
"Bapaknya Naura meninggal dunia????"
"Saka ngendi wae sampeyan suwene iki, Ismail?" Ibuknya Ismail bertanya perihal anak bujangnya yang hampir sebulan tak pulang-pulang.
"Aku ing desa sebelah, Bu! Bapaknya Naura sudah meninggal 10 hari yang lalu, apa Naura juga pulang kesini?"
"Pulang. Tujuh hari Naura nungkuli tahlilan bapaknya! Kamu kemana saja selama ini?!"
"Naura dengan suaminya?"
"Sendiri. Dia tanyain kamu kemana!"
"Haish........ Aaaaarrrrgggh!!!!"
Brak.
Ismail terbangun dari tidurnya. Mimpinya tentang Naura selalu tentang Naura.
Dan itu adalah kemarahannya karena tidak ada mendampingi Naura disaat bapaknya tiada.
Padahal, itu adalah kesempatan terbaiknya bertemu Naura lagi. Apalagi, setelah dia mengisi jiwa dan raganya dengan ilmu-ilmu ghaib yang tak lazim dipelajari pada umumnya.
Hanya penyesalan panjang lewat lenguhannya kala itu. Meratapi dan menyesali kebodohannya sampai tak tahu kalau Naura pulang kampung lagi.
Ia juga merutuki mbah Kliwon yang katanya sakti mandraguna, tapi tidak tahu dan tidak mengabarinya kabar duka serta kabar pulangnya Naura.
Kini Ismail yang sekarang, duduk dipinggiran ranjang kayu yang mulai rapuh dipannya karena habis dimakan rinyuh.
Maklumlah, ranjang lama. Seusia rumah tangganya dengan Solihati.
Wanita itu sedang mendengkur dengan nyenyaknya dipojokan ranjang dengan perut ngabuyahyah tersingkap kaos atasannya. Anaknya yang bungsu tidur diantara mereka.
Ismail bangun dan berdiri. Mengambil handphonenya diatas nakas berwarna putih samping ranjang.
Pukul 01.32 menit.
Ia menarik nafasnya. Lalu melihat kembali profil Affandi di kontak What'App nya.
Tertulis online dibawah namanya.
Buru-buru Ismail menchatnya.
[Malam mas! Apa sudah ada kabar, kapan waktunya sidang kasus Naura?]
[Belum mas.
Jika sudah ada kabar, saya pasti langsung japri. Dan menjemput mas untuk ke Jakarta! Mohon doanya, moga kasus Naura cepat sidang ya!?]
[Iya. Saya tunggu kabar selanjutnya.]
Ismail menghela nafas.
Ia mengambil ceret berisi air putih lalu menuangkannya kedalam gelas beling yang ada disampingnya.
Glek glek glek....
Tandas seketika air diminumnya.
Ismail telah menyelesaikan puasa tiga hari tiga malamnya. Esok ia kembali berpuasa, tapi puasa mutih. Yakni puasa dengan hanya memakan yang putih putih saja.
Ia ingin sekali bertemu Naura. Sangat ingin melihat wajah pujaan hatinya.
Ismail lalu beranjak mendekat ke lemari kayu yang ada didepannya. Ada cermin setengah badannya terpantul disana.
Tangannya menyentuh kedua pipinya yang tirus dan kusam.
"Ck...." decaknya kesal melihat wajahnya sendiri.
Sengatan matahari setiap hari membuatnya seperti itik buruk rupa. Membuat nyalinya ciut hendak bertemu Naura.
Ia sangat ingin bertemu Naura, tapi langsung minder mengetahui keadaan dirinya.
__ADS_1
Enam tahun berstatus sebagai suami dari perempuan kampung yang kerjanya hanyalah ke sawah dan ke kebun, otomatis merubah total penampilannya.
Dulu, Naura sering meledeknya seperti artis Rudy Chysara atau almarhum Ryan Hidayat jika rambut gondrongnya ia biarkan terurai.
Hidung Ismail bangir dan alisnya tebal serta matanya yang tajam. Cukup banyak kaum hawa disekolahnya yang suka menggodanya jika jam istirahat tiba.
