RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Antara Kehidupan Affandi dan Kehidupan Kemal


__ADS_3

"Pagi sayang!"


"Mas.... sedang apa?"



"Buat sarapan pagi untuk istriku tersayang!"


"Ya Allah, maaas! Itu tugasku mas!"


Naura malu sekali, melihat suaminya berkutat didapur pagi-pagi sekali, yang sebenarnya adalah daerah kekuasaannya.


"Kenapa? Sesekali suami memasakkan istri boleh dong!"


"Iya sih! Tapi...."


"Sttt! Nau duduk manis diam-diam! Mas sedang buat nasi goreng spesial pakai udangdan omlet keju!"


"Waaah, kelihatannya enak sekali mas!"


"Ya. Spesial dari suami tercinta untuk istri tersayang! Hehehe....."


Naura menatap wajah suaminya dengan perasaan haru.


Betapa bahagianya ia. Suaminya begitu menyayangi dan menghormatinya sampai seperti ini.


Ingatannya kembali pada belasan tahun silam. Pada pernikahannya dengan Fendy Martin.


Fendy juga baik. Tapi Fendy tidak pernah mau masuk kedapur, apalagi untuk memasak seperti yang Affan lakukan sekarang.


Fendy juga romantis. Tapi tak pernah ia mau mencucikan pakaian kotornya apalagi pakaian Naura. Seperti yang seringkali Affan lakukan disela minum coklat hangatnya dimalam hari.


Jatuh airmata Naura, karena bahagia.


"Mas! Semoga Allah selalu memberimu kebahagiaan dan juga umur yang panjang!"

__ADS_1


"Aamiin...! Eh? Kenapa? Kenapa kamu nangis, Nau? Apa... aroma bawang merahnya sampai tercium menyengat hidung Nau?"


Affan segera menghampirinya. Menyusut airmatanya kiri dan kanan. Semakin bahagia dan bersyukur Naura pada Tuhan.


Suaminya ini adalah pria yang terbaik didunia.


Naura memeluk erat tubuh Affan dengan mata terkatup dan hati berdawam.


Ia inginkan banyak kebahagiaan untuk suami tercintanya itu. Semoga Allah Ta'ala mengabulkan doanya. Aamiin.


.............


Kemal dan Witha juga kini sedang berada diambang pintu pernikahan.


Terkadang banyak cobaan yang menghadang diawal-awal naik kepelaminan.


Sebenarnya Kemal bukan tipikal pria yang ribet. Tapi melihat kedua orangtua Witha yang ternyata lumayan rempong mengurus pernikahan putri pertamanya, mau tak mau ia harus turun tangan menjadi penengah.


"Aku akan ambil jalan tengah! Bagaimana kalau untuk hari H nanti, biar Wedding Organizer yang mengambil alih semuanya. Jadi papa dan mama tak perlu terlalu repot mengurusi semuanya!"


"Jadi,.... kami tidak perlu terlalu pusing mikirin semuanya begitu mas Kemal?" tanya mamanya Witha minta penjelasan.


"Tapi .... biayanya juga pasti tak sedikit mas!"


"Itu urusan aku, Witha! Jangan dipusingkan! Daripada kalian jadi ribut ini itu karena tak sefaham, jadi lebih baik kalau resepsi nanti kita pakai WO!"


Mama dan Papa Witha akhirnya menurut. Meski beberapa kali ia menanyakan berapa total biayanya dan ini itu lainnya.


Sebenarnya mereka masih takut-takut kalau nanti setelah selesai acara mereka akan dimintai pertanggungjawabannya atas biaya WO yang cukup mahal.


Karena ada kejadian seperti itu yang dialami oleh kerabat mereka beberapa waktu yang lalu.


"Boleh.... mama tanya mas Kemal?"


"Iya, ma!"

__ADS_1


"Nanti biaya WO siapa yang bayar?"


"Aku ma! Mama Papa jangan kuatir! Aku akan menanggung semuanya!"


Kedua orangtua Witha saling bertatapan, lalu berkata....," Alhamdulillaaah!"


"Hahaha... jadi sebenarnya mama sama papa itu dari tadi ribut karena mikirin soal biaya?"


"Masalahnya, kalau di tempat kami itu....uang mahar dan seserahan biasanya sudah diberikan terlebih dahulu sebulan sebelum hari H! Makanya....mmmm hehehe kami agak gimana gitu!"


"Oiya? Begitu ya? Yassalaaam... Maaf ma, pa! Aku lupa tanya-tanya adat istiadat dan tata cara disini! Aku juga lupa mengajak diskusi kalian. Maaf, ya!"


"Ya sudah. Pokoknya kita lebih baik pakai WO saja! Urusan semuanya itu menjadi urusan Kemal. Bagaimana?"


"Iya. Baiklah mas!" jawab orangtua Witha lega.


Witha menutup wajahnya, malu sekali pada Kemal Pasha.


"Kedua orangtuaku terkesan matrealistis ya mas?"


"Tidak juga. Hal yang wajar orangtua was was untuk suatu perencanaan yang bukan urusan main-main, Witha! Aku mengerti sekali perasaan mereka. Aku yang salah dalam hal ini."


"Sejujurnya mereka trauma mas! Trauma pada Wedding Organizer dan total biayanya. Karena ada salah satu kerabat kami yang akhirnya sampai memiliki hutang ratusan juta rupiah setelah ijab kabul.


"Hah!?! Iya kah?"


"Iya mas!"


"Itulah....komunikasi dua arah penting ya ternyata!"


"Hehehehe....!"


"Semoga kita juga selalu bisa berkomunikasi dengan baik ya Witha! Karena hakekatnya pernikahan yang baik itu adalah yang terjaga komunikasinya. Jadi, kalau ada apapun itu nanti dalam perjalanan pernikahan kita, kumohon....kita bicarakan semuanya dengan baik-baik!"


"Iya mas!"

__ADS_1


Kemal tersenyum lega. Calon istrinya bukan seorang perempuan yang susah diajak kompromi. Itulah yang selalu ia ingini.


.............BERSAMBUNG..............


__ADS_2