
Ismail tak faham lagi, jalan kisah cinta yang ia harapkan bersama Naura.
Berbulan-bulan lamanya ia menanti Naura pulang. Tapi gadis pujaan hati yang telah disunting orang itu tak kunjung datang.
Hingga hampir dua tahun lamanya Ismail 'mengabdi' menjadi asisten mbah Kliwon, yang ternyata... cukup terkenal juga namanya sebagai 'Dukun' alias 'orang pintar' di seantero kampung.
"Mbah.....! Mana kata mbah yang katanya bisa membuat Naura bisa merasakan seperti apa yang aku rasakan?"
Ismail memberanikan diri menanyakan perihal kehebatan kakek tua itu tentang perkataannya akan menolongnya diawal jumpa dulu.
"Bocah edan! Kau pikir ilmu ghaib itu seperti kau makan rawit langsung pedas jontor bibir jeblehmu itu!?!"
Ismail hanya menunduk malu juga takut, karena disemprot si kakek sambil menggebrak meja khususnya. (Begitulah tingkahnya jika ada yang buat dirinya kesal).
"Dia itu punya cukup tebal pertahanannya, gobl*k! Makanya perempuan itu masih bisa bertahan sampai titik akhir. Tapi sebenarnya semua kehidupan terbaiknya telah habis, musnah sudah! Kau pikir aku ini dukun abal-abal? Sontoloyo!!! Kau lihat sendiri orang-orang yang datang mencariku dari mana-mana!
Kalau aku cuma menipumu yang bego, tol*l .... hilih, sia-sia hidupku!!!"
Ismail menelan air ludahnya sendiri. Merutuk dirinya dalam hati karena telah memancing amarah mbah Kliwon.
Hingga suatu ketika, ditahun ketiga dia setia menjadi pengikut mbah Kliwon,.... ada seorang perempuan muda bersama ibunya datang berobat ke mbah Kliwon.
Solihati namanya. Konon katanya diguna-guna lelaki yang pernah ditolaknya hingga dirinya tidak ada seorang pria pun yang menyukainya apalagi mencintai solihati.
Gadis kampung itu sebenarnya cukup manis. Tiada cela juga termasuk pemanut alias gadis yang penurut.
Hingga di hari kelima kedatangannya berobat ke mbah Kliwon, justru mbah Kliwon menjodohkan Solihati dan Ismail dengan alasan, sangat cocok dari segi Neptu dan Weton.
Ismail yang hanya mengharap Naura terang saja memprotes kebijakan atasannya itu dalam menentukan keputusan sepihak Mbah Kliwon.
"Dasar bodoh! Kau ini seharusnya berterima kasih padaku. Tak perlu kau bersusah payah mencari jodoh. Apalagi pusing mikirin mahar! Karena aku justru menyodorkanmu kenikmatan tanpa modal! Kau tinggal duduk manis jadi manten. Setelah itu sepuasmu menggarap lahan tanpa dosa, karena sudah halal bagimu! Gobl*k!!!!"
"Aku maunya Naura, mbah! Bagaimana mungkin nanti Naura pulang dan aku sudah punya istri. Mana mungkin Naura mau menerimaku, mbah!"
"Ya kau ceraikan istrimu! Susah susah amat!!! Kau ini ibarat anak, ku anak-emaskan! Kau kunikahkan tanpa modal! Kau malah bakalan dapat harta langsung dari istrimu itu! Dia anak tunggal sepertimu, tapi sawah almarhum bapaknya luas. Kau hanya perlu bekerja mengurus sawahnya saja! Bahkan kalau kau punya modal, tinggal pakai telunjukmu menyuruh orang! Ongkang-ongkang kaki kau dirumah!"
Semalaman Ismail memikirkan perkataan Mbah Kliwon.
"Kau fikir cewek cantik sama cewek standar itu barangnya berbeda? Sama saja! Sama-sama lobang thok!!! Hahahahaha....."
Hingga akhirnya, takdir Illahi jua yang menentukan. Ismail pun menikahi Solihati.
Bahkan hanya butuh dua bulan bersama, Solihati langsung mengandung. Ia hamil dan melahirkan putri pertama Ismail setelah 9 bulan lebih mengandung. Anak pertamanya sampai ia beri nama Naura Puja Hati.
__ADS_1
Tapi sampai rentan waktu itu, Naura masih tak kunjung pulang. Memupus harapan Ismail perlahan untuk memiliki Naura.
