Hhh..... Itulah! Lelaki itu tak sepolos dan sebaik yang kau kenal dimasa kecilmu! Dia telah berubah menjadi manusia penghamba setan! Sejujurnya aku kasihan padanya.


Dia mencintaimu terlalu dalam. Padahal Tuhan Pengatur Segalanya, tak menginginkan takdirnya bersamamu. Hingga Tuhan memberinya jodoh seorang perempuan baik hati. Tapi dia tak memiliki rasa syukur sama sekali! Hhhh..... Dia melangkah kejalan yang salah. Dia memberi pupuk ke tanah gersang yang tak menghasilkan apa-apa! Dia malah mengabaikan tanaman buah yang subur.


Malah dengan tak punya pemikiran yang sehat, ia justru memotong pohon buah subur itu.


Kau faham maksudku, Nau?"


Naura mengangguk mengiyakan.


"Itu sebabnya, aku selalu was was jika kamu bersama anak itu! Bahkan aku tak ingin melihatmu kembali ke rumah dikampung halamanmu. Karena ada si Ismail itu! Dia benar-benar ingin menjeratmu, Nau!"


Naura menundukkan kepalanya. Antara percaya tak percaya pada ucapan Kemal. Tapi semua tidak pernah terfikirkan olehnya, kalau Ismail menjadi lelaki yang seperti itu.


"Mas, sudah mau jam setengah tujuh! Ayo kita pulang!"


"Ya sudah, ayo!"


"Terima kasih mas! Aku senang sekali bisa menjadi saudaramu mas! Kamu selalu menjagaku. Membantuku setiap kali aku kesusahan! Bahkan dulu ketika masih ada kak Fendy, mas juga yang menolongku disetiap saat."


"Hhh... Aku hanya kamu anggap saudara saja Nau? Meskipun ciuman pertamamu telah kucuri?"


"Mas, ish! Jangan bahas itu! Aku gak suka!"


"Hahahaha... kupikir kau lupa Nau!"


"Mana mungkin aku lupa! Tapi aku tidak suka ciuman pertamaku dicuri lelaki yang mempunyai kekasih!"


"Pria itu kini lajang, Nau! Tidak punya pasangan. Tidakkah kau ingin menjadi pasangan pria itu?"


"Tidak mas! Maaf,.... Aku lebih nyaman menjadi saudaramu mas! Mohon maafkan aku! Aku tidak ingin hubungan manis kita sebagai saudara menjadi hampa karena obrolan ini!"


"Hehehe....! Jangan takut, Nau! Aku tetap menyayangimu dan mencintaimu setulus hati. Aku senang. Kamu kini lebih tegas dalam menentukan sikap! Tak lagi lemah seperti dulu. Teruslah seperti itu. Katakan tidak jika kau memang tidak suka. Katakan ya jika kau ya memang suka!"


"Mas! Hik hik hiks.....terima kasih mas!"


Naura senang sekali. Kemal Pasha kini benar-benar saudara baginya.


Sebelum Kemal menyalakan mesin mobilnya, ia menyodorkan kotak tissue pada Naura. Senyumnya mengembang meskipun hatinya terasa kosong karena cinta Naura tidak untuknya.


Cinta sejati tak harus memiliki. Cinta sejati mendoakan kebahagiaan dan kebaikan orang yang dicinta.


...........BERSAMBUNG............

__ADS_1


__ADS_2