Bisa dibayangkan setampan apa dulu dirinya saat masih remaja.
Sayangnya, Ismail sangat minder karena sadar diri akan keadaan ekonomi keluarganya yang hanya petani miskin seperti Naura.
Untungnya, Naura yang cantik jelita dan lincah ceria selalu ada bersamanya. Hingga rasa kepercayaan dirinya perlahan tumbuh, seiring otaknya yang cerdas hingga bisa masuk kelas IPA ketika SMA.
Bahkan Ismail masih ingat, ketika SMP kelas 2. Mereka sampai dinobatkan sebagai Kartini dan Kartono sekolah. Karena mereka berdua menang sebagai perwakilan dari kelasnya saat itu.
Dan hingga kini, piala dan piagam kemenangan itu masih sering ia lihat dan ia peluk dengan erat sebagai kenang-kenangan masa mudanya yang indah bersama Naura.
................
"Kemal!"
Ayuni membukakan pintu setelah melihat sesosok tubuh yang dirindukannya selama ia pulang kembali ke kampung berdiri dibalik pintu rumah besarnya.
Kemal masuk setelah mencium punggung lengan ibu tirinya itu.
"Bajunya koq basah?" tanya Ayuni seraya menepuk-nepuk punggung anak tirinya berusaha mencari perhatian.
Kemal yang merasakan ketidak-nyamanan segera menepiskan jemari Ayuni dari bahunya tanpa bicara.
"Katanya bapak kolaps?" tanyanya kemudian.
"Iya."
Kemal lalu berjalan menuju tangga. Menyusuri anak-anak tangga satu persatu diikuti Ayuni dari belakang.
"Tidak dibawa kerumah sakit?"
"Kenapa? Bukannya dirumah sakit lebih ada yang merawatnya, Mbak?"
"Hhhhhh..... Kemal tahu khan, kalau bapak itu seperti apa!" kata Ayuni dengan suara melembut.
"Gotong saja, paksa. Dia juga tidak bisa melawan sekarang!"
Ayuni diam.
Kemal memasuki sebuah kamar. Ada sosok bapaknya terbaring lemah disana, dengan tangan terpasang selang infusan.
Wajah Datuk Irhamsyah terlihat pucat pasi dan lemah tak berdaya.
Sesekali nafasnya turun naik, kadang kencang kadang melemah. Membuat Kemal duduk disampingnya sambil mengusap lengan bapaknya perlahan.
"Pak! Bapak! Ini aku, Kemal!"
Tak ada respon, apalagi sahutan.
"Apa bapak sudah lama seperti ini Mbak Yu?"
"Sudah empat hari Bapak tidak bisa komunikasi."
Kemal menghela nafasnya. Ia bangkit sambil membetulkan selimut Datuk Irhamsyah.
"Makan bapak pakai selang?"
"Iya. Suster yang mengurus semua keperluannya, Mal!"
"Pengacaranya tadi siang menelponku. Katanya, ada surat kuasa yang ia pasrahkan kepadaku. Dan harus kuurus segera hutang piutang dan juga semua urusannya yang belum selesai. Makanya aku pulang!"
"Kemal sudah makan? Mau mbak buatkan nasi goreng udang kesukaan Kemal?"
Mata Kemal membulat senang. Ia mengangguk tersenyum membuat Ayuni ikut senyum dengan senang.
__ADS_1
Kemal keluar kamar Datuk masih dengan diekori Ayuni.
"Lyora mana?" tanya Kemal membalikkan tubuhnya.
Hampir saja mereka bertabrakan karena Ayuni yang terus berjalan membuntutinya, tak mengetahui kalau Kemal akan berbalik.
Ayuni hampir terjatuh. Untungnya Kemal segera menarik pinggang ibu tirinya itu hingga tubuh mereka saling merapat satu sama lain.
Dug...dug...dug...dug....dug
Jantung Ayuni bagaikan gendang sedang ditabuh.
Kemal segera melepaskan tangannya dari pinggang Ayuni setelah posisi ibu tirinya itu kembali aman.