Hingga akhirnya jeda waktu 2 tahun, istrinya lalu mengandung lagi. Dan lahir seorang anak perempuan lagi. Ia beri nama Cinta Suci Naura.
Sebegitu cintanya Ismail pada Naura. Hingga kadang ia memimpikan hidup bersama dengan Naura asli, mengasuh Naura-Nauranya yang lain. Sungguh miris halusinasinya!
Cinta memang gila!
Begitulah! Entah,....
Meskipun kehidupan rumah tangganya bersama Solihati terlihat adem ayem saja. Tapi dia masih memiliki pengharapan tinggi, seperti janji Mbah Kliwon dulu padanya.
Hingga,.... tiba-tiba Mbah Kliwon memanggilnya dan memintanya untuk berbicara empat mata.
"Ismail!"
"Ya mbah!?"
"Kau masih memikirkan 'perempuan' itu?"
"Iya."
"Masih tetap ingin memilikinya suatu saat nanti?"
"Aku...... Sepertinya waktuku tak lama lagi! Dan aku tidak ingin mati meninggalkan beban berat hingga masih harus bolak-balik ke dunia karena urusanmu yang belum selesai!"
"Mbah? Mbah kenapa ngomong begitu, mbah?"
"Perempuan itu sudah kuikat dan kukunci 'pintu rahim'nya. Bahkan jika sampai kalian berjodoh pun, kalian tetap tidak bisa bahagia. Karena aku sudah menutupnya rapat-rapat! Kecuali,....."
"Kecuali apa mbah?"
"Kau harus buka dulu amalanku padanya!"
"A amalan? Amalan apa itu mbah?"
"Kau harus puasa tiga hari tiga malam. Puasa ni'is juga tiga hari tiga malam, puasa mutih sama...tiga hari tiga malam. Sambil terus dawamkan jangjawokan yang aku tulis ini, agar luruh perlahan jampi-jampiku pada perempuan itu!
Setelah itu,... kau suruh dia makan sayur bening daun kelor tanpa bumbu! Luntur semua amalanku, dan dia bisa hidup normal lagi seperti dahulu! Faham?!?"
"Faham, Mbah! Tapi..... apa saya harus membuka amalan itu sekarang-sekarang?"
"Bocah bodoh! Ya nanti setelah wanita itu lepas dari suaminya. Dan kau bisa memep**etnya hingga naik ke pelaminan! Bodoh!!!"
__ADS_1
"Nggih, Mbah! Matur nuwun Mbah!"
Ismail menerima selembar kertas yang berisi tulisan semacam jampi-jampi
Sir gumulung cahya gumulung.
Anu gumulung dina jajantung.
Anu calik dipangsadetan.
Anu ngindep diparahiangan.
Asihan santana Awloh.
Ya isem santana Awloh.
Sarasa sabakal atina.
(Wallahu a'lam bisshowaf). Ini hanyalah karangan semata **dan author pernah mendengar selintas dari orang-orang tua jaman dulu**🙏.
Ismail menyimpan kertas itu dibalik kantong celananya. Lalu pulang kembali kerumah.
Keesokan harinya, terdengar berita bahwa Mbah Kliwon meninggal dunia.
.............
Hari ini, Ismail mendapatkan panggilan telepon dari pengacaranya Naura di Ibukota. Memintanya untuk ikut bersaksi nanti dipersidangan kasus Naura.
Ia hanya cukup bersaksi tentang Naura dan masa kecilnya. Naura yang tak 'kan mungkin mampu membunuh tanpa sebab karena kelembutan hatinya sedari kecil.
Tentu saja hatinya menjadi besar kembali mengingat ia akan bertemu pada Naura setelah sekian tahun tak lagi jumpa.
Airmata Ismail menetes setelah percakapan via teleponnya berakhir dengan Affandi Rajata S.H.
Katanya, setelah jadwal sidang Naura dikeluarkan, pengacara itu akan menjemputnya dan ibuk Naura untuk dibawa ke Ibukota.
Ismail mulai melakukan ancang-ancang.
Esok tekadnya untuk puasa tiga hari tiga malam. Lalu mutih dan ni'is seperti yang Mbah Kliwon dulu pesankan padanya.
Ia ingin mengambil hati Naura dengan jalannya. Difikirannya, inilah saat yang tepat dirinya membuka amalan yang Mbah Kliwon dulu pakai untuk mengikat Naura.
Dan perlahan tapi pasti, Naura akan jadi miliknya. Itu tekad bulatnya.
__ADS_1
............BERSAMBUNG.............