
Mengapa memilih hidup begitu rumit, jika ada jalan yang lebih baik. Entahlah... Naura sendiri tak bisa mengerti alur cerita hidupnya.
Hampir dinikahi kakak iparnya sendiri diusia muda. Lalu dibawa kabur calon anak tirinya hingga batal pernikahannya. Kemudian merantau ke ibukota. Dan menikah setelah bapak 'menodong'nya disaat itu juga.
Hidup yang sungguh rumit. Tidak bisa ia tebak jalan cerita selanjutnya.
Fendy memang pria yang baik. Tak salah jika ia menjadikan pria tampan itu suaminya. Karena memang suami idaman.
Mungkin kekurangannya hanya satu dimata wanita-wanita cantik diluar sana. Fendy kurang uang.
Tapi untunglah berjodoh dengan Naura yang tidak 'menghamba' uang. Hingga klop mereka menjadi pasangan.
Menikah sambil bekerja. Naura berkomitmen akan membantu keuangan suaminya. Demi untuk masa depan mereka bersama tentunya.
Keduanya rajin puasa Senin Kamis guna menabung tuk keinginan memiliki kendaraan pribadi dan juga tempat tinggal.
Motor Fendy hanyalah motor inventaris dari pabrik karena dia adalah karyawan bagian penagihan di pabrik keramik.
Dan rumah, mereka masih mengontrak juga.
Naura dan Fendy bercita-cita memiliki rumah sendiri. Tak apa kecil dan sederhana. Yang penting cukup untuk mereka tinggal tanpa harus memikirkan uang kontrakannya setiap bulan.
Setahun kemudian, Allah mengabulkan keinginan mereka. Sebuah rumah sederhana akhirnya bisa mereka miliki.
Dengan sisa uang tabungan, Naura dan Fendy merenovasi rumah itu menjadi lebih baik lagi.
Walaupun sederhana, tapi bagi mereka itu bagaikan istana. Terlebih setelah beberapa bulan menempatinya, Naura dinyatakan positif hamil oleh dokter setelah 3 hari sakit dan diperiksa.
Sungguh suatu kebahagiaan yang ternilai bagi Naura dan juga Fendy. Bahkan kedua orangtua Fendy datang dan tinggal bersama mereka selama dua bulan lamanya.
Tapi..... ternyata Tuhan masih ingin menguji kekompakan cinta mereka. Naura jatuh dikamar mandi ketika tengah membersihkan toilet dengan cairan pembersih lantai.
Karena licin, ia terpeleset lalu jatuh tengkurap mengenai ujung WC. Saat itu, usia kandungan Naura sudah masuk lima bulan.
__ADS_1
Selama dua hari Naura tidak merasakan detak jantung bayi dalam rahimnya. Hingga Fendy membawa Naura ke klinik dan bidan menyatakan bayi mereka telah tiada kurang lebih 23 jam yang lalu.
Naura shock. Ia menangis menyesali keteledorannya karena tidak becus menjaga dirinya yang sedang hamil hingga bayi mereka yang menjadi 'korban'nya.
Fendy berusaha menenangkan Naura saat itu. Bahkan itu sudah Takdir dari Yang Maha Kuasa. Semua telah terjadi. Dan mereka harus legowo demi ketenangan almarhum calon bayi mereka yang ternyata laki-laki.
Setelah dirawat dan pulang dari rumah sakit, Naura masih down kondisi mentalnya. Ia masih menyimpan baju-baju bayi dan pernak-perniknya yang telah ia beli secara nyicil.
Ibu mertuanya menelponnya dan mengatakan makanya jangan dulu membeli peralatan dan perlengkapan bayi sebelum usia kandungan 7 bulan. Pamali katanya.
Naura semakin sedih. Semakin terpuruk dengan kondisi batin dan juga fisiknya.
Sejak kejadian ia harus di kuretase/kuret, kondisinya semakin lemah. Naura lebih banyak diam dan diam. Gampang marah dan mudah emosi. Seringkali menyalahkan dirinya yang telah 'membunuh' darah dagingnya sendiri karena kejadian jatuhnya ia dikamar mandi.
Fendy yang juga punya tekanan lain ditempat kerjanya pun ikut down dan akhirnya labil juga, tak bisa mengatasi Naura.
Setiap ia pulang kerja, selalu saja ada yang membuat kepalanya pening dengan tingkah Naura. Seperti pada sore itu.....