"Ke... Kemal mau mandi dulu? Biar mbak buatkan air hangat di bathtub!"
"Tak usah, Mbak! Aku mau makan nasi goreng dulu aja, boleh?"
"Tentu boleh! Tunggu ya?"
Kemal hanya memandangi punggung Ayuni yang perlahan menghilang keruangan dapur.
Ia menarik nafas panjang. Teringat ledekan Affandi soal dirinya dan Ayuni yang bisa saja terjebak cinta.
Kemal sebenarnya tahu, Ayuni memperhatikan dirinya melebihi perhatian seorang ibu kepada seorang anak.
Ayuni bahkan sering sekali menjebak dirinya dengan lelehan airmatanya ketika bercerita, bagaimana bapak Kemal memperlakukan dirinya dengan sangat keterlaluan.
Dulu Kemal sering tak berdaya. Menerima curhatan dan pelukan ibu tirinya yang sering berkeluh kesah soal rumah tangganya pada dirinya.
Dulu. Sebelum dirinya sedewasa ini. Sebelum dirinya mendengar kasak-kusuk pembantu rumah tangga Ayuni dengan pemilik warung yang tak jauh dari rumah itu. Hingga Ayuni memecat si pembantu yang mulutnya comel itu.
"Lyora ada tugas kelompok, sedang belajar dirumah temannya!" Ayuni teringat pertanyaan Kemal tadi.
Hanya terdengar suara Kemal menyuarakan kata, "Oooh...!!!" dari balik ruang tengah karena ia sedang duduk dimeja makan dengan tangan dan mata tertuju ke HP.
Harum aroma nasi goreng Ayuni menggugah selera makan Kemal.
"Hm.... harum sekali Mbak! Pasti enak sekali ini!"
Ayuni tampak sumringah. Wajahnya terlihat cerah mendapati pujian dari Kemal Pasha, anak tirinya yang ia cinta diam-diam.
Kemal makan dengan sangat lahap. Ia memang belum makan malam. Mendengar penuturan kuasa hukum bapaknya ditelepon tadi, ia langsung meluncur dari Jakarta ke kota C setelah jam kerjanya berakhir sore itu juga.
"Enak?" tanya Ayuni seraya menyodorkan segelas air putih padanya.
"Hooh!" suara Kemal nyaris tersedak diantara penuhnya nasi goreng dimulut dengan kata yang keluar dari bibirnya.
Ayuni mengelus bahunya lembut sekali.
"Pelan-pelan makannya, Mal!"
Kemal agak merinding sekaligus risih menerima elusan tangan Ayuni padanya.
Kemal bisa merasakan, sentuhan Ayuni yang mengandung hasrat terdalam yang berbeda. Kemal juga mengerti, selama ini Ayuni kesepian tapi tak bisa melampiaskannya pada siapapun.
Ayuni adalah wanita bersuami. Walaupun begitu, Kemal tahu Bapaknya tidak bisa memberikan nafkah batin lagi beberapa tahun belakangan ini karena stroke akibat penyakit komplikasi yang dideritanya.
Kemal mengingat Naura. Bagaimana Fendy bisa menjadi liar diluar sana hanya karena Naura tak memberikannya kehangatan diranjang rumah tangganya.
Dan Kemal menyadari hal itu bisa juga terjadi pada Ayuni meskipun posisinya Ayuni adalah seorang wanita.
Wanita tiada beda layaknya pria, dalam hal menginginkan cinta dan kasih sayang. Juga butuh penyaluran hasrat biologisnya yang terpendam.
Dan itu hal manusiawi, Kemal rasa.
Ia pun terkadang menginginkan sekali menyalurkan hasrat keinginannya bercinta meski lebih sering dengan masturb*si. Karena belum memiliki pasangan halal yang belum menjadi tempat pelampiasan keinginan birah*nya.
Kemal terkejut sekali ketika tiba-tiba bibir Ayuni menempel dipipinya.
"Mbak Yun????"
__ADS_1
............BERSAMBUNG...............