RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kesepakatan Antara Affandi dan Ayuni Kartika


__ADS_3

Affandi melepon kembali Lyora, putri Ayuni Kartika. Berharap masih bisa berdiskusi kembali dengan kakak dari Naura Salsabila, kliennya.


"Hallo! Lyora, apa masih di Jakarta?"


[Hallo mas Affan! Baru mau jalan nih! Ada apa?]


"Tolong kasih hapemu ke mama, Lyora! Please! Ada yang ingin mas Affan bicarakan pada beliau!"


Terdengar samar, Lyora memanggil-manggil mamanya.


"Maaf, mbak Ayuni! Bisa kita bicara empat mata? Penting sekali untuk nasib mbak selanjutnya!"


[Dimana kita bicara? Bagaimana kalau kafe tempat terakhir kita berpisah?]


"Oke! Saya tunggu disana, Mbak!"


................


Affandi melambaikan tangannya memberi kode pada Ayuni yang baru saja tiba. Terlihat wajahnya pucat pasi dan jalannya tergesa-gesa.


Nafasnya masih tersengal hingga ia menghempaskan tubuhnya ke kursi sofa dihadapan Affandi yang telah duduk lebih dahulu.


"Maaf, kalau aku membuat kepulanganmu ke kampung jadi tertunda!"


Ayuni tak menghiraukan kalimat basa-basi dari pria tampan dihadapannya itu. Ia masih berusaha bersikap sesantai mungkin meskipun jantungnya berdebar kencang sekali.


Bayangan berada dibalik jeruji penjara seperti halnya Naura seolah didepan mata. Terlebih lagi kemarin ia sempat memberikan Affandi sogokan yang justru akan fatal baginya kedepannya.


"Mari kita kerjasama dengan baik jika mbak tidak ingin terseret dengan kasus Naura!"


Mata Ayuni melotot kearah Affan. Agak sulit percaya mendengar perkataan sang Pengacara muda nan flamboyan itu.


"Maksudnya....bagaimana?" tanyanya berusaha memastikan.


"Aku akan membuat skenario lain. Dan.... kamu harus bersaksi untuk Naura dipersidangan nanti! Bagaimana?"


"Sa sa saksi? Nanti....ak aku harus berkata apa? Aku aku harus.... menjawab apa jika, hakim menanyakan sesuatu? Aku...aku tidak, tidak tahu apa-apa!" jawaban yang berubah menjadi pertanyaan balik dengan suara terbata-bata, gugup, cemas, penuh ketakutan.


"Ceritakan apa saja yang kamu ketahui tentang Fendy!"


"Aku....sejujurnya, tidak begitu mengenal suami adikku itu! Bahkan...kami tidak pernah...mengobrol atau makan bersama disatu meja makan!"


"Fendy telah menikah lagi!"


"A apa?"


"Ia memiliki istri lain selain Naura!"

__ADS_1


Bibir Ayuni menganga lebar. Tak percaya pada apa yang Affandi ucapkan.


"Tidak mungkin! Naura tidak akan mungkin menerima suaminya berpoligami! Naura selalu vokal bahkan dia sering menyuruhku meminta cerai kepada Datuk disetiap kami ada kesempatan bertemu dan mengobrol. Jadi,....tidak mungkin Naura mau dimadu suami yang begitu ia cintai itu!"


"Tapi begitulah faktanya! Dan istri siri Fendy kini tengah hamil 7 bulan!"


"Hah?!?!?"


Ayuni diam. Bungkam seribu bahasa. Hanya bibirnya yang bergetar. Dan tangannya sesekali memukul-mukul meja kayu dengan kepalan tangannya yang mungil.


Perlahan butiran airmatanya meluncur dari sudut matanya kiri dan kanan.


"Takdir buruk apa yang Tuhan kasih pada kami kakak beradik!? Hingga kami harus menerima cobaan-Nya dengan memiliki suami yang tidak bisa setia pada satu cinta! Hik hik hiks....."


Affandi diam, menunduk. Ikut terhanyut juga ia pada kesedihan dan tangisan pilu Ayuni.


Kini ia perlahan mengerti perasaan Naura dalam memandang kakaknya dari pemikiran polos dan sucinya mata batin Naura.


Iya. Affan ikut merasakan sesaknya dada Ayuni karena begitu beratnya himpitan batu derita yang menerpa kehidupannya.


Semua karena kemiskinan dan kebodohan orangtua mereka. Ataukah memang Takdir Buruk yang begitu lekat menyukai diri keluarga mereka tak pernah mau minggat.


Ayuni terpuruk. Menenggelamkan wajahnya cukup lama dipapan meja kafe hingga seorang waitress menghampiri mereka dan menanyakan pesanan karena sudah hampir setengah jam keduanya hanya duduk dan berbincang serius tak memesan apapun.


Affandi mengambil tiga lembar uang seratus ribuan dan memberikan kepada waitress itu.


"Baik, pak!"


Pelayan itu mengangguk. Mengerti pada permintaan Affandi dan langsung pergi tanpa basa-basi lagi.


Ayuni mulai bisa menguasai emosi jiwanya. Ia kembali tenang setelah menarik nafasnya panjang-panjang dan menghapus tetesan airmatanya dengan tissue yang Affan sodorkan.


"Aku akan bersaksi untuk meringankan hukuman Naura!" tekadnya kini kuat dan bulat.


Affandi mengangguk senang.


"Aku minta uang lima juta pada mbak!"


