RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Lagi-Lagi Kemal Sang Penyelamat


__ADS_3

Entah karena dilanda ketakutan luar biasa pula, adzan Subuh terasa lambat bagi Naura.


Sekalinya adzan berkumandang, Naura tak berani beranjak dari tempat tidurnya meskipun untuk segera apdas berwudhu.


Naura menunggu matahari pagi sedikit beranjak dari peraduannya di ufuk timur. Berharap bisa sholat subuh meskipun dengan waktu diperlambat sekitar pukul 5.30 WIB karena takut pergi ke kamar mandi.


Benar-benar malam yang terasa panjang. Dan pagi pun perlahan merangkak keluar begitu lambatnya.


Naura menguatkan hati dan jiwanya untuk pergi ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mensucikan hadas kecilnya dengan wudhu.


Wajahnya terasa lebih segar kini. Hatinya pun agak lebih tenang seiring air wudhu yang meresap menyesap dijiwanya.


Naura sholat dengan kekhusu'an lebih dalam. Berharap Tuhan menjaga dirinya dari hal-hal yang tak ia inginkan termasuk dari godaan jin dan syetan.


Setelah selesai menunaikan sholat wajibnya, Naura keluar kamar dan melihat cahaya masuk dari balik gorden jendela rumahnya yang masih tertutup.


"Alhamdulillah, sudah ada sinar semburat matahari!" gumamnya seorang diri.


Lega rasanya karena hari telah berganti. Setelah semalaman ia dibuat bagaikan tak tenang jiwa raga.


Naura membuka pintu rumahnya setelah menyibakkan tirai gorden rumahnya.


Ia termangu dengan mata menatap pot bunga dari tanah liat diatas pagar terasnya masih utuh sempurna tanpa pecahan sedikitpun.


Semalam suasana terasa ramai didalam dan luar rumahnya. Tapi ketika ia menyelidiki, tidak ada satu barangpun berserakan dilantai teras rumah. Semua tetap berada ditempatnya. Tertata dengan baik.


"Naura!!!"


Naura hampir meloncat karena kaget.


Kemal Pasha baru saja keluar dari dalam mobilnya dan langsung melesat mendatanginya.


"Mas Kemal?"


"Kamu tidak apa-apa?"


"Ke kenapa?" Naura balik bertanya dengan tergagap.


"Semalam aku mimpi tidak enak tentang kamu!"

__ADS_1


Naura segera mendekatkan tubuhnya ke arah Kemal. Agak merinding mendengar perkataan Kemal. Hingga akhirnya pecah tangisnya seketika.


"Aku sudah bisa menebak!"


Kemal membuka lebar-lebar pintu rumah Naura. Wajahnya terlihat sangat serius.


"Astaghfirullah.....!!!!"


Naura hanya bisa mengekor Kemal sambil memegangi kaos yang dipakai Kemal bagian belakangnya.


Kemal berdiri lama sambil menatap kesudut ruang tengah rumah Naura.


Meremang seketika bulu kudu Naura.


"Naura, jangan melamun!!!!" bentak Kemal dengan suara keras.


Naura benar-benar terpental kaget. Dirinya merasa ini seperti dalam mimpi. Menyadari tubuhnya yang tak terlalu besar dan berat tiba-tiba seolah terdorong oleh sesuatu yang tak terlihat.


Bruak.


Alhamdulillahnya ia jatuh tepat ke arah kursi sofa ruang tamunya.


Naura terhenyak mendengar perkataan Kemal lagi. Ia bangkit lagi dan makin merapat tubuh Kemal karena saking takutnya.


"Mas!"


"Pagari dirimu dengan bacaan kalam Allah!"


Naura menurut. Membaca surat Al-Ikhlas yang dirasa paling pendek dan paling ia hafal.


Tiba-tiba Kemal melakukan suatu gerakan seolah sedang berkelahi melawan seseorang.


"Mundur, Nau!" pekiknya mendorong tubuh Naura agak keras hingga wanita itu ikut terpekik dan mundur beberapa langkah.


"Hei, kuny*k-kuny*k! Siapapun orang yang menjadi tuanmu, dia adalah orang cemen bermental tempe! Bilang padanya, kalau dia berani, lawan aku tatap muka langsung!"


Kemal berteriak kencang. Tangan menunjuk-nunjuk seolah sedang mempermainkan sesuatu. Hingga tiba-tiba....


Brak. Ddddrrrrrrtt.... Duarrr

__ADS_1


Kemal dan Naura terkejut ketika sekring listrik rumahnya berbunyi seperti suara terbakar dan meledak.


"Sial*n! Setan Alas!! Mampret pun tetap bikin ulah!!!"


Listrik rumah Naura padam seketika akibat kosleting. Untungnya hari sudah pagi dan matahari sudah terang berderang.


Naura masih terhenyak duduk disofa ruang tamunya dengan tatapan kosong tak mengerti.


Tiba-tiba Kemal mencubit urat nadi dipergelangan tangannya sambil menggerutu.


"Sudah kubilang, jangan melamun!!!"


Naura berteriak kesakitan.


"Seseorang menginginkan dirimu juga nyawamu! Seseorang ini bukan cuma satu!"


"Mas, aku takut!"


"Berkemas! Ayo, ikut denganku!" kata Kemal seraya menarik tangan Naura.


Ia membantu Naura memasukkan pakaian dan juga beberapa dokumen seperti KTP dan surat penting lainnya.


Naura dan Kemal akhirnya bisa bernafas lega setelah mereka pergi meninggalkan rumah yang telah berhantu itu.


"Hhhh..... Tadinya aku mau menjemputmu semalam. Tapi perutku sakit luar biasa, Nau! Sampai tak bisa dibawa jalan. Wallahu! Entah memang penyakit, atau apa.... Semalam itu aku dalam kondisi lemah! Makanya setelah agak bertenaga sehabis sholat Subuh aku langsung kemari!"


Naura terisak mengingat kejadian yang menghantuinya semalam.


"Aku takut mas!"


"Saat ini kamu aman! Tapi jangan banyak bengong!"


"I iya!"


"Tubuh dan jiwa yang kosong adalah tempat yang paling disukai para jin dan iblis! Mereka lebih senang merasuk dan menjadikan manusia sebagai partnernya daripada tinggal dihutan dan gunung yang sekarang tidak aman lagi bagi mereka!"


Naura bergidik mendengar Kemal. Kini dirinya pasrah hendak kemana Kemal membawanya.


...........BERSAMBUNG............

__ADS_1


__ADS_2