RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Selamat, Selamat! Selamat Pengantin Baru!


__ADS_3


Naura dan Affan menjemput Ibuk serta Lyora dikampung. Keduanya sudah begitu ingin menjadi pasangan suami istri.


Dan atas izin Allah Ta'ala, semua berjalan dengan lancar.


Naura Salsabila dan Affandi Rajata S.H tersenyum lega setelah memamerkan dua buku nikah mereka yang berwarna hijau tua dan merah marun dikhalayak umum.



Cinta tak bisa ditebak. Pada siapa ia berlabuh.


Cinta tak mudah diterka. Untuk siapa ia mendamba.


Jodoh, rezeki dan maut, itu adalah rahasia Illahi.


Naura dan Affandi kini telah menjadi pasangan suami istri yang sah dimata agama dan hukum.


Perjalanan cinta yang bisa disebut tidak dapat diterka jalannya itu telah bertaut dibahtera rumah tangga.


Kurun waktu 6 bulan lamanya sejak pertama kali mereka bertemu, kini mereka resmi menjadi pasangan halal.


"Seperti mimpi!" tutur Naura tersenyum dengan mata berkaca-kaca pada suaminya. Hatinya bahagia. Terpancar jelas dari aura wajah cantiknya.


Affandi tak kalah bahagianya.


Ia akhirnya mendapatkan berlian itu.


Meski seperti yang Nau prediksi sebelumnya. Status dan juga identitas istrinya kadang menjadi bullyan ringan para sahabatnya.


Affandi cuek tak peduli.


Orang mau bilang apapun, terserah. Tapi kini dirinya adalah juaranya. Dia lah pemenang hati Naura Salsabila.


Wanita sederhana yang tak pernah putus asa meski didera coba dan derita. Menandakan kalau Naura bukanlah wanita sembarangan.


Naura juga cantik luar dalam. Manis bertutur kata, sopan dan bersahaja.


Cantik itu relatif. Cantik itu hanyalah casing saja. Yang terpenting adalah isi didalamnya.

__ADS_1


Affandi lebih mendamba Naura dibanding perempuan-perempuan cantik diluar sana.


Affan bukan pria biasa. Wajahnya tampan. Pekerjaannya mapan. Banyak gadis mengejar cintanya. Juga wanita sukses yang menginginkan dirinya.


Tapi pilihannya jatuh hanya pada Naura. Wanita berstatus janda tanpa anak yang pernah menjadi kliennya.


Affandi tak peduli omongan orang lain. Yang ia pikirkan hanyalah perasaan kedua orangtuanya saja.


Dan dia bersyukur, Mama Papanya tetap menyupportnya meski telah tahu jati diri juga status Naura yang sebenarnya.


"Mama ingin kalian tinggal dirumah ini setelah menikah! Apa itu egois? Hik hik hiks.... Kamar kalian khan ada! Untuk Ibunya Naura juga ada. Mama bisa siapkan biar kita bisa tinggal bersama!"


"Ma! Mama tidak egois. Tapi mereka punya rumah sendiri. Wajarlah kalau mereka ingin tinggal dirumah mereka. Dan ibunya Naura posisinya janda seorang diri, sudah lebih tua umurnya ketimbang mama. Wajarlah jika beliau ikut tinggal dengan Naura anaknya yang tinggal seorang!" Papa mencoba menjelaskan pada Mama, istrinya yang menggemaskan itu.


"Hik hik hik...! Mama oge hoyong diurus ku Affan sareng Naura!"


"Lha khan mama ada papa!? Kalau mama ikut mereka, papa bagaimana?"


"Atuh urang ngalih sadayana. Tinggal sama-sama mereka! Hik hik hiks!"


"Hahahaha.... Mama, mama! Hhh... Sini mama sayangku! Mama punya rumah diwilayah Jakarta, punya suami tampan gagah pula ini. Sedangkan ibunya Naura dikota ini tidak punya anak selain Naura. Kalaupun ada Kemal, itu khan bukan seperti anak sendiri walaupun Kemal baik dan menerima.


Wajar, sayang..... kalau ibunya Naura ikut mereka. Nah kalau kita,... bisa setiap minggu atau kalau mama mau setiap hari pun bisa khan!?"


"Hadeeuh mama! Hahahaha...."


"Hilih, si papa! Malah ngetawain mama! Huaaaaa hik hik hiks!"


"Habisnya mama lucu! Gemoy, gemesin....! Hahahaha......"


"Haaaaaahuaaaa, papa jahaaaat! Hik hik hiks!"


"Ma! Daripada mama ngintilin terus anak sama menantu mama, lebih baik kita keliling Bali yuk ma? Tinggal sebulan disana! Refresh otak kita! Semakin tua kita ini semakin butuh hiburan toh? Mama mau gak? Hm??"


"Masa' bukannya mendekat malah menjauh pa? Hik hik hiks!"


"Papa tanya sama mama! Pilih anak atau pilih papa?"


"Ya pilih anak lah!"

__ADS_1


"Anak khan sudah rumah tangga! Kalau mama pilih anak, berarti papa pilih janda sebelah. Boleh?"


Bug.


"Papa! Iih, ngomong teh asal padu ngejeplak wae! Dosa eta teh, dzolim ka mamah!"


"Nah khan? Mama gak mau khan kalau papa pilih janda sebelah? Hahahaha....! Ya udah, kita bulan madu diusia senja khan asyik ma! Mari kita pergi berdua saja. Mama mau gak? Mama masih sayang dan butuh papa gak?"


"Ya iya atuh! Ma' enya' mama teu sayang jeung teu butuh papa! Hese' milarian salaki nu bageur jiga papa kiyeu! Moal meunang deui anu jiga kiyeu rupi na!"


"Hahahaha....! Tah geuning! Papa gitu loh!! Hahaha...!"


.............


"Kita yang menikah, kenapa jadi Papa Mama yang honey moon?" Affan protes mendengar kabar kedua orangtuanya akan bulan madu kedua selama sebulan di Bali.


Apalagi sang Mama yang heboh sekali berceritanya pada sang istri.


"Hahahaha.... iya atuh!"


"Bulan madu dong kita!" goda papanya sambil merangkul bahu istrinya. Yakni mamanya Affandi.


Kedua pasutri yang sudah tidak muda lagi tapi masih awet muda itu tertawa terbahak-bahak.


"Jangan maraaaah! Hehehehe...."


Affan merengut menatap netra Naura.


"Kita kapan yang, bulan madunya?" tuturnya persis seperti balita yang ngambek karena iri.


Naura tertawa kecil diikuti tawa papa, mama dan juga ibuknya yang akhirnya ikut tinggal bersama mereka.


"Ya sudah! Kalau iri, ikut kami ke Bali ayo!" goda mamanya memancing.


"Affan masih harus stay di Jakarta Ma sampai dua bulan kedepan! Hhhh....!"


"Hahahaha..... Kasian deh looooo!!!"


"Jahatnya si mamah! Hiks!"

__ADS_1


"Hahahaha.... ! Maaf sayang!"


............BERSAMBUNG...........


__ADS_2