"Eh? Untuk apa? Bukankah kemarin kamu menolak amplop berisi cekku yang 20 juta?"


"Untuk istri sirinya Fendy Martin. Dia juga akan bersaksi asalkan mendapatkan dispensasi untuk biaya persalinannya 2 bulan lagi!"


"Kenapa....jadi aku yang harus bertanggung jawab atas biaya lahiran gundiknya pria buaya buntung itu?"


"Masih lebih baik khan daripada Mbak kehilangan uang 20 juta Mbak hanya untuk menyogokku?! Hehehe....!" Affandi terkekeh melihat Ayuni memanyunkan bibirnya. Persis gayanya Lyora.


"Aku juga akan menambahkan ibu dan Ismail serta Kemal untuk menjadi saksi yang meringankan Naura disidang nanti. Aku minta tolong lagi, untuk tempat tinggal Ibu juga Ismail....biarkan mereka beberapa hari menginap dikediaman mbak yang di Jakarta!"

__ADS_1


Ayuni mengangguk. Lalu menundukkan kepalanya. Jemarinya mulai kembali mengetuk-ngetuk pangkal meja, pertanda dirinya mulai diliputi kecemasan.


"Tenangkan diri, Mbak! Penuntut umum hanya akan berfokus pada Naura seorang. Jadi, kamu tidak akan mendapatkan perhatian mereka dipersidangan nanti! Mereka hanya akan menuntut Naura hukuman seberat-beratnya. Maka dari itu tugasku lah mencari bukti sebanyak-banyaknya untuk meringankan hukuman itu. Dan ketuk palu hakim-lah yang menentukannya!"


Ayuni mulai kembali tenang setelah mendengar penjelasan lawyer adiknya itu.


"Berarti..... Aku bisa ikut masuk kedalam tahanan itu, bila kamu menunjukkan bukti bahwa akulah yang telah menusuk Fendy terlebih dahulu? Begitu?"


"Ya. Betul!"


"Lalu,... apa aku bisa mempercayai ucapanmu pak Pengacara? Bagaimana kalau kamu ternyata bersilat lidah dan justru menarikku kejeruji penjara menggantikan Naura?"


"Hehehe.... Orang yang bersalah pasti akan selalu hidup dengan ketakutan! Terserah pandanganmu terhadapku, Mbak! Tapi,.... kalau aku mau, aku bisa saja melaporkanmu ke kantor Polisi sejak kemarin-kemarin dengan banyaknya bukti yang mengarah padamu! Untuk apa aku malah mengajakmu bernegosiasi, kalau bukan untuk kepentingan klienku yang saat ini masih menggantung vonisnya!"


Hhhhh.....


Keduanya saling menarik nafas pendek. Berusaha meredakan rasa penat dan letih didalam jiwa masing-masing.


"Tapi aku harus pulang dulu ke kampung! Papanya Lyora sudah cukup lama kutinggal. Dan aku juga masih harus terus mengemis uang belanja padanya meskipun dia sudah berkondisi seperti itu. Huh!!! Pria tua itu benar-benar memenjarakan hidupku yang sesungguhnya!"


Affandi diam mendengar curahan hati Ayuni. Tak ingin memancing obrolan menjadi lebih panjang. Karena masih ada yang harus ia temui lagi. Yakni istri sirinya almarhum Fendy Martin, yakni Tita.


Keduanya lalu memutuskan mengakhiri pertemuan. Mereka berbeda arah tujuan.


Dan hanya saling lambaikan tangan seraya mengucapkan kata-kata, jumpa lagi nanti diwaktu yang tepat.


...................


Naura bangun dari tidur siangnya yang cukup singkat, karena hanya dua puluh lima menit saja.


Selang berapa lama adzan Ashar berkumandang. Membuatnya segera bangkit dan berjalan santai menuju kamar mandi yang sebenarnya tidak layak itu.


Hanya tertutup sepotong triplek dan lembaran karung beras yang cukup risih juga untuk bertelanj*ng badan meskipun mereka terdiri dari sekumpulan perempuan.


Naura mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan ibadah sholatnya. Ia masih memikirkan mimpi tidur siangnya yang mengenang masa remajanya bersama Ismail.


Ismail..... Apa kabarmu, sobat? Semoga kamu baik-baik saja, dan hidup dengan bahagia. Maafkan aku, yang selalu menyusahkanmu. Bahkan aku belum pernah memberimu kegembiraan. Entah kapan ya, kita bisa bertemu..... Hanya doaku untukmu, hai teman terbaikku!


Naura berwudhu setelah mengenakan kembali pakaiannya. Menemui Tuhan-nya, berharap dirinya selalu diberikan ketegaran dan kelapangan dada atas semua ujian serta cobaan hidupnya ini.


Juga tak lupa, doanya untuk sang suami tercinta, agar tenang dialam sana. Meskipun telah terjadi sesuatu yang menyakitkan dilembaran hidup mereka, Naura tidak ingin mengingat keburukan Fendy.


Karena baginya, Fendy adalah pria luar biasa. Pria pertama yang mengenalkannya akan 'cinta' dan semua hal yang indah selama berumah tangga kurang lebih 10 tahun.


Hidup tidak bisa ia prediksi bahkan atur sesuai keinginannya. Hidup sudah ditentukan Sang Pencipta. Tinggal dirinyalah yang memanag dirinya sendiri, agar bisa berkompromi dengan nasib dan Takdirnya. Tentunya.


................BERSAMBUNG................

__ADS_1


__ADS_2