Kamarnya kacau berantakan. Naura terisak dipojokan kamarnya sambil memegang gunting dan meracik-racik semua dasternya yang dulu ia selalu pakai ketika hamil.
"Huuuhuuuuhuaaaaaaa....Hik hik hiks!!" Hanya suara tangisannya yang keras membuat Fendy menutup wajahnya dengan menarik nafas berusaha sabar menghadapi Naura yang terkena tekanan batin.
"Hhhh.... Sudahlah, Naur! Sudahi semua kesedihanmu!!!! Ini takdir! Ini semua sudah terjadi!!! Sadarlah!!!! Percuma kau terus-terusan seperti itu! Percuma!!!! Percuma, tak kan bisa mengembalikan bayi kita lagi!!!"
Kata-kata keras Fendy ibarat tamparan keras bagi Naura. Ia menyadari itu sepenuh hati. Tapi entah mengapa rasa bersalah itu sulit sekali ia hilangkan dari hatinya. Sangat sulit. Teramat sulit.
Naura berlari memeluk tubuh Fendy yang masih bermandi keringat.
"Maafkan aku mas! Maaf...."
"Aku sudah memaafkanmu. Dari dulu-dulu pun, Naura! Stop hentikan tingkahmu yang seperti ini! Aku bisa ikutan gila jika kau terus begini!"
Fendy melepas rangkulan Naura. Menghela nafas kesal. Dan sibuk membenahi semua potongan baju yang tadi Naura gunting-gunting dengan hati pecah tak karuan.
__ADS_1
"Mas..."
"Sudah Naura! Aku lelah!"
"Hik hik hiks! Aku.... mau pulang ke kampung dulu, mas!"
"Baiklah! Terserah!.... Tapi aku tak bisa mengantarmu, Naur! Banyak kerjaan yang menghimpitku dipabrik. Kumohon kau juga mengerti aku!"
Keduanya dalam perasaan yang tak nyaman satu sama lain. Membuat suasana dingin diantaranya begitu terasa kentara.
Naura pulang ke kampung halamannya. Sendirian. Dengan menaiki kendaraan umum dan bis menuju kampung kelahirannya.
Disana ia bisa lebih tenang. Karena ada bapak dan juga ibuk yang selalu menghiburnya. Juga Ismail yang senang melihat kepulangan 'gadis pujaan'nya sedari masih sekolah hingga kini meski mereka lebih sering ribut ketimbang akurnya.
"Naura! Ayo, kebun jagung bapakku panen! Ayo kita kekebun, kita bakar jagung seperti dulu!" ajak Ismail dengan semangat 45.
Pagi-pagi sekali pria seusia dengan Naura itu mendatanginya dirumah yang bersebelahan dengan rumahnya.
Ismail. Teman kecilnya, teman sekolah juga teman mengajinya. Masih jomblo dan masih belum berani untuk menembak cewek.
"Kenapa kamu belum punya pacar, Il?" goda Naura pada sahabatnya itu sambil sibuk memocel biji-biji jagung yang telah matang dan agak hitam akibat dari api pembakaran.
"Pacarku dibawa kabur pria lain!" jawab Ismail ngasal. Tentu saja Naura tertawa. Karena itu adalah jawaban sindiran yang ditujukan untuknya.
Tapi Naura tak marah apalagi sakit hati. Justru ia merasa bersalah juga pada Ismail.
Bagaimana tidak. Setelah kelulusan sekolah menengah atasnya, Ismail menembaknya dan mengutarakan cintanya pada Naura. Tapi keesokan harinya Naura justru pergi ikut mbaknya kekampung sebelah.
Sejak itu mereka lost contac. Naura merantau ke ibukota dan menikah dengan Fendy.
Bahkan masih Naura ingat, bagaimana sungai kecil itu begitu menyesakkan dadanya ketika mengaliri pipi Ismail yang duduk dibarisan paling belakang menangisi Naura yang tengah menanti ijab kabul Fendy.
Ismail patah hatinya. Pupus sudah harapannya bisa bersanding dengan Naura. Gadis yang sejak kecil begitu ia idolakan dalam diamnya. Gadis yang begitu ia damba meskipun kejahilannya saja yang ia tunjukkan.
__ADS_1
Hhhh.....
..........BERSAMBUNG..........