RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kepulangan Naura dari Lapas


__ADS_3

Affandi senang sekali, pengajuannya untuk BAP (Berita Acara Pemeriksaan) ulang kasus Naura di acc pihak Kejaksaan Setempat.


Dan Naura bisa dipulangkan kembali ketempat asalnya dengan syarat berkelakuan baik, wajib lapor sesuai ketentuan pihak Kepolisian walaupun sidang kasusnya belum dimulai dan vonis belum dijatuhkan.


Naura menangis sujud syukur dilantai bangsal tempat pertemuannya dengan Sang Pengacara tampan, Affandi Rajata S.H.


Naura sudah ditahan selama 10 minggu. Dan malam ini, dengan surat keterangan pidana bersyarat.


Pihak Kejaksaan juga masih menggodok kasus Naura dan mencari kemungkinan Naura kembali ke penjara untuk menyelesaikan masa hukumannya yang belum diketuk palu hakim.


Bagi Affandi, dengan ia memberikan banyak bukti nanti dipersidangan, bisa membuat Naura terlepas dari jerat hukum yang membelitnya kini.


Maka, kepulangan Naura adalah suatu kemajuan untuk kasus yang ditangani juga berimbas pada karier sebagai seorang kuasa hukum tentunya.


"Mau pulang ke kampung atau.....kerumahmu bersama Fendy?" tanya Affandi setelah akhirnya melihat Naura keluar dari ruangannya untuk jangka waktu yang lama, hampir 2 jam menunggu.


"Mau....kerumah kami dulu! Oiya, maaf ya mas...lama menungguku keluar! Habis acara perpisahan dengan teman-teman se sel! Hehehe.... padahal kepulanganku hanya sementara. Hhh... Aku juga akan kembali lagi kesini nanti!"


"Semoga tidak akan pernah kembali lagi kesini!"


Naura menatap mata Affandi yang tersenyum lembut padanya.


Entah mengapa, Affandi begitu mudah meluluhkan hatinya. Perkataannya, juga tingkah lakunya. Manis tapi tidak berlebihan. Padahal usia pria itu hanya terpaut 10 hari saja dengan umurnya. Tapi.... Affandi begitu dewasa pembawaan juga karakternya.


Naura dibuat nyaman sekali jika bersama Affandi.


Setelah menandatangani berkas-berkas yang menunjukkan kalau Naura dikenakan wajib lapor setiap minggunya selama satu bulan, akhirnya ia bisa menghirup dunia luar. Dunia kebebasan bersyaratnya.


Mobil Affandi telah membawanya kembali ke Perumahan tempat tinggal dirinya dan Fendy dulu.


Mata Naura berkaca-kaca memandang rumah sederhana yang dulu bagaikan istana baginya dan juga Fendy Martin.


"Kakaaaak! Hahaha.... ish, maluuuuu! Jangan digendong seperti ini! Hahahaha...Turunkan aku kak!"

__ADS_1


Naura rendevous mengingat pertama kalinya Fendy menggendong dirinya ala bridal ketika memasuki rumah yang baru mereka beli setelah setahun berumah tangga.


Masa-masa paling bahagia! gumam hati kecil Naura.


Affandi hanya diam. Meskipun dilubuk hatinya yang terdalam, ia merasakan 'kesakitan'. Sakit sekali rasanya melihat Naura kembali mengenang cintanya pada Fendy yang begitu jelas tergambar di kedua bola matanya yang bersinar, merebak dan kemudian berkaca-kaca.


Affandi cemburu. Cemburu pada cinta dan kasih sayang Naura pada Fendy dahulu.


Ia ingin sekali bisa segera menghapus memori ingatan itu dari kepala Naura. Ingin menggantinya dengan kenangan indah bersama dirinya saja kalau bisa.


Naura membuka kunci rumahnya sedikit bergetar. Agak lama sebelum ia mendorong tungkai grendel pintu rumahnya, matanya menyapu sekeliling.


Halaman rumahnya kotor dan berdebu. Begitu juga bunga-bunga hiasan yang ia beli dipasar tradisional, separuh telah mengering dan mati.


Naura membuka lebar pintu rumahnya.


Ia mengambil nafas panjang. Hatinya mendawamkan kalimat basmalah meminta ridho Allah untuk kembali masuk kerumah ini.


Masih seperti sebulan lebih yang lalu. Posisinya tak berubah. Hanya debu-debu saja yang menebal karena lama tak dibersihkan.


"Seperti ada bangkai!" tukas Affandi seraya menutup hidungnya. Baunya begitu menyengat.


Naura mengikuti gaya Affandi, menutup hidungnya juga sambil mengangguk mengiyakan.


"Sepertinya ada tikus mati!" kata Naura menimpali Affan.


"Keluar dulu! Bau banget ini!"


Affan menggandeng lengan Naura kembali keluar rumah.


Keduanya baru bisa bernafas lega setelah kembali keteras.


"Sebaiknya kita hubungi jasa pembersih rumah dulu. Kalau kamu yang bersihkan, kuatir terlalu capek! Nanti drop lagi. Secara kamu baru sembuh!"

__ADS_1


Kata-kata Affandi bagaikan seorang bodyguard yang begitu melindungi Naura.


Pria itu dengan sigap menelpon seseorang. Ternyata dengan yayasan jasa pembersih rumah.


Tinggal sendiri dirumah besarnya yang cukup jauh dari orangtua membuat Affan terbiasa memakai jasa pembersih rumah tersebut. Makanya ia memiliki nomor teleponnya.


Affandi tidak suka mempekerjakan Asisten Rumah Tangga. Hanya seminggu tiga kali ia membawa pakaiannya ke jasa laundry.


Tak butuh waktu lama, sebuah mobil berhenti tepat disamping mobil Affan. Turun 4 orang terdiri dari 2 perempuan dan 2 laki-laki. Mereka dengan sigap sambil membawa peralatan bersih-bersih modernnya menghampiri Affan dan Naura.


"Bang Affan!"


"Hei Rom! Tolong bersihkan rumah calon istriku ini ya?"


"Siiip. Hehehe.....! Let' go berangkaaaat...!!!"


Naura hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan Affandi pada salah seorang pemuda yang rupanya Affan kenal itu.


"Yuk Nau! Kita pergi keluar!" ajak Affan padanya.


"Romy, Romy!"


"Iya bang?"


"Aku pergi dulu ya? Ini kuserahkan kunci rumahnya sama kamu. Nanti antar saja kerumahku! Soalnya, malam ini aku akan membawa Naura menginap dirumah."


"Menginap dirumah mas Affan?" Naura menyela pembicaraan Affan dan Romy.


"Iya, Nau! Ini sudah sore. Sepertinya Romy dan kawan-kawannya juga butuh waktu berjam-jam untuk membersihkan rumahmu. Juga harus mencari asal muasal bau bangkai. Jadi, istirahatlah dulu dirumahku semalam. Besok pagi, kita kembali kesini! Bagaimana?"


Naura hanya bisa memandangi wajah Affandi. Ada rasa gugup dan cemas menggelayut dihatinya.


Ia dan Affan adalah pribadi yang dewasa. Entah bagaimana nanti jika mereka hanya berdua saja.

__ADS_1


Hhh.... Naura menghela nafasnya.


...........BERSAMBUNG............


__ADS_2