
"Hoek, hoek, hoek...."
Naura merasakan rasa yang 'tak biasa' setiap bangun Subuh beberapa hari ini.
Perutnya seperti dikocok-kocok. Dan kepalanya sering pusing tujuh keliling.
Affan sendiri mulai kembali sibuk karena Firma Hukum-nya kembali mendapatkan kasus kakap. Sayangnya kasusnya kali ini berada di kota yang berbeda. Makanya Affan kadang tiga hari dikota yang sedang dalam penyelidikannya.
Affan juga kadang gundah gulana. Kapan dirinya bisa kembali tenang hidup bersama istri dan ibu mertuanya.
Tapi apa mau dikata. Ekonomi juga sangat penting dalam menunjang kebahagiaan berumah tangga.
Meskipun ia harus menahan rindu untuk menatap dan bermesraan dengan istri tercintanya, ia juga tak boleh lalai dalam mencari nafkah.
Dirinya telah berkomitmen dengan Naura. Selalu bersama dalam suka dan duka. Selalu setia baik ketika bersama maupun sedang berjauhan.
Affan inginkan rumah tangganya sakinah, mawaddah warrohmah. Bersama selamanya seperti cita-cita, harapan dan doanya dengan Naura.
Kedua orangtuanya adalah panutan dalam menjalankan ibadah rumah tangga.
Seperti saat ini, dikala jauh dan Naura tengah kurang baik kesehatannya. Affandi sebenarnya gelisah, galau merana.
Ibuk Naura selalu sabar dan telaten mengurusi putrinya yang tinggal satu-satunya itu.
Segelas air hangat untuk Nau minum disodorkannya setelah putri kesayangannya itu mual dan muntah dipagi buta.
"Aduh, Buk! Perut Nau ga enak sekali rasanya!"
Ibuknya hanya tersenyum simpul. Tak ada kata keluar dari bibirnya kecuali dua bola matanya yang berbinar.
__ADS_1
Naura tak terlalu memperhatikan gerak-gerik ibuknya. Hanya merasakan keadaan yang begitu menyiksanya. Nyaris setiap pagi dan petang sejak beberapa hari yang lalu.
"Jangan mengepel dulu Nau!"
Larang ibuknya langsung menarik kain pel yang ada dipegangan Naura. Membuat Naura termangu sesaat.
"Nau sudah sapu bersih koq lantainya bu!"
"Jangan terlalu capek. Biar ibu saja!"
"Sudah, buk! Biar Nau.... Biasanya juga tak apa-apa. Nau hanya masuk angin saja mungkin! Mas Affan sibuk kerja diluar kota, jadi jam tidur Nau juga kurang baik karena jauh dari mas Affan, buk!"
"Iya. Ibuk faham, Nau! Kamu menstruasi dihari akad nikah. Apa sudah datang halangan lagi?"
Deg.
Naura menghitung. Dia lupa, apa dia sudah berhalangan atau belum. Sedangkan rumah tangganya bersama Affan sudah mau memasuki bulan ke-3. Apa.......
Tapi.... Apakah setokcer ini?
Ia ingat sewaktu masih bersama Fendy, mereka juga tidak pernah memakai alat kontrasepsi. Tapi mereka mendapatkan hasil dengan kehamilan Naura setelah setahun berumah tangga. Itupun setelah mereka pindah kerumah sendiri.
Naura terus memikirkan perkataan ibuknya.
Ingin sekali ia menelpon Affan, suaminya. Menanyakan langkah apa yang harus ia ambil saat ini.
Tapi khawatir, jika malah akan menjadi beban Affan nantinya. Secara, Affan memang mendambakan hadirnya buah hati diantara mereka meskipun masih hitungan bulan saja pernikahannya.
Kalau mual-mualnya hanyalah masuk angin biasa, ia khawatir akan membuat Affan kecewa dengan kabar yang belum jelas ini.
__ADS_1
Naura juga khawatir, penyakit pendarahannya dulu sewaktu berumah tangga dengan Fendy kembali kumat.
Akhirnya, ia memutuskan untuk segera konsultasi sendiri ke dokter kandungan tanpa mengabari Affan.
Affan yang sangat rindu setelah 5 hari pergi bekerja ke luar kota, pulang dengan membawa banyak buah tangan dan bingkisan.
"Naura kemana Bu?" tanyanya pada ibu mertuanya.
"Tadi Naura pamit keluar sebentar, mas!"
"Keluar kemana, Bu? Apa Naura tidak memberitahu ibu kemana tujuannya?"
"Ti tidak! Maaf, Ibuk juga lupa bertanya!"
Affan kecewa sekali. Naura tak ada dirumah ketika ia kembali.
Ia mengkhayalkan Naura menyambut kedatangannya bak raja. Apalagi setelah 5 hari tak bersama. Rindunya sudah begitu membumbung hingga ke ubun-ubun.
Affan masuk kamarnya.
Mandi lebih baik menurutnya untuk meredam rasa kecewa. Ia juga tak ingin menelpon handphone Naura untuk mengabari kepulangannya.
Hatinya sedih, karena Naura pergi keluar tanpa izin dirinya sebagai suami.
Tapi berusaha menekan perasaan, mencoba berfikir positif mungkin Naura pergi ke pasar tradisional membeli sesuatu.
Setelah selesai mandi, Naura masih juga belum pulang. Alhasil kekesalannya makin membludak.
Ia pun naik ke atas ranjangnya, lalu pergi tidur.
__ADS_1
...........BERSAMBUNG............